icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 6
Melapor Polisi
Jumlah Kata:1133    |    Dirilis Pada:17/03/2022

Alice memelototi Rachel sambil menggertakkan giginya begitu keras hingga seolah-olah ingin menghancurkannya.

Menutup mata terhadap kemarahan Alice, Rachel mengalihkan perhatiannya ke arah Andy.

"Tuan Tantowi, karena Alice tidak ingin memanggil polisi, mengapa kamu tidak menelepon polisi dan meminta mereka untuk datang?"

Tepat setelah Caroline mendengar ucapan itu, dia berkata, "Rachel, tolong jangan marah. Saat Alice mengambil kalungmu, dia itu hanya bersikap konyol. Kita adalah satu keluarga. Lagi pula, dia adalah adikmu, jika polisi sampai datang ke sini dan membuat masalah ini menjadi sebuah masalah yang serius, orang-orang akan menertawakan kita."

Caroline menundukkan kepala, tampak seperti seorang Ibu yang baik dan penuh perhatian.

Rachel sudah tidak merasa asing dengan tatapan itu. Keahlian Caroline dalam memerankan sebagai orang yang tidak bersalah inilah yang dapat memperdaya Jack. Ini juga alasan mengapa Jack menutup mata terhadap Rachel, dan membiarkan Alice dan Caroline berbuat seenaknya di sekelilingnya.

Rachel tidak menanggapi perkataannya. Dia hanya menatap mereka dan duduk diam di atas sofa.

Dia tahu bahwa Caroline mempunyai sifat yang lebih tenang daripada Alice. Dan Caroline tidak akan pernah mau secara langsung meminta bantuan pada Jack. Sebaliknya, dia akan melakukan sesuatu untuk memenangkan belas kasihannya, sehingga Jack yang akan berbicara untuk dirinya. Karena itu, Rachel tidak terburu-buru untuk angkat bicara dan mengetahui bahwa Caroline tidak akan dengan mudah menunjukkan sikap aslinya.

Setelah waktu yang cukup lama, ketika Caroline melihat Rachel tidak memiliki niat untuk berbicara, dia pun menjadi tidak sabar. Pemikiran jahat melintas di dalam benak Caroline, Alice memberitahunya beberapa hari yang lalu bahwa Rachel sepertinya berubah menjadi seperti orang yang berbeda. Dia tidak percaya akan ucapan Alice saat itu, tetapi sekarang sepertinya Rachel memang benar-benar telah berubah! Berani-beraninya Rachel kembali ke rumah ini dan bersikap sombong seolah-olah dia adalah pemilik rumah ini?

Andy memecah kesunyian, "Nona Verdianto, saya sudah menelepon polisi."

"Rachel Verdianto! Beraninya kamu?" Alice berteriak lantang dengan kedua mata yang membelalak lebar.

"Kenapa aku tidak berani untuk melakukannya?" Rachel balas menatap tatapannya. Saat ini, Rachel hanya menunjukkan sikap yang santai.

"Kamu..." Kedua mata Alice menjadi memerah dan dirinya dibuat terdiam. Dia kehilangan kesabaran, lalu mengambil vas di atas meja dan melemparkannya ke arah Rachel.

Caroline tidak sempat menghentikannya karena gerakannya begitu cepat. Caroline merasa terkejut.

Polisi pasti akan berpikir bahwa Alice yang harus disalahkan jika Alice sampai menyakiti Rachel. Mereka tidak akan memedulikan alasan di balik tindakannya.

Andy merasa ngeri saat melihat apa yang terjadi. Dia tidak menyangka bahwa Alice akan secara terang-terangan menyakiti Rachel seperti itu.

Andy tanpa sadar melindungi Rachel agar dia tidak terluka. Namun, ketika Andy mengingat apa yang Rachel katakan padanya sebelum memasuki rumah, dia mengambil langkah mundur dan mengeluarkan ponselnya.

Ada senyum yang terpancar di raut wajah Rachel. Saat vas itu terbang ke arah Rachel, semua orang yang berada di ruangan itu menahan napas.

"Brak!"

Rachel mengambil bantal sofa, melemparkannya ke arah vas dan menendang bantal itu dalam satu gerakan tepat sebelum vas itu mengenainya.

Setiap gerakan yang Rachel lakukan terjadi dalam waktu satu detik. Vas itu terbang kembali ke arah Alice sebelum ada yang sempat bereaksi.

Raut wajah Alice berubah menjadi pucat pasi.

"Ahh!" Alice berteriak dan menutupi wajahnya secara refleks. Dia terhuyung mundur dan tidak menyadari bahwa ada rak yang berada tepat di belakangnya.

Bruk! Bruk! Bruk!

Rak itu jatuh dan semua isinya hancur ke atas lantai lalu pecah berkeping-keping. Suara benturan yang bercampur dengan suara jeritan Alice terdengar di seluruh ruangan.

Baik Jack maupun Caroline tidak ada yang sempat untuk bereaksi. Mereka merasa ngeri dengan pemandangan itu, lalu bergegas untuk memeriksa keadaan Alice dan memanggil asisten rumah tangga mereka untuk meminta bantuan.

Tiba-tiba, kekacauan terjadi di ruang tamu yang tadinya sunyi.

Raut wajah Rachel terlihat tetap tenang. Dia duduk kembali sambil menatap Andy dan melihat bahwa dia sepertinya juga terkejut dengan pemandangan ini.

"Apa kamu telah merekam semua kejadian ini?"

Andy kembali tersadar ketika mendengar pertanyaan itu. Sebelum bisa menyembunyikan keterkejutannya, Andy menganggukkan kepalanya dan berkata, "Saya telah berhasil merekam semuanya."

"Tuan! Nyonya!" Viola datang dengan tergesa-gesa, "Polisi sudah datang."

Botol kaca yang jatuh dari rak mengenai Alice dan dia sekarang meneteskan air mata karena merasa kesakitan. Setelah mendengar ucapan itu, Alice mengabaikan rasa sakitnya dan meraih lengan Caroline.

"Ibu..."

Raut wajah Caroline berubah muram. Dia menepuk pelan tangan Alice untuk menenangkannya.

Di luar pintu, dua polisi bertanya, "Siapa yang telah menelepon polisi?"

"Akulah orang yang menelepon polisi." Andy meletakkan ponselnya dan maju selangkah.

Polisi mengerutkan kening saat melihat kekacauan yang terjadi di ruang tamu, "Apa yang telah terjadi di sini?"

Alice menutupi lengannya yang terluka dan menunjuk ke arah Rachel, "Dialah pelaku dari semua kejadian ini!"

Alice mengambil kesempatan untuk melontarkan tuduhan terlebih dahulu, "Pak Polisi, wanita itu sengaja melemparkan vas ke arahku. Lihatlah! Karena dirinya, aku terluka di sekujur tubuh!"

Rambut Alice berantakan dan dia tampak acak-acakan, sementara Rachel duduk di sana terlihat aman dan sehat. Sekilas, sepertinya Alice mengatakan yang sebenarnya.

Ketika para polisi melihat ketenangan Rachel, mereka langsung mengambil kesimpulan. Seolah-olah mereka tidak perlu mendengarkan cerita dari sisinya lagi.

Melihat ekspresi wajah para polisi itu, Andy berkata, "Pak Polisi..."

"Pak Polisi," Caroline menyela perkataan Andy. Saat ini, dia sedang berpura-pura menjadi seorang wanita yang benar-benar lembut dan pemaaf yang berasal dari keluarga kaya. Dia berjalan ke arah polisi dan tersenyum pada mereka dengan rendah hati, "Sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Kedua gadis ini hanya sedang bermain-main. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk datang ke sini. Izinkan saya untuk mengkompensasi kalian karena sudah merepotkan kalian untuk datang kemari. Kalian sudah bisa kembali sekarang, saya harap kami tidak mengganggu pekerjaan kalian."

Caroline melirik Viola saat dia berbicara. Viola seketika memahami perintah yang diberikan oleh Caroline, dia segera mengeluarkan sejumlah uang dari dalam sakunya untuk diberikan pada petugas polisi.

Para polisi saling menatap satu sama lain dan berkata, "Kami tidak menerima suap. Singkirkan uang kotor itu dari wajah kami!"

Ucapan itu membuat Viola merinding ketakutan.

Caroline tersenyum dan meminta maaf, "Tentu, saya tidak bermaksud untuk menyinggung kalian. Kalian benar-benar bermaksud baik untuk datang ke sini, tetapi ini hanya pertengkaran kecil di antara kakak beradik ini. Permainan konyol ini tidak sepadan dengan waktu berharga kalian."

"Hanya pertengkaran kecil di antara kakak beradik?"

"Tidak..." Alice ingin melanjutkan tuduhannya ketika menyadari bahwa polisi lebih menyukainya daripada Rachel.

Bagaimana mungkin Caroline tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Alice? Tapi sekarang bukan waktunya! Jika insiden ini benar-benar terjadi, itu akan membuat Caroline terlihat konyol di hadapan teman-temannya.

Dia melirik Alice dari sudut matanya dan masih tersenyum, "Ya, gadis-gadis ini memang kurang pengertian."

"Jika itu masalahnya..." Polisi bisa merasakan bahwa semua kejadian ini tidaklah sesederhana itu. Namun, mereka benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa karena Caroline bersikeras bahwa gadis-gadis itu hanya bermain-main.

Bagaimanapun juga, ini adalah masalah keluarga. Mereka tidak ingin menyusahkan diri mereka sendiri karena masalah keluarga ini.

"Pak, bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan?" Rachel tiba-tiba memecah keheningan, lalu dia bangkit berdiri dan menatap mereka sambil mengulas senyum samar.

"Rachel!" Tiba-tiba Jack menimpali, "Hentikan!"

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Terlahir Kembali dan Perceraian2 Bab 2 Alice Membuatnya Kesusahan3 Bab 3 Aku Akan Menghantuimu Selamanya4 Bab 4 Kehendak dan Wasiat5 Bab 5 Kembali ke Rumah Keluarga Verdianto6 Bab 6 Melapor Polisi7 Bab 7 Menerobos Masuk Tanpa Izin8 Bab 8 Rachel Sang Pemilik Vila9 Bab 9 Diculik oleh Penyusup10 Bab 10 Berganti Pasangan Sungguh Menyenangkan11 Bab 11 Kamu akan Menyesalinya12 Bab 12 Keadilan untuk Tuan Guzman13 Bab 13 Pelaku Harus Berlutut dan Meminta Maaf14 Bab 14 Para Asisten Rumah Tangga Pergi Meninggalkan Rumah15 Bab 15 Dari Seorang Wanita Kaya Menjadi Wanita yang Memiliki Hutang16 Bab 16 Kebangkrutan Grup Verdianto17 Bab 17 Hutang 19,98 Miliar18 Bab 18 Memohon Kepada Victor19 Bab 19 Pancingan Alice20 Bab 20 Apa yang Bukan Milikmu Tidak Akan Pernah Menjadi Milikmu21 Bab 21 Melindungi Keluarga Verdianto dan Grup Verdianto22 Bab 22 Penyergapan di Tempat Parkir Bawah Tanah23 Bab 23 Kesepakatan untuk Membeli Grup Verdianto24 Bab 24 Bagaimana Aku Bisa Menikahimu Jika Aku Bukan Seorang Pelacur25 Bab 25 Kondisi Victor26 Bab 26 Manajer Proyek yang Aneh27 Bab 27 King of Hearts28 Bab 28 Sang Kaki Tangan, Quintin29 Bab 29 Aku Tidak Pernah Meragukanmu30 Bab 30 Mengapa Kamu Tidak Bisa Memercayaiku Untuk Sekali Ini Saja31 Bab 31 Anjing dan Rachel Tidak Boleh Masuk32 Bab 32 Giliranmu untuk Memenuhi Janjimu33 Bab 33 Wawancara si Pecundang dengan Grup Rayadinata34 Bab 34 Kebaikannya Terbayar, Mempermalukan Alice dengan Nilai Penuh35 Bab 35 Hanya Keberuntungan Belaka36 Bab 36 Menanggung Akibatnya37 Bab 37 Aku yang Mengambil Keputusan38 Bab 38 Ruang Arsip dan Penindasan39 Bab 39 Rasa Malu dan Kekhawatiran40 Bab 40 Abby Dipaksa Berlutut dan Meminta Maaf41 Bab 41 Mundur dan Kamu Akan Berdiri di Tepi Jurang42 Bab 42 Rachel Menyerang Balik43 Bab 43 Permintaan Maaf44 Bab 44 Rahasia Kecil Alice Terungkap45 Bab 45 Rachel, Kamu Benar-Benar Tidak Bisa Menahan Kesepian46 Bab 46 Jangan Berpura-pura Suci47 Bab 47 Apa Kamu Hamil 48 Bab 48 Rachel Sakit49 Bab 49 Kandungan Berusia Empat Minggu50 Bab 50 Sopan Santun Rachel51 Bab 51 Aku Melihatnya Hari Ini52 Bab 52 Aku Memutuskan untuk Melahirkan Bayi Ini53 Bab 53 Aku Ingin Mempertahankan Bayi Ini54 Bab 54 Ivy Dipecat55 Bab 55 Pemeriksaan Fisik Dua Bulan Sebelumnya56 Bab 56 Perjalanan dan Pesta Ulang Tahun57 Bab 57 Siapa Lagi yang Akan Menghadiri Pesta Ini 58 Bab 58 Apa Kamu Mau Aku Merayu Pria itu 59 Bab 59 Aku Mantan Istri Victor60 Bab 60 Pria yang Ingin Menjadi Pendamping Baru Rachel61 Bab 61 Berdansalah Denganku62 Bab 62 Cobalah dan Lihat Apakah Aku Berani atau Tidak63 Bab 63 Sikap Kekanak-kanakan64 Bab 64 Rencana Caroline65 Bab 65 Membela Abby66 Bab 66 Ayah Ingin Menemuiku67 Bab 67 Pedagang Manusia di Bangsal 120668 Bab 68 Arteri Femoralis69 Bab 69 Kakak Sedang Hamil70 Bab 70 Berani-Beraninya Kamu 71 Bab 71 Dia Bisa Menemani Bayinya di Neraka72 Bab 72 Terkurung di Dalam Rumah Sakit73 Bab 73 Kembali Ke Sue Garden74 Bab 74 Terima kasih, Bayi Kecil75 Bab 75 Victor Memutuskan untuk Mempertahankan Bayi Ini76 Bab 76 Kamu Tidak Boleh Pergi Jika Tidak Makan77 Bab 77 Perjanjian78 Bab 78 Menandatangani Perjanjian dengan Tiga Syarat79 Bab 79 Hanya Datang ke Sini untuk Menonton Pertunjukan80 Bab 80 Wanita Genit yang Merayu Suami Orang Lain81 Bab 81 Istri Sah Muncul82 Bab 82 Kamu Harus Berterima Kasih Padaku83 Bab 83 Reputasi Alice Hancur84 Bab 84 Dia Menyimpan Dendam85 Bab 85 Kunjungan Jack86 Bab 86 Hutang87 Bab 87 Meminta Maaf di Depan Makam88 Bab 88 Hinaan dari Para Pelayan89 Bab 89 Ibu dari Penerus Grup Rayadinata90 Bab 90 Lukas Meninggalkan Sue Garden91 Bab 91 Tertangkap Mencuri Makanan92 Bab 92 Peringatan Victor93 Bab 93 Roger telah Kembali94 Bab 94 Rahasia Clara95 Bab 95 Roger Pernah Mencintai Rachel96 Bab 96 Wanita Hamil Seharusnya Tidak Boleh Sakit97 Bab 97 Dua Bersaudara Keluarga Januar98 Bab 98 Pria Berdarah Dingin Mencari Seseorang dalam Hujan99 Bab 99 Fitnah dari Olivia100 Bab 100 Babak 100 Kasus Pencurian di Sue Garden