icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 13
Merasa Ragu Untuk Bercerai
Jumlah Kata:977    |    Dirilis Pada:18/11/2021

"Tidak, terima kasih, Tuan Hadi." Dewi dengan cepat mengirimkan balasan pesan teks kepada Kusuma. "Saya sibuk. Saya tidak ingin properti milik Anda. Oleh karena itu, saya rasa tidak ada hal lain yang perlu kita bicarakan."

Kusuma membaca pesan itu dengan rasa penasaran. Dia merasa bahwa ini adalah hal yang cukup menarik, di mana wanita yang berstatus sebagai istrinya ini tidak menginginkan propertinya.

Jika dia berhasil mengingat dengan benar, wanita ini seharusnya baru berusia sekitar awal dua puluhan.

Karena dia masih sangat muda, bukankah dia pasti membutuhkan uang?

Ditambah lagi, kedua orang tuanya sudah meninggal. Mengingat keadaan istrinya ini, Kusuma tidak bisa tidak bertanya-tanya, kenapa dia ingin bercerai?

Awal dua puluhan... Kusuma memikirkan informasi yang dia terima mengenai Dewi.

Dewi juga baru berusia dua puluh satu tahun, tetapi dia sudah mulai menjalin hubungan dengan berbagai jenis pria. Orang-orang muda sekarang benar-benar penuh dengan energi. Lalu bagaimana dengan istrinya yang hanya di atas kertas itu?

Setelah berpikir sejenak, Kusuma menjawab, "Apakah kamu menyukai seseorang?"

Jika demikian, dia tidak punya jalan lain selain menandatangani perjanjian perceraian.

Dia tidak pernah merasa begitu ragu-ragu dalam hidupnya. Sebenarnya, dia sendiri merasa tidak enak pada istrinya. Lagi pula, dia begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia sama sekali tidak memberikan perhatian kepada istrinya selama bertahun-tahun.

Meski pernikahannya hanya sebatas di atas kertas, sudah sepatutnya istrinya dihormati dengan gelar "Nyonya Hadi".

Tapi wanita ini sepertinya tidak peduli dengan gelar itu. Dia benar-benar tidak menarik perhatian meskipun sudah menikahi Kusuma. Selama tiga tahun terakhir, masih sedikit orang yang tahu bahwa Kusuma sekarang sudah menikah.

Dewi berhenti sejenak selama beberapa menit sebelum membalas pesannya. "Tidak. Aku tidak menyukai siapa pun. Tuan Hadi, tenangkan pikiran Anda bahwa saya tidak pernah melakukan hal tidak senonoh dalam tiga tahun terakhir ini. Bisakah Anda menandatangani surat itu saja?"

Dia tidak sedang naksir siapa pun. Bahkan jika dia memang pernah menyukai seseorang, itu semua terjadi di masa lalu... Dan itu sudah lama sekali terjadi.

Dewi mengetuk-ngetukkan jarinya di ponselnya dengan tidak sabar. Apa yang membuat Kusuma begitu lama untuk menjawab? Kenapa dia tampak ragu-ragu? Dia hanya perlu menandatangani perjanjian perceraian itu. Sebuah coretan sederhana di selembar kertas, dan semuanya akan berakhir. Kusuma tampak sama sekali tidak berkeinginan untuk menandatanganinya, seolah-olah dia menyimpan perasaan untuknya.

Dewi menggelengkan kepalanya. Setelah dipikir-pikir, dia mungkin adalah istri paling dermawan baginya! Suaminya ini telah berhubungan dengan banyak wanita selama pernikahan mereka, tetapi dia tidak pernah peduli tentang itu. Jika wanita lain yang menjadi istrinya sekarang, wanita itu mungkin tidak akan menolerir sikap kurang ajar seperti itu.

"Oke," akhirnya Kusuma menjawab. "Tapi tolong diskusikan dengan kakekku tentang hal itu. Jika dia setuju, aku akan segera menandatanganinya."

Bagaimanapun, pernikahan mereka itu diatur oleh kakek Kusuma.

Mata Dewi melebar ketika dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Kusuma. Dia sudah tidak tahan lagi! Siapa lagi kakek Kusuma ini? Dia bahkan tidak mengenalnya!

Yang dia tahu, ayahnya-lah yang meminta dirinya untuk menikah dengan Kusuma. Ayahnya pada saat itu berkata bahwa dia tidak akan menyesal menikahi Kusuma. Dia memutar matanya ke atas pada ingatannya.

Tapi di mana dia bisa bertemu dengan kakeknya Kusuma?

Dewi mengetik di ponselnya dengan gusar. "Dia itu adalah kakek Anda. Mengapa Anda tidak berbicara dengannya sendiri? Apa Anda ingin saya yang menjadi orang jahat? Anda bermimpi!"

Dewi mengerutkan kening tidak senang. Rubah tua licik yang enam atau tujuh tahun lebih tua darinya ini, sangat menyebalkan!

Kusuma membaca pesannya dengan perasaan terhibur. Istrinya ini seperti seorang anak yang mudah kehilangan kesabaran.

Pesan itu mengingatkannya pada Dewi. Gadis itu selalu berbicara dengan nada marah.

Ketika dia mendapati dirinya memikirkan Dewi lagi, mata Kusuma mengerjap dengan kesal.

Dia sedang tidak ingin berurusan dengan seorang gadis, jadi dia hanya menjawab, "Kakekku sekarang ada di New York. Kenapa kamu tidak pergi untuk mencarinya sekarang?"

Kusuma melemparkan ponselnya ke samping. Dia telah berjanji pada kakeknya bahwa dia tidak akan pernah menceraikan istrinya, tetapi istrinya tidak setuju dengan ini. Jika dia benar-benar ingin menceraikannya, maka istrinya itu harus membujuk kakeknya terlebih dahulu.

Dewi menggertakkan giginya, amarahnya mendidih.

Menyadari bahwa pria ini tidak akan menandatangani surat cerai dalam waktu dekat, dia menjadi cemas. Pria ini benar-benar sinting! Dia tidak bisa begitu saja pergi ke New York untuk mencari kakeknya.

Dia meletakkan ponsel miliknya dan menghela napas berat.

Sore itu, Kirani merengek, "Dewi, ada apa denganmu? Apakah kamu sedang mengalami menopause dini?"

Dewi memutar bola matanya ke atas pada temannya. "Aku hanya sedang sangat kesal!"

Kusuma benar-benar menyulitkannya!

"Siapa yang sudah mengganggumu? Biar aku membantumu untuk menghajar mereka," goda Kirani.

Namun, ini hanya membuat Dewi semakin kesal. Haruskah dia mengakui kepada Kirani bahwa dia sudah menikah dengan Kusuma dan ingin bercerai? Tapi Kusuma tidak setuju dengan itu?

Memikirkan hal ini, Dewi justru malah tertawa pahit. Jika dia mengatakan itu dengan lantang, Kirani pasti akan mengira dia sudah tidak waras.

"Bagaimana kalau begini? Aku akan pergi ke suatu pesta besok malam. Kamu harus ikut denganku dan mengalihkan apa yang ada di pikiranmu itu." Saat mereka berbicara, Kirani mengingat apa yang dikatakan ayahnya pagi ini.

"Tidak, terima kasih," Dewi menolak ajakan itu terus terang.

Dia tidak menyukai hal-hal seperti ini. Selain itu, dia sedang merasa cemas atas perceraiannya. Dia benar-benar tidak ingin pergi ke sebuah pesta.

Kirani melanjutkan dengan keras kepala, "Orang-orang terkenal akan hadir di sana. Artis, pria lajang yang berkelas, sebut saja yang kamu ingin lihat! Mereka semua akan berada di pesta itu. Kamu akan merasa menyesal tidak pergi ke sana!"

"Aku tidak ingin pergi ke sana." Dewi mendorong wajah Kirani menjauh dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Kirani memasang ekspresi cemberut seperti anak manja. "Kita bisa pergi ke sana dan bersenang-senang. Kita akan makan enak dan sedikit minum-minum nanti. Ayolah, ikut saja denganku!"

Saat Dewi hendak mengamuk, Kirani melompat dan bergegas ke lemari. Dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah dan berkata, "Aku sudah menyiapkan gaun untukmu. Ini pas dengan ukuranmu!"

Menatap gaun yang ada di tangan Kirani, Dewi tidak punya pilihan selain menerima ajakan temannya ini untuk pergi ke pesta bersamanya.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Perjanjian Perceraian2 Bab 2 Tangkap Wanita Itu3 Bab 3 Memamerkan Cinta Mereka4 Bab 4 Kamu Tidak Mampu untuk Membelinya5 Bab 5 Tidak Pantas Untuk Memasuki Mal Ini6 Bab 6 Berikan Aku Informasi Tentang Wanita Itu7 Bab 7 Memberimu Pelajaran8 Bab 8 Aku Tidak Ingin Menjadi Kotor9 Bab 9 Menabrak Kusuma10 Bab 10 Keributan11 Bab 11 Permintaan Maaf12 Bab 12 Bicarakan Ini Secara Langsung13 Bab 13 Merasa Ragu Untuk Bercerai14 Bab 14 Peluncuran Produk15 Bab 15 Merayu Pria Kaya16 Bab 16 Terjatuh Bersama17 Bab 17 Satu Triliun Rupiah18 Bab 18 Video19 Bab 19 Ke New York20 Bab 20 Apakah Dia Bertemu Lawan Sepadan21 Bab 21 Kusuma Menggoda Dewi22 Bab 22 Kusuma Tahu Kebenarannya23 Bab 23 Pindah Rumah24 Bab 24 Diantar Ke Universitas25 Bab 25 Bukan Seorang Pria26 Bab 26 Kakak27 Bab 27 Markas Besar Grup Hadi28 Bab 28 Saya Ingin Anda Mencicipinya29 Bab 29 Hangus30 Bab 30 Kado untuk Kusuma31 Bab 31 Siapa yang Menindas Pacarku32 Bab 32 Tomboi Apa-apaan Ini 33 Bab 33 Aku Ingin Meminta Maaf Kepadamu34 Bab 34 Sebuah Pertarungan35 Bab 35 Dia Layak Mendapatkannya36 Bab 36 Jiwa Pemberontak37 Bab 37 Menjauh Dari Kusuma, Sang Dosen38 Bab 38 Sayangku39 Bab 39 Hukuman40 Bab 40 Di Kuburan41 Bab 41 Aku Pria yang Sudah Menikah42 Bab 42 Dia Sangat Tampan43 Bab 43 Aku adalah Suamimu44 Bab 44 Kelas Menari45 Bab 45 Kelas Bahasa Inggris46 Bab 46 Pelajaran Bahasa Inggris47 Bab 47 Kamu Menang48 Bab 48 Kembali Dari Singapura49 Bab 49 Sakit Kepala50 Bab 50 Kebenaran Telah Terungkap51 Bab 51 Tidak Tahu Malu52 Bab 52 Pencium yang Baik53 Bab 53 Mereka Bersama-sama Menipuku54 Bab 54 Sebuah Konfik55 Bab 55 Tidak Ada yang Boleh Keluar56 Bab 56 Berlutut Dan Minta Maaf57 Bab 57 Kamu Tidak Perlu Melakukan Apapun Selain Menghitung Uang58 Bab 58 Seorang Pria Yang Picik59 Bab 59 Apa Kamu Tinggal Dengan Seorang Pria 60 Bab 60 Sungguh Kejutan yang Hebat!61 Bab 61 Pengertian dan Kartu VIP62 Bab 62 Kamu Bernilai Sepuluh Triliun63 Bab 63 Lepaskan Sepatumu64 Bab 64 Aku Sudah Menikah65 Bab 65 Tertangkap Basah66 Bab 66 Tenangkan Suamimu67 Bab 67 Di Bioskop68 Bab 68 Hati yang Patah69 Bab 69 Datang Untuknya70 Bab 70 Hancurkan Toko Sialan Ini71 Bab 71 Pria yang Tidak Fleksibel72 Bab 72 Kamu Berani Menyebut Kusuma Hadi 73 Bab 73 Menikahi Galila74 Bab 74 Lebih Sering Mengenakan Gaun75 Bab 75 Ini Istriku76 Bab 76 Berhati-hatilah Dengan Megan77 Bab 77 Pertengkaran78 Bab 78 Hadiah79 Bab 79 Lakukan Apa Pun Untuk Kalian80 Bab 80 Tiga Syarat81 Bab 81 Berjalan Di Atas Landak Tanpa Alas Kaki82 Bab 82 Memberi Tamparan Di Wajahnya83 Bab 83 Tamparan84 Bab 84 Maafkan Aku85 Bab 85 Seorang Pria yang Tidak Bersalah86 Bab 86 Bersikap Baiklah Pada Dirimu Sendiri87 Bab 87 Terluka88 Bab 88 Jatuh Cinta89 Bab 89 Rayuan90 Bab 90 Di Rumah Sakit91 Bab 91 Hati-hati92 Bab 92 Kusuma, Aku Menyukaimu93 Bab 93 Aku Sudah Mendengar Apa yang Kamu Katakan94 Bab 94 Ayo Pulang95 Bab 95 Apa yang Hendak Kamu Beli96 Bab 96 Beraninya Kamu97 Bab 97 Kamu Tidak Membutuhkan Seorang Istri98 Bab 98 Apakah Kamu Sedang Mencoba untuk Meminta Maaf 99 Bab 99 Biarkan Aku Menghangatkanmu100 Bab 100 Istriku yang Keras Kepala