icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 13
Suami Lala
Jumlah Kata:1196    |    Dirilis Pada:28/10/2021

"Hei, anak ingusan! Apakah kalian tahu siapa aku?" Putra bungsu wakil walikota sangat ketakutan, sehingga ia berusaha mengintimidasi lawan-lawannya dengan memberitahu siapa orang tuanya.

Seakan tuli dan tak mendengar apa yang dikatakan putra wakil walikota itu, semua orang kemudian memilih lawannya masing-masing dan terlibat dalam perkelahian.

Hari mulai gelap.

Johan mengemudikan Maybach untuk mengantarkan pulang Bosnya, yang duduk di kursi penumpang belakang. Ketika mobil yang dikemudikannya melewati Bar MOX, Johan sedikit menoleh memperhatikan, karena bar itu adalah milik perusahaan Bosnya.

"Eh? Bos, ada yang punya Maserati seperti milik Anda. Tunggu. Bahkan nomor platnya juga sama... Bos, apakah mobil Anda dicuri?" Johan memperlambat kecepatannya agar dapat melihat mobil itu dengan lebih jelas.

"Tidak, aku memberikannya kepada istriku." Heri menjawab dengan datar dan tanpa emosi, membuat Johan kaget dan mengira pedal gas sebagai rem. Mobil itu melaju semakin cepat. Untungnya, hal itu tidak mengakibatkan tabrakan, karena mereka berada di jalan yang lurus dan sedikit lengang.

"Bos, Anda sudah menikah?" Johan bisa merasakan bahwa dirinya bertanya dengan suara yang sangat lirih. Bagaimana bisa ia melewatkan hal yang begitu penting?

"Ya." Heri mengakuinya secara langsung. Johan tanpa sadar menatap ke langit, memeriksa apakah telah terjadi hujan darah. Bukankah Bosnya selalu membenci tunangannya. Lalu kenapa ia diam-diam menikahinya?

"Di mana kamu melihat mobil Maserati itu?" Ada yang tidak beres. Ini sudah larut malam dan wanita itu masih berada di luar rumah?

"Mobil itu saya lihat terparkir di luar bar Anda, Bar MOX."

Mobil Maybach yang awalnya berjalan lurus itu kemudian putar balik saat menemukan persimpangan, dan melaju menuju Bar MOX.

Johan memarkir mobil tepat di samping Maserati. Heri kemudian turun dari mobil, ia bersandar di pintunya dan menyalakan sebatang rokok. Ia kemudian menginstruksikan Johan untuk memperhatikan foto di surat nikah, dan mencari wanita di dalam bar itu.

Tidak lama kemudian, Johan berlari keluar, "Bos, ada sekelompok orang yang sedang berkelahi di dekat toilet. Saya melihat istri Anda ada di sana. Sepertinya ia akan... membunuh seorang pria."

"Tunjukkan tempatnya!" Heri berjalan masuk ke bar dengan sebatang rokok terjepit di bibirnya.

"Berhenti!" Suara dingin dari pria itu mengagetkan semua orang dan membuat mereka berhenti berkelahi tanpa sadar.

Mereka melihat seorang laki-laki dengan kemeja putih berdiri dengan satu tangan di saku celana, dan tangan lainnya memegang rokoknya yang tinggal setengah, cahaya remang-remang di tempat itu membuat wajahnya tidak terlihat jelas.

Ia seakan utusan malam yang gelap, misterius dan berdarah dingin, membuat orang ketakutan meskipun hanya melihatnya dari kejauhan. Semua orang yang berkerumun dan menonton perkelahian yang terjadi pun membubarkan diri, tak ada seorang pun yang berani berkomentar. Hanya musik DJ saja yang masih terdengar.

"Siapa kamu? Beraninya kamu ikut campur?" Teriak putra bungsu wakil walikota, setelah beberapa saat berusaha mengumpulkan cukup keberanian, yang akhirnya terdengar kurang mengintimidasi dibandingkan dengan yang ia lakukan sebelumnya.

"Lala, datanglah kemari." Hanya kata-kata ini yang terasa sedikit hangat di telinga semua orang.

Lala lebih merasakan ketakutan dengan hadirnya Heri di sini daripada merasa terkejut. Ia merasa mabuk, ketika ia pergi ke toilet tadi. Pertemuannya dengan Mikael membuatnya sedikit sadar, akan tetapi melihat pria ini membuat Lala sepenuhnya sadar, karena ia tahu betul pria ini membenci masalah, dan secara kebetulan ia telah mendapatkan beberapa saat ini...

Mendengar permintaan Heri, Lala pun menghampirinya secara alami. Semakin ia mendekati Heri, semakin ia merasa aman. Lala dengan patuh berdiri di samping Heri sambil memainkan jari-jari pada dua tangannya yang bertautan. Mikael dan Zulfikar tercengang melihat kejadian itu, ternganga karena tidak percaya, hingga seakan lupa dengan rasa sakit yang mereka rasakan.

Mereka belum pernah melihat Lala begitu penurut dengan perkataan seseorang.

"Bos, saya telah menghubungi Nasir Omar." Johan berkata kepada Heri dengan suara pelan, namun semua orang yang ada di situ dapat mendengar apa yang ia katakan. Nasir Omar? Sang bos mafia yang terkenal di Kota Daka? Pria ini bahkan bisa memanggil Nasir Omar kapan pun ia inginkan. Siapa ia sebenarnya?

Tak ada yang berani berbicara.

Tiga menit.

Hanya dalam tiga menit, Nasir yang saat itu mengenakan piyama, tiba di bar dengan diikuti oleh sekelompok pria yang merupakan anak buahnya.

"Bos, apa yang membuatmu datang ke sini?" Nasir berusaha merapikan piyamanya, setelah ia merasa sedikit tenang. Kemudian ia tersadar bahwa dirinya terbalik dalam mengenakan sandal.

Nasir tidak akan berani menyinggung Bosnya ini. Karena, jika bukan karena Heri, tak mungkin ia bisa menduduki posisi bos mafia di Kota Daka.

Orang-orang yang sebelumnya berkelahi masih berdiri terpaku, dan semakin merasa ketakutan dengan kehadiran Nasir di tempat itu. Siapa orang ini? Bahkan Nasir Omar memanggilnya dengan sebutan bos dan sangat menghormatinya.

Mata Heri nampak suram karena ketidaksenangan, saat mencium bau wiski dari napas Lala, kemudian ia menatap Zulfikar yang jelas terlihat dalam keadaan mabuk.

"Biarkan teman-teman Zulfikar pergi. Tapi sebelumnya, patahkan salah satu lengan mereka, dan paksa mereka keluar dari Kota Daka, kecuali Zulfikar dan Mikael. Dan untuk Zulfikar..."

"Tidak!" Semua orang mendengarkan kalimat Heri, seakan-akan itu merupakan putusan dari Raja Neraka. Ketika Heri menyebut nama Zulfikar, Lala memotongnya dan melangkah maju seakan ia berusaha melindungi anak kandungnya. Lala paham bahwa Heri marah karena ia minum dengan Zulfikar, namun ia tetap harus melindungi sahabatnya itu.

Nasir dan Johan menjadi gugup. Berani-beraninya wanita ini memotong perkataan Heri, bahkan menentangnya demi melindungi seorang pria lain. Mereka menanti untuk melihat apa yang akan diputuskan Heri terhadapnya.

Heri melirik Lala dengan tajam. Lala tersentak, "Emmm, aku yang memaksa Zulfikar untuk menemaniku ke sini. Jangan menyakitinya, atau..."

Atau apa? Mencoba tawar-menawar dengannya? Mengancamnya? Ia benar-benar cari masalah! Johan menggosok matanya, dan menatap istri Heri yang menurutnya sangat berani.

"Atau apa? Hm?" Heri mencubit dagu Lala dan menatapnya, mengirimkan peringatan melalui matanya.

"Kita pulang, oke?" Lala mencoba mengganti strategi stiknya dan menggantinya dengan wortel.

Eh. Strateginya berhasil. Melihat Heri berjalan keluar, Lala mengikutinya dengan penuh semangat.

Nasir hendak mengatakan sesuatu kepada Johan, namun ia tersedak air liurnya karena rasa terkejutnya. Oh Tuhan. Apa ia sedang bermimpi? Ia tak menyangka Heri akan menurut kepada seseorang, apalagi seorang wanita.

Johan yang terdiam segera mengatasi rasa kagetnya, dan kemudian melangkah cepat untuk mengejar Heri dan Lala yang sudah berjalan keluar dari bar.

Setelah Heri pergi, suhu ruangan itu naik dengan cepat. Nasir tersadar, ia kemudian memberikan isyarat kepada anak buahnya tentang apa yang harus mereka lakukan, dan pergi meninggalkan tempat itu. Rengekan dan tangisan minta tolong terdengar setelah itu.

Zulfikar dan Mikael hanya mampu terdiam melihat teman-temannya dipukuli, otak mereka gagal mencerna apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak tahu sama sekali tentang pria itu, yang muncul dengan tiba-tiba dan bertingkah laku seperti iblis. Apakah ia suami Lala? Keduanya menyadari hal itu pada saat yang sama, kemudian saling memandang dengan ekspresi gugup.

Mikael paham alasan pria itu membiarkannya dan Zulfikar pergi - Zulfikar dilepaskan karena permohonan Lala, sedangkan... Dirinya, pria itu akan menyelesaikan urusan dengannya secara pribadi.

Tak lagi peduli dengan rengekan dan tangisan teman-temannya di belakang, Mikael pulang dengan tergesa-gesa untuk mencari tahu tentang pria itu.

Di Graha Kapuk.

Lala pulang bersama Heri dengan Maybach yang dikemudikan Johan. Maserati-nya, ditinggalkan di parkiran bar. Heri memejamkan mata dan beristirahat, ia tak mengucapkan sepatah kata pun dalam perjalanan pulang. Sementara Lala merasa malu untuk berbicara dengan Heri, menyadari keberadaan Johan di dalam mobil.

Sesampainya di rumah, Lala mengganti sepatunya, dan dengan tergesa-gesa pergi ke kamarnya di lantai dua, ia berlari ke kamar mandi dan muntah di toilet.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tolong Selamatkan Aku2 Bab 2 Hal Yang Paling Berharga3 Bab 3 Gabian Tiga Detik4 Bab 4 Aku Suamimu5 Bab 5 Aku Bisa Membantumu Balas Dendam6 Bab 6 Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu7 Bab 7 Tak Ada Lagi Tangisan di Masa Depan8 Bab 8 Mal Pulau Biru9 Bab 9 Berlian Merah10 Bab 10 Kamu Harus Mengalah Padaku11 Bab 11 Menikahi Seorang Pria Tua12 Bab 12 Menjadi Wanita Simpananmu13 Bab 13 Suami Lala14 Bab 14 Hari Pertama Bekerja15 Bab 15 Kakak Sepupu Perempuan Sarah16 Bab 16 Pria di Kursi Belakang17 Bab 17 Kamu Habis Minum18 Bab 18 Berhasil Diceraikan19 Bab 19 Malam Yang Sepi20 Bab 20 Menerobos Lampu Merah21 Bab 21 Tiga Pria22 Bab 22 Aku Sudah Menoleransimu Selama Dua Hari23 Bab 23 Sang CEO Juga Memiliki Idola24 Bab 24 Nyonya Nasution Melarikan Diri Dengan Mobil25 Bab 25 Empat Mobil Polisi Rusak Berat26 Bab 26 Aku Pasti Akan Menuntut Wanita Itu27 Bab 27 Melecehkan Gadis Cantik28 Bab 28 Pria yang Sangat Tampan29 Bab 29 Pria di Puncak Kekuasaan30 Bab 30 Bos Nasution, Anda Luar Biasa31 Bab 31 Senyum Kekanakan32 Bab 32 Tidak Tahu33 Bab 33 Wanita Jalang34 Bab 34 Mengandalkan Suaminya35 Bab 35 Tidak Akan Melepaskannya Begitu Saja36 Bab 36 Mengatur Pekerjaan Untukmu37 Bab 37 Bertemu Ibu Heri untuk Pertama Kalinya38 Bab 38 Seorang Gelandangan39 Bab 39 Aku Bukan Ibumu40 Bab 40 Tunggu dan Lihat41 Bab 41 Ibu Mertua Membuat Keributan di Perusahaan42 Bab 42 Sayang, Maafkan Aku43 Bab 43 Tamara Menolaknya44 Bab 44 Kejutan Berubah Menjadi Ketakutan45 Bab 45 Kartika Maharani46 Bab 46 Aku Kartika Maharani, Tunangan Heri47 Bab 47 Tak Pulang48 Bab 48 Kamu Mendapatkan Izinku49 Bab 49 Aku Akan Mengantarmu Pulang Sekarang50 Bab 50 Tolong Jangan Salah Paham51 Bab 51 Suara Keras Sebuah Tamparan52 Bab 52 Istriku yang Sah53 Bab 53 Pergi Denganku54 Bab 54 Beraninya Kamu Memukulku55 Bab 55 Nakula56 Bab 56 Dompet Berwarna Coklat57 Bab 57 Kucingmu Mati58 Bab 58 Meja Laboratorium Berantakan59 Bab 59 Keluar dari Rumahku60 Bab 60 Kehancuran di setiap Kamar yang Ditempati Kartika.61 Bab 61 Tuan Presiden62 Bab 62 Postingan Lala Menjadi Viral di Opini Publik.63 Bab 63 Virus N7d964 Bab 64 Kamu Membunuhnya65 Bab 65 Operasi Aborsi66 Bab 66 Berkati Diriku dengan Kebahagiaan67 Bab 67 Yosep Andino68 Bab 68 Apa Kamu Sudah Gila69 Bab 69 Kamu Kotor70 Bab 70 Berhubungan dengan Tuan Presiden71 Bab 71 Pertarungan Dimulai72 Bab 72 Aku Merestui Kalian73 Bab 73 Menjadikannya Terkenal dengan Cara Apa Pun74 Bab 74 Melempar Uang ke Wajah Heri75 Bab 75 Menjadi Hit76 Bab 76 Pria yang Diam-diam Dirindukannya77 Bab 77 Bukan Aku78 Bab 78 Aku Akan Pergi ke Neraka79 Bab 79 Semua yang Ia Butuhkan untuk Mengakhiri Segalanya80 Bab 80 Tidak Menginginkan Apa-Apa81 Bab 81 Cantik Tiada Tara82 Bab 82 Memamerkan Cinta di Depan Umum83 Bab 83 Menanggap Satu Sama Lain Sebagai Orang Asing.84 Bab 84 Dapatkah Saya Membantu Anda 85 Bab 85 Keluar86 Bab 86 Menebus Dosamu87 Bab 87 Keluar dari Kamarku88 Bab 88 Pesta Penutupan89 Bab 89 Melarang Lala Setiawan Di Dunia Hiburan90 Bab 90 Membatalkan Kontrak91 Bab 91 Harus Ada Penjelasan92 Bab 92 Mendidih Dengan Amarah93 Bab 93 Seseorang yang Bertekad untuk Pergi94 Bab 94 Masa Lalu Biarlah Berlalu95 Bab 95 Ini Rahasia96 Bab 96 Kilat di Wajan97 Bab 97 Maaf, Aku Tidak Bisa Minum98 Bab 98 Selamat Datang Bos Nasution99 Bab 99 Bos Nasution, Tolong Berperilaku yang Sopan100 Bab 100 Nona Andino, Tolong Perhatikan Sikapmu!