icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Terpaksa Menjadi GIGOLO

Terpaksa Menjadi GIGOLO

WAZA PENA

5.0
Komentar
190.3K
Penayangan
60
Bab

BERISI ADEGAN 21++ Rendi Satria, pria berusia 28 tahun yang memiliki postur tubuh yang ideal juga wajah yang tampan, hal itu menjadi daya pikatnya sangat kuat dan banyak perempuan yang terpesona akan ketampanannya. Namun Rendi sudah memiliki kekasih, yaitu Lisna. Perempuan yang sangat ia cintai. Akan tetapi kedua orangtua Lisna tidak menyetujui hubungan mereka lantaran sat itu Rendi tidak memiliki pekerjaan tetap. Suatu hari Rendi ditawari pekerjaan untuk menjadi gigolo oleh tantenya sendiri. Maka dari itu Rendi bersedia demi bisa membuktikan kepada kedua orangtua Lisna. Lantas apakah yang akan terjadi dengan Rendi? Alangkah dia benar-benar menikahi pujaan hatinya? Simak dan ikuti kisahnya.

Bab 1

Gemerlapnya lampu taman seakan menambah kesan romantis bagi Rendi dan Lisna yang tengah merasakan kebahagiaan setelah mereka berdua melangsungkan acara tunangan. Mereka berdua duduk disebuah bangku kayu berwarna putih, udara yang segar serta suasana yang begitu tenang membuat mereka berdua merasakan ketenangan.

"Terimakasih yah, Sayang. Kamu sudah menepati janji," ucap Lisna dengan suara manja, sambil menyenderkan kepalanya dipundak Rendi.

"Iya, Sayang. Apa yang aku pernah janjikan sama kamu, kini aku telah berhasil menepati janjiku sama kamu, Sayang," balas Rendi tersenyum menatap kekasihnya, yang terlihat sangat cantik.

Kedua pasang mata saling bertatapan, Rendi dengan perasaan cintanya mendekatkan bibirnya dan terus mencium kening kekasihnya itu. Lisna menatapnya sambil tersenyum, tanpa disadari Rendi, tiba-tiba saja Lisna mendaratkan bibirnya di bibir lelaki yang sangat dicintainya.

Dalam situasi itu Rendi pun membalas ciuman kekasihnya, sehingga sepasang kekasih itu saling melumat dengan penuh perasaan. Keduanya nampak sangat menikmati permainan bibir, namun dengan seketika keduanya menghentikan karena menyadari posisinya saat itu yang berada di taman.

"Ih, Sayang ... Kita pulang aja yuk, mumpung rumah aku sepi," ucap Lisna mengajak kekasihnya sambil memegangi tanganya yang nampak kekar.

"Loh, bukanya tadi di rumah ada orangtua kamu, Sayang?" Rendi menatapnya dengan heran.

"Iya ... Tadi memang ada. Tapi itu belum berangkat aja, Sayang. Mamah sama papah itu katanya si mau main kerumah saudara," ucap Lisna dengan suara manja dan memberikan senyuman manis.

"Kalau memang begitu, ya sudah yuk, kita pulang." Rendi seketika nampak senang, kemudian menggandeng tangan Lisna.

Mereka berdua berjalan di jalanan taman yang nampak sangat indah. Selang beberapa saat keduanya pun masuk kedalam mobil. Rendi yang sudah tidak tahan untuk bercumbu dengan kekasihnya, ia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan terus melaju meninggalkan taman itu.

Didalam mobil Lisna tidak henti-hentinya menggoda pria yang sangat dicintainya itu, sehingga hal itu membuat Rendi semakin ingin untuk cepat-cepat sampai di rumah Lisna.

"Sayang ... sepertinya punya kamu sudah berdiri tuh," ledek Lisna menunjuk kearah celana Rendi.

"Sok tahu, enggak lah. Belum," sahut Rendi mengelak dengan sedikit tertawa.

"Iya kok. Itu kelihatanya juga gitu, pasti kamu sudah enggak kuat," ucap Lisna dengan suara yang menggoda.

"Hehe. Iya sih, tapi kamu mau juga kan, Sayang? Malam ini aku ingin banget menumpahkan semua perasaan aku." Rendi mulai menggoda, namun tetap fokus menyetir mobilnya.

"Kalau itu jangan lah, Sayang. Kita kan belum menikah, nanti saja kalau aku sudah sah menjadi istri kamu, Sayang," ucap Lisna seakan menolak permintaan Rendi.

Namun pada saat itu Rendi terus menggoda kekasihnya, semua kata-kata untuk meluluhkan Lisna ia utarakan, sehingga perlahan-lahan Lisna mulai menuruti perkataan Rendi yang menginginkan tubuhnya. Tidak lama setelah melaju kurang lebih tiga puluh menit, mereka pun kini sampai di depan rumah Lisna. Mobil itu terus memasuki halaman rumah mewah milik orangtua Lisna.

Beberapa saat kemudian mereka berdua berjalan untuk masuk kedalam rumah, bel rumah berbunyi setelah Lisna menekan tombolnya. Beberapa saat kemudian terlihat pembantunya membukakan pintu.

"Malam, Non," ucap mbak Laras tersenyum.

"Iya, Mbak," sahut Lisna yang kemudian masuk menggandeng Rendi.

"Oya, Mbak. Mamah sama papah kemana?" tanya Lisna menatap mbak Laras.

"Nyonya sama tuan sudah berangkat dari tadi, Non. Enggak tahu juga mau kemana, soalnya tuan sama nyonya enggak bilang apa-apa," jawab mbak Laras menjelaskan.

"Emm. Iya sudah, Mbak. Bikinin minum yah," ucap Lisna tersenyum, melihat pembantunya.

Dengan begitu maka pembantunya itu membalas senyuman Lisna dan terus berjalan kearah dapur untuk membuatkan minum. Sementara Lisna dan Rendi duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Mereka berdua terlihat saling senyum setelah mengetahui kedua orang tua Lisna tidak ada di rumah.

Rendi yang merasa sudah tidak sabar untuk menjamah tubuh Lisna, ia langsung memeluk tubuh kekasihnya itu, dan terus mendaratkan bibirnya hingga akhirnya mereka berdua saling melumat. Namun keduanya menghentikan aktivitasnya karena mendengar suara batuk dari pembantu Lisna yang hendak memberikan air minum untuk mereka berdua.

Pada saat itu keduanya terlihat malu-malu meliat mbak Laras. Namun pembantu itu hanya senyum-senyum setelah memergoki mereka berdua yang tengah berciuman. Selang beberapa saat setelah meletakan dua gelas minuman di atas meja, pembantu itu pun beranjak meninggalkan mereka berdua.

"Sayang, minum dulu nih," ucap Lisna sambil memberikan gelas itu.

Dengan tersenyum Rendi meraih gelas itu dan terus meminumnya, Lisna hanya memperlihatkan Rendi sambil tersenyum. Gelas itu pun diletakan kembali oleh Rendi. Sesaat setelah itu Rendi terlihat mengarahkan pandangannya kesetiap sudut ruangan untuk memastikan keadaan sekitar.

"Kamu nyari apa sih, Sayang?" tanya Lisna merasa heran melihat kekasihnya itu.

"Ya lihat situasi lah, Sayang. Tadi mbak Laras kemana?" Rendi nampak menanyakan pembantu Lisna seakan takut dipergoki kembali oleh pembantu di rumah itu.

"Owh itu? Mbak Laras pasti sudah ke kamarnya, Sayang," ucap Lisna sambil menyenderkan kepalanya di pundak Rendi.

"Emang kenapa kamu nanyain dia?" Sambungnya.

"Takut aja kalau nanti kita kepergok lagi," jawab Rendi sedikit tertawa, tanganya membelai rambut Lisna yang terurai.

Rendi kemudian membisikan ditelinga Lisna tentang keinginan untuk menuangkan birahinya yang sudah tidak tertahan. Di saat itu Lisna nampak ketakutan karena merasa takut jika sampai hamil di luar pernikahan. Akan tetapi, Rendi terus saja merayunya sambil memberikan sentuhan-sentuhan lembut di bagian tubuh Lisna yang memiliki tubuh yang sangat bagus dengan ukuran payudara yang cukup besar, sehingga membuat Rendi semakin bernafsu untuk menjamah tubuh Lisna.

Dalam situasi yang sudah sangat panas, Rendi tidak henti-hentinya mencumbu bibir kekasihnya, begitu juga dengan Lisna yang sudah terbuai oleh permainan bibir Rendi. Ia pun membalas permainan Rendi. Lisna merasakan buah dadanya disentuh dan diremas-remas oleh Rendi sehingga ia tidak kuasa menahan birahinya, Lisna mendesah merasakan sentuhan itu membuat pikirnya melayang, nafas keduanya menggebu-gebu dalam situasi saat itu.

"Aku menginginkan tubuhmu, Sayang," bisik Rendi ditelinga Lisna, tanganya terus meremas-remas buah dada kekasihnya hingga Lisna menggeliat tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya merasakan sentuhan nikmat dari Rendi.

Seketika itu Rendi yang sudah tidak kuat menahan batang kejantananya yang sudah mengeras, ia kemudian membaringkan tubuhnya Lisna diatas sofa itu lalu Rendi membuka resleting celananya. Pada saat itu Lisna terbelalak seakan baru sadar.

"Sayang ... jangan lakukan itu, kita kan belum menikah," ucap Lisna memohon sambil memegangi tangan Rendi yang hendak membuka resleting celananya.

"Enggak apa-apa, Sayang ... Aku sudah tidak kuat. Malam ini aku minta kamu layani aku, Sayang," balas Rendi dengan pelan, tubunya menindih Lisna, disaat itu Lisna terus memohon supaya Rendi tidak melakukan hubungan badan sebelum menikahinya.

Akan tetapi, Rendi seolah tidak memperdulikan ucapan kekasihnya itu, ia terus saja meremas-remas buah dadanya sambil melumati bibirnya. Hingga akhirnya Lisna kembali mengerang kenikmatan dengan permainan Rendi yang sudah diselimuti birahi yang membara.

Rendi mengangkat tubuhnya dan membiarkan Lisna terlentang diatas sofa, ia kemudian membuka resleting dan terus menurunkan celananya hingga akhirnya terlihatlah batang kejantananya yang berukuran sangat besar dan panjang. Sontak saja hal itu membuat Lisna terbelalak melihat batang kejantanan Rendi yang nampak sudah berdiri tegak dan berukuran besar.

"Sayang, tolong jangan lakukan itu, kita belum menikah," pinta Lisna sambil merapatkan kedua kakinya.

Lanjutkan Membaca
Buku serupa
Karya Lainnya oleh Penulis Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku