icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 12
Bicarakan Ini Secara Langsung
Jumlah Kata:596    |    Dirilis Pada:18/11/2021

Saat Tengku dan Galila dibawa pergi, Burhan memerintahkan penjaga keamanan untuk membubarkan kerumunan.

Dewi dan Kirani hendak berjalan pergi ketika seorang pria tinggi tiba-tiba menghalangi jalan mereka.

Dewi mengangkat kepalanya dan melihat bahwa pria itu adalah Kusuma.

Tatapan mata pria itu yang dingin sepertinya menembus dirinya.

Ketika mata mereka bertemu, suasana berubah menjadi sedikit canggung.

Melihat ketegangan di antara keduanya, Kirani, Burhan, dan yang lainnya di sekitarnya tidak berani mengeluarkan suara.

Dewi menatap Kusuma dengan tatapan tidak senang. Kusuma baru saja membantunya. Apa yang diinginkan pria ini darinya sekarang?

"Eh... Ada apa?" Dewi mencoba bertanya dengan santai.

"Apakah kamu sedang berpura-pura tidak mengingatku?" Kusuma memandangnya dari atas ke bawah dan mengerutkan kening. "Aku tidak menyangka kamu akan... begitu pelupa dan terbuka."

Dewi memiringkan kepalanya ke samping dengan bingung. Apa maksud dari ucapannya barusan?

Tepat ketika dia berusaha untuk memberikan tanggapan, Kusuma mencibir dan berbalik untuk pergi.

Dewi berteriak pada punggungnya yang perlahan menjauh, "Tuan Hadi, itu sama sekali bukan urusanmu!"

Ketika Kusuma berjalan ke depan Dewi barusan, Edi merasa sangat ketakutan hingga dirinya mulai berkeringat dingin. Tapi sekarang setelah Kusuma pergi, dia bergegas untuk mengikuti bosnya.

Setelah mengambil beberapa langkah, Edi berbalik dan membungkuk pada Dewi dua kali sambil memberikan tatapan memohon. Edi terlihat seperti dia hampir menangis.

Jika keadaan terus seperti ini, bagaimana dia bisa menyembunyikan identitas Dewi dari Kusuma?

Dia benar-benar celaka!

Setelah beberapa saat, Lincoln hitam berhenti di jalan masuk dan kedua pria itu masuk ke dalam mobil.

Memikirkan apa yang terjadi di kampus, Edi sempat merasa ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Tuan Hadi, apa yang terjadi tadi bukan salah Dewi. Jelas, dua mahasiswa lain itu memiliki niat untuk menjebaknya. Bagaimanapun juga, Dewi adalah seorang gadis yang cantik. Wajar jika orang lain merasa iri padanya. Jika kita memikirkannya dari perspektif ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa dia mengalami masa sulit di perguruan tinggi. Bagaimana menurut Anda?"

Perceraian antara Dewi dan Kusuma masih belum benar-benar terjadi. Terlepas dari keraguan yang semula dia rasakan, Edi tidak bisa menahan diri untuk tidak berpihak pada Dewi. Setiap pria dengan mudah akan terpesona olehnya.

Edi sudah lama bekerja untuk Kusuma. Meskipun sekarang Kusuma dan Dewi tidak rukun, Edi tahu bahwa bosnya menyimpan perasaan khusus untuk Dewi.

'Jika mereka berdua benar-benar menjalin hubungan di masa depan, mungkin Tuan Hadi akan memaafkanku karena sudah berbohong padanya dengan Dewi, ' pikir Edi gelisah.

"'Cantik'?" Kusuma meliriknya dengan dingin. "Apa kamu perlu hari libur untuk memeriksakan matamu?"

Mulut Edi langsung terkatup rapat.

'Jelas bagi semua orang bahwa Dewi itu cantik! Anda yang membutuhkan pemeriksaan mata, Tuan Hadi!' Meskipun Edi berpikir begitu, dia tidak berani mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

"Oh, saya meminta maaf. Anda benar. Saya rasa saya tidak bisa melihatnya dengan baik." Edi menarik napas dalam-dalam dan buru-buru mengganti topik. "Ngomong-ngomong, Tuan Hadi, akan ada peluncuran produk besok malam. Anda berencana pergi dengan siapa?"

Kusuma tidak suka membuang waktu untuk hal-hal seperti ini. Bagaimanapun, di matanya semua wanita itu sama. Dia berpikir sejenak dan memilih satu orang wanita secara acak. "Cucu Tuan Malik." Jelas bahwa dia tidak ingat nama wanita yang dia pilih itu.

"Apa yang Anda maksud adalah Olga?" Edi memberikan pertanyaan dengan niat untuk membantu.

"Ya, dia."

"Baik, Tuan Hadi."

Begitu mobil dinyalakan, ponsel milik Kusuma berdering. Ada sebuah pesan teks masuk.

Kusuma membuka kunci ponselnya dan melihat pesan itu datang dari nomor yang tidak dikenal. "Halo, Tuan Hadi. Aku adalah istrimu, yang belum pernah kamu temui sebelumnya. Tolong luangkan satu menit dari jadwal Anda yang sibuk untuk menandatangani perjanjian perceraian. Terima kasih banyak!"

Setelah merenung selama beberapa detik, Kusuma membalas, "Mari kita bicarakan ini secara langsung besok."

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Perjanjian Perceraian2 Bab 2 Tangkap Wanita Itu3 Bab 3 Memamerkan Cinta Mereka4 Bab 4 Kamu Tidak Mampu untuk Membelinya5 Bab 5 Tidak Pantas Untuk Memasuki Mal Ini6 Bab 6 Berikan Aku Informasi Tentang Wanita Itu7 Bab 7 Memberimu Pelajaran8 Bab 8 Aku Tidak Ingin Menjadi Kotor9 Bab 9 Menabrak Kusuma10 Bab 10 Keributan11 Bab 11 Permintaan Maaf12 Bab 12 Bicarakan Ini Secara Langsung13 Bab 13 Merasa Ragu Untuk Bercerai14 Bab 14 Peluncuran Produk15 Bab 15 Merayu Pria Kaya16 Bab 16 Terjatuh Bersama17 Bab 17 Satu Triliun Rupiah18 Bab 18 Video19 Bab 19 Ke New York20 Bab 20 Apakah Dia Bertemu Lawan Sepadan21 Bab 21 Kusuma Menggoda Dewi22 Bab 22 Kusuma Tahu Kebenarannya23 Bab 23 Pindah Rumah24 Bab 24 Diantar Ke Universitas25 Bab 25 Bukan Seorang Pria26 Bab 26 Kakak27 Bab 27 Markas Besar Grup Hadi28 Bab 28 Saya Ingin Anda Mencicipinya29 Bab 29 Hangus30 Bab 30 Kado untuk Kusuma31 Bab 31 Siapa yang Menindas Pacarku32 Bab 32 Tomboi Apa-apaan Ini 33 Bab 33 Aku Ingin Meminta Maaf Kepadamu34 Bab 34 Sebuah Pertarungan35 Bab 35 Dia Layak Mendapatkannya36 Bab 36 Jiwa Pemberontak37 Bab 37 Menjauh Dari Kusuma, Sang Dosen38 Bab 38 Sayangku39 Bab 39 Hukuman40 Bab 40 Di Kuburan41 Bab 41 Aku Pria yang Sudah Menikah42 Bab 42 Dia Sangat Tampan43 Bab 43 Aku adalah Suamimu44 Bab 44 Kelas Menari45 Bab 45 Kelas Bahasa Inggris46 Bab 46 Pelajaran Bahasa Inggris47 Bab 47 Kamu Menang48 Bab 48 Kembali Dari Singapura49 Bab 49 Sakit Kepala50 Bab 50 Kebenaran Telah Terungkap51 Bab 51 Tidak Tahu Malu52 Bab 52 Pencium yang Baik53 Bab 53 Mereka Bersama-sama Menipuku54 Bab 54 Sebuah Konfik55 Bab 55 Tidak Ada yang Boleh Keluar56 Bab 56 Berlutut Dan Minta Maaf57 Bab 57 Kamu Tidak Perlu Melakukan Apapun Selain Menghitung Uang58 Bab 58 Seorang Pria Yang Picik59 Bab 59 Apa Kamu Tinggal Dengan Seorang Pria 60 Bab 60 Sungguh Kejutan yang Hebat!61 Bab 61 Pengertian dan Kartu VIP62 Bab 62 Kamu Bernilai Sepuluh Triliun63 Bab 63 Lepaskan Sepatumu64 Bab 64 Aku Sudah Menikah65 Bab 65 Tertangkap Basah66 Bab 66 Tenangkan Suamimu67 Bab 67 Di Bioskop68 Bab 68 Hati yang Patah69 Bab 69 Datang Untuknya70 Bab 70 Hancurkan Toko Sialan Ini71 Bab 71 Pria yang Tidak Fleksibel72 Bab 72 Kamu Berani Menyebut Kusuma Hadi 73 Bab 73 Menikahi Galila74 Bab 74 Lebih Sering Mengenakan Gaun75 Bab 75 Ini Istriku76 Bab 76 Berhati-hatilah Dengan Megan77 Bab 77 Pertengkaran78 Bab 78 Hadiah79 Bab 79 Lakukan Apa Pun Untuk Kalian80 Bab 80 Tiga Syarat81 Bab 81 Berjalan Di Atas Landak Tanpa Alas Kaki82 Bab 82 Memberi Tamparan Di Wajahnya83 Bab 83 Tamparan84 Bab 84 Maafkan Aku85 Bab 85 Seorang Pria yang Tidak Bersalah86 Bab 86 Bersikap Baiklah Pada Dirimu Sendiri87 Bab 87 Terluka88 Bab 88 Jatuh Cinta89 Bab 89 Rayuan90 Bab 90 Di Rumah Sakit91 Bab 91 Hati-hati92 Bab 92 Kusuma, Aku Menyukaimu93 Bab 93 Aku Sudah Mendengar Apa yang Kamu Katakan94 Bab 94 Ayo Pulang95 Bab 95 Apa yang Hendak Kamu Beli96 Bab 96 Beraninya Kamu97 Bab 97 Kamu Tidak Membutuhkan Seorang Istri98 Bab 98 Apakah Kamu Sedang Mencoba untuk Meminta Maaf 99 Bab 99 Biarkan Aku Menghangatkanmu100 Bab 100 Istriku yang Keras Kepala