icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 11
Menikahi Seorang Pria Tua
Jumlah Kata:1276    |    Dirilis Pada:13/10/2021

Setelah Keluarga Setiawan bangkrut, Tamara, yang terbiasa memperlakukan pekerjaan sebagai hidupnya, memutuskan untuk tidak pergi bekerja selama beberapa hari. Ia, bersama dengan Zulfikar, membantu mengurus pemakaman nenek Lala dan juga berbagai urusan lainnya.

Pada hari ketika Lala menghilang, Tamara hanya pulang sebentar ke rumah untuk mengganti pakaiannya. Akan tetapi saat ia kembali, Lala telah pergi dari vila, dan ia tidak pernah berhasil menghubungi Lala sejak hari itu. Zulfikar juga meminta teman-temannya untuk turut membantu dalam mencari Lala, akan tetapi segala upaya tersebut sia-sia. Tamara khawatir bahwa Lala bisa saja memutuskan untuk bunuh diri saat ia menghilang. Karena itu ketika Tamara melihat Lala berada di dalam kafe, selamat dan sehat, ia memeluk sahabatnya itu erat-erat.

"Tamara, maafkan aku karena telah membuatmu begitu khawatir akan keadaanku." Lala berkata dengan mata yang berkaca-kaca, karena ia tahu persis bagaimana perasaan Tamara saat itu. Ia sangat beruntung karena masih memiliki dua orang teman sejati. Amat sangat beruntung.

"Ke mana saja kamu selama ini? Aku sangat takut... takut apabila..." Tamara tidak bisa mengucapkan tiga kata yang sudah berada di ujung lidahnya.

"Dasar kau bodoh! Aku tidak akan melakukan hal itu, karena aku masih memiliki ayah dan juga kamu." Sebenarnya, ia sempat berpikir untuk mengambil nyawanya sendiri di hari ayahnya pergi. Tapi kemudian ia pingsan karena hatinya yang terlalu lelah. Sehingga keinginannya itu terbatalkan.

"Katakan padaku ke mana saja kamu telah pergi selama ini. Bagaimana keadaanmu? Apa saja yang sudah kamu lakukan? Aku melihat postingmu di Twitter ketika sedang menuju ke sini. Apa benar kamu sekarang sudah menikah?" Tamara menyeka air matanya, berusaha menenangkan diri, kemudian duduk di hadapan Lala.

Tamara merasa sangat iba pada Lala. Semua orang di Kota Daka tahu bahwa dulu Lala hidup dengan sangat gembira dan glamor.

Lala Setiawan dan Alina Ghani, saingannya, adalah dua orang wanita yang diakui kecantikannya di lingkungan kelas atas Kota Daka. Lala adalah seseorang yang lincah dan bersemangat, sementara Alina adalah orang yang dingin dan elegan.

Pria yang mengejar mereka tak terhitung jumlahnya. Seperti yang diketahui semua orang, Lala dulu bak bulan yang dikelilingi oleh bintang-bintang yang gemerlap. Hanya Tuhan yang tahu mengapa Lala jatuh cinta pada Mikael, yang jelas-jelas adalah seorang pria bajingan.

"Aku baik-baik saja saat ini. Dan aku benar-benar sudah menikah. Doakan aku!" Lala memaksakan diri tersenyum karena ia ingin terlihat bahagia di hadapan Tamara, yang sudah lama tidak ditemuinya itu.

Kemudian, ia menjelaskan kepada Tamara berbagai kejadian yang terjadi dalam beberapa hari terakhir secara singkat. Ketika berbicara mengenai Heri, ia berkata, "Pria itu sangat baik padaku. Tapi aku sungguh tidak dapat mengetahui alasannya bersikap sebaik itu padaku."

Tamara mengerutkan kening sembari mendengarkan cerita Lala. Menurutnya, pernikahan Lala dengan Heri adalah sesuatu yang berlebihan. Apakah pertemuan dengan pria itu adalah berkah yang terselubung bagi Lala? "Lala, kamu sudah membuat keputusan yang ceroboh. Meskipun kamu menghabiskan malam pertama bersama Heri, bukankah kalian berdua adalah orang asing bagi satu sama lain?

Hal ini juga telah terpikirkan oleh Lala. Tapi ia merasa bahwa dirinya telah tersudut. Bukankah memang begitu adanya?

Lalu mereka mengobrol panjang lebar untuk waktu yang cukup lama. Di luar, hari sudah mulai gelap. Mereka pun memutuskan untuk pergi makan hot pot bersama. Lala merasa sangat senang. Sebelum mereka berpisah, Lala berkata, "Di mana kamu bekerja sekarang? Aku ingin bekerja bersamamu."

"Saat ini aku sedang berjualan pakaian di mal. Kamu... ah, lupakan!" Tamara memandang Lala yang masih berpakaian bagus dan mahal, berpikir bahwa sebaiknya Lala tidak bekerja di tempat yang sama dengannya. Gajinya memang tidak bisa dibilang rendah. Tapi ia harus bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.

"Kenapa? Aku akan pergi menemuimu di sana besok atau suatu hari nanti. Ingatlah untuk bertanya pada atasanmu mengenai lowongan kerja untukku." Lala mengantar Tamara pulang ke rumahnya, dan tidak beranjak pergi sampai ia melihat Tamara berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam rumah.

Kemudian Lala mengeluarkan ponselnya untuk mengecek jam. Saat itu tepat pukul sembilan malam. Ia memutuskan untuk menelepon Zulfikar.

"Sampai jumpa di tempat biasa di Bar MOX." Lala menutup teleponnya bahkan sebelum Zulfikar sempat berbicara. Pikirnya, mereka bisa berbicara nanti ketika bertemu langsung.

Di dalam Bar MOX.

Kehidupan malam di tempat itu baru saja dimulai. Jadi bar juga belum terlalu ramai dengan tamu-tamu. Di bawah cahaya yang redup dan kelap-kelip, beberapa orang tampak menari dengan penuh semangat, mengikuti alunan musik dengan hentakan drum yang kuat serta nuansa heavy metal.

Lala memesan secangkir koktail. Sang bartender dengan lincah bergerak untuk mencampur koktail, lalu dengan anggun dan cekatan memainkan mixer di tangannya. Tidak sampai semenit, sang bartender sudah menyajikan koktail kepada Lala dengan potongan lemon di bibir cangkir.

Lala memegang cangkirnya, menyesap koktailnya, dan menemukan tempat duduk yang redup di sudut bar.

Sepuluh menit kemudian.

Setelah memarkir sepeda motornya, Zulfikar berjalan cepat ke dalam bar. Ia menemukan orang yang dikenalnya di tempat biasa dan merasa sedikit lega.

"Pelayan!" Zulfikar duduk, dan memesan segelas koktail seperti milik Lala.

Zulfikar memandang Lala dengan teliti. Lala sedikit tersenyum, dengan cincin berlian di jemari tangan kanannya. Ia senang melihat bahwa Lala tidak berubah.

"Hei, bukankah kamu akan menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi padamu?" Zulfikar memperbaiki rambut merahnya yang berantakan, yang membuat Lala tahu bahwa ia datang ke sini dengan mengendarai sepeda motornya dalam kecepatan tinggi. Ia mengenakan anting berbentuk tengkorak di telinga kanannnya. Anting itu tampak baru dan mengeluarkan sinar yang unik.

"Apa ada yang perlu dijelaskan? Aku sudah menikah, seperti yang kamu lihat." Lala tersenyum, tapi senyum itu tampak seperti mengejek dirinya sendiri. Ia bisa dianggap seorang cucu yang sangat tidak berbakti karena ia memutuskan untuk menikah hanya sesaat setelah neneknya meninggal.

Zulfikar berkata dengan kening yang berkerut, "Lala, kamu tidak pantas berubah menjadi seperti ini! Bangkrut bukanlah apa-apa. Kamu bisa menghasilkan uang. Kalau kamu tidak tahu bagaimana caranya, aku dan pacarku bisa berusaha untuk membantumu. Bagaimana mungkin kamu bisa menemukan seorang pria dan menikahinya begitu saja?" Apa yang dikatakan Zulfikar membuat Lala sedikit senang. Sayang! Ia tahu bahwa Tamara dan sahabatnya ini adalah yang terbaik!

"Kenapa kamu tertawa? Kamu tidak berubah menjadi bodoh kan, sekarang?" Zulfikar merasa seperti mendapatkan kejutan yang buruk.

"Pergilah ke neraka. Kamulah yang bodoh! Aku hanya merasa senang." Ia merasa senang karena masih memiliki sesuatu yang berharga.

"Kamu sangat konyol! Kamu bahkan merasa bahagia sekarang?" Zulfikar bergumam sambil menatap Lala dengan pandangan kosong.

"Pelayan, tolong bawakan sebotol Royal Salute! Zulfikar, ayo kita bersenang-senang!" Lala merasa sangat ceria karena masih memiliki teman yang dapat menemaninya minum-minum.

"Hei, hei, hei. Sebotol Royal Salute? Minuman itu akan menghabiskan tiga sampai empat bulan gajiku. Kamu akan membuatku jatuh miskin!" teriak Zulfikar. Ia memiliki sedikit tabungan, tetapi uang itu tentu saja lebih baik digunakan untuk menikah dengan kekasihnya daripada membelikan anggur untuk wanita ini.

"Anak baik, jangan menangis. Aku yang traktir hari ini!" Zulfikar sering mengunjungi bar ini. Lala sudah terbiasa menikmati minuman gratis ketika dia datang bersama Zulfikar dan apa yang mereka pesan biasanya tidak begitu mahal, kecuali kali ini, mereka memesan minuman mahal yang bahkan tidak mampu dibeli oleh manajer bar ini. Lagi pula, ia juga akan mendapatkan diskon untuk minuman itu.

"Lala! Dari mana kamu mendapatkan uangnya?" Zulfikar mengulurkan lehernya untuk mengamati Lala dengan hati-hati, agar tidak melewatkan perubahan ekspresi wajahnya sedikit pun.

"Dari suamiku, tentu saja." Wah, wah, wah. Suaminya! Lala mengagumi dirinya sendiri karena berani menyebut istilah itu secara alami dan ringan.

Seorang pelayan menyajikan minuman yang mereka pesan dengan segera. Zulfikar memeluk botol minuman itu di dalam lengannya. Ia akan terus mengganggunya sampai Lala mengatakan yang sebenarnya.

"Katakan yang sesungguhnya padaku. Apakah kamu menikahi seorang pria tua? Kalau tidak, bagaimana kamu bisa menjadi begitu kaya?" Wajar saja jika Zulfikar memiliki kecurigaan ini.

Lala tertawa terbahak-bahak. Ekspresi seperti apa yang akan muncul di wajah dingin Heri jika dia tahu seseorang memanggilnya dengan sebutan orang tua? Lala sangat menantikan untuk melihat hal itu terjadi.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tolong Selamatkan Aku2 Bab 2 Hal Yang Paling Berharga3 Bab 3 Gabian Tiga Detik4 Bab 4 Aku Suamimu5 Bab 5 Aku Bisa Membantumu Balas Dendam6 Bab 6 Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu7 Bab 7 Tak Ada Lagi Tangisan di Masa Depan8 Bab 8 Mal Pulau Biru9 Bab 9 Berlian Merah10 Bab 10 Kamu Harus Mengalah Padaku11 Bab 11 Menikahi Seorang Pria Tua12 Bab 12 Menjadi Wanita Simpananmu13 Bab 13 Suami Lala14 Bab 14 Hari Pertama Bekerja15 Bab 15 Kakak Sepupu Perempuan Sarah16 Bab 16 Pria di Kursi Belakang17 Bab 17 Kamu Habis Minum18 Bab 18 Berhasil Diceraikan19 Bab 19 Malam Yang Sepi20 Bab 20 Menerobos Lampu Merah21 Bab 21 Tiga Pria22 Bab 22 Aku Sudah Menoleransimu Selama Dua Hari23 Bab 23 Sang CEO Juga Memiliki Idola24 Bab 24 Nyonya Nasution Melarikan Diri Dengan Mobil25 Bab 25 Empat Mobil Polisi Rusak Berat26 Bab 26 Aku Pasti Akan Menuntut Wanita Itu27 Bab 27 Melecehkan Gadis Cantik28 Bab 28 Pria yang Sangat Tampan29 Bab 29 Pria di Puncak Kekuasaan30 Bab 30 Bos Nasution, Anda Luar Biasa31 Bab 31 Senyum Kekanakan32 Bab 32 Tidak Tahu33 Bab 33 Wanita Jalang34 Bab 34 Mengandalkan Suaminya35 Bab 35 Tidak Akan Melepaskannya Begitu Saja36 Bab 36 Mengatur Pekerjaan Untukmu37 Bab 37 Bertemu Ibu Heri untuk Pertama Kalinya38 Bab 38 Seorang Gelandangan39 Bab 39 Aku Bukan Ibumu40 Bab 40 Tunggu dan Lihat41 Bab 41 Ibu Mertua Membuat Keributan di Perusahaan42 Bab 42 Sayang, Maafkan Aku43 Bab 43 Tamara Menolaknya44 Bab 44 Kejutan Berubah Menjadi Ketakutan45 Bab 45 Kartika Maharani46 Bab 46 Aku Kartika Maharani, Tunangan Heri47 Bab 47 Tak Pulang48 Bab 48 Kamu Mendapatkan Izinku49 Bab 49 Aku Akan Mengantarmu Pulang Sekarang50 Bab 50 Tolong Jangan Salah Paham51 Bab 51 Suara Keras Sebuah Tamparan52 Bab 52 Istriku yang Sah53 Bab 53 Pergi Denganku54 Bab 54 Beraninya Kamu Memukulku55 Bab 55 Nakula56 Bab 56 Dompet Berwarna Coklat57 Bab 57 Kucingmu Mati58 Bab 58 Meja Laboratorium Berantakan59 Bab 59 Keluar dari Rumahku60 Bab 60 Kehancuran di setiap Kamar yang Ditempati Kartika.61 Bab 61 Tuan Presiden62 Bab 62 Postingan Lala Menjadi Viral di Opini Publik.63 Bab 63 Virus N7d964 Bab 64 Kamu Membunuhnya65 Bab 65 Operasi Aborsi66 Bab 66 Berkati Diriku dengan Kebahagiaan67 Bab 67 Yosep Andino68 Bab 68 Apa Kamu Sudah Gila69 Bab 69 Kamu Kotor70 Bab 70 Berhubungan dengan Tuan Presiden71 Bab 71 Pertarungan Dimulai72 Bab 72 Aku Merestui Kalian73 Bab 73 Menjadikannya Terkenal dengan Cara Apa Pun74 Bab 74 Melempar Uang ke Wajah Heri75 Bab 75 Menjadi Hit76 Bab 76 Pria yang Diam-diam Dirindukannya77 Bab 77 Bukan Aku78 Bab 78 Aku Akan Pergi ke Neraka79 Bab 79 Semua yang Ia Butuhkan untuk Mengakhiri Segalanya80 Bab 80 Tidak Menginginkan Apa-Apa81 Bab 81 Cantik Tiada Tara82 Bab 82 Memamerkan Cinta di Depan Umum83 Bab 83 Menanggap Satu Sama Lain Sebagai Orang Asing.84 Bab 84 Dapatkah Saya Membantu Anda 85 Bab 85 Keluar86 Bab 86 Menebus Dosamu87 Bab 87 Keluar dari Kamarku88 Bab 88 Pesta Penutupan89 Bab 89 Melarang Lala Setiawan Di Dunia Hiburan90 Bab 90 Membatalkan Kontrak91 Bab 91 Harus Ada Penjelasan92 Bab 92 Mendidih Dengan Amarah93 Bab 93 Seseorang yang Bertekad untuk Pergi94 Bab 94 Masa Lalu Biarlah Berlalu95 Bab 95 Ini Rahasia96 Bab 96 Kilat di Wajan97 Bab 97 Maaf, Aku Tidak Bisa Minum98 Bab 98 Selamat Datang Bos Nasution99 Bab 99 Bos Nasution, Tolong Berperilaku yang Sopan100 Bab 100 Nona Andino, Tolong Perhatikan Sikapmu!