icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 6
Memberinya Kesempatan
Jumlah Kata:1155    |    Dirilis Pada:17/12/2021

Brian memerhatikan makanan yang sedang disajikan di atas meja. Dia menyadari hidangan-hidangan itu berbeda dengan apa yang biasa dimasak oleh Maria.

Dia yakin bahwa semua hidangan itu tidak dimasak oleh Maria. Melihat Brian belum menyentuh makanannya dan hanya mengamati hidangan itu dengan seksama, Maria lekas memberi tahu Brian, "Tuan, makan siang hari ini dibuat oleh Nyonya Lesmana."

Mendengar itu, Brian menaikkan salah satu alisnya lalu mengalihkan pandangannya ke Ayla. "Kamu bisa memasak?"

"Hanya beberapa hidangan sederhana," Ayla menjawab jujur, dia bisa merasakan pipinya mulai merah merona ketika menyadari perhatian Brian kini tertuju padanya. Tapi Ayla menyadari betul ada nada tidak suka dalam suara Brian ketika melontarkan pertanyaan itu. Dirinya seketika sadar bahwa dia telah melakukan sesuatu yang tidak perlu.

Sementara itu Brian telah mengalihkan pandangannya dan mulai menyantap makanan yang dihidangkan. Laki-laki itu makan dengan perlahan, berusaha menikmati rasanya. Ayla, yang sedang berdiri di samping Brian, merasa gelisah. Dia takut Brian tidak menyukai rasa masakannya dan akan memarahinya lagi.

Brian menghabiskan makanannya dengan senyap. Setelah selesai, dia meletakkan sumpitnya di atas meja, lalu menoleh ke arah Ayla. "Karena kamu bisa memasak, aku akan menganggap kamu tidak keberatan memasak untukku. Mulai sekarang, aku ingin kamu menyiapkan semua makananku. Tetapi semua hidangan yang kamu buat harus berbeda-beda."

Brian melakukan itu dengan sengaja. Karena wanita itu telah secara sukarela memasak untuknya, Brian ingin melihat sejauh mana dia bisa bertahan dan berpura-pura menjadi wanita yang baik.

Ayla merasa agak terkejut saat melihat Brian tampak menikmati masakannya. Mendengar kata-kata Brian, Ayla menghela napas lega. Meskipun laki-laki itu memberinya tugas yang cukup sulit, dia sekarang merasa tenang karena setidaknya Brian tidak marah padanya.

Keesokan paginya, seperti yang telah dijanjikan, Brian menyiapkan sebuah mobil untuk mengantar Ayla pergi ke sekolahnya.

"Pak Lukman, kamu bisa menurunkanku di sini saja." ucap Ayla pada sopirnya. Dia meminta sang sopir untuk menurunkannya di pinggir jalan yang berjarak satu blok dari gerbang sekolahnya.

"Nyonya Lesmana, Tuan Lesmana dengan tegas telah memerintahkan saya untuk menurunkan Anda di depan gerbang kampus." Pak Lukman, sang sopir tidak menghiraukan permintaannya itu dan langsung mengemudi menuju sekolah.

Mendengar itu, Ayla tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tahu, dibandingkan dengan perintah Brian, kata-katanya jelas tidak akan didengar. Dia bisa mengerti mengapa Brian melakukan hal seperti itu, tapi dia tidak menyukainya.

Meskipun Ayla baru mulai sekolah dan belum mengenal banyak orang, dirinya benar-benar tidak ingin menjalani kehidupan seperti itu sepanjang hidupnya.

"Terima kasih, Pak Lukman." Begitu sampai di gerbang kampus, Ayla mengucapkan terima kasih kepada sopirnya lalu turun dari mobil.

Lukman menunggu sampai Ayla masuk ke dalam sekolah. Setelah memastikan Ayla telah berada di dalam gedung sekolah, dia mengeluarkan telepon genggamnya dan menghubungi Brian. "Tuan Lesmana, dia sudah masuk ke dalam gedung sekolah."

"Awasi dia," Brian memerintah dengan datar sambil berdiri di depan jendela. Matanya penuh dengan ketidakpercayaan dan memancarkan sinar dingin.

Dirinya masih curiga. Dia masih tidak bisa mengerti mengapa Arlini begitu bersemangat untuk pergi ke sekolah.

Beberapa saat kemudian, James masuk ke dalam ruangan. "Tuan Lesmana."

"James, kamu sudah datang, silakan duduk." Brian meminta orang kepercayaannya itu untuk duduk di sofa dan bergabung dengannya.

Setelah duduk dengan nyaman, James memerhatikan sekeliling tempat itu dan bertanya, "Di mana dia?"

Brian mengerti bahwa 'dia' yang James maksud adalah Arlini.

"Apakah kamu datang ke sini untuk melihat gadis itu?" Brian melirik laki-laki itu dari ekor matanya. James jarang datang ke sini menemuinya. Sekarang, saat akhirnya dia datang, laki-laki itu tanpa basa-basi menanyakan keberadaan Arlini.

Mendengar itu, James meringis. "Tentu saja tidak."

James tidak tertarik dengan wanita seperti itu. Penampilannya memang terlihat polos, tetapi dia tahu, wanita itu pasti menyembunyikan kepribadian yang nakal dalam dirinya.

"Kalau begitu, kenapa kamu datang ke sini?" tanya Brian sambil menyalakan sebatang rokok.

"Anton telah pergi ke luar kota." itulah alasan James menanyakan keberadaan Arlini.

"Pria itu ingin melarikan diri." Brian sudah menduga hal itu akan terjadi, jadi dia bahkan tidak merasa terkejut saat mendengarnya. Anton sepertinya telah memiliki rencana ini sejak awal. Dia mengirimkan putrinya pada Brian supaya bisa melarikan diri dengan mudah.

"Lalu, Tuan Lesmana, apakah menurut Anda Nyonya Lesmana juga akan melarikan diri?" James khawatir hal itu memiliki kemungkinan besar untuk terjadi. Anton adalah pria yang licik. Mungkin saja pria itu telah merencanakan segalanya dari awal.

Mendengar pertanyaan James, Brian menghisap cerutunya perlahan. Dia lalu tersenyum tipis dan berkata, "Dia tidak bisa melarikan diri. Begitu juga dengan Anton. Ke mana pun pria itu pergi, dia tidak akan bisa melarikan diri dariku."

Brian mengizinkan Arlini meninggalkan vila karena dia memiliki banyak mata-mata di mana-mana. Dia tahu, Arlini tidak mungkin bisa membodohi mereka begitu saja.

"Tuan Lesmana, kenapa Anda bisa begitu yakin? Wanita itu sangatlah licik." James khawatir kalau Brian sampai terpikat dengan kecantikan wanita ini, maka pastilah akan terjadi masalah besar.

"Kamu benar, dia memang wanita yang penuh dengan tipu muslihat," Brian mengiyakan. Dia sebenarnya merasa terkejut saat melihat Arlini bersikap sangat baik dan patuh padanya. Brian yakin wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu.

"Ayo pergi! Ikutlah denganku untuk memeriksa perkembangan pekerjaan di perusahaan cabang." Grup Lesmana adalah perusahaan yang besar. Industri properti, industri perhotelan, serta berbagai tempat hiburan dikelola oleh grup ini. Selain itu, Grup Lesmana juga memiliki banyak bisnis lain bersama dengan beberapa perusahaan kredit global.

"Tuan Lesmana, saya senang bahwa Anda baik-baik saja." James sempat merasa khawatir dengan Brian. Tapi ketika dia melihat atasannya itu masih terlihat tenang dan menguasai diri seperti biasanya, James seketika merasa lega.

Sementara itu, setelah kelasnya selesai, Ayla pergi menuju asramanya untuk mengemasi barang bawaannya. Dia tidak membawa banyak barang, hanya sebuah koper kecil.

Dia sangat sibuk di sekolah hari ini. Setelah menghadiri kelas yang begitu banyak, Ayla kemudian pergi ke perpustakaan untuk belajar dan membuat catatan. Beberapa temannya datang untuk berbicara dengannya saat dia sedang singgah di asrama. Ayla menyapa mereka dengan senyuman.

"Aku dengar pagi ini kamu datang ke sini diantarkan dengan mobil mewah. Apakah itu benar?" salah satu temannya bertanya penasaran.

Ayla agak terkejut ketika mendengar itu. Dia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Meskipun begitu, dirinya tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak mengakui atau pun menyangkalnya.

"Itu benar. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," seseorang teman yang lain menjawab. "Ayla, apakah kamu telah mendapatkan seorang pria kaya? Tentu saja. Kamu sangat cantik. Pria kaya mana pun pasti akan tertarik padamu."

Semua temannya begitu yakin bahwa Ayla diam-diam telah mendapatkan seorang pria kaya tanpa memberitahu siapa pun. Mereka pikir itulah alasan dia meninggalkan asrama. Namun, tidak ada yang mengetahui kebenaran bahwa dirinya telah dijual, dan kemungkinan besar tidak akan pernah mendapatkan kebebasannya kembali sepanjang hidupnya.

"Wow! Berapa umur laki-laki itu? Apakah dia seorang laki-laki tua berkepala botak?" Teman-temannya merasa sangat penasaran. Mereka memang mengatakannya dengan bercanda, tapi sesungguhnya mereka ingin tahu yang sebenarnya. Tidak akan terbayangkan di benak siapa pun yang mengenalnya, bahwa Ayla sesungguhnya telah menikah dengan seorang pria muda yang kaya dan tampan. Namun lebih daripada itu, seorang pria yang tidak akan pernah mencintai dirinya.

Semua orang tahu bahwa Ayla bukanlah tipe gadis yang mengincar pria-pria kaya. Jadi bagaimana bisa mereka membayangkan kenyataan yang sebenarnya?

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Dia Hanya Seorang Wanita Pengganti2 Bab 2 Dia Benci Melihat Kemunafikannya.3 Bab 3 Dia Tidak Berhak Memilih4 Bab 4 Dia Berkompromi Untuk Bertahan Hidup5 Bab 5 Berjanji Padanya6 Bab 6 Memberinya Kesempatan7 Bab 7 Mengganggunya Secara Tidak Sengaja8 Bab 8 Wajahmu yang Cantik adalah Asetmu9 Bab 9 Hanya Dia yang Berhak Marah10 Bab 10 Dia Memiliki Wanita Lain11 Bab 11 Sengaja Mencari Masalah.12 Bab 12 Dia Masih Toby yang Dulu13 Bab 13 Harga Dirinya14 Bab 14 Pelecehan15 Bab 15 Dia Memiliki Tunangan16 Bab 16 Kebebasannya17 Bab 17 Dia Menyerah Lagi18 Bab 18 Dia Ingin Mengenalnya19 Bab 19 Mencoba Yang Terbaik Untuk Melihatnya20 Bab 20 Berpura-pura Tidak Ada yang Terjadi21 Bab 21 Harga yang Harus Dibayar22 Bab 22 Mereka Adalah Orang Yang Berbeda23 Bab 23 Dia Adalah Istriku24 Bab 24 Dia adalah Penguasa25 Bab 25 Jangan Menangis Lagi26 Bab 26 Pria Itu Adalah Mimpi Buruknya27 Bab 27 Apa Lagi yang Bisa Dia Harapkan28 Bab 28 Dia Tidak Punya Tempat Untuk Pergi29 Bab 29 Aku Mohon, Tolong Bantu Aku30 Bab 30 Dia Bersedia Melakukannya31 Bab 31 Mereka Semua Adalah Orang-Orang yang Tidak Bermoral32 Bab 32 Tugas dan Kewajiban Seorang Istri33 Bab 33 Tidak Ada Hal Lain, Selain Penghinaan34 Bab 34 Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak35 Bab 35 Dia Telah Kehilangan Hak untuk Mencintai Pria itu.36 Bab 36 Membuat Keputusan Demi Lala37 Bab 37 Tidak Bisa Melarikan Diri Dari Kendalinya38 Bab 38 Dia Tidak Menginginkan Seorang Bayi39 Bab 39 Dia Sengaja Mempersulit Ayla40 Bab 40 Kamu Adalah Istri Sahnya41 Bab 41 Dia Merasa Kasihan Kepada Ayla42 Bab 42 Dia Melakukan Semua Hal Sesuka Hatinya.43 Bab 43 Jika Ayla Bahagia, Dia Juga Akan Bahagia44 Bab 44 Jatuh Cinta Padaku Adalah Kehancuran45 Bab 45 Biarkan Dia Menyaksikan Itu Semua46 Bab 46 Menghadiri Acara Pernikahan Toby47 Bab 47 Ayla Tidak Punya Pilihan Selain Menghindar48 Bab 48 Perkataan Brian Menyentuh Hati Ayla49 Bab 49 Tidak Bisa Membayar Hutangnya50 Bab 50 Brian Tidak Demam51 Bab 51 Brian Tidak Akan Membuat Pengecualian52 Bab 52 Ayla Tidak Begitu Membenci Brian53 Bab 53 Menjadi Istrinya Yang Asli54 Bab 54 Tidak Akan Membiarkan Keinginan Mereka Tercapai55 Bab 55 Lupakan Dia56 Bab 56 Bayi Dalam Kandungannya57 Bab 57 Dia Mengira Ayla Berbohong Padanya58 Bab 58 Jangan Bilang Kalau Kamu Sudah Hamil59 Bab 59 Memaksa Ayla Mengugurkannya60 Bab 60 Upaya Terakhirnya61 Bab 61 Bersedia Kembali Padanya62 Bab 62 Aborsi63 Bab 63 Dia Berharap Mati64 Bab 64 Apa Aku Masih Hidup65 Bab 65 Hidupnya Seharusnya Sudah Berakhir66 Bab 66 Dia Tidak Pantas Untuk Menjadi Seorang Ibu67 Bab 67 Dia Sudah Putus Asa68 Bab 68 Dia Tidak Ingin Pergi Dari Sana69 Bab 69 Mencoba Untuk Melupakannya70 Bab 70 Dia Selalu Dipaksa Di Dalam Situasi Seperti Ini71 Bab 71 Ayla Mengabaikan Brian72 Bab 72 Rasa Sakit Membuatnya Mati Rasa Dan Kedinginan73 Bab 73 Dia Mabuk Tapi Tidak Membuat Adegan74 Bab 74 Apakah Anna Sedang Mencoba Untuk Pamer75 Bab 75 Dia Sedang Merencanakan Sesuatu76 Bab 76 Segelas Susu Dengan Obat Tidur77 Bab 77 Bertemu Dengan Lukas Lagi Secara Kebetulan78 Bab 78 Dia Lupa Dengan Janjinya Kepadanya79 Bab 79 Menantang Prinsipnya Sedikit Demi Sedikit80 Bab 80 Kebetulan Atau Memang Sengaja Diatur 81 Bab 81 Lukas Menyatakan Perasaannya Pada Ayla82 Bab 82 Jelmaan Iblis83 Bab 83 Lucas Terluka Karena Ayla84 Bab 84 Tidak Akan Semudah Untuk Bisa Mati85 Bab 85 Lala Hilang86 Bab 86 Babak 86 Ayla Sang Pion87 Bab 87 Kesulitan Lain88 Bab 88 Membuatnya Sulit Bertahan89 Bab 89 Ayla Tidak Ingin Menjadi Kelemahannya90 Bab 90 Apakah Tuhan sedang bermain-main dengannya 91 Bab 91 Dia Membayarnya Kembali Dengan Hidupnya92 Bab 92 Janji Mereka yang Telah Dilanggar93 Bab 93 Dia Memberikan Cintanya Pada Lala94 Bab 94 Ini Merupakan Perpisahan yang Panjang95 Bab 95 Lelaki Yang Tak Terlupakan Olehnya96 Bab 96 Cinta Tanpa Syarat97 Bab 97 Dia Tidak Ingin Bertemu Dengannya Sekarang98 Bab 98 Menanti Cintamu99 Bab 99 Itu Adalah Dia100 Bab 100 Pertemuan yang Tak Terduga