Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Sang Pemuas
5.0
Komentar
269.7K
Penayangan
141
Bab

Kulihat ada sebuah kamera dengan tripod yang lumayan tinggi di samping meja tulis Mamih. Ada satu set sofa putih di sebelah kananku. Ada pula pintu lain yang tertutup, entah ruangan apa di belakang pintu itu. “Umurmu berapa ?” tanya Mamih “Sembilanbelas, “ sahutku. “Sudah punya pengalaman dalam sex ?” tanyanya dengan tatapan menyelidik. “Punya tapi belum banyak Bu, eh Mam ... “ “Dengan perempuan nakal ?” “Bukan. Saya belum pernah menyentuh pelacur Mam. “ “Lalu pengalamanmu yang belum banyak itu dengan siapa ?” “Dengan ... dengan saudara sepupu, “ sahutku jujur. Mamih mengangguk - angguk sambil tersenyum. “Kamu benar - benar berniat untuk menjadi pemuas ?” “Iya, saya berminat. “ “Apa yang mendorongmu ingin menjadi pemuas ?” “Pertama karena saya butuh uang. “ “Kedua ?” “Kedua, karena ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin dalam soal sex. “ “Sebenarnya kamu lebih tampan daripada Danke. Kurasa kamu bakal banyak penggemar nanti. Tapi kamu harus terlatih untuk memuaskan birahi perempuan yang rata - rata di atas tigapuluh tahun sampai limapuluh tahunan. “ “Saya siap Mam. “ “Coba kamu berdiri dan perlihatkan punyamu seperti apa. “ Sesuai dengan petunjuk Danke, aku tak boleh menolak pada apa pun yang Mamih perintahkan. Kuturunkan ritsleting celana jeansku. Lalu kuturunkan celana jeans dan celana dalamku sampai paha.

Bab 1 Part 1

Aku merasa takdir yang tersurat untukku kurang bagus. Karena ibuku meninggal ketika usiaku baru 5 tahun. Sedangkan ayahku meninggalkan aku dan Ceu Imas, satu - satunya saudaraku. Untungnya Ceu Imas sudah punya suami. Sementara aku masih duduk di bangku SMP, sehingga untuk mengandalkan Ceu Imas untuk membiayai sekolah dan kebutuhan sehari - hariku.

Itu pun hanya sampai tamat SMP. Setelah aku lulus SMP, kakakku “angkat tangan”. Aku malah disuruh cari kerja saja, supaya bisa menghidupi diriku sendiri.

Tapi apa yang bisa kuperbuat dengan ijazah SMP ? Lagipula saat itu umurku baru 14 tahun. Melamar ke mana - mana pun takkan diterima, karena masih di bawah umur.

Sementara Ceu Imas hanya bisa memberi uang seadanya tiap bulan. Uang yang jumlahnya tidak seberapa. Untuk makan sehari - hari pun tidak cukup.

Karena itu aku berusaha mencari duit sendiri dengan segala cara. Dengan membantu - bantu di pasar pun jadilah. Yang penting bisa makan tiap hari, tanpa harus menunggu kiriman dari kakakku.

Hal itu berlangsung selama bertahun - tahun.

Setelah usiaku 18 tahun, aku mulai berpikir untuk mencari kegiatan yang lebih bagus daripada sekadar menjadi kuli di pasar. Karena itu aku sengaja membuat SIM A dan C. Dengan tujuan, ingin menjadi sopir angkot. Mudah - mudahan nanti ada pemilik angkot yang bersedia menyerahkan mobilnya untuk kusopiri.

Tapi sebelum hal itu terjadi, aku berjumpa dengan teman karibku, Dadang, yang menghentikan sedannya persis di sampingku.

“Asep ! Apa kabar ?” tanyanya sambil memelukku.

“Dadang ?! “ sahutku kaget, “Wah ... keren ... loe sudah punya mobil sendiri ?”

“Asal rajin nabung, beli mobil aja sih gak susah - susah amat Sep. “

“Gue juga senang nabung. Tapi kalau penghasilan gue pas - pasan, apa yang bisa gue tabung ?”

“Ayo deh ikut gue. Biar bisa ngobrol lebih panjang lebar. “

Aku pun masuk ke dalam sedan Dadang. Dengan perasaan kagum, karena teman karibku sudah punya sedan segala. Padahal dahulu dia senasib denganku. Sama - sama anak orang tak punya. Tapi sejak ia pindah ke kota, aku tak pernah berjumpa lagi dengannya. Sementara aku tetap tinggal di kota kecamatan yang jaraknya 30 kilometer dari kota besar.

“Kalau mau maju, loe harus mau tinggal di kota Sep, “ kata Dadang sambil menjalankan sedannya ke arah timur, “Di pinggiran begini, mana bisa nyari duit ? Kecuali kalau loe mau bikin tempe atau dagang sayur, mungkin bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari. “

“Gue kan gak punya saudara di kota. Mau tinggal di mana ? Harus nyewa kamar ? Dari mana duitnya ?”

“Kalau loe punya niat untuk mencari duit di kota, loe bisa tinggal di rumah gue. “

“Loe udah punya rumah sendiri di kota ?”

“Udah, “ Dadang mengangguk.

“Loe hebat Dang. Umur loe sebaya dengan gue, tapi sudah punya rumah dan mobil segala. “

“Gue setahun lebih tua dari loe. Sekarang gue udah sembilanbelas tahun Sep. Ohya, loe mau ikut ke kota sekarang ?”

“Mau. Tapi gue harus nitipin dulu kunci ke tetangga sebelah. Takut kakak gue pulang gak bisa masuk. “

“Ya udah, sekarang ke rumah loe dulu. Sekalian bawa baju untuk ganti. Siapa tau loe kerasan di rumah gue nanti. “

“Kalau dikasih kerjaan, pasti gue kerasan di rumah loe Dang. “

“Kerjaan sih ada. Asal mau aja loe ngerjainnya. “

“Kerjaan apa pun akan gue kerjakan, asal jangan maling aja. “

“Nggak. Kerjaan kita takkan merugikan orang lain. Percayalah. “

Setibanya di mulut gang menuju rumahku, Dadang menghentikan sedannya. “Gue nunggu di mobil aja ya, “ kata Dadang.

“Iya, “ sahutku, “tunggu sebentar ya Dang. “

Bergegas aku melangkah ke dalam gang menuju rumahku yang kecil dan nyaris roboh itu. Di dalam rumah, kukumpulkan semua pakaian yang sudah dicuci dan disetrika. Lalu kumasuklkan ke dalam ransel.

Sambil menggendong ransel, aku keluar dari rumahku. Lalu kukunci pintu depan. Anak kuncinya kutitipkan ke tetangga sebelah, agar kalau Ceu Imas datang, bisa masuk rumah.

Kemudian bergegas aku menuju jalan besar, di mana Dadang tengah menungguku di mobilnya.

Pada waktu aku masuk ke dalam mobil, Dadang memandang ke arah kakiku yang cuma mengenakan sandal jepit. “Kenapa gak pakai sepatu Sep ?”

“Sepatu gue udah jebol. Belum punya yang baru, “ sahutku jujur.

“Nanti di rumah gue banyak sepatu yang udah gak dipake. Kelihatannya kaki loe seukuran dengan kaki gue, “ kata Dadang.

“Gue biasa pakai sepatu ukuran empatpuluh. “

“Sama. Gue juga pakai nomor itu, “ kata Dadang sambil menjalankan mobilnya.

“Gue memang sengsara Dang. Sejak ayah gue menghilang, gue mengandalkan belas kasihan Ceu Imas. Tapi dia kan punya suami, tidak bebas juga untuk ngeluarin duit. Makanya setelah tamat SMP, gue gak bisa lanjutin ke SMA. Karena kakak gue gak sanggup biayai sekolah gue lagi. “

Dadang terdiam. Mungkin sedang memikirkan kesengsaraanku ini.

Lalu Dadang berkata, “Kalau loe mau mengikuti langkah gue, pasti takkan kekurangan lagi. Asalkan loe mau aja. “

“Mau Dang. Gue takkan pilih - pilih kerjaan. Tugas apa pun akan gue jalanin, asalkan penghasilannya memadai. Memangnya apa pekerjaanmu ?”

“Loe harus merahasiakannya ya ? Jangan sampai orang kampung kita ada yang tau pekerjaan gue sekarang. “

“Gue pasti akan merahasiakannya Dang. Memangnya apa sih pekerjaan loe ?”

“Gue hanya bertugas menyenangkan kaum wanita yang rata - rata berusia di atas tigapuluh sampai limapuluh tahun. “

“Ohya ?! Bagaimana cara menyenangkannya ?”

“Ngentot memek mereka. Hahahaaa ... sambil menyelam minum air. Dapet duit banyak sambil menikmati enaknya ewean. Enak pekerjaanku kan ?”

“Enak banget. Gue juga pengen kerja seperti itu. Tapi duitnya gede Dang ?”

“Ya gedelah. Kalau gak gede gue juga gak mau. Buktinya dalam tempo setahun aja gue udah punya rumah dan mobil. Karena gue dianggap memuaskan birahi ibu - ibu itu. “

“Ibu - ibu itu pasti orang - orang tajir ya ? “

“Ya iyalah. Ada istri pengusaha, ada yang bisnis sendiri, ada juga yang istri pejabat. Dengan berbagai alasan mereka mencari kepuasan dengan mencari gigolo. ”

“Gigolo ?”

“Iya. Profesi gue sekarang ini gigolo. Tapi gigolo kelas tinggi. Karena yang ngajak kencan sama gue selalu dari kalangan elit. “

“Terus cara beroperasinya gimana ?”

“Ada yang ngatur, seorang wanita yang biasa dipanggil Mamih, “ sahut Dadang, “Dialah yang menentukan siapa yang harus hadir dan harus kencan dengan siapa, gitu. “

“Owh ... gitu ya. “

“Nanti loe udah siap, akan gue ajak ke rumah Mamih. Tapi sebelum itu loe harus berdandan serapi mungkin, supaya loe kelihatan ganteng di mata Mamih. Kalau Mamih menilai loe ganteng, pasti ganteng pula di mata ibu - ibu itu. “

“Pakaian gue udah lusuh - lusuh, gimana bisa dandan Dang ?”

“Nanti gue kasih pakaian yang gak kampungan. Pokoknya loe harus berdandan sebaik mungkin, supaya tidak kelihatan baru datang dari pedesaan. Soal itu nanti gue yang dandanin. “

“Iya terserah loe aja Dang. Gue akan ikut apa kata loe aja. “

“Ohya, nama loe harus diganti. Jangan pakai nama Asep. Kedengarannya seperti orang kampung. “

“Lalu mau diganti dengan nama apa ?”

“Yosef aja. Biar keren kedengarannya. Gue juga bisa tetap manggil Sep, tapi berasal dari nama Yosef, bukan Asep. Gue sendiri udah ganti nama jadi Danke. “

“Danke ? Tapi kalau manggil masih tetap Dang ya. “

“Iya. Mmmm ... loe udah ada pengalaman mengenai sex ?”

“Udah. “

“Sama siapa ? Sama pelacur ?”

“Iiih amit - amiiit. Gue sih gak pernah nyentuh pelacur. Lagian di kampung kita mana ada pelacur ?”

“Beneran gak pernah nyentuh pelacur ya. Soalnya nanti akan diperiksa oleh dokter mengenai kebersihan darahmu. Kalau ada benih - benih penyakit kotor, loe pasti ditolak oleh Mamih. “

Sejam kemudian, kami tiba di rumah Dadang alias Danke. Rumah yang lumayan besar dan keren bentuknya. Ada garasinya segala. Bahkan setelah masuk ke dalam, ternyata ada kolam renangnya segala. Hebat juga rumah teman karibku ini.

“Wah ... ada kolam renangnya segala Dang, “ komentarku sambil mengamati kolam renang di dalam ruangan tertutup itu.

“Iya, “ sahut Danke, “Renang itu salah satu olahraga terbaik. Untuk membangun body yang bagus, untuk melatih pernafasan dan sebagainya. Nanti kalau loe mau berenang, berenang sajalah. Jangan sungkan - sungkan. Anggap aja rumah ini rumah loe sendiri. “

“Iya. Makasih Dank. Gue seneng juga berenang, tapi di sungai. Karena di kampung kita gak ada kolam renang. “

Danke alias Dadang memang sangat baik padaku. Beberapa setel pakaian diberikannya padaku, Pakaian yang lazim dikenakan orang kota. 3 sepatu yang kelihatan masih baru pun diberikannya padaku. Supaya jangan kelihatan kampungan, katanya.

Aku pun ditempatkan di kamar yang berdampingan dengan kamar Danke.

“Mulai saat ini biasakanlah mandi dua kali sehari. Biasakan ganti pakaian tiap hari. Dan terutama harus selalu menjaga kebersihan. Supaya ibu - ibu dan tante - tante yang berkencan dengan loe merasa nyaman ketika sedang bersama loe, “ kata Danke yang kuanggap sebagai nasihat baik.

Danke juga meminjamkan beberapa buah buku pengetahuan tentang cara - cara bergaul. Supaya aku jadi cowok yang sangat menyenangfkan.

Danke pun membuka lemari kecil obat - obatan di ruang keluarga, lalu menunjuk isinya, “Ini semua berisi supelmen, supaya kita senantiasa fits, terutama agar kontol kita selalu tangguh dalam menghadapi wanita serakus apa pun dalam melampiaskan afsu birahinya. Kalau mau pakai, pilih yang ini saja ... sehari cukup satu kaplet saja, “ kata Danke.

Selama beberapa hari aku digembleng oleh Danke. Supaya aku lulus dalam test di rumah Mamih nanti, katanya.

Sampai pada suatu pagi, Danke mengajakku berangkat ke rumah Mamih.

Bersambung

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Juliana

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku