icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 6
Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu
Jumlah Kata:1178    |    Dirilis Pada:09/10/2021

"Aku mendengarkanmu." Heri duduk di kursi dengan menyilangkan kaki, mendengarkan apa yang hendak dikatakan Lala dengan seksama.

"Pertama, jangan pernah menyentuhku tanpa izin!" Berhubungan seks dengan orang tak dikenal adalah hal yang sangat memalukan. Hal semacam itu tak akan terjadi kecuali ada pihak yang dijebak.

Heri mengangguk menyetujui. Syarat yang mudah. Heri akan membuat Lala memberikan izinnya.

"Kedua, jangan pernah membawa pulang wanita lain ke rumah!"

Heri kembali mengangguk. Dia tidak akan terjerat oleh wanita lain.

"Ketiga, kita harus berpura-pura tidak mengenal satu sama lain saat di depan umum."

Heri mengangguk setelah Lala menyelesaikan kata-katanya. Dia tidak menetapkan batas waktu untuk syarat pertama dan ketiga, kan?

"Sekarang giliranku - tetap rahasiakan pernikahan kita, aku tidak ingin terlibat dalam kekacauan yang mungkin terjadi."

"Sepakat!"

Setelah mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Heri, Lala dibawa oleh Heri ke Graha Kapuk, sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit Kota Daka.

Aroma makan malam yang sedang disiapkan menyambut keduanya begitu mereka memasuki rumah besar itu. Bibi Jana, sang pelayan rumah, keluar dari dapur untuk menemui keduanya.

"Tuan Muda, makan malam akan segera siap. Nona, kamar Anda ada di tengah bagian kanan di lantai dua. Saya sudah membersihkannya untuk Anda tempati." Bibi Jana telah menjadi pelayan Keluarga Nasution selama belasan tahun. Kali ini, Heri datang ke Kota Daka dengan tujuan mengembangkan bisnisnya. Ia tidak akan kembali ke luar negeri dalam waktu dekat. Maka ayahnya mengirim Bibi Jana dari AS untuk melayani Heri. Heri menelepon Bibi Jana pagi ini dan memintanya untuk menyiapkan kamar bagi Lala

"Terima kasih banyak." Lala terlihat pucat sehingga Bibi Jana merasa kasihan padanya, dan ingin membuatkan makanan yang enak agar Lala segera pulih.

"Sama-sama. Nona, Anda dapat memeriksa kamar yang akan Anda tempati terlebih dahulu, dan kembali nanti saat makan malam sudah siap." "Gadis yang baik. Mereka berdua adalah pasangan yang sempurna," pikir Bibi Jana.

Heri naik ke lantai dua dan diikuti oleh Lala.

Heri berhenti di depan sebuah kamar, kemudian membuka pintunya, "Ini kamar untukmu. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Rumah di 8 Mutiara Musim Semi sudah hampir selesai. Kita akan segera pindah ke sana."

... Apa?. 8 Mutiara Musim Semi? Komplek perumahan elit yang hanya berisi 8 rumah? Dia pernah mendengar tentang perumahan itu, sebuah perumahan yang jauh lebih mewah, lebih megah dan lebih berkelas dari rumahnya dan bahkan dari Graha Kapuk ini. Dari informasi yang didengarnya, seorang investor misterius telah menanamkan belasan triliun demi membangun perumahan itu. Setiap rumah di perumahan itu berdiri di atas area seluas lebih dari 1000 meter persegi, dan itu belum termasuk taman dan kolam renang...

Meskipun Lala pernah menjalani kehidupan sebagai orang kaya sebelumnya, namun sepertinya itu bukan apa-apa dibandingkan dengan kehidupan Heri.

Dengan karpet tebal berwarna putih di lantainya, dan kertas dinding berwarna dasar putih dengan pola, kamar seluas 80 meter persegi ini dilengkapi dengan tempat tidur ganda selebar 3 meter dengan hiasan aksesoris berwarna merah muda.

Kamar ini juga dilengkapi dengan meja rias, lemari pakaian, meja komputer, dan juga terdapat bagian ruang tamu kecil dengan beberapa kursi berlengan yang warnanya serba putih.

Di sisi kiri ruang tamu kecil merupakan sebuah kamar mandi dengan gaya dekorasi berwarna coklat muda.

Di tengah kamar mandi terdapat sebuah bak mandi bundar dengan dekorasi berbentuk cangkang coklat muda di bagian luar, tirai pancuran tahan air berwarna coklat muda diikatkan pada empat pilar yang mengelilinginya, rak dengan handuk mandi di sebelah kiri, keran di sebelah kanan, dan perlengkapan mandi mahal di kedua sisi keran.

Di bagian luar kamar, terdapat balkon seluas 20 meter persegi, dilengkapi dengan dua kursi santai berwarna putih dan sebuah meja bundar kecil.

Kamar ini menghadirkan suasana yang bersih dan nyaman. Meskipun Lala pernah memiliki kamar yang cukup mewah, namun sungguh tak sebanding dengan kamar ini. Ditambah lagi, bagi seseorang yang kini hidup dengan bergantung pada orang lain, kamar ini sangatlah bagus. Lala mengira dirinya adalah orang yang cukup bijaksana.

"Untuk saat ini kamu bisa gunakan kamar ini. Kita akan segera pindah." Kemudian Heri melihat Lala melemparkan dirinya ke tempat tidur, dengan emosi yang tidak dipahaminya.

"Ini sudah cukup bagus. Mengingat sekarang aku sudah kehilangan segalanya, bukankah begitu?" Dia bergumam menjawab Heri, atau lebih tepatnya menjawab dirinya sendiri.

Mendadak Heri melompat ke atasnya. Tindakan Heri yang tiba-tiba itu sempat membuat Lala takut.

Kini posisi mereka begitu dekat, hingga jarak antara wajah mereka kurang dari satu sentimeter.

"Mulai sekarang, memiliki aku sudah cukup bagimu." Dimabukkan oleh bisikan cinta dari Heri, jantung Lala berdebar dengan kencang. Tangan Lala menopang dada Heri yang bidang, namun lupa untuk memberontak padanya.

Tajamnya mata Heri yang misterius membius Lala, seakan sebuah pusaran yang menariknya untuk melakukan lebih jauh.

Heri menundukkan kepalanya, sedangkan Lala menutup mata, tak berdaya melepaskan dirinya dari Heri, bagaikan seekor kucing yang lemah lembut dan penurut. Aroma Lala membuat Heri hampir lupa diri.

Tak berapa lama terdengar bunyi gedebuk. Wajah Lala memerah, ia melompat berdiri setelah mendorong Heri.

Heri hampir saja tak percaya, wanita ini berani memukul kepalanya!

"Wanita bodoh! Kamu akan menyesal karena berani melakukannya!" Hendak membalas Lala, Heri berdiri di samping tempat tidur, dengan wajah dingin ditariknya pergelangan tangan Lala, dan melemparkannya kembali ke tempat tidur.

"Kamu yang mulai duluan!" Lala merasa marah dan juga malu, berguling dengan cepat, dan dari sudut matanya melihat Heri menangkap udara di sisi lain tempat tidur.

Menarik! "Datanglah kemari, aku akan mengajarimu." Heri berkata dengan nada santai.

Lala kemudian mengambil bantal dan memeluknya di depan dada, "Heri, aku tidak akan menikahimu. Aku tidak bisa mengendalikanmu!"

Betapa liarnya! Heri telah berjanji untuk tidak menyentuhnya. Bagaimana jika Heri melanggar janjinya dan memaksanya setiap hari setelah menikah?

Pria dilahirkan untuk tahu cara menggoda. Heri tidak menganggap dirinya seorang penggoda yang berpengalaman. Bahkan teman-temannya akan sangat terkejut jika mendengar ada yang menggambarkannya sebagai seorang penggoda!

"Kamu tidak berhak membuat keputusan. Tidak pernah ada yang berani menolakku!" Heri melompat dari tempat tidur, dengan elegan merapikan kembali pakaiannya, dan berjalan menuju pintu. "Ayo turun, jika tidak, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa untuk dimakan."

Dalam suasana hati yang buruk, Lala menatap punggung Heri dan mengikutinya untuk turun dengan rasa enggan.

Ketika mereka berjalan menuruni anak tangga, Bibi Jana mulai menyajikan makan malam di atas meja. Lala berlari untuk mencuci tangannya dengan tergesa-gesa. Ia berencana membantu Bibi Jana di dapur.

"Nona, Anda tidak perlu melakukan itu. Biarkan saya yang melakukannya!" Bibi Jana semakin menyukai Lala. Ia menjadi lebih puas terhadap Lala, karena menurutnya gadis ini sangat sopan dan santai.

"Tidak masalah. Aku juga tidak memiliki kesibukan lain. Panggil saja aku Lala!" Mulai sekarang dia tinggal di rumah orang lain dan bergantung pada mereka, dia harus belajar membangun hubungan yang baik dengan orang di sekitarnya; karena jika tidak, dia mungkin akan dijebak oleh orang lagi dan berakhir sengsara.

Orang bisa berlaku sangat keji kepada satu sama lain. Mulai sekarang dia tidak akan dengan mudah mempercayai orang lain.

Heri menarik kursi, dan dengan dingin menatap Lala yang sibuk membantu Bibi Jana di dapur. Heri merasa senang melihatnya, karena sesungguhnya dirinya tak suka wanita yang terlalu manja.

Makan malam mereka sangat beragam, dengan empat hidangan dan satu sup - iga dan rebung yang direbus dengan saus cokelat, tahu dengan jus tomat, turbot kukus, sup jamur serta bubur millet.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tolong Selamatkan Aku2 Bab 2 Hal Yang Paling Berharga3 Bab 3 Gabian Tiga Detik4 Bab 4 Aku Suamimu5 Bab 5 Aku Bisa Membantumu Balas Dendam6 Bab 6 Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu7 Bab 7 Tak Ada Lagi Tangisan di Masa Depan8 Bab 8 Mal Pulau Biru9 Bab 9 Berlian Merah10 Bab 10 Kamu Harus Mengalah Padaku11 Bab 11 Menikahi Seorang Pria Tua12 Bab 12 Menjadi Wanita Simpananmu13 Bab 13 Suami Lala14 Bab 14 Hari Pertama Bekerja15 Bab 15 Kakak Sepupu Perempuan Sarah16 Bab 16 Pria di Kursi Belakang17 Bab 17 Kamu Habis Minum18 Bab 18 Berhasil Diceraikan19 Bab 19 Malam Yang Sepi20 Bab 20 Menerobos Lampu Merah21 Bab 21 Tiga Pria22 Bab 22 Aku Sudah Menoleransimu Selama Dua Hari23 Bab 23 Sang CEO Juga Memiliki Idola24 Bab 24 Nyonya Nasution Melarikan Diri Dengan Mobil25 Bab 25 Empat Mobil Polisi Rusak Berat26 Bab 26 Aku Pasti Akan Menuntut Wanita Itu27 Bab 27 Melecehkan Gadis Cantik28 Bab 28 Pria yang Sangat Tampan29 Bab 29 Pria di Puncak Kekuasaan30 Bab 30 Bos Nasution, Anda Luar Biasa31 Bab 31 Senyum Kekanakan32 Bab 32 Tidak Tahu33 Bab 33 Wanita Jalang34 Bab 34 Mengandalkan Suaminya35 Bab 35 Tidak Akan Melepaskannya Begitu Saja36 Bab 36 Mengatur Pekerjaan Untukmu37 Bab 37 Bertemu Ibu Heri untuk Pertama Kalinya38 Bab 38 Seorang Gelandangan39 Bab 39 Aku Bukan Ibumu40 Bab 40 Tunggu dan Lihat41 Bab 41 Ibu Mertua Membuat Keributan di Perusahaan42 Bab 42 Sayang, Maafkan Aku43 Bab 43 Tamara Menolaknya44 Bab 44 Kejutan Berubah Menjadi Ketakutan45 Bab 45 Kartika Maharani46 Bab 46 Aku Kartika Maharani, Tunangan Heri47 Bab 47 Tak Pulang48 Bab 48 Kamu Mendapatkan Izinku49 Bab 49 Aku Akan Mengantarmu Pulang Sekarang50 Bab 50 Tolong Jangan Salah Paham51 Bab 51 Suara Keras Sebuah Tamparan52 Bab 52 Istriku yang Sah53 Bab 53 Pergi Denganku54 Bab 54 Beraninya Kamu Memukulku55 Bab 55 Nakula56 Bab 56 Dompet Berwarna Coklat57 Bab 57 Kucingmu Mati58 Bab 58 Meja Laboratorium Berantakan59 Bab 59 Keluar dari Rumahku60 Bab 60 Kehancuran di setiap Kamar yang Ditempati Kartika.61 Bab 61 Tuan Presiden62 Bab 62 Postingan Lala Menjadi Viral di Opini Publik.63 Bab 63 Virus N7d964 Bab 64 Kamu Membunuhnya65 Bab 65 Operasi Aborsi66 Bab 66 Berkati Diriku dengan Kebahagiaan67 Bab 67 Yosep Andino68 Bab 68 Apa Kamu Sudah Gila69 Bab 69 Kamu Kotor70 Bab 70 Berhubungan dengan Tuan Presiden71 Bab 71 Pertarungan Dimulai72 Bab 72 Aku Merestui Kalian73 Bab 73 Menjadikannya Terkenal dengan Cara Apa Pun74 Bab 74 Melempar Uang ke Wajah Heri75 Bab 75 Menjadi Hit76 Bab 76 Pria yang Diam-diam Dirindukannya77 Bab 77 Bukan Aku78 Bab 78 Aku Akan Pergi ke Neraka79 Bab 79 Semua yang Ia Butuhkan untuk Mengakhiri Segalanya80 Bab 80 Tidak Menginginkan Apa-Apa81 Bab 81 Cantik Tiada Tara82 Bab 82 Memamerkan Cinta di Depan Umum83 Bab 83 Menanggap Satu Sama Lain Sebagai Orang Asing.84 Bab 84 Dapatkah Saya Membantu Anda 85 Bab 85 Keluar86 Bab 86 Menebus Dosamu87 Bab 87 Keluar dari Kamarku88 Bab 88 Pesta Penutupan89 Bab 89 Melarang Lala Setiawan Di Dunia Hiburan90 Bab 90 Membatalkan Kontrak91 Bab 91 Harus Ada Penjelasan92 Bab 92 Mendidih Dengan Amarah93 Bab 93 Seseorang yang Bertekad untuk Pergi94 Bab 94 Masa Lalu Biarlah Berlalu95 Bab 95 Ini Rahasia96 Bab 96 Kilat di Wajan97 Bab 97 Maaf, Aku Tidak Bisa Minum98 Bab 98 Selamat Datang Bos Nasution99 Bab 99 Bos Nasution, Tolong Berperilaku yang Sopan100 Bab 100 Nona Andino, Tolong Perhatikan Sikapmu!