icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 3
Memamerkan Cinta Mereka
Jumlah Kata:1002    |    Dirilis Pada:18/11/2021

Kirani memutar bola matanya ke atas dan menepuk kepala Dewi. "Bukan pria yang itu, bodoh. Aku sedang berbicara tentang pria yang tadi kamu cium!"

"Tunggu, apa?! Kamu tadi mencium Tuan Hadi? Dewi, kamu ini benar-benar suka berbuat onar, ya?" Jaya berkomentar sambil tertawa. Dia adalah orang pertama yang bereaksi setelah mendengar ucapan Kirani. Dia sendiri sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar sehingga dia menginjak pedal gas dengan keras.

Ayahnya bekerja sebagai manajer umum sebuah perusahaan keuangan di Kota Yoya. Selama bertahun-tahun, dia sudah tahu banyak mengenai Kusuma.

Ketika Kristina mendengar nama Kusuma dan mengingat siapa dia, kemudian dia berseru, "Ya ampun! Dewi, kamu baru saja mencium Tuan Hadi! Mendekatlah padaku. Biarkan aku menciummu untuk merasakan bibir Tuan Hadi dan mencium bagaimana aroma tubuhnya!"

Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, dia menerkam Dewi.

"Hentikan." Dewi mendorong Kristina menjauh dengan kesal dan menyeka air yang ada di wajah Kirani menggunakan tisu. Dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar sehingga dia bahkan lupa untuk meminta maaf kepada Kirani.

"Kusuma jarang muncul di media. Bagaimana kamu bisa tahu itu dia?" tanyanya dengan nada serius.

"Dia bekerja sama dengan ayahku, dan aku pernah bertemu dengannya sekali," jawab Kirani dengan tidak sabar.

"Apakah kamu benar-benar yakin itu dia?" tanya Dewi lagi.

Sebenarnya, sekarang dia benar-benar merasa seperti di ujung tanduk.

"Aku seratus persen yakin dia adalah Kusuma Hadi!"

Meskipun berciuman dengan Kusuma merupakan suatu kehormatan besar, Kirani tidak pernah menyangka seorang Dewi yang tidak pernah tampak tertarik dengan pria, bersikap begitu bersemangat.

Di sisi lain, hati Dewi rasanya seperti mencelos. Dia benar-benar telah membuat suatu masalah besar.

Menyadari Dewi tenggelam dalam lamunannya sendiri, Kirani menepuk-nepuk tangan temannya dengan tujuan untuk menenangkan pikirannya. "Aku dengar bahwa banyak wanita ingin tidur dengan Tuan Hadi, tetapi mereka diusir keluar olehnya. Dewi, kamu sama sekali tidak punya kesempatan untuk bisa tidur dengannya. Tapi jika kita lihat dari sisi baiknya, tidak semua wanita memiliki kesempatan untuk bisa menciumnya."

Dewi menepis tangan Kirani dan dengan murung berkata, "Dia tidak pantas mendapatkannya."

"Terserahlah. Bagaimanapun, kita harus merayakannya. Ayo kita pergi belanja besok! Setelah itu, ayo minta Dewi untuk mentraktir kita makan malam!" teriak Kristina dengan penuh semangat.

Dewi memutar matanya ke atas pada Kristina dan bersandar di kursi belakang, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia tidak memerhatikan antusiasme yang diperlihatkan oleh teman-teman sekelasnya.

Tidak seperti mereka, dia sekarang merasa tertekan.

Tiga tahun lalu dia dan Kusuma menikah. Prosedur pernikahan mereka ditangani oleh asisten Kusuma.

Ketika pernikahan mereka telah sah secara hukum, Kusuma meminta Panji memberikan yang terbaik untuk Dewi tidak peduli apa pun yang dia butuhkan.

Selama tiga tahun itu, baru pada malam ini dia mendapatkan kesempatan untuk melihat seperti apa rupa suaminya.

Kusuma tidak menonjolkan diri dan tidak pernah menerima wawancara apa pun. Media bahkan tidak diizinkan untuk memposting fotonya di Internet.

Tapi suatu hari, media membuat kesalahan dan memposting foto Kusuma. Foto itu adalah foto di mana pria itu sedang memegang lengan seorang artis wanita pada sebuah konferensi pers. Namun, satu-satunya yang ditunjukkan dari Kusuma pada foto itu adalah punggungnya. Pantas saja Dewi merasa punggungnya tampak tidak asing bagi dirinya.

Dan malam ini, dia menciumnya di bar... Jika Kusuma sudah menandatangani surat perceraian mereka, pria itu akan menjadi mantan suaminya sekarang.

Dewi tiba di rumah sekitar satu jam kemudian. Yang membuatnya kecewa, Kusuma masih belum menandatangani surat perceraian itu. Dia menggila setelah mengetahui hal ini. Kegelisahannya tidak hilang bahkan ketika dia akan pergi tidur. Sepanjang malam, dia hanya terus berguling-guling di atas tempat tidur.

Keesokan harinya, Dewi berjalan beriringan dengan Kirani dan Kristina di Plaza Cahaya Internasional. Ada lingkaran hitam di bawah matanya karena semalam dia sama sekali tidak bisa tidur.

Dengan membawa tas belanja di tangan mereka, Jaya dan Dimas Subianto berjalan mengikuti gadis-gadis itu ke mana pun mereka pergi. Mereka telah berbelanja selama berjam-jam, dan para lelaki itu kelelahan.

Tidak tahan lagi, Jaya menepuk bahu ketiga gadis itu. "Hei, nona-nona. Aku belum pernah melihat kalian terlihat begitu bersemangat saat melakukan lari jarak jauh sebelumnya. Mengapa kalian tidak beristirahat sejenak saat berbelanja?"

"Untuk apa melakukan hal itu?" Kristina menunjuk ke toko di depan mereka dan menambahkan, "Kita sudah tiba. Ini perhentian terakhir kita."

Jaya mengenggam erat kedua tangannya dan menghela napas lega. "Terima kasih, nona!"

Dewi, Kristina, dan Kirani berjalan ke dalam toko dan saling berbisik satu sama lain. Ketika pramuniaga melihat kotak lipstik yang ada di tangan Dewi, dia tersenyum padanya dan berkata, "Halo, Nona. Lipstik itu cukup populer di sini. Jika Anda menginginkannya, ambillah. Anda beruntung kami masih memiliki satu barang yang tersisa untuk Anda."

Dewi kemudian melihat label harga pada lipstik itu. Lipstik itu seharga dua belas juta rupiah. 'Haruskah aku membeli ini atau tidak?' tanyanya pada dirinya sendiri.

"Dewi, apakah kamu lupa bahwa kamu kaya? Kamu mengendarai mobil senilai miliaran rupiah. Apa yang membuatmu begitu ragu untuk membeli itu? Lipstik ini harganya hanya lebih dari sepuluh juta rupiah. Kamu lebih dari mampu untuk membelinya. Jika kamu merasa ragu-ragu, aku yang akan memutuskannya untukmu. Belilah!" Jaya mendesak Dewi.

"Mobil yang aku pakai itu bukan milikku. Aku hanya memakainya saja untuk sementara," ucap Dewi.

Sebenarnya, mobil yang biasa dia pakai itu adalah mobil milik suaminya, bukan miliknya sendiri. Dewi tidak punya apa-apa yang bisa dipamerkan.

Saat itu, keributan terjadi tidak jauh di mana mereka berada.

Dewi mengangkat pandangan matanya untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba, matanya melebar, dan dia hampir menjatuhkan kotak lipstik yang dia pegang karena kaget.

Beberapa orang sedang menuju ke toko tempat Dewi dan teman-temannya berada. Pria yang berada paling depan mengenakan setelan jas gelap yang terlihat mahal. Pakaiannya sangat menegaskan sosoknya yang tinggi dan lurus. Matanya yang dalam terlihat tenang, namun auranya yang mengesankan membuat orang bergerak mundur dan memberi jalan untuknya.

'Pria ini... Oh, tidak! Dia adalah suamiku! Tapi siapa wanita yang ada di sebelahnya? Wanita itu memiliki kulit putih dan tubuh yang sempurna. Dia benar-benar memesona,' Dewi terkagum-kagum dalam hati.

Merupakan hal yang tidak biasa bagi Kusuma untuk punya pacar, apalagi pergi ke ruang publik bersamanya untuk berbelanja. 'Apakah dia begitu bersemangat untuk bisa memamerkan cinta mereka?' Dewi bertanya-tanya.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Perjanjian Perceraian2 Bab 2 Tangkap Wanita Itu3 Bab 3 Memamerkan Cinta Mereka4 Bab 4 Kamu Tidak Mampu untuk Membelinya5 Bab 5 Tidak Pantas Untuk Memasuki Mal Ini6 Bab 6 Berikan Aku Informasi Tentang Wanita Itu7 Bab 7 Memberimu Pelajaran8 Bab 8 Aku Tidak Ingin Menjadi Kotor9 Bab 9 Menabrak Kusuma10 Bab 10 Keributan11 Bab 11 Permintaan Maaf12 Bab 12 Bicarakan Ini Secara Langsung13 Bab 13 Merasa Ragu Untuk Bercerai14 Bab 14 Peluncuran Produk15 Bab 15 Merayu Pria Kaya16 Bab 16 Terjatuh Bersama17 Bab 17 Satu Triliun Rupiah18 Bab 18 Video19 Bab 19 Ke New York20 Bab 20 Apakah Dia Bertemu Lawan Sepadan21 Bab 21 Kusuma Menggoda Dewi22 Bab 22 Kusuma Tahu Kebenarannya23 Bab 23 Pindah Rumah24 Bab 24 Diantar Ke Universitas25 Bab 25 Bukan Seorang Pria26 Bab 26 Kakak27 Bab 27 Markas Besar Grup Hadi28 Bab 28 Saya Ingin Anda Mencicipinya29 Bab 29 Hangus30 Bab 30 Kado untuk Kusuma31 Bab 31 Siapa yang Menindas Pacarku32 Bab 32 Tomboi Apa-apaan Ini 33 Bab 33 Aku Ingin Meminta Maaf Kepadamu34 Bab 34 Sebuah Pertarungan35 Bab 35 Dia Layak Mendapatkannya36 Bab 36 Jiwa Pemberontak37 Bab 37 Menjauh Dari Kusuma, Sang Dosen38 Bab 38 Sayangku39 Bab 39 Hukuman40 Bab 40 Di Kuburan41 Bab 41 Aku Pria yang Sudah Menikah42 Bab 42 Dia Sangat Tampan43 Bab 43 Aku adalah Suamimu44 Bab 44 Kelas Menari45 Bab 45 Kelas Bahasa Inggris46 Bab 46 Pelajaran Bahasa Inggris47 Bab 47 Kamu Menang48 Bab 48 Kembali Dari Singapura49 Bab 49 Sakit Kepala50 Bab 50 Kebenaran Telah Terungkap51 Bab 51 Tidak Tahu Malu52 Bab 52 Pencium yang Baik53 Bab 53 Mereka Bersama-sama Menipuku54 Bab 54 Sebuah Konfik55 Bab 55 Tidak Ada yang Boleh Keluar56 Bab 56 Berlutut Dan Minta Maaf57 Bab 57 Kamu Tidak Perlu Melakukan Apapun Selain Menghitung Uang58 Bab 58 Seorang Pria Yang Picik59 Bab 59 Apa Kamu Tinggal Dengan Seorang Pria 60 Bab 60 Sungguh Kejutan yang Hebat!61 Bab 61 Pengertian dan Kartu VIP62 Bab 62 Kamu Bernilai Sepuluh Triliun63 Bab 63 Lepaskan Sepatumu64 Bab 64 Aku Sudah Menikah65 Bab 65 Tertangkap Basah66 Bab 66 Tenangkan Suamimu67 Bab 67 Di Bioskop68 Bab 68 Hati yang Patah69 Bab 69 Datang Untuknya70 Bab 70 Hancurkan Toko Sialan Ini71 Bab 71 Pria yang Tidak Fleksibel72 Bab 72 Kamu Berani Menyebut Kusuma Hadi 73 Bab 73 Menikahi Galila74 Bab 74 Lebih Sering Mengenakan Gaun75 Bab 75 Ini Istriku76 Bab 76 Berhati-hatilah Dengan Megan77 Bab 77 Pertengkaran78 Bab 78 Hadiah79 Bab 79 Lakukan Apa Pun Untuk Kalian80 Bab 80 Tiga Syarat81 Bab 81 Berjalan Di Atas Landak Tanpa Alas Kaki82 Bab 82 Memberi Tamparan Di Wajahnya83 Bab 83 Tamparan84 Bab 84 Maafkan Aku85 Bab 85 Seorang Pria yang Tidak Bersalah86 Bab 86 Bersikap Baiklah Pada Dirimu Sendiri87 Bab 87 Terluka88 Bab 88 Jatuh Cinta89 Bab 89 Rayuan90 Bab 90 Di Rumah Sakit91 Bab 91 Hati-hati92 Bab 92 Kusuma, Aku Menyukaimu93 Bab 93 Aku Sudah Mendengar Apa yang Kamu Katakan94 Bab 94 Ayo Pulang95 Bab 95 Apa yang Hendak Kamu Beli96 Bab 96 Beraninya Kamu97 Bab 97 Kamu Tidak Membutuhkan Seorang Istri98 Bab 98 Apakah Kamu Sedang Mencoba untuk Meminta Maaf 99 Bab 99 Biarkan Aku Menghangatkanmu100 Bab 100 Istriku yang Keras Kepala