icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 15
Kakak Sepupu Perempuan Sarah
Jumlah Kata:1228    |    Dirilis Pada:28/10/2021

"Apa kamu... Lala?" Bergandengan tangan dengan pacarnya, Alina melihat Lala yang saat itu mengenakan seragam kerjanya dengan rasa tak percaya.

"Halo, selamat datang!" Lala menyapa keduanya, berusaha menekan rasa malunya, karena hal ini adalah pertama kali baginya.

"Kamu bekerja... di sini?" Sesungguhnya Alina tidaklah membenci Lala. Mereka berdua adalah teman sekelas selama enam tahun, semenjak sekolah menengah. Namun persahabatan mereka rusak karena sebuah peristiwa, yang membuat Alina menganggap Lala hanyalah seorang gadis bodoh yang dibutakan oleh cinta.

Alina mengetahui dengan jelas siapa Mikael dan Sarah sesungguhnya - seorang bajingan dengan wanita simpanannya, sedangkan Lala menganggap keduanya sebagai teman terbaiknya. Ia berusaha memperingatkan Lala mengenai hal itu. Akan tetapi Lala malah mengira bahwa Alina telah jatuh cinta kepada Mikael dan sengaja menimbulkan masalah di antara hubungan mereka. Aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang lebih konyol darinya - inilah kesimpulan yang dapat ditarik oleh Alina pada saat itu.

Pada akhirnya Lala mengetahui semua yang dikatakan oleh Alina sebelumnya adalah sebuah kebenaran. Namun itu semua sudah terlambat.

"Ada yang bisa saya bantu? Meskipun hari ini adalah hari pertama saya bekerja di tempat ini, tapi saya memiliki selera yang bagus dalam hal gaya busana. Bagaimana kalau saya pilihkan beberapa pakaian untuk Anda lihat?" Lala bersikap anggun dan sopan setelah berhasil mengatasi rasa malunya.

Ia teringat akan kesalahannya memahami niat baik Alina di masa lalu.

Betapa bodoh dirinya itu! Ia menyerang seseorang yang telah berniat tulus kepada dirinya, dan memuliakan Mikael dan Sarah yang menjadi parasit dalam kehidupannya. Kini yang tersisa hanyalah penyesalan semata.

"Boleh juga." Alina merubah sikap terkejutnya menjadi sikap cuek seperti biasanya. "Kamu tahu kan seleraku seperti apa. Aku akan menunggumu memilihkan pakaian untukku."

Lala dengan hati-hati berusaha mengingat kembali gaya pakaian yang biasa Alina kenakan - umumnya berwarna cerah, memberikan kesan dewasa dan modis.

Alina menggandeng pacarnya ke sofa di samping, untuk duduk dan menunggu Lala melakukan pekerjaannya. Melihat Lala yang sedang memilih pakaian dengan dibantu Tamara, mata Alina menunjukkan ekspresi yang sulit untuk dibaca.

"Nona Ghani, Anda di sini. Lama kita tidak bertemu!" Sapa sang manajer toko yang baru datang menyapa Alina. Melihat Alina yang duduk di sofa, ia kemudian menaruh tasnya untuk menemani tamu terhormat ini di tokonya.

Alina memang menyukai merek ini. Ia menghabiskan ratusan juta, bahkan miliaran rupiah untuk membeli pakaian di tempat ini setiap tahunnya.

"Ya." Alina menanggapi sapaan manajer toko dengan cuek tanpa mengalihkan pandangan dari majalah yang sedang dibacanya.

Sang manajer sudah hafal dengan sikap cueknya. Melihat Lala, seorang karyawan baru, sedang memilihkan pakaian untuk Alina dengan bantuan Tamara, ia mengerutkan kening, "Sri, ambil alih tugasnya dan pilihkan pakaian terbaik untuk Nona Ghani."

Sri Ayu memang seorang pramuniaga yang sudah berpengalaman. Ia tahu dengan pasti bahwa Alina adalah seorang pembeli yang potensial dan memiliki banyak uang. Tapi Lala menyapa Alina lebih dulu. Mendengar perintah yang diberikan sang manajer, Sri Ayu tersenyum senang. Tapi...

"Tidak perlu. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Biarkan ia yang melayaniku." Alina menunjuk ke Lala, yang berjalan menghampirinya dengan membawa beberapa pilihan pakaian.

"Tapi Nona Ghani, ia masih baru di sini. Saya khawatir pelayanannya akan mengecewakan ..."

"Aku bilang tidak perlu." Alina menyela sang manajer dengan sedikit keras. Dengan malu-malu sang manajer melirik Lala yang sedang membawa beberapa pakaian, ia ingin tahu seperti apa karyawan baru itu. Ia terkejut. Apa benar itu Lala? Ya, Lala kini menjadi bawahannya. Hoho...

Alina melihat pakaian yang telah dipilihkan oleh Lala - atasan sifon berwarna merah tanpa kerah, dengan deretan kancing dekoratif di tengah, dan kulot lutut hitam, serta gaun sutra oranye dengan ikat pinggang dengan warna yang sama, kombinasi yang tampak elegan.

Alina mengangguk puas dan pergi ke kamar pas dengan membawa pakaian-pakaian itu.

Lala sedikit cemas, bertanya-tanya apakah Alina akan sengaja mempersulitnya. Kemudian Lala melihat seorang wanita berseragam, mengenakan lencana karyawan bertuliskan manajer.

Apa! Betapa tidak beruntungnya Lala! Dengan hati-hati melirik manajer yang tersenyum sinis padanya, Lala akhirnya memastikan bahwa ia tidak salah kenal. Manajernya adalah kakak sepupu perempuan Sarah - Endang Pertiwi. Sialan! Lala akan banyak menghadapi masalah di tempat kerjanya ini.

Lima menit kemudian, Alina keluar dari kamar pas dengan pakaiannya sendiri.

Ketika Lala sedang dalam kebingungan, Alina berkata kepada pacarnya: "Dua setel pakaian ini. Tolong kamu bayar."

Alina memberikan pakaian itu kepada Lala, kemudian berkeliling untuk melihat pakaian lainnya, sementara pacarnya sedang membayar tagihan.

Lala membawa pakaian itu ke konter kasir dengan perasaan lega. Ini adalah hari pertamanya menjadi pramuniaga, dan ia berhasil melakukan penjualan. Ia sangat senang!

"Terima kasih!" Lala dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada Alina, setelah pria itu membayar tagihan di konter kasir.

"Sampai ketemu." Alina dengan sikap cuek melambaikan tangannya, kemudian pergi dengan pacarnya bergandengan tangan.

"Terima kasih atas kedatangan Anda, Nona Ghani. Kami menantikan kunjungan Anda berikutnya!" Endang mengantarkan kepergian pasangan itu.

Sebagaimana sudah diperkirakan, Endang mulai memanfaatkan posisinya sebagai manajer untuk membuat masalah bagi Lala tak lama setelah Alina pergi.

"Lala, kita akan mempromosikan penjualan khusus di luar musim dalam dua hari ke depan. Pilih jaket dari edisi tahun lalu dan bagikan selebaran di luar mal bersama Tamara."

Apa-apaan ini! Lala mengutuknya di dalam hati. Jika ia tidak salah mendengar, wanita penuh dendam itu meminta Tamara dan dirinya untuk memakai jaket dan membagikan selebaran di luar ruangan, yang saat ini suhunya 37 atau 38℃.

"Sepengetahuan saya, toko kita tidak pernah menjual pakaian di luar musim." Lala belum pernah melihat toko merek terkenal seperti ini menjual pakaian di luar musim.

"Ya kamu memang benar. Kami sedang mengatur penjualan khusus di luar mal, bukan di dalam toko." Awalnya Endang khawatir, kepada siapa ia harus memberikan tugas itu. Sebuah kebetulan Lala datang untuk mulai bekerja pada hari itu. Kebetulan yang menguntungkan!

"Saya pikir bukan cara yang tepat untuk mempromosikan..."

"Bukan cara yang tepat? Kamu pikir siapa dirimu? Putri Keluarga Setiawan yang masih menjadi pemilik Grup Setiawan? Atau pemilik Mal Sarina? Segera lakukan tugasmu! Jika tidak, Tamara dan kamu akan dipecat!" Dengan sangat galak Endang menyela Lala yang sedang mengutarakan pendapatnya. Sepupunya dan Mikael saling mencintai. Yang mengganggu hubungan mereka dan memisahkan keduanya adalah Lala. Ia menyaksikan kesedihan sepupunya untuk sekian lama. Sahabat baik selama sebelas tahun? Lala memang parasit!

Lala menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata agar tidak menetes dari matanya. Tidak pernah ada yang berani berbicara kepadanya seperti ini! Ia bisa saja dengan mudah mengundurkan diri Tapi Tamara memikul beban itu. Ia tak mau menimbulkan masalah bagi Tamara.

"Ayo jalan" 'Endang sudah terlibat sekarang! Kau lihat saja nanti. Aku, Lala, akan membalas perbuatanmu suatu hari nanti!' pikir Lala.

Lala dengan marah pergi ke gudang dan memilih jaket merah untuk dirinya sendiri dan jaket pendek putih untuk Tamara.

"Lala, kamu tidak apa-apa?" Tamara sangat mengkhawatirkannya. Tamara sanggup menanggung tugas berat itu, tetapi Lala, ia tidak pernah melakukan hal seberat ini sebelumnya.

"Tamara, aku baik-baik saja. Semua berubah seiring berjalannya waktu, dan aku harus menyesuaikan diri dengan itu semua. Aku memang belum pernah melakukan ini sebelumnya.. Namun aku akan mencoba dan berusaha!" Lala akan mengusahakan yang terbaik untuk memenuhi tugasnya. Jika ia gagal, ia akan berhenti, karena ia bukan orang yang suka menyakiti dirinya sendiri!

Kemudian Lala dan Tamara berjalan keluar dari mal, sementara banyak mata memperhatikan jaket yang mereka gunakan, sungguh tak selaras dengan cuaca saat ini.

Tak lama setelah mereka berada di luar mal, Lala bisa merasakan dirinya berkeringat. Ia mengipasi dirinya dengan selebaran yang akan dibagikannya, dan tersesat dalam kebingungan melihat orang yang lewat.

Keduanya mengenakan jaket saat cuaca terik, menarik banyak perhatian orang yang lalu-lalang. Tamara kemudian menarik Lala ke jalan terdekat.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tolong Selamatkan Aku2 Bab 2 Hal Yang Paling Berharga3 Bab 3 Gabian Tiga Detik4 Bab 4 Aku Suamimu5 Bab 5 Aku Bisa Membantumu Balas Dendam6 Bab 6 Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu7 Bab 7 Tak Ada Lagi Tangisan di Masa Depan8 Bab 8 Mal Pulau Biru9 Bab 9 Berlian Merah10 Bab 10 Kamu Harus Mengalah Padaku11 Bab 11 Menikahi Seorang Pria Tua12 Bab 12 Menjadi Wanita Simpananmu13 Bab 13 Suami Lala14 Bab 14 Hari Pertama Bekerja15 Bab 15 Kakak Sepupu Perempuan Sarah16 Bab 16 Pria di Kursi Belakang17 Bab 17 Kamu Habis Minum18 Bab 18 Berhasil Diceraikan19 Bab 19 Malam Yang Sepi20 Bab 20 Menerobos Lampu Merah21 Bab 21 Tiga Pria22 Bab 22 Aku Sudah Menoleransimu Selama Dua Hari23 Bab 23 Sang CEO Juga Memiliki Idola24 Bab 24 Nyonya Nasution Melarikan Diri Dengan Mobil25 Bab 25 Empat Mobil Polisi Rusak Berat26 Bab 26 Aku Pasti Akan Menuntut Wanita Itu27 Bab 27 Melecehkan Gadis Cantik28 Bab 28 Pria yang Sangat Tampan29 Bab 29 Pria di Puncak Kekuasaan30 Bab 30 Bos Nasution, Anda Luar Biasa31 Bab 31 Senyum Kekanakan32 Bab 32 Tidak Tahu33 Bab 33 Wanita Jalang34 Bab 34 Mengandalkan Suaminya35 Bab 35 Tidak Akan Melepaskannya Begitu Saja36 Bab 36 Mengatur Pekerjaan Untukmu37 Bab 37 Bertemu Ibu Heri untuk Pertama Kalinya38 Bab 38 Seorang Gelandangan39 Bab 39 Aku Bukan Ibumu40 Bab 40 Tunggu dan Lihat41 Bab 41 Ibu Mertua Membuat Keributan di Perusahaan42 Bab 42 Sayang, Maafkan Aku43 Bab 43 Tamara Menolaknya44 Bab 44 Kejutan Berubah Menjadi Ketakutan45 Bab 45 Kartika Maharani46 Bab 46 Aku Kartika Maharani, Tunangan Heri47 Bab 47 Tak Pulang48 Bab 48 Kamu Mendapatkan Izinku49 Bab 49 Aku Akan Mengantarmu Pulang Sekarang50 Bab 50 Tolong Jangan Salah Paham51 Bab 51 Suara Keras Sebuah Tamparan52 Bab 52 Istriku yang Sah53 Bab 53 Pergi Denganku54 Bab 54 Beraninya Kamu Memukulku55 Bab 55 Nakula56 Bab 56 Dompet Berwarna Coklat57 Bab 57 Kucingmu Mati58 Bab 58 Meja Laboratorium Berantakan59 Bab 59 Keluar dari Rumahku60 Bab 60 Kehancuran di setiap Kamar yang Ditempati Kartika.61 Bab 61 Tuan Presiden62 Bab 62 Postingan Lala Menjadi Viral di Opini Publik.63 Bab 63 Virus N7d964 Bab 64 Kamu Membunuhnya65 Bab 65 Operasi Aborsi66 Bab 66 Berkati Diriku dengan Kebahagiaan67 Bab 67 Yosep Andino68 Bab 68 Apa Kamu Sudah Gila69 Bab 69 Kamu Kotor70 Bab 70 Berhubungan dengan Tuan Presiden71 Bab 71 Pertarungan Dimulai72 Bab 72 Aku Merestui Kalian73 Bab 73 Menjadikannya Terkenal dengan Cara Apa Pun74 Bab 74 Melempar Uang ke Wajah Heri75 Bab 75 Menjadi Hit76 Bab 76 Pria yang Diam-diam Dirindukannya77 Bab 77 Bukan Aku78 Bab 78 Aku Akan Pergi ke Neraka79 Bab 79 Semua yang Ia Butuhkan untuk Mengakhiri Segalanya80 Bab 80 Tidak Menginginkan Apa-Apa81 Bab 81 Cantik Tiada Tara82 Bab 82 Memamerkan Cinta di Depan Umum83 Bab 83 Menanggap Satu Sama Lain Sebagai Orang Asing.84 Bab 84 Dapatkah Saya Membantu Anda 85 Bab 85 Keluar86 Bab 86 Menebus Dosamu87 Bab 87 Keluar dari Kamarku88 Bab 88 Pesta Penutupan89 Bab 89 Melarang Lala Setiawan Di Dunia Hiburan90 Bab 90 Membatalkan Kontrak91 Bab 91 Harus Ada Penjelasan92 Bab 92 Mendidih Dengan Amarah93 Bab 93 Seseorang yang Bertekad untuk Pergi94 Bab 94 Masa Lalu Biarlah Berlalu95 Bab 95 Ini Rahasia96 Bab 96 Kilat di Wajan97 Bab 97 Maaf, Aku Tidak Bisa Minum98 Bab 98 Selamat Datang Bos Nasution99 Bab 99 Bos Nasution, Tolong Berperilaku yang Sopan100 Bab 100 Nona Andino, Tolong Perhatikan Sikapmu!