Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
Penulis:Heir
GenreRomantis
Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
Keesokan harinya, Edi memilah beberapa dokumen dan membawanya ke kantor Kusuma.
Saat Kusuma melihat-lihat informasi yang diberikan oleh Edi, secara bertahap keningnya berkerut.
Dia hanya menerima dua halaman. Halaman pertama adalah formulir pendaftaran Dewi ke sekolah, dan yang lembaran lainnya berisi profilnya. Ada juga beberapa foto di sana.
Perkenalan yang tertera di sana sangat singkat dan sederhana. Itu hanya menyebutkan usia, sekolah tempat di mana dia belajar, dan hobinya.
Dalam foto-foto itu, Dewi tampak seperti mahasiswi biasa. Tapi meskipun dia mengenakan kemeja dan celana sederhana, sosoknya masih terlihat sangat menarik. Beberapa foto diambil saat dia sedang bepergian bersama dengan teman-temannya, namun dia selalu memasang ekspresi malas dan cuek. Di beberapa foto, ada di mana Dewi menampakkan senyuman puas, terlihat sedikit nakal.
Ketika dia tersenyum, matanya yang besar bersinar sangat terang seolah-olah banyak bintang berkumpul di sana. Dia tampak dipenuhi dengan kebahagiaan.
Menatap foto-foto tersebut membuat jantung Kusuma berdetak kencang.
Ketika Edi memerhatikan bahwa Kusuma sedang melihat salah satu foto, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji, "Nona Nayaka benar-benar cantik. Foto ini diunggah di Internet dan menjadi viral di luar negeri. Banyak pencari bakat mencarinya, tapi dia menolak semuanya. Dia bahkan menolak tawaran seorang sutradara yang ingin memberinya peran utama dalam sebuah film."
Kusuma meliriknya dengan dingin dan melemparkan dokumen itu ke udara. "Edi, apa aku sudah bersikap terlalu baik padamu akhir-akhir ini?"
Suara Kusuma terdengar begitu dingin sehingga Edi mulai merasakan jantungnya hampir berhenti. Tapi dia berusaha keras untuk tetap tenang. Dia memanfaatkan waktu dengan baik ketika dia harus membungkuk untuk mengambil dokumen yang mendarat di lantai untuk menyembunyikan rasa bersalah di matanya. Kemudian dia berkata, "Tuan Hadi, latar belakang Nona Nayaka sebenarnya sangat misterius. Tidak ada begitu banyak informasi yang bisa saya temukan tentang dia. Hanya itu saja yang bisa saya temukan untuk saat ini."
"Dia adalah orang yang misterius? Tapi kemarin, aku melihat dia menarikmu ke samping dan berbicara denganmu untuk waktu yang lama. Aku belum berurusan denganmu tentang hal itu. Apakah kamu yakin kalian tidak mengenal satu sama lain dengan akrab?"
Tertangkap bahwa dia sedang berbohong, Edi merasa dirinya sangat tidak berdaya sehingga dia ingin menangis di tempat. "Kami hanya sempat bertemu sekali... saya tidak terlalu akrab..."
"Keluar!" sela Kusuma.
"Baik, Tuan Hadi," jawab Edi dengan suara gemetar. Dia kemudian berbalik dan buru-buru berjalan keluar dari kantor Kusuma.
Begitu pintu tertutup, mata Kusuma tertuju pada foto-foto yang berceceran di lantai. Dia harus mengakui bahwa Dewi memang terlihat memesona di foto-foto itu.
Jemarinya menggosok kepalanya yang sakit, mengambil sebuah dokumen, dan meletakkannya di foto-foto itu untuk menutupi wajahnya.
Itu adalah cara Kusuma untuk melampiaskan amarahnya. Kemudian dia merasa dirinya dalam suasana hati yang lebih baik.
Namun, hanya beberapa orang di Kota Yoya yang memiliki nama keluarga Nayaka. Apa hubungan yang dimiliki oleh wanita itu dengan keluarga Nayaka?
Sekarang sudah mulai musim gugur. Jadi di kampus, daun maple yang ada di pepohonan di kedua sisi Jalan Maple berangsur-angsur berubah warna dari hijau menjadi merah.
Kirani menarik Dewi dan berlari menuju fakultas mereka berada. Dia berteriak, "Kabar buruk!"
Dewi berpikir ada sesuatu yang mengkhawatirkan terjadi, jadi dia juga berlari sambil terengah-engah kehabisan napas.
Ketika mereka tiba di gerbang, mereka melihat ada sekelompok orang berkerumun di sekitar papan pengumuman. Keduanya berhasil mendesakkan diri untuk sampai ke depan kerumunan.
"Dewi... Lihat! Tuan Hadi telah menyumbangkan seratus miliar rupiah untuk fakultas kita. Itu rencananya akan digunakan untuk membangun gedung sekolah baru untuk kita," teriak Kirani dengan girang.
Seratus miliar rupiah?
Melihat kata-kata yang tercetak besar di papan pemberitahuan, Dewi mau tidak mau mendecakkan bibirnya.
"Wah! Aku tidak menyangka bahwa primadona kampus yang suka menyendiri juga bisa tergila-gila dengan seorang pria."
Dewi dapat dengan jelas mendengar suara itu, dan dia tahu siapa pemilik suara tersebut. Tapi dia bahkan tidak mau repot-repot untuk menanggapi, apalagi berbalik untuk melihat sumber suara itu.
Melihat sikapnya yang cuek, Galila Mustika mendengus dingin dan berkata, "Kamu sama sekali tidak pantas untuk bersanding dengan Tuan Hadi. Jangan berpikir bahwa kamu bisa merayunya hanya karena wajahmu yang cantik itu."
Dewi memasukkan satu tangan ke sakunya, menarik Kirani dengan tangan lainnya, dan berjalan pergi dari sana.
"Hei, Dewi! Aku sedang berbicara denganmu!" Galila bergegas berjalan ke depan Dewi dan mengangkat tangannya, ingin menampar wajah Dewi.
Namun, Dewi meraih pergelangan tangannya dengan mudah begitu dia mengangkat tangannya.
Galila sangat marah sehingga dia bertingkah tanpa pikir panjang. "Dewi, jika kamu tidak melepaskanku, aku akan memberimu pelajaran!"
"Hanya kamu saja? Aku sangat takut mendengarnya!" Dewi mengejek dan melepaskan tangan Galila.
Tubuh Galila terhuyung dan hampir terjatuh ke tanah. Dia berusaha mencoba yang terbaik untuk menjaga keseimbangannya. Kemudian dia menggosok pergelangan tangannya yang terasa sakit dan berteriak, "Tampar aku jika kamu berani! Aku tidak akan pernah..."
Segera setelah dia mengucapkan itu, ada suara tamparan yang terdengar.
Sebelum Galila bisa menyelesaikan kata-katanya, telapak tangan Dewi sudah mendarat di wajahnya, meninggalkan bekas merah di atas kulit wajah Galila.
Tamparan itu begitu kuat sehingga Galila merasa kepalanya berdengung. Sejenak dia tertegun. "Beraninya kamu... menamparku!"
Dewi hanya menanggapi dengan cuek, "Bukannya kamu yang memintanya? Sejujurnya sepanjang hidupku, aku belum pernah mendengar sebuah permintaan konyol seperti itu."