Callista Ivan
3 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Callista Ivan
Foto Istriku di Aplikasi Michat
Romantis "Panji, daripada lo stress mikir nasib setelah di PHK, mendingan kita main aplikasi michat saja," usul Bowo, salah satu rekan kerjaku.
Kami sama-sama tertekan karena baru saja di PHK, akibat perusahaan mengalami gulung tikar. Awalnya aku tak tertarik dengan ajakan Bowo. Tapi setelah dia menunjukkan foto-foto wanita cantik dan seksi di aplikasi booking online itu, hatiku pun tergiur untuk ikut dengannya.
Ah, mau coba sebentar juga tak apa-apa. Lagipula istriku Shira juga tak bisa memuaskan aku. Dia sangat kusam, kucel, dan berantakan.
Setiap aku pulang kerja, aku selalu disambut dengan penampilannya yang berdaster kumal, rambut diikat sembarangan, dan wajah yang berminyak ditumbuhi jerawat. Penampilannya itu membuat aku sama sekali tak tertarik padanya lagi.
Aku pun tertarik untuk membooking satu wanita. Lumayan untuk menemani aku tidur, karena aku juga butuh service yang memuaskan. Dan aku rasa ini cara yang cocok. Toh aku hanya tinggal membayar dan pergi, tanpa menyisakan apapun pada wanita yang menjajakan diri di aplikasi michat itu.
Kumulai dengan menscroll aplikasi hijau itu di layar ponselku. Hingga akhirnya aku tertarik pada seorang wanita yang sangat cantik dan seksi bernama Dira. Aku memutuskan untuk membooking nya.
Namun, mataku menyipit saat kutatap foto itu dengan seksama. Ada rasa aneh yang merayap dalam hatiku ketika melihat foto wanita bernama Dira itu.
"Kenapa foto ini sangat mirip dengan Shira?" Anda mungkin suka
Kutandatangani Surat Cerai, Dia Kehilangan Segalanya
Jasper Night Selama dua tahun, aku memainkan peran sebagai istri yang sempurna, bodoh, dan penurut untuk miliarder Baskara Adiputra.
Namun malam ini, dia melemparkan draf perceraian ke hadapanku karena cinta pertamanya, Jasmine, telah kembali dalam keadaan sakit.
Baskara menatapku seolah aku adalah noda menjijikkan, memberiku kompensasi murah dan menyebutku pemburu harta yang tidak tahu diri.
Keluarganya ikut menghinaku habis-habisan di acara makan malam, sementara Jasmine dengan licik memalsukan kecelakaan mobil untuk menjebakku atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Baskara membela wanita itu mati-matian, berteriak menyuruh polisi menangkapku, dan mengusirku dari pandangannya.
Dia mengira aku akan hancur, menangis, dan memohon untuk tidak dibuang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa rekam medis Jasmine adalah pemalsuan tingkat tinggi, dan ada dalang yang mendanai penipuan ini dari balik layar.
Alih-alih menangis, aku menatap matanya dengan tenang.
"Aku ingin penthouse ini, lima persen saham perusahaanmu, dan tunjanganku digandakan."
Setelah memeras kekayaannya dan menandatangani surat cerai, aku kembali ke kamar, membuka brankas rahasia di balik lemari, dan mengeluarkan pistol Glock 19 serta laptop terenkripsiku. Waktunya berhenti bermain rumah-rumahan.