icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Terjebak dengan sang CEO

Terjebak dengan sang CEO

icon
Bab 1
Tolong Selamatkan Aku
Jumlah Kata:1211    |    Dirilis Pada:08/10/2021

Hotel Mandapa, sebuah hotel bintang lima di Kota Daka.

Tempat di mana Lala Setiawan merayakan ulang tahunnya yang ke-22 dengan sebuah pesta yang hampir berakhir. Tampak pipinya yang memerah sehingga terlihat seakan baru saja dipoles dengan pewarna. Ia mulai berjalan terhuyung-huyung.

Ketika lift sampai di lantai delapan, Sarah Ferdina mengeratkan genggamannya pada tangan Lala, tanda bahwa ia sudah bertekad untuk tidak membiarkannya tidur dengan Mike Gabian.

Setelah yakin dengan keputusannya, ia menarik Lala menuju kamar di ujung koridor. Pelayan kamar baru saja selesai melakukan tugasnya di kamar itu dan hendak pergi ketika Sarah dan Lala tiba di sana.

"Tolong biarkan pintunya terbuka. Kamar ini ditempati oleh temanku, dan aku ingin bertemu dengannya." Tanpa curiga sedikit pun pelayan kamar itu membiarkan pintu kamar terbuka dan pergi dengan mendorong trolinya.

Di dalam kamar, Sarah melihat seorang pria dari belakang, pria itu memiliki tubuh yang tinggi dan sedang mengenakan jubah mandi.

'Pria ini bisa!' pikir Sarah. Ia mendorong Lala dengan kasar ke dalam kamar tanpa ragu-ragu, dan dengan cepat menutup pintu.

Sarah mendongak untuk mencari keberadaan kamera pengawas. Untungnya, kamar itu terletak di titik buta dan ia tidak menemukan apa yang dicarinya.

Sambil merapikan rambut panjangnya yang bergelombang, ia pun pergi menuju kamar lain seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam kamar ujung koridor lantai delapan, Lala disergap kebingungan, entah bagaimana ia bisa sampai di kamar ini. Sebuah kamar dengan cahaya remang di mana saat ini seorang pria berbalik dan menatapnya dengan tajam.

Ia menggigil, merasakan betapa dinginnya tatapan pria di hadapannya.

Rasa tidak nyaman menyerang dan membuatnya tidak dapat berpikir tentang semua kejadian ini. Dengan terhuyung-huyung ia mencoba untuk berdiri dan menghampiri pria itu. Ia membutuhkan sesuatu. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dibutuhkannya.

"ENYAH!" teriak Heri Nasution, nama pria yang sedang bersama Lala saat ini. Kini ia dapat melihat wajah Lala dengan jelas setelah wanita itu berusaha menghampirinya.

Untuk pesta ulang tahunnya, penata rias profesional telah menata rambut hitam panjang Lala menjadi kepang yang indah, semakin menonjolkan kecantikan dan keanggunannya. Mengenakan gaun terusan berwarna putih, bentuk tubuh Lala yang menawan dan seksi pun semakin terlihat jelas.

Bagian bawah gaunnya berbentuk busur, dihiasi berlian kecil yang bersinar, menampakkan kaki putihnya yang jenjang di sisi kanan.

Sandal berhias berlian dengan hak setinggi 3 inci semakin menampilkan karakter Lala yang menyenangkan, jujur, dan tulus.

Dengan tidak sopan Lala melepas salah satu sandal yang dikenakannya itu hingga terlihat seakan dia menendangnya. Pada cermin yang ada di dekatnya, ia melihat rona merah yang tidak wajar di wajahnya.

"Aku merasa tidak enak badan. Bolehkah aku minta segelas air dingin?" Lala mencoba melepaskan sandal yang tersisa di kakinya dengan cara yang sama.

Sandal itu akhirnya terlepas dan terlempar sejauh tiga meter setelah Lala memeluk leher pria itu dengan tangan kanannya.

Hanya dari samar aroma parfum yang dikenakannya, orang bisa tahu bahwa Lala bukanlah perempuan biasa, wangi bunga lili air dengan kombinasi bunga bakung lembah yang dikeluarkan oleh Indulgence, salah satu merek ternama di dunia.

Dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita ini, satu kata yang bisa mewakili apa yang ditampilkannya, keanggunan. Seorang wanita muda yang kaya salah masuk kamar? Apa mungkin?

Heri melepaskan pelukan Lala di lehernya dan kemudian tanpa ragu berjalan menuju pintu.

Karena gagal menopang tubuhnya, Lala jatuh berlutut dengan satu tangannya masih dipegang oleh Heri.

"Apa yang terjadi di sini?" Heri menjadi tidak sabar, ia melepaskan genggamannya pada tangan Lala dan hendak menelepon meja resepsionis.

Tepat ketika ia mengangkat gagang telepon, tanpa ia sadari Lala telah berdiri dan memeluknya di pinggang dari belakang.

"Aku merasa panas. Tolong selamatkan aku." Caranya yang memohon dengan lembut memiliki pesona khusus di malam yang gelap ini.

"Jadi siapa yang memberitahumu tentang kedatanganku di Kota Daka hari ini, dan siapa yang mengirimmu..." Heri meletakkan kembali gagang telepon dan kemudian menatapnya dengan dingin dan tajam.

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Lala mendorongnya dengan keras ke sofa dan menerkamnya.

"Hei! Aku... sedang tidak enak badan sekarang. Aku memerintahkan... kamu untuk menyelamatkanku!"

Memerintahnya?

Heri berusaha mendapatkan kembali ketenangannya, ia mencibir dan mendorong tubuh Lala menjauh tanpa ragu.

Memang harus diakuinya wanita ini sangat menawan. Namun siapa pun yang mengirim wanita ini pasti meremehkan kemampuannya untuk mengendalikan diri.

"Untuk terakhir kalinya, ENYAH!"

Lala terhuyung mundur beberapa langkah sebelum akhirnya terdiam. Ia hampir tidak bisa mendengar perkataan Heri. Satu-satunya yang ia rasakan adalah dirinya semakin menderita melihat bibir tipis Heri yang menawan bergerak membuka dan menutup saat pria itu berbicara.

Lala membuka ritsleting tak terlihat di bagian belakang gaunnya, sehingga penutup tubuhnya itu jatuh ke bawah tanpa suara.

Dihadapkan dengan tubuh telanjang Lala, Heri kehilangan kendali. Sepertinya ia memiliki saingan kuat, yang telah dengan berani mengirim wanita luar biasa cantik ini padanya.

Meskipun dalam kondisi yang tidak sadar, namun Lala tahu bahwa pria itu akan mengusirnya kembali. Ia menerkam pria itu lagi.

Heri tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.

"Aduh! Sakit. Sialan!"

Heri terkejut dengan reaksi normal Lala selama beberapa detik berikutnya. Pria itu melambat dan mengubah posisi beberapa kali.

Pada akhirnya, Heri tidak memberinya belas kasihan.

Keduanya baru tertidur lelap ketika waktu telah menjelang fajar.

Matahari telah bersinar dengan terang.

AC yang disetel pada suhu yang terlalu rendah membangunkan Lala dari tidurnya. Ia membuka matanya, bermaksud menarik selimut agar ia bisa kembali tidur dengan nyenyak.

Namun ternyata selimut yang dicarinya tergeletak di lantai.

Tunggu! Ada yang salah. Kenapa seluruh tubuhnya terasa sakit? Kenapa ia tidur di hotel?

Lala langsung duduk dan tidak menemukan ada orang lain di kamar mewah ini, namun ia memerhatikan bahwa di lantai adalah pakaiannya dan pakaian orang lain dan... jubah mandi?

Ia menatap tubuhnya sendiri dengan kaget. Sebagai seorang wanita yang sudah dewasa, ia tahu betul apa yang telah terjadi padanya.

Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi?

Bukankah tadi malam Sarah mengantarkannya ke atas untuk beristirahat? Apa yang sebenarnya terjadi setelahnya? Siapa pria itu?

Sialan! Ia sama sekali tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi.

Duduk di tempat tidur dengan penuh kebingungan, hampir saja Lala menangis.

Lala turun dari tempat tidur, dengan kaki yang terasa lemah berusaha pergi ke jendela dan menyingkap tirainya.

Cahaya matahari yang menyilaukan mata menunjukkan bahwa saat ini sudah lebih dari tengah hari. Ia menduga ini sudah sore.

Lala masih belum paham kenapa hal yang begitu buruk bisa sampai terjadi padanya. Apa yang salah?

Melihat pemandangan yang ada di jendela, ia tahu bahwa dirinya masih berada di Hotel Mandapa. Pemandangan di luar cukup indah. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dan mengayunkan tirai jendela, membawa aroma bunga. Tirai jendela berwarna merah muda itu berkibar tertiup angin yang berhembus. Sungguh suasana dan pemandangan yang menyenangkan. Namun saat ini dia sedang tidak ingin menikmati semuanya itu.

Ia sama sekali tidak mengerti Ia menggosok alisnya, sambil menghela napas seakan ingin membuang pikiran yang saat ini membebaninya. Dalam masalah ini, tidak ada kata-kata yang berguna.

Di meja samping tempat tidur, Lala melihat ada dua kotak kemasan yang sangat indah. Ia membuka kotak itu dan di dalamnya tampak sepotong gaun sifon putih.

Lala berencana untuk mandi dan meninggalkan tempat ini sesegera mungkin. Dengan susah payah ia berjalan ke kamar mandi, dan menemukan beberapa perlengkapan mandi pria yang mahal. 'Ini pasti milik pria itu' tebaknya.

Lala menggelengkan kepala, dan kemudian menyalakan keran bak mandi. Setelah bak mandi penuh dengan air hangat, Lala pun berendam dan tenggelam dalam pikirannya.

"Siapa pria tadi malam?"

Ia bergumam dan berusaha mengingat kejadian di malam liar yang baru saja dilaluinya.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tolong Selamatkan Aku2 Bab 2 Hal Yang Paling Berharga3 Bab 3 Gabian Tiga Detik4 Bab 4 Aku Suamimu5 Bab 5 Aku Bisa Membantumu Balas Dendam6 Bab 6 Memiliki Aku Sudah Cukup Bagimu7 Bab 7 Tak Ada Lagi Tangisan di Masa Depan8 Bab 8 Mal Pulau Biru9 Bab 9 Berlian Merah10 Bab 10 Kamu Harus Mengalah Padaku11 Bab 11 Menikahi Seorang Pria Tua12 Bab 12 Menjadi Wanita Simpananmu13 Bab 13 Suami Lala14 Bab 14 Hari Pertama Bekerja15 Bab 15 Kakak Sepupu Perempuan Sarah16 Bab 16 Pria di Kursi Belakang17 Bab 17 Kamu Habis Minum18 Bab 18 Berhasil Diceraikan19 Bab 19 Malam Yang Sepi20 Bab 20 Menerobos Lampu Merah21 Bab 21 Tiga Pria22 Bab 22 Aku Sudah Menoleransimu Selama Dua Hari23 Bab 23 Sang CEO Juga Memiliki Idola24 Bab 24 Nyonya Nasution Melarikan Diri Dengan Mobil25 Bab 25 Empat Mobil Polisi Rusak Berat26 Bab 26 Aku Pasti Akan Menuntut Wanita Itu27 Bab 27 Melecehkan Gadis Cantik28 Bab 28 Pria yang Sangat Tampan29 Bab 29 Pria di Puncak Kekuasaan30 Bab 30 Bos Nasution, Anda Luar Biasa31 Bab 31 Senyum Kekanakan32 Bab 32 Tidak Tahu33 Bab 33 Wanita Jalang34 Bab 34 Mengandalkan Suaminya35 Bab 35 Tidak Akan Melepaskannya Begitu Saja36 Bab 36 Mengatur Pekerjaan Untukmu37 Bab 37 Bertemu Ibu Heri untuk Pertama Kalinya38 Bab 38 Seorang Gelandangan39 Bab 39 Aku Bukan Ibumu40 Bab 40 Tunggu dan Lihat41 Bab 41 Ibu Mertua Membuat Keributan di Perusahaan42 Bab 42 Sayang, Maafkan Aku43 Bab 43 Tamara Menolaknya44 Bab 44 Kejutan Berubah Menjadi Ketakutan45 Bab 45 Kartika Maharani46 Bab 46 Aku Kartika Maharani, Tunangan Heri47 Bab 47 Tak Pulang48 Bab 48 Kamu Mendapatkan Izinku49 Bab 49 Aku Akan Mengantarmu Pulang Sekarang50 Bab 50 Tolong Jangan Salah Paham51 Bab 51 Suara Keras Sebuah Tamparan52 Bab 52 Istriku yang Sah53 Bab 53 Pergi Denganku54 Bab 54 Beraninya Kamu Memukulku55 Bab 55 Nakula56 Bab 56 Dompet Berwarna Coklat57 Bab 57 Kucingmu Mati58 Bab 58 Meja Laboratorium Berantakan59 Bab 59 Keluar dari Rumahku60 Bab 60 Kehancuran di setiap Kamar yang Ditempati Kartika.61 Bab 61 Tuan Presiden62 Bab 62 Postingan Lala Menjadi Viral di Opini Publik.63 Bab 63 Virus N7d964 Bab 64 Kamu Membunuhnya65 Bab 65 Operasi Aborsi66 Bab 66 Berkati Diriku dengan Kebahagiaan67 Bab 67 Yosep Andino68 Bab 68 Apa Kamu Sudah Gila69 Bab 69 Kamu Kotor70 Bab 70 Berhubungan dengan Tuan Presiden71 Bab 71 Pertarungan Dimulai72 Bab 72 Aku Merestui Kalian73 Bab 73 Menjadikannya Terkenal dengan Cara Apa Pun74 Bab 74 Melempar Uang ke Wajah Heri75 Bab 75 Menjadi Hit76 Bab 76 Pria yang Diam-diam Dirindukannya77 Bab 77 Bukan Aku78 Bab 78 Aku Akan Pergi ke Neraka79 Bab 79 Semua yang Ia Butuhkan untuk Mengakhiri Segalanya80 Bab 80 Tidak Menginginkan Apa-Apa81 Bab 81 Cantik Tiada Tara82 Bab 82 Memamerkan Cinta di Depan Umum83 Bab 83 Menanggap Satu Sama Lain Sebagai Orang Asing.84 Bab 84 Dapatkah Saya Membantu Anda 85 Bab 85 Keluar86 Bab 86 Menebus Dosamu87 Bab 87 Keluar dari Kamarku88 Bab 88 Pesta Penutupan89 Bab 89 Melarang Lala Setiawan Di Dunia Hiburan90 Bab 90 Membatalkan Kontrak91 Bab 91 Harus Ada Penjelasan92 Bab 92 Mendidih Dengan Amarah93 Bab 93 Seseorang yang Bertekad untuk Pergi94 Bab 94 Masa Lalu Biarlah Berlalu95 Bab 95 Ini Rahasia96 Bab 96 Kilat di Wajan97 Bab 97 Maaf, Aku Tidak Bisa Minum98 Bab 98 Selamat Datang Bos Nasution99 Bab 99 Bos Nasution, Tolong Berperilaku yang Sopan100 Bab 100 Nona Andino, Tolong Perhatikan Sikapmu!