icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 10
Kamu Harus Mengalah Padaku
Jumlah Kata:1321    |    Dirilis Pada:13/10/2021

"Ya, saya rasa ia orangnya. Saya mendengar Anda memanggilnya Lala saat terakhir kali kemari bersamanya." Sang pramuniaga menjelaskan dengan suaranya yang lirih.

Mendengar perkataan pramuniaga itu, Mikael dan Sarah menatap satu sama lain dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Maybach seharga miliaran rupiah dan cincin berlian merah itu... Apakah Lala telah menjadi seorang wanita simpanan? Itu adalah satu-satunya kemungkinan yang masuk akal. Ia pasti dijadikan simpanan oleh pria yang sudah tua. Karena tak ada pemuda yang memiliki kekayaan sebanyak itu. Ha ha. Orang-orang akan tertawa terbahak-bahak mendengarnya, jika memang itu yang terjadi.

Sambil membayangkan itu semua, Sarah memeluk lengan Mikael dan melihat pilihan cincin berlian yang ditunjukkan oleh pramuniaga.

Saat tiba di rumah, Lala mengganti sepatunya dan langsung menuju kamarnya, dengan Heri yang mengikuti di belakangnya Tak mempedulikan keberadaan Heri, Lala membuka tas dan mengeluarkan ponsel barunya, menyibukkan diri dengan mengutak-atiknya.

Heri meraih ponsel tersebut dan menarik Lala ke sisinya.

"Kamu kenapa marah?" Malam belum terlalu larut, dan Heri tak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya.

Lala memalingkan wajahnya, berusaha mengabaikan pertanyaan Heri.

Heri telah bertemu banyak wanita dengan temperamen buruk seperti Lala, serta lebih banyak lagi wanita yang bersikap patuh pada dirinya. Namun ia tak pernah peduli sedikit pun pada mereka. Dengan sedikit memaksa Heri memutar wajah Lala agar menghadap dirinya dan kemudian menciumnya.

"Hm, hm, hm." Lala ingin mengutarakan protesnya dengan keras, namun Heri tidak memberinya kesempatan.

Setelah lama berciuman, Lala berdiri dengan tersipu dan berusaha menjauhi Heri. Tapi Heri malah melingkarkan kakinya, membuat Lala tak bisa pergi darinya.

"Heri, kamu jahat. Kamu tahu itu kan?" Lala menyerah dan kembali duduk di sofa dengan putus asa. Ia perlu mencari sebuah cara.

Heri mengangguk tanda setuju atas pernyataan Lala.

"Berapa usiamu?"

"27."

"Tuh kan! Usiamu lima tahun lebih tua dariku. Maka kamu harus mengalah padaku. Kamu tidak boleh melarang jika aku ingin melakukan sesuatu. Kamu tidak boleh memaksa aku untuk melakukan apa yang tidak aku sukai. Kamu tidak boleh membuat aku marah. Kamu juga tidak boleh mengabaikan pendapatku... " Heri tercengang mendengar rentetan protes yang dilontarkan Lala, ia mendapat pemahaman baru tentang wanita darinya.

Ia baru saja membuat Lala melepaskan semua unek-unek yang dimilikinya. Bahkan Lala tidak terlihat lelah setelah menjelaskan daftar panjang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh Heri lakukan.

"Sepertinya kamu sangat bersemangat, kita tak boleh menyia-nyiakan malam pernikahan kita." Heri menekan ketidakmauan Lala hanya dengan satu kalimat.

"Heri! Ah! Lihat saja nanti. Aku akan membalasmu!" Dengan serius Lala memikirkan rencana pembalasan yang dapat ia lakukan, setelah Heri menutup pintu kamar mandi dan menghempaskannya ke bak mandi.

"Aku akan menghabiskan semua uangmu. Aku... akan membuatmu menjadi dikenal mempunyai istri yang selingkuh dengan pria lain setiap hari karena tidak dipuaskan, dan kemudian menceraikanmu serta meminta bagian dari harta yang kamu miliki..."

Uang Heri tak akan habis untuk menghidupi Lala hingga tujuh turunan. Menyelingkuhi dan mencemarkan kejantanannya? Ya. Heri memang sudah seharusnya berusaha keras untuk dapat memuaskan Lala. Bercerai dan kemudian membagi harta? Tak masuk akal!

"Ah!" Heri mengubah ucapan Lala menjadi jeritan hanya dengan satu gerakan.

Lala yang malang! Ia harus kembali melewati sebuah malam panjang yang melelahkan.

Ah! Ah! Ah! Apa ia menikah dengan pria yang meminum ramuan cinta setiap harinya?

Ia tidak bangun sampai sore keesokan harinya. Ia merasa sangat lelah hingga untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan badannya saja membutuhkan sebuah perjuangan baginya. Selesai mandi dan berpakaian, ia kemudian turun ke bawah karena perutnya terasa sangat lapar.

Bibi Jana hendak pergi dan menyewa dua orang petugas kebersihan ketika ia melihat Lala turun dengan mengenakan piyama. Ia pun tersenyum.

Bibi Jana meletakkan tasnya kembali dan menghampiri Lala.

"Lala, Tuan Muda sedang melakukan pemeriksaan di perusahaan hari ini. Beliau menyuruh saya untuk memasak lebih banyak makanan untuk Anda makan setelah Anda bangun." Bibi Jana tak lagi muda, dan ia telah mengalami banyak hal di usianya sekarang, ia paham bahwa ada hal-hal yang sepatutnya tidak perlu dipertanyakan dan sebaiknya disimpan untuk diri sendiri.

"Terima kasih, Bibi Jana. Kebetulan aku merasa sangat lapar. Maaf sudah merepotkanmu." Dengan lemah Lala duduk di meja makan. Kemudian Bibi Jana menyajikan beberapa hidangan. Lala menyantapnya seakan-akan ia belum makan selama berhari-hari.

"Makanlah dengan perlahan. Tidak usah terburu-buru, atau Anda akan tersedak. Silakan diminum jusnya." Bibi Jana merasa kasihan. Melihat Lala menghabiskan makanan yang dihidangkannya. 'Akhir-akhir ini Lala baru bangun setelah tengah hari, dan kemudian menyantap makanan seperti orang kelaparan. Mereka tidak bisa terus-terusan seperti ini.' pikir Bibi Jana. Ia harus mengingatkan Tuan Muda agar lebih bisa mengendalikan dirinya. Bukan hal yang buruk untuk mencurahkan cintanya kepada Lala, namun gadis itu masih terlalu lemah untuk mampu menanggungnya.

Setelah kenyang, Lala berjalan kembali ke kamarnya dengan rasa puas. Ia mengirim sebuah alamat melalui Twitter kepada Tamara dan membuat janji untuk bertemu dengannya.

Sebelum meninggalkan rumah untuk melakukan tugasnya, Bibi Jana teringat satu hal dan segera berlari ke lantai dua untuk menyerahkan dua buah kunci kepada Lala, yang ketika itu sedang berganti pakaian karena hendak pergi keluar.

Dua buah kunci itu - satu untuk rumah dan satu lagi untuk mobil - dititipkan oleh Heri kepada Bibi Jana sebelum berangkat ke perusahaan pagi ini.

Ternyata kunci mobil yang diterima Lala dari Bibi Jana, adalah kunci untuk sebuah mobil sport Maserati baru berwarna putih, yang terparkir di garasi. Mobil ini mengingatkan Lala pada BMW merah muda, hadiah ulang tahunnya yang ke-20 dari ayahnya, yang akhirnya dijual diluar kehendaknya. Ia sangat menyukai mobil itu, namun kini ia tak tahu lagi mobil itu ada di mana.

Berjalan perlahan di jalanan yang lebar, mobil yang dikendarai Lala menarik perhatian banyak orang. Banyak mobil berpindah jalur demi memberi jalan, saking takutnya bersenggolan, ganti rugi yang harus dibayarkan tentu saja akan sangat mahal.

Lala tiba di Kafe Pohon Tua yang menjadi tempat janjian dengan Tamara lebih awal, ia pun memesan secangkir capuccino dan duduk di sudut kafe yang sedikit tersembunyi.

Lala mengeluarkan ponselnya dan masuk ke akun Whatsapp-nya, notifikasi pun bermunculan menunjukkan betapa banyak pesan yang masuk, lebih dari 99 pesan secara total.

Pesan-pesan itu antara lain dari beberapa kenalannya, termasuk Mikael, Sarah, Tamara, Zulfikar dan beberapa orang yang dulu dianggapnya teman baik, akan tetapi menghilang setelah Keluarga Setiawan jatuh bangkrut. Tidak ada yang menduga bahwa dirinya akan jatuh terpuruk seperti ini.

Tiba-tiba suatu ide muncul di benak Lala, ia kemudian mengambil sebuah foto selfie menggunakan ponselnya, Dengan mata menerawang, ia miringkan kepalanya ke satu sisi, dan kemudian menutup mulutnya dengan tangannya yang mengenakan cincin berlian merah.

Ia memposting hasil foto selfie-nya ke Status dengan kata-kata yang berbunyi: Ayah, aku merindukanmu. Kini aku sudah menikah. Temuilah aku jika Anda sempat.

Kemudian ia masuk ke Twitter, dan membuat postingan serupa. Lala memiliki lebih dari 600 ribu pengikut, karena dia sangat aktif mengunggah berbagai hal dalam hidupnya, termasuk makanan dan perjalanan yang ia lakukan di seluruh dunia, serta unggahan yang membagikan hal-hal positif kepada para penggemarnya.

Ia hapus semua posting terdahulu, kecuali yang terkait dengan keluarganya, serta berhenti mengikuti siapa pun kecuali ayahnya, Tamara dan Zulfikar.

Tak lama kemudian, notifikasi bermunculan, menunjukkan betapa banyaknya komentar yang muncul atas unggahan Status dan Twitter-nya. Ponselnya terus berbunyi, namun Lala mengabaikan dan mematikannya, ia ingin menunggu Tamara sambil menikmati kopinya dalam ketenangan.

Kopi Lala telah habis separuh ketika Tamara tiba di kafe dengan tergesa-gesa.

Tamara adalah seorang gadis bertubuh ramping. Ia segera meminta ijin dari pekerjaan paruh waktunya begitu menerima pesan dari Lala, dan bergegas pergi ke kafe ini, sehingga saat ini ia masih mengenakan pakaian kerja. Ia merias wajah ovalnya hari ini, padahal ia biasanya tidak berdandan. Matanya yang besar dan cerah dihiasi oleh eye shadow tipis dan maskara, mulutnya tampak sedikit mengkilap oleh lip gloss. Semakin lama seseorang menatapnya, akan semakin nyaman rasanya.

Mereka saling mengenal satu sama lain sejak enam tahun yang lalu, ketika Tamara secara tidak sengaja menyelamatkan Lala di tepi laut. Pada awalnya Tamara tidak berani terlalu dekat dengan Lala yang menurutnya memiliki kehidupan yang sangat berbeda dengan dirinya yang biasa-biasa saja. Semuanya akan tetap sama, dan mereka tidak akan menjadi sahabat dekat, jika bukan karena kegigihan Lala "mengejarnya" selama setengah tahun.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tolong Selamatkan Aku2 Bab 2 Hal Yang Paling Berharga3 Bab 3 Gabian Tiga Detik4 Bab 4 Aku Suamimu5 Bab 5 Aku Bisa Membantumu Balas Dendam6 Bab 6 Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu7 Bab 7 Tak Ada Lagi Tangisan di Masa Depan8 Bab 8 Mal Pulau Biru9 Bab 9 Berlian Merah10 Bab 10 Kamu Harus Mengalah Padaku11 Bab 11 Menikahi Seorang Pria Tua12 Bab 12 Menjadi Wanita Simpananmu13 Bab 13 Suami Lala14 Bab 14 Hari Pertama Bekerja15 Bab 15 Kakak Sepupu Perempuan Sarah16 Bab 16 Pria di Kursi Belakang17 Bab 17 Kamu Habis Minum18 Bab 18 Berhasil Diceraikan19 Bab 19 Malam Yang Sepi20 Bab 20 Menerobos Lampu Merah21 Bab 21 Tiga Pria22 Bab 22 Aku Sudah Menoleransimu Selama Dua Hari23 Bab 23 Sang CEO Juga Memiliki Idola24 Bab 24 Nyonya Nasution Melarikan Diri Dengan Mobil25 Bab 25 Empat Mobil Polisi Rusak Berat26 Bab 26 Aku Pasti Akan Menuntut Wanita Itu27 Bab 27 Melecehkan Gadis Cantik28 Bab 28 Pria yang Sangat Tampan29 Bab 29 Pria di Puncak Kekuasaan30 Bab 30 Bos Nasution, Anda Luar Biasa31 Bab 31 Senyum Kekanakan32 Bab 32 Tidak Tahu33 Bab 33 Wanita Jalang34 Bab 34 Mengandalkan Suaminya35 Bab 35 Tidak Akan Melepaskannya Begitu Saja36 Bab 36 Mengatur Pekerjaan Untukmu37 Bab 37 Bertemu Ibu Heri untuk Pertama Kalinya38 Bab 38 Seorang Gelandangan39 Bab 39 Aku Bukan Ibumu40 Bab 40 Tunggu dan Lihat41 Bab 41 Ibu Mertua Membuat Keributan di Perusahaan42 Bab 42 Sayang, Maafkan Aku43 Bab 43 Tamara Menolaknya44 Bab 44 Kejutan Berubah Menjadi Ketakutan45 Bab 45 Kartika Maharani46 Bab 46 Aku Kartika Maharani, Tunangan Heri47 Bab 47 Tak Pulang48 Bab 48 Kamu Mendapatkan Izinku49 Bab 49 Aku Akan Mengantarmu Pulang Sekarang50 Bab 50 Tolong Jangan Salah Paham51 Bab 51 Suara Keras Sebuah Tamparan52 Bab 52 Istriku yang Sah53 Bab 53 Pergi Denganku54 Bab 54 Beraninya Kamu Memukulku55 Bab 55 Nakula56 Bab 56 Dompet Berwarna Coklat57 Bab 57 Kucingmu Mati58 Bab 58 Meja Laboratorium Berantakan59 Bab 59 Keluar dari Rumahku60 Bab 60 Kehancuran di setiap Kamar yang Ditempati Kartika.61 Bab 61 Tuan Presiden62 Bab 62 Postingan Lala Menjadi Viral di Opini Publik.63 Bab 63 Virus N7d964 Bab 64 Kamu Membunuhnya65 Bab 65 Operasi Aborsi66 Bab 66 Berkati Diriku dengan Kebahagiaan67 Bab 67 Yosep Andino68 Bab 68 Apa Kamu Sudah Gila69 Bab 69 Kamu Kotor70 Bab 70 Berhubungan dengan Tuan Presiden71 Bab 71 Pertarungan Dimulai72 Bab 72 Aku Merestui Kalian73 Bab 73 Menjadikannya Terkenal dengan Cara Apa Pun74 Bab 74 Melempar Uang ke Wajah Heri75 Bab 75 Menjadi Hit76 Bab 76 Pria yang Diam-diam Dirindukannya77 Bab 77 Bukan Aku78 Bab 78 Aku Akan Pergi ke Neraka79 Bab 79 Semua yang Ia Butuhkan untuk Mengakhiri Segalanya80 Bab 80 Tidak Menginginkan Apa-Apa81 Bab 81 Cantik Tiada Tara82 Bab 82 Memamerkan Cinta di Depan Umum83 Bab 83 Menanggap Satu Sama Lain Sebagai Orang Asing.84 Bab 84 Dapatkah Saya Membantu Anda 85 Bab 85 Keluar86 Bab 86 Menebus Dosamu87 Bab 87 Keluar dari Kamarku88 Bab 88 Pesta Penutupan89 Bab 89 Melarang Lala Setiawan Di Dunia Hiburan90 Bab 90 Membatalkan Kontrak91 Bab 91 Harus Ada Penjelasan92 Bab 92 Mendidih Dengan Amarah93 Bab 93 Seseorang yang Bertekad untuk Pergi94 Bab 94 Masa Lalu Biarlah Berlalu95 Bab 95 Ini Rahasia96 Bab 96 Kilat di Wajan97 Bab 97 Maaf, Aku Tidak Bisa Minum98 Bab 98 Selamat Datang Bos Nasution99 Bab 99 Bos Nasution, Tolong Berperilaku yang Sopan100 Bab 100 Nona Andino, Tolong Perhatikan Sikapmu!