icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 2
Dia Benci Melihat Kemunafikannya.
Jumlah Kata:1077    |    Dirilis Pada:17/12/2021

"Arlini, apakah kamu sedang berpura-pura lugu dan sok suci di depanku?" tanya Brian dengan posisi masih terduduk di sofa, matanya menatap tajam pada gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.

Ayla yang tidak kunjung menjawab, membuat salah seorang pria di sana merasa geram. Dia berteriak dengan keras pada gadis itu, "Apakah kamu tuli, tidak mendengar apa yang dikatakan Tuan Lesmana?"

Suaranya terdengar menggelegar di seluruh penjuru ruangan itu, membuat Ayla semakin ketakutan. Detik berikutnya, pria itu pun berdiri di hadapan Ayla dan kemudian dengan kasar mengangkat dagunya. Semua orang yang hadir di ruangan itu bisa melihat tampang Ayla dengan jelas sekarang.

Ayla juga memandang ke arah pria yang sedang duduk di tengah-tengah itu untuk pertama kalinya dia melihatnya. Brian Lesmana, laki-laki di hadapannya ini yang akan menjadi suaminya.

"Tuan Lesmana, aku tidak menyangka istrimu ini ternyata sangat cantik. Tidak heran kalau banyak pria yang suka menemaninya," ucap seseorang.

Gadis itu, Ayla memang seorang wanita yang sangat cantik. Dia adalah sosok gadis yang lembut dengan mata yang cantik seperti rusa betina dan bola mata seindah batu topas hitam. Namun, karena dia sangat panik, alisnya menyatu.

Dia memang memiliki daya tarik tersendiri yang sangat memikat hati lawan jenis. Pria mana pun bisa terpesona dengan mudah, hanya dengan sekilas tatapannya saja, dia sudah bisa membuat seorang pria langsung jatuh cinta padanya.

"Apakah kamu takut?" tanya Brian dengan nada mengancam seraya menatap sang gadis.

Takut? Ya, dia memang sangat takut sekarang.

"Katakanlah sesuatu! Jangan berdiam diri di sana seperti sebongkah patung saja!" Brian berteriak dengan keras padanya, nada suaranya terdengar marah dan memekik telinga.

"Aku... aku..." suara Ayla terdengar gagap, dia memang ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokannya. Ayla tidak tahu apa yang bisa dia bicarakan dengan pria berbahaya di depannya ini.

"Melihat reputasimu sebelumnya, kamu sudah berkencan dengan banyak pria. Kenapa kamu masih berpura-pura ketakutan seperti itu?" tanya Brian.

Brian sangat membenci wanita munafik yang bisa berubah seperti bunglon, dan wanita seperti itu ada di hadapannya. Dia benci wanita ini. Jika saja dia belum mendengar gosip miring masa lalu gadis ini sebelumnya, mungkin dia sudah tertipu dengan penampilan gadis ini sekarang..

"Tuan Lesmana, beri dia pelajaran agar dia patuh padamu dan tidak akan mengkhianatimu di kemudian hari," ucap salah satu anak buah Brian dengan jijik.

"Aku tidak berpura-pura. Aku juga tidak akan mengkhianatimu," Ayla akhirnya bersuara.

"Aku harap sebaiknya begitu! Kalau tidak, jangan harap keluarga Ginanjar bisa hidup tenang!" Brian memperingatkan Ayla dengan suara yang keras.

"Baiklah, ayo kita pergi! Jangan mengganggu Tuan Lesmana." Meskipun itu hanya acara pernikahan tanpa upacara apa pun, Ayla tetap menandatanganinya dan menjual seluruh hidupnya pada iblis ini.

Semua orang yang ada di ruangan itu pun pergi meninggalkan ruangan setelah mereka melihat tatapan Brian. Ruangan yang awalnya ramai, langsung berubah menjadi sepi, hanya ada mereka berdua, Brian dan Ayla, dengan bau asap dan alkohol yang belum hilang.

"Bangun!" perintah Brian yang masih terduduk di sofa dengan menyilangkan salah satu kakinya yang panjang di atas yang lainnya.

Terlepas dari rasa sakit di sekujur tubuhnya, Ayla akhirnya berhasil bangun sendiri. Gaun pengantinnya itu sedikit menyusahkan, bagian ekor gaunnya agak panjang. Ayla menarik gaunnya itu dengan erat-erat, memperlihatkan sepatu hak tinggi putih yang dia kenakan di kakinya.

"Kemarilah, duduk di sampingku." Brian menatapnya dengan dingin, dia agak heran kenapa Arlini sok lugu malam ini. Dulu dia wanita yang berani dan tidak tahu malu.

Begitu Ayla duduk, Brian langsung menyodorkan sebatang rokok ke mulut Ayla.

"Aku tidak merokok," ucapnya dengan suara rendah.

'Tidak merokok?' Brian hanya mendengus. Gadis populer dari keluarga Ginanjar ini tidak merokok? Nona Ginanjar yang digosipkan orang-orang itu tidak selugu ini.

Belum sampai tiga detik, Brian kembali menyodorinya dengan segelas anggur yang tingkat alkoholnya tinggi. "Oke, kalau begitu minumlah ini!"

"Aku tidak minum." Ayla menolak untuk kedua kalinya. Dia takut kalau dia minum anggur itu, dia akan langsung mabuk dan pingsan.

Brian mengerutkan keningnya. Tapi, kali ini dia tidak tinggal diam dan membiarkannya mengelak begitu saja. Brian mencekokinya minum dengan menangkup wajah sang gadis itu dengan tangan besarnya, kemudian menuangkan segelas anggur tadi langsung ke mulutnya.

Ayla pun tersedak, karena dicekoki dengan anggur yang cukup keras itu. Dia terbatuk-batuk hingga matanya berair, karena tingkat alkohol anggur itu cukup tinggi dan rasanya menusuk tenggorokannya.

"Arlini, yang benar saja?" tanya Brian. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Mulai sekarang, kamu adalah Nyonya Lesmana. Status ini bukan siapapun bisa menyandangnya." Brian ingin membuat Ayla mengetahui semuanya dengan jelas sejak awal, bahwa dia tidak akan mentolerir kelakuan buruknya.

'Aku sama sekali tidak menginginkan status ini,' gumam Ayla, dia hampir saja mengatakannya. Dia ingin sekali meneriakkan kata-kata ini dengan keras, tapi walau bagaimanapun dia tetap harus menahan diri.

Nyonya Lesmana? Dia tidak memedulikan status ini sama sekali, hal yang paling dia inginkan hanyalah menjalani kehidupannya seperti biasa, dia bisa pergi ke sekolah dengan bebas. Dia ingin menunggu Toby, pria pujaan hatinya itu kembali. Tapi semua mimpi-mimpi yang dia rajut itu, telah hancur berantakan sekarang.

"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" tanya Brian.

Dia melihat secercah rasa ketidaksenangan yang muncul di mata Ayla, lalu kemudian berkata, "Oh ya. Kamu adalah Nona Ginanjar, kamu bisa memiliki pria mana pun yang kamu inginkan, kan?"

Ayla mengerucutkan bibirnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Bukannya dia tidak mau bicara, tapi perutnya terasa sakit sekarang. Dia membekam mulutnya sendiri dengan tangannya dan melihat segelas air di atas meja.

Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas itu, kemudian meminumnya untuk menenangkan rasa tidak nyaman di perutnya. Tetapi, dia tidak dapat menelannya, dia malah menyemburkannya. Ternyata itu bukan air putih, melainkan minuman keras yang bening.

"Oh, begitu! Jadi, kamu suka minum minuman keras yang bening," ucap Brian. Dia mulai percaya, mungkin Ayla memang mengatakan yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak minum minuman keras. Tapi mungkin juga dia terlalu pintar bersandiwara.

"Tidak, aku hanya..." Belum selesai dia mengatakannya, tangannya tiba-tiba mencengkram sofa di sampingnya dan memuntahkan semua isi perutnya. Karena perutnya kosong, dia belum memakan makanan yang padat sama sekali, jadi semua yang dimuntahkan keluar hanyalah air asam.

Brian membantunya bangun setelah itu, mengangkatnya di bahunya. Membawa gadis itu ke kamar tidur dan melemparkannya ke kasur.

Kepala Ayla sudah terasa sangat berat dan tanpa sadar, kepalanya membentur meja di samping tempat tidur. Dahinya langsung membengkak karena benturan itu. Ia meringis kesakitan, kepalanya terasa lebih berat dan pusing.

Bagaimanapun Brian tidak menunjukkan rasa iba maupun belas kasihan terhadap wanita yang tergeletak tak berdaya di depannya itu sama sekali. Dia menatapnya dengan tatapan seperti hewan yang kelaparan sedang menatapi mangsanya.

Segala sesuatu akan segera dimulai sekarang.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Dia Hanya Seorang Wanita Pengganti2 Bab 2 Dia Benci Melihat Kemunafikannya.3 Bab 3 Dia Tidak Berhak Memilih4 Bab 4 Dia Berkompromi Untuk Bertahan Hidup5 Bab 5 Berjanji Padanya6 Bab 6 Memberinya Kesempatan7 Bab 7 Mengganggunya Secara Tidak Sengaja8 Bab 8 Wajahmu yang Cantik adalah Asetmu9 Bab 9 Hanya Dia yang Berhak Marah10 Bab 10 Dia Memiliki Wanita Lain11 Bab 11 Sengaja Mencari Masalah.12 Bab 12 Dia Masih Toby yang Dulu13 Bab 13 Harga Dirinya14 Bab 14 Pelecehan15 Bab 15 Dia Memiliki Tunangan16 Bab 16 Kebebasannya17 Bab 17 Dia Menyerah Lagi18 Bab 18 Dia Ingin Mengenalnya19 Bab 19 Mencoba Yang Terbaik Untuk Melihatnya20 Bab 20 Berpura-pura Tidak Ada yang Terjadi21 Bab 21 Harga yang Harus Dibayar22 Bab 22 Mereka Adalah Orang Yang Berbeda23 Bab 23 Dia Adalah Istriku24 Bab 24 Dia adalah Penguasa25 Bab 25 Jangan Menangis Lagi26 Bab 26 Pria Itu Adalah Mimpi Buruknya27 Bab 27 Apa Lagi yang Bisa Dia Harapkan28 Bab 28 Dia Tidak Punya Tempat Untuk Pergi29 Bab 29 Aku Mohon, Tolong Bantu Aku30 Bab 30 Dia Bersedia Melakukannya31 Bab 31 Mereka Semua Adalah Orang-Orang yang Tidak Bermoral32 Bab 32 Tugas dan Kewajiban Seorang Istri33 Bab 33 Tidak Ada Hal Lain, Selain Penghinaan34 Bab 34 Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak35 Bab 35 Dia Telah Kehilangan Hak untuk Mencintai Pria itu.36 Bab 36 Membuat Keputusan Demi Lala37 Bab 37 Tidak Bisa Melarikan Diri Dari Kendalinya38 Bab 38 Dia Tidak Menginginkan Seorang Bayi39 Bab 39 Dia Sengaja Mempersulit Ayla40 Bab 40 Kamu Adalah Istri Sahnya41 Bab 41 Dia Merasa Kasihan Kepada Ayla42 Bab 42 Dia Melakukan Semua Hal Sesuka Hatinya.43 Bab 43 Jika Ayla Bahagia, Dia Juga Akan Bahagia44 Bab 44 Jatuh Cinta Padaku Adalah Kehancuran45 Bab 45 Biarkan Dia Menyaksikan Itu Semua46 Bab 46 Menghadiri Acara Pernikahan Toby47 Bab 47 Ayla Tidak Punya Pilihan Selain Menghindar48 Bab 48 Perkataan Brian Menyentuh Hati Ayla49 Bab 49 Tidak Bisa Membayar Hutangnya50 Bab 50 Brian Tidak Demam51 Bab 51 Brian Tidak Akan Membuat Pengecualian52 Bab 52 Ayla Tidak Begitu Membenci Brian53 Bab 53 Menjadi Istrinya Yang Asli54 Bab 54 Tidak Akan Membiarkan Keinginan Mereka Tercapai55 Bab 55 Lupakan Dia56 Bab 56 Bayi Dalam Kandungannya57 Bab 57 Dia Mengira Ayla Berbohong Padanya58 Bab 58 Jangan Bilang Kalau Kamu Sudah Hamil59 Bab 59 Memaksa Ayla Mengugurkannya60 Bab 60 Upaya Terakhirnya61 Bab 61 Bersedia Kembali Padanya62 Bab 62 Aborsi63 Bab 63 Dia Berharap Mati64 Bab 64 Apa Aku Masih Hidup65 Bab 65 Hidupnya Seharusnya Sudah Berakhir66 Bab 66 Dia Tidak Pantas Untuk Menjadi Seorang Ibu67 Bab 67 Dia Sudah Putus Asa68 Bab 68 Dia Tidak Ingin Pergi Dari Sana69 Bab 69 Mencoba Untuk Melupakannya70 Bab 70 Dia Selalu Dipaksa Di Dalam Situasi Seperti Ini71 Bab 71 Ayla Mengabaikan Brian72 Bab 72 Rasa Sakit Membuatnya Mati Rasa Dan Kedinginan73 Bab 73 Dia Mabuk Tapi Tidak Membuat Adegan74 Bab 74 Apakah Anna Sedang Mencoba Untuk Pamer75 Bab 75 Dia Sedang Merencanakan Sesuatu76 Bab 76 Segelas Susu Dengan Obat Tidur77 Bab 77 Bertemu Dengan Lukas Lagi Secara Kebetulan78 Bab 78 Dia Lupa Dengan Janjinya Kepadanya79 Bab 79 Menantang Prinsipnya Sedikit Demi Sedikit80 Bab 80 Kebetulan Atau Memang Sengaja Diatur 81 Bab 81 Lukas Menyatakan Perasaannya Pada Ayla82 Bab 82 Jelmaan Iblis83 Bab 83 Lucas Terluka Karena Ayla84 Bab 84 Tidak Akan Semudah Untuk Bisa Mati85 Bab 85 Lala Hilang86 Bab 86 Babak 86 Ayla Sang Pion87 Bab 87 Kesulitan Lain88 Bab 88 Membuatnya Sulit Bertahan89 Bab 89 Ayla Tidak Ingin Menjadi Kelemahannya90 Bab 90 Apakah Tuhan sedang bermain-main dengannya 91 Bab 91 Dia Membayarnya Kembali Dengan Hidupnya92 Bab 92 Janji Mereka yang Telah Dilanggar93 Bab 93 Dia Memberikan Cintanya Pada Lala94 Bab 94 Ini Merupakan Perpisahan yang Panjang95 Bab 95 Lelaki Yang Tak Terlupakan Olehnya96 Bab 96 Cinta Tanpa Syarat97 Bab 97 Dia Tidak Ingin Bertemu Dengannya Sekarang98 Bab 98 Menanti Cintamu99 Bab 99 Itu Adalah Dia100 Bab 100 Pertemuan yang Tak Terduga