icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 9
Menabrak Kusuma
Jumlah Kata:908    |    Dirilis Pada:18/11/2021

Burhan Prayitno, sang dekan sekolah, berjalan mondar-mandir dengan penuh rasa gugup di gerbang sekolah. Tangannya menyeka keringat dari dahinya dari waktu ke waktu.

Sepuluh menit kemudian, datang sebuah limusin Lincoln yang berhenti di gerbang.

Burhan berlari menuju ke mobil dan dengan hormat menunggu seorang tamu terhormat yang ada di dalam mobil untuk keluar.

Saat pintu mobil itu terbuka dari dalam, dia menundukkan kepalanya. "Tuan Hadi, merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk mendapatkan kunjungan dari Anda ke sini. Atas nama semua dosen dan mahasiswa, saya ingin mengucapkan terima kasih atas investasi sebesar seratus miliar rupiah yang sudah Anda berikan pada universitas kami."

Kusuma berpakaian lengkap, dia mengenakan setelan hitam elegan yang dirancang khusus untuk menyesuaikan ukuran tubuhnya. Wajahnya yang tanpa ekspresi tidak banyak mengurangi aura kekuasaan, kepercayaan diri, dan keanggunan yang dia pancarkan.

Perubahan drastis dalam cara menjalankan bisnis baik yang terjadi di dalam maupun di luar negeri dapat dikaitkan dengan pria yang sangat berbakat ini. Bahkan, setiap keputusannya berdampak pada Produk Domestik Bruto beberapa negara.

Sebagai tanggapan, Kusuma menganggukkan kepala.

Burhan berdiri tegak, menyibak rambutnya yang menutupi matanya dengan memberikan sebuah senyum gugup yang lemah.

"Tuan Hadi, apa ada kabar terbaru tentang rencana pembangunan gedung pengajaran? Apakah ada hal lain yang perlu kami ubah?" Burhan bertanya dengan hati-hati.

Mata Kusuma menyapu wajah pria itu sebelum mendarat pada Edi. "Tunjuk seseorang untuk menindaklanjuti pembangunan gedung pengajaran. Kita harus memastikan bahwa semua pengeluaran dari dana yang diberikan digunakan untuk melakukan konstruksi bangunan dan pengajaran saja."

Ketika Burhan menyadari bahwa Kusuma telah melihat niatnya untuk menggelapkan dana investasi yang diberikan, wajahnya menjadi merah.

"Baik, Tuan," jawab Edi dengan hormat.

"Tuan Hadi, Anda tidak perlu khawatir. Saya akan bekerja sama dengan Tuan Cataka. Mari saya antar Anda untuk melihat-lihat kampus terlebih dahulu." Burhan melangkah ke samping, berusaha yang terbaik untuk mempertahankan ekspresi tenang, saat dia mengulurkan tangannya dan mengajak Kusuma untuk berjalan di depan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kusuma berjalan melewati gerbang besar kampus.

Sementara itu, Kirani mengutuk dan menggerutu dalam perjalanan mereka kembali dari kantor dekan karena dia dan Dewi tidak bisa bertemu dengan dekan yang mereka cari.

Dia telah memutuskan untuk pergi mengunjungi kantor dekan lagi di lain waktu. Kemudian di kejauhan, dia melihat para mahasiswi berteriak-teriak.

"Lihat! Tuan Hadi ada di sini!"

"Ya, Tuhan! Itu Tuan Hadi!"

"Ya ampun! Wajah Tuan Hadi jauh lebih tampan dari sebagian besar bintang film!"

Semua mahasiswi dan bahkan anggota staf memadati jalan setapak kampus untuk melihat Kusuma. Kirani melihat ke depan dengan rasa ingin tahu dan sekilas melihat sosok Kusuma. Dan sang dekan mengikutinya berjalan berkeliling seolah-olah dia adalah orang yang sangat penting.

"Dewi, dekan ada di sana!" Tanpa ragu-ragu, Kirani meraih tangan Dewi dan berlari ke arah kerumunan.

Sayangnya, Dewi kehilangan keseimbangan karena dia tidak menyangka akan ditarik oleh Kirani dan dia menabrak salah satu penjaga keamanan sebelum mendarat di pelukan seorang pria.

Keheningan yang canggung bisa terasa di udara.

Dewi sudah cukup populer di kalangan mahasiswa karena dia dikenal sebagai primadona kampus.

Kerumunan yang semula hening menjadi pecah penuh dengan celoteh suara.

"Ah! Kenapa aku tidak memikirkan ide itu? Aku juga ingin berpelukan dengan Pangeran Tampanku!"

"Dewi memang luar biasa. Aku mengaku kalah. Bisakah aku menjadi orang kedua yang beruntung untuk bisa memeluk Pangeran Tampan?"

"Tidak! Dewi adalah gadis impianku. Bagaimana bisa dia melemparkan dirinya ke pelukan pria lain?"

Kerumunan mulai asik berbisik di antara mereka sendiri. Mata Dewi terbelalak kaget saat dia mengangkat kepalanya dan melihat wajah tampan milik Kusuma.

Saat mereka saling bertatapan, Dewi merasa dirinya seperti disambar petir.

'Apa yang dia lakukan di sini?' Dewi bertanya-tanya dan segera melepaskan diri dari pelukan Kusuma.

Dia tampak kesal pada nasib karena lagi-lagi sudah menempatkannya dalam pertemuan canggung dengan Kusuma, terutama setelah dia mengajukan perceraian.

"Tuan Hadi, apakah Anda baik-baik saja?" Karena ketakutan wajah Burhan menjadi pucat ketika dia melihat seorang mahasiswi menabrak Kusuma.

"Aku tidak apa-apa."

Kusuma melirik Dewi dengan dingin dan meluruskan kemejanya yang sedikit kusut dengan ekspresi jijik tergambar jelas di wajahnya.

Ekspresi arogan dan angkuh yang ditunjukkan oleh Kusuma membuat Dewi marah.

Beraninya pria ini memperlakukan dirinya seperti itu?

"Ada apa denganmu?" Burhan berteriak pada Dewi sambil menunjuknya. "Kamu itu sangat ceroboh. Cepat dan..."

"Pak Prayitno!" Kirani menyela ucapan Burhan sebelum dia bisa selesai berbicara. "Tolong periksa semua bukti sebelum memberikan penilaian apa pun! Itu bukan salah Dewi. Kenapa dia mendapatkan penalti?"

"Kita akan membahas masalah ini secara rinci di lain waktu. Jangan rusak kunjungan Tuan Hadi ke sini." Burhan mengerutkan kening dan memberikan isyarat pada Kirani untuk menyingkir.

Namun, Kirani tidak mau menerima begitu saja. Sebagai gantinya, dia mengangkat suaranya dan bertanya kepada Burhan, "Mengapa kita perlu membicarakan soal ini nanti? Sepertinya sekarang merupakan saat yang tepat untuk membicarakan masalah ini di sini!"

"Kamu!" Burhan tidak menyangka Kirani akan membuat keributan di depan umum. Karena malu, dia memasang ekspresi tidak senang sambil memelototi Dewi, dan memberi isyarat padanya untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Kirani.

Dengan ekspresi cuek di wajahnya, Dewi tersenyum dan berkata, "Saya juga ingin tahu mengapa saya diberikan penalti!"

"Kamu..." Burhan sangat marah, tetapi dia tidak berani kehilangan kesabaran di depan Kusuma. Dia berbalik dan berteriak pada Paulus, "Paulus, apa yang sudah terjadi?"

"Apa? Bukankah itu perintah dari Anda?" Paulus sangat ketakutan sehingga dia menyeka keringat yang berkumpul di dahinya dan dengan cepat membela diri.

"Apa yang sedang kamu bicarakan? Beraninya kamu menyalahkanku atas ini?" Burhan memelototi Paulus dan membentak padanya.

Paulus merasa ingin menjambak rambutnya sendiri. Dia menjawab, "Bukankah Anda yang sudah meminta Tengku memberitahukan pada saya untuk memberikan penalti pada Dewi?"

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Perjanjian Perceraian2 Bab 2 Tangkap Wanita Itu3 Bab 3 Memamerkan Cinta Mereka4 Bab 4 Kamu Tidak Mampu untuk Membelinya5 Bab 5 Tidak Pantas Untuk Memasuki Mal Ini6 Bab 6 Berikan Aku Informasi Tentang Wanita Itu7 Bab 7 Memberimu Pelajaran8 Bab 8 Aku Tidak Ingin Menjadi Kotor9 Bab 9 Menabrak Kusuma10 Bab 10 Keributan11 Bab 11 Permintaan Maaf12 Bab 12 Bicarakan Ini Secara Langsung13 Bab 13 Merasa Ragu Untuk Bercerai14 Bab 14 Peluncuran Produk15 Bab 15 Merayu Pria Kaya16 Bab 16 Terjatuh Bersama17 Bab 17 Satu Triliun Rupiah18 Bab 18 Video19 Bab 19 Ke New York20 Bab 20 Apakah Dia Bertemu Lawan Sepadan21 Bab 21 Kusuma Menggoda Dewi22 Bab 22 Kusuma Tahu Kebenarannya23 Bab 23 Pindah Rumah24 Bab 24 Diantar Ke Universitas25 Bab 25 Bukan Seorang Pria26 Bab 26 Kakak27 Bab 27 Markas Besar Grup Hadi28 Bab 28 Saya Ingin Anda Mencicipinya29 Bab 29 Hangus30 Bab 30 Kado untuk Kusuma31 Bab 31 Siapa yang Menindas Pacarku32 Bab 32 Tomboi Apa-apaan Ini 33 Bab 33 Aku Ingin Meminta Maaf Kepadamu34 Bab 34 Sebuah Pertarungan35 Bab 35 Dia Layak Mendapatkannya36 Bab 36 Jiwa Pemberontak37 Bab 37 Menjauh Dari Kusuma, Sang Dosen38 Bab 38 Sayangku39 Bab 39 Hukuman40 Bab 40 Di Kuburan41 Bab 41 Aku Pria yang Sudah Menikah42 Bab 42 Dia Sangat Tampan43 Bab 43 Aku adalah Suamimu44 Bab 44 Kelas Menari45 Bab 45 Kelas Bahasa Inggris46 Bab 46 Pelajaran Bahasa Inggris47 Bab 47 Kamu Menang48 Bab 48 Kembali Dari Singapura49 Bab 49 Sakit Kepala50 Bab 50 Kebenaran Telah Terungkap51 Bab 51 Tidak Tahu Malu52 Bab 52 Pencium yang Baik53 Bab 53 Mereka Bersama-sama Menipuku54 Bab 54 Sebuah Konfik55 Bab 55 Tidak Ada yang Boleh Keluar56 Bab 56 Berlutut Dan Minta Maaf57 Bab 57 Kamu Tidak Perlu Melakukan Apapun Selain Menghitung Uang58 Bab 58 Seorang Pria Yang Picik59 Bab 59 Apa Kamu Tinggal Dengan Seorang Pria 60 Bab 60 Sungguh Kejutan yang Hebat!61 Bab 61 Pengertian dan Kartu VIP62 Bab 62 Kamu Bernilai Sepuluh Triliun63 Bab 63 Lepaskan Sepatumu64 Bab 64 Aku Sudah Menikah65 Bab 65 Tertangkap Basah66 Bab 66 Tenangkan Suamimu67 Bab 67 Di Bioskop68 Bab 68 Hati yang Patah69 Bab 69 Datang Untuknya70 Bab 70 Hancurkan Toko Sialan Ini71 Bab 71 Pria yang Tidak Fleksibel72 Bab 72 Kamu Berani Menyebut Kusuma Hadi 73 Bab 73 Menikahi Galila74 Bab 74 Lebih Sering Mengenakan Gaun75 Bab 75 Ini Istriku76 Bab 76 Berhati-hatilah Dengan Megan77 Bab 77 Pertengkaran78 Bab 78 Hadiah79 Bab 79 Lakukan Apa Pun Untuk Kalian80 Bab 80 Tiga Syarat81 Bab 81 Berjalan Di Atas Landak Tanpa Alas Kaki82 Bab 82 Memberi Tamparan Di Wajahnya83 Bab 83 Tamparan84 Bab 84 Maafkan Aku85 Bab 85 Seorang Pria yang Tidak Bersalah86 Bab 86 Bersikap Baiklah Pada Dirimu Sendiri87 Bab 87 Terluka88 Bab 88 Jatuh Cinta89 Bab 89 Rayuan90 Bab 90 Di Rumah Sakit91 Bab 91 Hati-hati92 Bab 92 Kusuma, Aku Menyukaimu93 Bab 93 Aku Sudah Mendengar Apa yang Kamu Katakan94 Bab 94 Ayo Pulang95 Bab 95 Apa yang Hendak Kamu Beli96 Bab 96 Beraninya Kamu97 Bab 97 Kamu Tidak Membutuhkan Seorang Istri98 Bab 98 Apakah Kamu Sedang Mencoba untuk Meminta Maaf 99 Bab 99 Biarkan Aku Menghangatkanmu100 Bab 100 Istriku yang Keras Kepala