icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 9
Berlian Merah
Jumlah Kata:1279    |    Dirilis Pada:13/10/2021

"Selamat datang, Nona! Ini adalah cincin berlian mahakarya terbaru dari TC, desainer perhiasan internasional. Cincin ini baru kami terima kemarin. Cincin ini berhiaskan berlian merah paling langka di atasnya, dan desainnya telah menerima banyak penghargaan di dunia. Di dunia hanya terdapat 3 berlian merah seperti ini - satu dipersembahkan oleh TC kepada istrinya, satu lagi dijual di Negeri Alga dan ini yang terakhir. Cincin berlian merah ini merupakan produk terbaik yang kami miliki saat ini. Anda dapat membacanya di majalah iklan untuk informasi lebih lanjut." Sang pramuniaga dengan bersemangat memperlihatkan kepada Lala desain cincin berlian terindah dan termahal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Cincin berlian ini tampak berbeda dari cincin berlian berwarna lainnya. Bertahtakan berlian merah 10 karat dan dihiasi dengan berlian kecil yang melingkar di sekelilingnya, cincin itu memberikan kesan yang elegan, mulia, mewah, dan sederhana.

"Kamu akan membeli cincin berlian untukku? Kamu sebenarnya tidak perlu ..."

"Coba pakai." Heri meraih tangan Lala dan memasangkan cincin di jarinya, mengabaikan apa yang telah diucapkannya. Sangat cocok! Lala sedikit terkejut saat cincin itu dengan pas terpasang di jarinya.

Cincin itu terpasang di jari manis tangan kirinya, kilauan berlian yang indah dan lembut memberikan kesan keanggunan seorang wanita modern, serta menonjolkan kulit tangannya yang putih dan halus.

"Jangan dilepas. Bayar dengan kartu." Tanpa mengedipkan mata, Heri mengeluarkan kartu dari dompetnya, dan menyerahkannya kepada sang pramuniaga. Sang pramuniaga sangat terkejut atas tindakan Heri. Pria ini sangat keren! Ia akan membayar cincin itu, padahal ia belum tahu harganya.

"Tuan, harga cincin ini 413 miliar rupiah. Saya akan mengambil mesin EDC jika memang Anda yakin untuk membelinya." Sang pramuniaga hampir tak percaya bahwa cincin dengan harga setinggi langit itu akan terjual dengan begitu mudah, namun ia tetap berusaha menahan diri untuk tidak menunjukkan kegembiraannya.

"Ya aku akan membelinya." Jawab Heri seperlunya, membuat sang pramuniaga terkejut dan hampir lupa menjaga sikapnya ketika mengambil mesin EDC.

"Tunggu!" ucap Lala sedikit berteriak untuk menghentikan sang pramuniaga. Apa Heri sudah gila? Sebuah cincin berlian seharga lebih dari 413 miliar! Sungguh hal yang tidak perlu untuk pernikahan palsu mereka yang mungkin tidak akan berlangsung lama. Heri tidak perlu menghabiskan uang begitu banyak untuknya.

"Cepat lakukan!" Kata Heri kepada sang pramuniaga sambil berdiri dan mengikutinya ke konter kasir untuk memasukkan kode pembayaran.

"Heri..." Lala tidak melanjutkan apa yang hendak dikatakannya ketika ia menyadari Heri sedang menatapnya dengan tajam.

Huh, angkuh! Suka memerintah! Sok berkuasa! Penindas!

Dalam perjalanan ke tempat parkir, dengan sedikit marah Lala berjalan di depan Heri dengan sepatu hak tingginya. Suara yang ditimbulkan langkah kakinya terdengar cukup keras di lantai 8 yang tenang, sehingga menarik banyak perhatian.

Heri yang melihatnya dari belakang merasa itu lucu dan menyenangkan, seorang wanita yang marah dan bersikap kekanak-kanakan, ia mengikuti Lala dengan santai dan tak tergesa-gesa.

Tidak ada orang lain di dalam lift, kecuali mereka berdua. Ketika mereka telah sampai di lantai dua bawah tanah, Heri berinisiatif menggandeng tangan Lala dan berjalan menuju mobil.

Pada awalnya Lala berusaha untuk melepaskannya. Namun, semakin keras ia mencoba, semakin erat Heri menggenggam tangannya. Hingga akhirnya ia pun menyerah, dan membiarkan Heri menggandengnya.

Lala membuka pintu belakang mobil, dan menghempaskan dirinya di kursi dengan emosional.

"Duduklah di kursi depan." ucap Heri datar.

"Aku tidak mau!" Lala menyandarkan dirinya di kursi belakang dan menutup matanya, berusaha untuk tidak melihat Heri.

"Tidak mau? Aku tidak akan keberatan jika harus berhubungan seks denganmu di dalam mobil." Ancam Heri dengan santai, kemudian ia pun menyalakan radio dan memutar musik. Akhirnya Lala membuka pintu depan, dan duduk di samping Heri dengan enggan.

Dengan senyum tipis tersungging, Heri menyalakan mobilnya.

Sebelum mereka bertemu, Lala adalah seorang putri, bagaikan bulan yang dikelilingi oleh banyak bintang, hampir semua orang tunduk padanya. Di masa lalu, tak ada yang berani membuatnya marah. Hanya ia yang boleh menggoda dan membuat orang lain marah. Ia tak menyangka bahwa gilirannya akan tiba, dibuat marah oleh suaminya berulang kali.

Heri menginjak gas, dan melaju keluar dari parkiran. Ketika mobil Heri berpapasan dengan mobil sport Ferrari putih, seorang wanita dengan rambut kuning bergelombang yang duduk di kursi penumpang depan melihat mobilnya dengan terkejut, ia tak percaya dengan apa yang barusan melintas di depannya.

Sarah sangat yakin bahwa wanita yang dilihatnya duduk di kursi penumpang mobil Maybach itu adalah Lala, yang telah menghilang selama beberapa hari belakangan!

"Kamu sedang melihat apa?" Tanya Mikael melihat ekspresi tunangannya yang berubah menjadi terkejut dan kebingungan.

"Aku melihat... Lala." Sarah dengan hati-hati mengamati wajah Mikael yang cemberut, sibuk membuka sabuk pengaman tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Mikael tidak sedang ingin mendengar apa pun tentang Lala saat ini. Chairil dan putrinya menghilang tak lama setelah Keluarga Setiawan jatuh bangkrut. Mikael pasti akan memberinya pelajaran jika suatu saat nanti mereka bertemu.

"Mikael, aku ingin tahu bagaimana kabar Lala sekarang." ucap Sarah berpura-pura mengkhawatirkan Lala ketika ia menutup pintu mobil.

"Kenapa kamu menyebut namanya? Sungguh menyebalkan!" Mikael merangkul bahu Sarah, dan kemudian pergi ke lantai 8 bersamanya.

Sarah tersenyum puas dan berpikir, "Lala, kamu telah kehilangan segalanya. Lihat! Bahkan pria yang kamu cintai tak mau lagi mendengar tentang dirimu."

Mereka kemudian langsung menuju Toko Berlian TC di lantai 8. Perhiasan berlian yang didesain oleh TC menjadi topik perbincangan para peminat perhiasan belakangan ini. Hanya ada dua toko TC di Kota Daka, satu di Mal Pulau Biru dan yang satu lagi di Plaza Citra.

Para pramuniaga sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu yang seru ketika Mikael dan Sarah datang, beberapa kalimat mereka terdengar dari jauh karena diucapkan dengan sangat bersemangat.

"Lebih dari 413 miliar! Oh Tuhan! Ia membayarnya hanya dalam waktu tiga menit! Nona Yani, betapa beruntungnya kamu hari ini!"

"Ya, ia sangat tampan! Berlian merah itu sangat besar! Apa wanita itu istrinya? Ia juga cantik. Ia juga pasti berasal dari keluarga kaya, ia telah datang ke sini dan membeli perhiasan TC beberapa kali."

"Sayangnya! Benar-benar sangat disayangkan! Pria tampan itu sudah menikah."

Sarah mendengarkan mereka, kemudian sedikit berdeham untuk memberi tahu mereka bahwa ada Mikael dan dirinya di toko.

"Selamat datang, Tuan Gabian dan Nona Ferdina." Para pramuniaga kembali mengerjakan tugasnya setelah sadar bahwa ada dua tamu kaya di toko.

Sarah pernah datang ke toko ini bersama Lala beberapa kali. Sehingga semua pramuniaga yang sudah senior mengenalnya dan tahu namanya. Mereka mendengar bahwa ia akan menikah dengan seorang pria bernama Mikael, yang diduga oleh sang pramuniaga, adalah pria yang saat ini datang bersamanya.

"Aku telah berkomunikasi dengan manajer toko tentang karya terbaru TC. Maksudku berlian merah itu. Di mana barangnya? Tolong tunjukkan padaku." Yang menjadi masalah adalah, harga cincin itu sangatlah mahal. Sarah menghabiskan banyak waktu dan usaha dalam merayu Mikael, agar setuju untuk membelinya. Karena itu mereka datang hari ini, berniat untuk membayar depositnya.

"Maaf, Nona Ferdina. Cincin itu baru saja terjual. Saya akan menunjukkan beberapa pilihan cincin lainnya." Sang pramuniaga menjawab permintaan Sarah dengan sedikit tertekan. Betapa ia berharap TC telah membuat lebih banyak cincin seperti itu.

"Sudah terjual?" Sarah bertanya dengan suara keras penuh nada kekecewaan. Ia sangat menyukai cincin berlian itu. Demi mendapat persetujuan Mikael, ia bahkan setuju untuk menggunakan semua tabungan pribadinya.

"Sarah, sudahlah. Masih banyak pilihan cincin lainnya." Mikael mengomentari, sambil melihat pilihan cincin lainnya. Lagipula sebenarnya ia tidak ingin membeli cincin yang sangat mahal itu. Ia merasa lega mengetahui cincin itu telah terjual.

Sarah akan datang untuk membayar deposit lebih awal, andai saja ia tahu bahwa cincin tersebut akan terjual secepat itu. Ia menyalahkan Mikael yang membutuhkan tiga hari hanya untuk menyetujui keinginannya membeli cincin itu. Ya, ini semua salah Mikael.

"Iya, sudah terjual. Wanita yang datang bersama Anda terakhir kali untuk mengambil hadiah ulang tahun, telah membelinya, ia datang bersama suaminya." Jawaban pramuniaga membuat pikiran Sarah menjadi hampa.

"Lala?" Sarah hampir berteriak, ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar, wajahnya terlihat sedikit menakutkan dengan matanya yang melotot karena terkejut.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tolong Selamatkan Aku2 Bab 2 Hal Yang Paling Berharga3 Bab 3 Gabian Tiga Detik4 Bab 4 Aku Suamimu5 Bab 5 Aku Bisa Membantumu Balas Dendam6 Bab 6 Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu7 Bab 7 Tak Ada Lagi Tangisan di Masa Depan8 Bab 8 Mal Pulau Biru9 Bab 9 Berlian Merah10 Bab 10 Kamu Harus Mengalah Padaku11 Bab 11 Menikahi Seorang Pria Tua12 Bab 12 Menjadi Wanita Simpananmu13 Bab 13 Suami Lala14 Bab 14 Hari Pertama Bekerja15 Bab 15 Kakak Sepupu Perempuan Sarah16 Bab 16 Pria di Kursi Belakang17 Bab 17 Kamu Habis Minum18 Bab 18 Berhasil Diceraikan19 Bab 19 Malam Yang Sepi20 Bab 20 Menerobos Lampu Merah21 Bab 21 Tiga Pria22 Bab 22 Aku Sudah Menoleransimu Selama Dua Hari23 Bab 23 Sang CEO Juga Memiliki Idola24 Bab 24 Nyonya Nasution Melarikan Diri Dengan Mobil25 Bab 25 Empat Mobil Polisi Rusak Berat26 Bab 26 Aku Pasti Akan Menuntut Wanita Itu27 Bab 27 Melecehkan Gadis Cantik28 Bab 28 Pria yang Sangat Tampan29 Bab 29 Pria di Puncak Kekuasaan30 Bab 30 Bos Nasution, Anda Luar Biasa31 Bab 31 Senyum Kekanakan32 Bab 32 Tidak Tahu33 Bab 33 Wanita Jalang34 Bab 34 Mengandalkan Suaminya35 Bab 35 Tidak Akan Melepaskannya Begitu Saja36 Bab 36 Mengatur Pekerjaan Untukmu37 Bab 37 Bertemu Ibu Heri untuk Pertama Kalinya38 Bab 38 Seorang Gelandangan39 Bab 39 Aku Bukan Ibumu40 Bab 40 Tunggu dan Lihat41 Bab 41 Ibu Mertua Membuat Keributan di Perusahaan42 Bab 42 Sayang, Maafkan Aku43 Bab 43 Tamara Menolaknya44 Bab 44 Kejutan Berubah Menjadi Ketakutan45 Bab 45 Kartika Maharani46 Bab 46 Aku Kartika Maharani, Tunangan Heri47 Bab 47 Tak Pulang48 Bab 48 Kamu Mendapatkan Izinku49 Bab 49 Aku Akan Mengantarmu Pulang Sekarang50 Bab 50 Tolong Jangan Salah Paham51 Bab 51 Suara Keras Sebuah Tamparan52 Bab 52 Istriku yang Sah53 Bab 53 Pergi Denganku54 Bab 54 Beraninya Kamu Memukulku55 Bab 55 Nakula56 Bab 56 Dompet Berwarna Coklat57 Bab 57 Kucingmu Mati58 Bab 58 Meja Laboratorium Berantakan59 Bab 59 Keluar dari Rumahku60 Bab 60 Kehancuran di setiap Kamar yang Ditempati Kartika.61 Bab 61 Tuan Presiden62 Bab 62 Postingan Lala Menjadi Viral di Opini Publik.63 Bab 63 Virus N7d964 Bab 64 Kamu Membunuhnya65 Bab 65 Operasi Aborsi66 Bab 66 Berkati Diriku dengan Kebahagiaan67 Bab 67 Yosep Andino68 Bab 68 Apa Kamu Sudah Gila69 Bab 69 Kamu Kotor70 Bab 70 Berhubungan dengan Tuan Presiden71 Bab 71 Pertarungan Dimulai72 Bab 72 Aku Merestui Kalian73 Bab 73 Menjadikannya Terkenal dengan Cara Apa Pun74 Bab 74 Melempar Uang ke Wajah Heri75 Bab 75 Menjadi Hit76 Bab 76 Pria yang Diam-diam Dirindukannya77 Bab 77 Bukan Aku78 Bab 78 Aku Akan Pergi ke Neraka79 Bab 79 Semua yang Ia Butuhkan untuk Mengakhiri Segalanya80 Bab 80 Tidak Menginginkan Apa-Apa81 Bab 81 Cantik Tiada Tara82 Bab 82 Memamerkan Cinta di Depan Umum83 Bab 83 Menanggap Satu Sama Lain Sebagai Orang Asing.84 Bab 84 Dapatkah Saya Membantu Anda 85 Bab 85 Keluar86 Bab 86 Menebus Dosamu87 Bab 87 Keluar dari Kamarku88 Bab 88 Pesta Penutupan89 Bab 89 Melarang Lala Setiawan Di Dunia Hiburan90 Bab 90 Membatalkan Kontrak91 Bab 91 Harus Ada Penjelasan92 Bab 92 Mendidih Dengan Amarah93 Bab 93 Seseorang yang Bertekad untuk Pergi94 Bab 94 Masa Lalu Biarlah Berlalu95 Bab 95 Ini Rahasia96 Bab 96 Kilat di Wajan97 Bab 97 Maaf, Aku Tidak Bisa Minum98 Bab 98 Selamat Datang Bos Nasution99 Bab 99 Bos Nasution, Tolong Berperilaku yang Sopan100 Bab 100 Nona Andino, Tolong Perhatikan Sikapmu!