icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 8
Wajahmu yang Cantik adalah Asetmu
Jumlah Kata:1023    |    Dirilis Pada:17/12/2021

Demam tinggi Ayla belum turun sedikitpun, hal ini membuat Maria semakin merasa khawatir. Meskipun majikannya, Tuan Lesmana tidak memberinya perintah apa pun, dia tidak punya pilihan lain selain memanggil seorang dokter untuk memeriksa Ayla.

"Dia harus disuntik untuk menurunkan demamnya yang tinggi. Kalau tidak, dia mungkin akan terkena pneumonia," ucap dokter sambil menyiapkan suntikan.

"Apakah demam Nyonya Lesmana sangat parah?" tanya Maria dengan cemas karena dia tahu majikannya Tuan Lesmana mudah meledak emosinya, dan itu hanyalah emosi sesaat saja. Tapi jika terjadi sesuatu pada Ayla, Maria juga tidak tahu harus berbuat apa nantinya. Bagaimanapun juga Nyonya Lesmana adalah istri majikannya, apalagi mereka baru saja menikah.

"Ya, ini memang agak serius. Tubuhnya sangat lemah sekarang, dia perlu istirahat yang banyak," ucap dokter. Sang dokter kemudian memberikan suntikan pada Ayla, lalu menuliskan resep obatnya.

Meskipun suhu tubuhnya sudah menurun setelah dia disuntik, namun Ayla masih belum menyadarkan diri.

Hari sudah menjelang subuh ketika Brian kembali. Dia berjalan memasuki aula vila, tapi tidak menemukan siapa pun di sana.

"Maria!" dia berteriak memanggil.

"Tuan, Anda sudah kembali," jawab Maria sembari menuruni tangga dan menghampiri Brian.

Brian mengomel dan naik ke lantai atas, lalu mendapati Ayla yang masih belum sadarkan diri, dia langsung memerintahkan, "Bawa dia ke bawah!"

"Lalu, bersihkan kamarku!" dia tidak suka ada orang lain yang menyentuh barang-barangnya.

Maria dibantu oleh Ruben, mereka membopong Ayla ke kamarnya di lantai satu.

Hari telah berganti, dan waktu sudah hampir siang hari, Ayla pun akhirnya tersadar. Dia menatap sekeliling ruangan yang dirasanya familier dan perlahan dia mengingat kembali apa yang telah terjadi tadi malam.

'Tapi, bagaimana aku bisa kembali ke kamarku?' batinnya, sembari memegangi kepalanya yang kini terasa sakit. Selain itu, dia juga merasa badannya sangat lemah.

Maria membuka pintu dan kemudian masuk. Dia melihat Ayla yang sudah sadarkan diri, lalu berkata, "Oh! Nyonya Lesmana, Anda sudah bangun. Kalau begitu, saya akan membuatkan Anda semangkuk bubur."

Tak lama kemudian, dia kembali seraya membawa semangkuk bubur di tangannya.

"Terima kasih banyak, Maria. Terima kasih telah menjagaku semalam," ucap Ayla, bagaimanapun juga dia lebih mementingkan sekolahnya dari pada kesehatannya sendiri. Dia tidak bisa pergi ke sekolah jika dia masih belum cukup vitalitas dan tenaga yang kuat.

"Tidak apa-apa, tapi Anda harus lebih berhati-hati kedepannya. Bagaimana Anda bisa mandi dengan air sedingin itu?" Maria merasa sangat ketakutan ketika Ayla menderita demam tinggi.

Ayla tersenyum tak berdaya pada Maria yang merasa khawatir terhadap dirinya. "Baik, aku akan lebih berhati-hati kedepannya," ucapnya.

Entah bagaimana Ayla masih bisa pergi ke sekolah, bahkan dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah. Lukman mengantarkannya ke kampus dan menurunkannya di depan gerbang sekolah.

Dia yang biasanya lebih suka duduk di barisan depan, namun hari ini berbeda, dia memilih duduk di barisan belakang. Dia takut kalau dia batuk-batuk terus, itu akan mengganggu mahasiswa yang lain.

Meskipun demikian, dia masih bisa mendengar bisikan-bisikan gosip dari teman sekelasnya.

"Aku melihat Ayla datang dengan mobil mewah pagi ini. Aku juga mendengar kalau dia mendapatkan seorang pria tua yang kaya raya," kata salah satu teman sekelasnya.

"Benarkah? Bagaimana dia bisa begitu tidak tahu malu, tidur dengan dengan pria tua yang kaya? Wajahnya sangat cantik, tapi ternyata dia seorang perempuan yang materialistis," kata yang lainnya.

"Untuk apa menjadi cantik?" seseorang berkata dengan nada mengejek.

"Jika kamu tidak punya uang, maka wajahmu yang cantik itu adalah asetmu!" jawab seseorang lainnya.

Ayla sangat terkejut saat melihat teman sekelasnya menganggap dirinya serendah itu. Baru dua hari saja sejak dia diantar oleh mobil mewah ke sekolahnya. Tetapi sudah banyak mahasiswa yang memandangnya dengan tatapan aneh. Ini sudah jelas bahwa di masa depan, dia akan mendengar lebih banyak gosip miring mengenai dirinya.

Saat jam istirahat makan siang, Ayla merasa tidak enak badan dan dia juga kehilangan nafsu makannya. Jadi, dia memutuskan untuk kembali ke asramanya untuk beristirahat di sana.

Veronica Wongso, salah satu teman sekamarnya, melihatnya berbaring di tempat tidur dengan wajah yang pucat. dia pun bertanya dengan cemas, "Ayla, apakah kamu baik-baik saja?"

"Iya, aku baik-baik saja, Ver. Aku hanya merasa sedikit mual. Jadi aku ke sini untuk istirahat," jawab Ayla. dia tersenyum lemah pada teman sekamarnya itu.

Veronica kemudian menuangkan segelas air dan memberikannya pada Ayla, "Minumlah sedikit air."

"Terima kasih." Ayla menjawab seraya mengambil gelas dari tangan temannya. Di asrama ini hanya Veronica saja yang selalu bersikap sangat baik terhadapnya.

"Ver, kamu tidak perlu mencemaskannya, mungkin dia kelelahan setelah mengalami malam yang berat melayani prianya kemarin malam. Mungkin juga itu alasan mengapa dia merasa begitu lelah sekarang." ucap Lisa Gutama dengan jijik, dia paling tidak suka wanita seperti Ayla, yang menggunakan kecantikannya untuk memiliki sesuatu.

"Lisa, bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu terhadap Ayla? Ayla sedang sakit, mukanya pucat pasi." Veronica melototi Lisa dan membela Ayla.

Lisa hanya terkekeh, "Tentu saja. Siapa tahu dia tertular penyakit dari pria itu. Dia terlalu tidak berhati-hati dengan kehidupan pribadinya. Lebih baik kamu menjauhi dia," ucap Lisa sembari mendengus kemudian meninggalkan asrama itu begitu saja.

Melihat wajah Ayla yang semakin pucat, Veronica kemudian menghampirinya dan menghibur Ayla dengan berkata, "Aku percaya padamu, kamu bukan orang seperti itu.".

"Terima kasih sudah memercayaiku," ucap Ayla. Ayla adalah seorang wanita yang introvert dan tidak pandai bersosialisasi. Dia tidak memiliki banyak sahabat di sekolahnya, hanya Veronica saja satu-satunya orang yang mau berbicara dengannya.

Hari sudah sore ketika Brian turun dari kamarnya di lantai dua, "Di mana dia, Maria?"

"Dia pergi ke sekolah," jawab Maria dengan jujur.

"Oh?" ucap Brian, rahangnya mengeras. Itu berarti Ayla hanya bermain-main dengannya tadi malam. 'Dia sudah cukup kuat untuk pergi ke sekolah hari ini? Apakah dia pergi untuk menemui laki-laki itu? Toby?'.

"Tuan, Nyonya Lesmana tadi pagi pergi dengan tergesa-gesa dan lupa meminum obatnya. Bolehkah aku mengirimkan obatnya padanya?" tanya Maria dengan sangat hati-hati. Dia takut jika majikannya, Tuan Lesmana akan marah. Tetapi kalau Nyonya Lesmana tidak minum obat, dia akan jatuh sakit lagi.

"Tidak perlu," ucap Brian, dengan gerakan tangan yang meremehkan. 'Dia sudah ada pria lain yang merawatnya. Tidak perlu terlalu memerhatikannya. Wanita ini sungguh berani melanggar aturan yang dia buat lagi dan lagi. Selama ini, dia sudah terlalu baik terhadapnya. Tapi sekarang, dia merasa kebaikannya itu sudah lebih dari cukup.

"Tapi, Tuan... Nyonya Lesmana..." Maria ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi dia mengurungkan niatnya ketika dia melihat Brian memelototinya.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Dia Hanya Seorang Wanita Pengganti2 Bab 2 Dia Benci Melihat Kemunafikannya.3 Bab 3 Dia Tidak Berhak Memilih4 Bab 4 Dia Berkompromi Untuk Bertahan Hidup5 Bab 5 Berjanji Padanya6 Bab 6 Memberinya Kesempatan7 Bab 7 Mengganggunya Secara Tidak Sengaja8 Bab 8 Wajahmu yang Cantik adalah Asetmu9 Bab 9 Hanya Dia yang Berhak Marah10 Bab 10 Dia Memiliki Wanita Lain11 Bab 11 Sengaja Mencari Masalah.12 Bab 12 Dia Masih Toby yang Dulu13 Bab 13 Harga Dirinya14 Bab 14 Pelecehan15 Bab 15 Dia Memiliki Tunangan16 Bab 16 Kebebasannya17 Bab 17 Dia Menyerah Lagi18 Bab 18 Dia Ingin Mengenalnya19 Bab 19 Mencoba Yang Terbaik Untuk Melihatnya20 Bab 20 Berpura-pura Tidak Ada yang Terjadi21 Bab 21 Harga yang Harus Dibayar22 Bab 22 Mereka Adalah Orang Yang Berbeda23 Bab 23 Dia Adalah Istriku24 Bab 24 Dia adalah Penguasa25 Bab 25 Jangan Menangis Lagi26 Bab 26 Pria Itu Adalah Mimpi Buruknya27 Bab 27 Apa Lagi yang Bisa Dia Harapkan28 Bab 28 Dia Tidak Punya Tempat Untuk Pergi29 Bab 29 Aku Mohon, Tolong Bantu Aku30 Bab 30 Dia Bersedia Melakukannya31 Bab 31 Mereka Semua Adalah Orang-Orang yang Tidak Bermoral32 Bab 32 Tugas dan Kewajiban Seorang Istri33 Bab 33 Tidak Ada Hal Lain, Selain Penghinaan34 Bab 34 Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak35 Bab 35 Dia Telah Kehilangan Hak untuk Mencintai Pria itu.36 Bab 36 Membuat Keputusan Demi Lala37 Bab 37 Tidak Bisa Melarikan Diri Dari Kendalinya38 Bab 38 Dia Tidak Menginginkan Seorang Bayi39 Bab 39 Dia Sengaja Mempersulit Ayla40 Bab 40 Kamu Adalah Istri Sahnya41 Bab 41 Dia Merasa Kasihan Kepada Ayla42 Bab 42 Dia Melakukan Semua Hal Sesuka Hatinya.43 Bab 43 Jika Ayla Bahagia, Dia Juga Akan Bahagia44 Bab 44 Jatuh Cinta Padaku Adalah Kehancuran45 Bab 45 Biarkan Dia Menyaksikan Itu Semua46 Bab 46 Menghadiri Acara Pernikahan Toby47 Bab 47 Ayla Tidak Punya Pilihan Selain Menghindar48 Bab 48 Perkataan Brian Menyentuh Hati Ayla49 Bab 49 Tidak Bisa Membayar Hutangnya50 Bab 50 Brian Tidak Demam51 Bab 51 Brian Tidak Akan Membuat Pengecualian52 Bab 52 Ayla Tidak Begitu Membenci Brian53 Bab 53 Menjadi Istrinya Yang Asli54 Bab 54 Tidak Akan Membiarkan Keinginan Mereka Tercapai55 Bab 55 Lupakan Dia56 Bab 56 Bayi Dalam Kandungannya57 Bab 57 Dia Mengira Ayla Berbohong Padanya58 Bab 58 Jangan Bilang Kalau Kamu Sudah Hamil59 Bab 59 Memaksa Ayla Mengugurkannya60 Bab 60 Upaya Terakhirnya61 Bab 61 Bersedia Kembali Padanya62 Bab 62 Aborsi63 Bab 63 Dia Berharap Mati64 Bab 64 Apa Aku Masih Hidup65 Bab 65 Hidupnya Seharusnya Sudah Berakhir66 Bab 66 Dia Tidak Pantas Untuk Menjadi Seorang Ibu67 Bab 67 Dia Sudah Putus Asa68 Bab 68 Dia Tidak Ingin Pergi Dari Sana69 Bab 69 Mencoba Untuk Melupakannya70 Bab 70 Dia Selalu Dipaksa Di Dalam Situasi Seperti Ini71 Bab 71 Ayla Mengabaikan Brian72 Bab 72 Rasa Sakit Membuatnya Mati Rasa Dan Kedinginan73 Bab 73 Dia Mabuk Tapi Tidak Membuat Adegan74 Bab 74 Apakah Anna Sedang Mencoba Untuk Pamer75 Bab 75 Dia Sedang Merencanakan Sesuatu76 Bab 76 Segelas Susu Dengan Obat Tidur77 Bab 77 Bertemu Dengan Lukas Lagi Secara Kebetulan78 Bab 78 Dia Lupa Dengan Janjinya Kepadanya79 Bab 79 Menantang Prinsipnya Sedikit Demi Sedikit80 Bab 80 Kebetulan Atau Memang Sengaja Diatur 81 Bab 81 Lukas Menyatakan Perasaannya Pada Ayla82 Bab 82 Jelmaan Iblis83 Bab 83 Lucas Terluka Karena Ayla84 Bab 84 Tidak Akan Semudah Untuk Bisa Mati85 Bab 85 Lala Hilang86 Bab 86 Babak 86 Ayla Sang Pion87 Bab 87 Kesulitan Lain88 Bab 88 Membuatnya Sulit Bertahan89 Bab 89 Ayla Tidak Ingin Menjadi Kelemahannya90 Bab 90 Apakah Tuhan sedang bermain-main dengannya 91 Bab 91 Dia Membayarnya Kembali Dengan Hidupnya92 Bab 92 Janji Mereka yang Telah Dilanggar93 Bab 93 Dia Memberikan Cintanya Pada Lala94 Bab 94 Ini Merupakan Perpisahan yang Panjang95 Bab 95 Lelaki Yang Tak Terlupakan Olehnya96 Bab 96 Cinta Tanpa Syarat97 Bab 97 Dia Tidak Ingin Bertemu Dengannya Sekarang98 Bab 98 Menanti Cintamu99 Bab 99 Itu Adalah Dia100 Bab 100 Pertemuan yang Tak Terduga