icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Tangan Hangat Crazy Rich

Tangan Hangat Crazy Rich

LianaAdrawi

5.0
Komentar
50.8K
Penayangan
154
Bab

Warning 21+. Bahan bacaan untuk kaum dewasa. Phanas-panas hareudang. Jika pasangan lain bahagia menyambut buah hati mereka, Rachel justru harus menyesap getir prahara karena suaminya murka. Jo tak terima Rachel hamil di tengah sulitnya kehidupan mereka. Rachel ditinggal dalam kondisi berbadan dua dan memiliki Alea yang baru berusia empat tahun. Ia berjuang dan bertahan dikerasnya kehidupan untuk malaikat-malaikat kecilnya. Hingga hadirlah Denis, atasannya yang dingin dan aneh menurut Rachel. Denis menggenggam erat tangan Rachel dengan kehangatan. Melindungi wanita rapuh itu dengan kekuasaannya. Sementara itu Jo cemburu Rachel mendapatkan pria lebih baik darinya, ia bermaksud merebut Rachel dan anak-anaknya kembali. Akankah Rachel menerima Denis menyusup ke hatinya? Atau kembali bersama Jo yang sampai detik ini masih bertindak sesuka hatinya?

Bab 1 Penuh Perjuangan

Duarrr ….

Duarrr …..

Gemuruh langit bersahutan menyambarkan kilatan. Suara mirip ledakan yang bertubi-tubi datang membuat malam dingin itu terasa kian mencekam. Di balik suasana yang kian menyeramkan ini, di waktu tengah malam, seorang ibu yang tengah mengandung akan mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan seorang bayi ke dunia. Bayi mungil yang akan jadi malaikat kecil nan menggemaskan.

Wanita yang menggunakan pakaian pasien dan kain jarik yang melilit di pinggangnya telah bermandikan peluh sekujur tubuh. Rasa yang ia alami saat ini benar-benar luar biasa. Untuk kedua kalinya, ia diberikan kesempatan sebuah titipan dari Tuhan lagi. Ini sungguh kesempatan yang luar biasa, diluar sana banyak yang kesulitan untuk memiliki anak,sedangkan dia, Tuhan begitu mudah memberikannya lagi kepercayaan.

Sembilan bulan sudah dia mengandung, selama sembilan bulan pula dia merasakan bagaimana nikmatnya segala keluhan yang dialami ibu hamil lain. Mulai dari mual muntah, susah tidur, sering kencing, mudah lapar, tidak enak berbaring dengan posisi apapun dan lain-lain.

Jika kebanyakan ibu hamil bahagia ditemani dan disayang oleh suami, tidak dengan ibu hamil yang satu ini. Dia sudah menyandang status single karena sudah bercerai, bahkan keterangan kehamilannya juga dipalsukan karena proses perceraian tidak bisa dilakukan saat pihak istri tersebut mengandung. Jalan satu-satunya saat ingin berpisah adalah dengan berkata bahwa saat ini dia tidak tengah hamil, alasan perceraian pun dibuat simple agar tak memakan waktu lama, Jika banyak laporan yang diajukan, otomatis proses perceraian yang biasanya memakan waktu tiga sampai empat bulan menjadi lebih lama.

Dalam keadaan proses melahirkan seperti ini dan juga bertaruh nyawa, dia dalam kesendirian tak ditemani siapa-siapa. Iub dan anak pertamanya menunggu di rumah. Saat ini juga hujan badai, jadi lebih baik keluarganya di rumah saja. Dia datang ke tempat praktek bidan ini tadi saat rasa mulas baru ia rasakan, hanya membawa dua tas yang satu isinya perlengkapan bayi yang satunya lagi perlengkapan miliknya..

“Aduhh …. Mules, Bu,” rintihnya sambil memeluk bola besar yang biasanya digunakan untuk senam hamil. Dari tadi sia berruku agar rasa sakitnya tertahankan. Namanya mau melahirkan, pasti ada rasa mulas yang menjalar dari depan perut hingga bagian pinggang, bedanya mulas ini lebih kuat dari mulas dismenore alias mulas di hari pertama menstruasi.

“Sabar, Bu … Sabar. Ya gini namanya lahiran. Semua sama, kan!” ujar seorang bidan yang mengusap pinggang ibu yang baru mengalami pembukaan dua ini.

Perjalanan masih panjang. Ibu hamil yang sedang dalam proses persalinan harus menunggu dulu hingga pembukaan kesepuluh, Barulah setelah mulut rahim terbuka sepuluh senti, proses persalinan pun dilakukan. Umumnya pada persalinan pertama lebih dari sepuluh jam dan persalinan kedua kurang dari sepuluh jam, anak ketiga dan keempat lebih cepat prosesnya karena sudah terbiasa.

Meski sudah pengalaman dua kali, rasanya masih sama. Sakitnya membuat ingin membanting barang dan menjambak orang. Kaki dan tangannya sampai dingin, wajahnya memerah dan penuh dengan keringat.

Duuarrr …. Suara petir kembali terdengar.

“Benar tidak ada riwayat penyakit berat dan persalinan yang lalu lancar kan, Bu?” tanya bidan itu lagi. Sang bidan khawatir jika terjadi komplikasi pada saat persalinan. Jika dalam keadaan hujan seperti ini ada kegawatdaruratan, otomatis proses merujuknya akan sulit. Perlu ke rumah bapak RT dulu untuk meminjam mobil darurat dan menempuh perjalanan setidaknya dua jam untuk sampai di rumah sakit besar.

Tak semua bidan dan pasien yang memiliki kendaraan sendiri untuk pergi ke rumah sakit saat keadaan gawat darurat. Di kampung ini, hanya mobil pak RT saja yang biasa digunakan untuk antar jemput pasien yang harus dirujuk.

“Benar, Bu. Tidak ada!” Dia menggelengkan kepalanya pelan.

Perjuangan melelahkan ini berlanjut hingga empat jam. Ibu hamil yang tak ditemani oleh keluarganya ini pun mengalami kejadian pecah ketuban. Waktu sekarang sudah dini hari dan hujan pun masih tak mau untuk berhenti. Hujan ini seakan menjadi pengiring proses kelahiran ini.

“Saya periksa dalam lagi, ya, Bu.” Bidan ini menuntun pasiennya agar kembali berbaring di bed dan dia segera mengambil sarung tangan medis. Keterampilan indra perasa pada tangan yang menentukan apakah jumlah pembukaannya benar atau tidak.

“Silahkan!” Wanita ini hanya bisa pasrah dan menyerahkan keselamatannya pada bidan yang ada di hadapannya ini. Mau bagaimanapun, dengan cara apapun, yang penting bayi lahir sehat dan selamat.

Saat rasa mulas kembali melanda, dua jari tangan bidan bersiap untuk masuk lewat celah sempit hangat penuh lendir. Bergerak memutar dan meraba bagian gerbang yang biasanya semakin tipis dan membuka.

“Tarik napasnya!” Dia memberikan aba-aba.

“Satu, dua, tiga.” Dia meraba dengan kedua tangan untuk menghitung seberapa lebar pembukaan saat ini dan ketebalan gerbangnya.

Saat dirasa benar, dia pun memberitahukannya pada pasien. “Pembukaannya sudah lengkap. Kita mulai proses persalinannya, ya!” Bidan ini segera mendekatkan alat-alatnya. Kini di sebelah kanannya sudah tersedia bak instrumen isi gunting, tali untuk mengikat tali pusat, jarum jahit, benang jahit, alat suntik dan alat klem. Di sebelah kirinya sudah ada asisten yang akan membantu karena penolong proses persalinan diharuskan dua bidan.

“Masih ingat caranya?” tanyanya karena harus mengajari lagi pasien caranya mengejan yang baik saat persalinan. Wanita yang terbaring lemas hanya menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala.

“Tarik napas dari hidung, kumpulkan energi semuanya di perut, dorong perlahan dengan energi perut setelah capek mendorong ibu keluarkan napasnya perlahan dari mulut.” Bidannya sampai mencontohkan, tak hanya dengan ucapan saja. Mereka berdua akan sama-sama mengejan.

“Yuk bisa, yuk!” ajaknya agar sang pasien melakukannya dengan baik dan benar.

“Eeeeee ….” Satu kali percobaan telah dilakukan, tapi ini energinya kurang baik, masih lemas dan tidak membuat kemajuan bayi. Maklum baru permulaan.

“Eeeeemmm ….” Percobaan kedua erangannya lebih kuat dan energi yang ditambahkan lumayan baik. Ini sebuah kemajuan yang bagus.

“Emmmhh ….” Kali ini hanya suara erangan kecil karena energinya semua terkumpul di bagian perut.

“Ayok lagi!” bimbingnya lagi agar pasien tak menyerah. Dalam proses mengejan, pasien sesekali diberikan minuman teh manis agar energinya bertambah dan tidak mengalami dehidrasi. Beruntung bidannya sabar dan telaten, jika tidak mungkin akan bosan membimbing pasien. Beruntung pasiennya juga sabar dan ikut apa kata bidan yang menolongnya.

“Yok bisa, yok!” Dia mengajak pasiennya kembali mengejan.

Sang ibu menarik napas panjang lalu mengejan. “Eeeee ….” Yang ini sudah lumayan bagus dan ada kemajuan kepala bayi.

“Emmmmhh ….” Yang ini lebih bagus lagi karena pasiennya begitu mendengarkan arahan bidan.

Sudah lima belas menit dia mengejan tapi kemajuan kepala janinnya masih kurang baik, akhirnya dilakukan lagi.

Sebelum mengejan, dia mengusap perut lebih dahulu lalu berucap, “Adek lahir, Yuk. Bunda udah pengen lihat kamu ke dunia, jangan nakal, ya!” Mungkin dengan cara ini, bayi ikut bekerja sama agar cepat keluar dari tubuhnya.

“Emmh ….” Da mengejan lagi sampai matanya memerah dan keringat pun semakin bercucuran.

“Ayok baru nongol dikit kepalanya!” Kepala bayi sudah terlihat enam senti di depan bagian inti ibunya. Bidan meminta ibu kembali mengejan agar kepala bayinya cepat keluar.

“Emmhh ….” Kepala bayi pun kini terlihat. Tangan kakak bidan di bagian atas, tangan kirinya di bagian bawah bayi. Bidan pun melakukan sangga susur hingga bagian tubuh bayi keluar semuanya. Kini bayi mungil yang kulitnya pucat bercampur lendir darah pun sudah lahir ke dunia.

“Owaaaa …. Owaaa ….” Tangisannya mengudara, beradu kencang dengan gemuruh suara hujan.

Aroma darah bercampur lendir dan amis dari ketuban pun menusuk indra penciuman meski ditutup oleh masker medis.

Duarrrr …. Suara petir kembali terdengar.

“Bayinya laki-laki, Bu!” ujar bidan ini setelah mengecek bayinya apakah bagian tubuhnya lengkap semua. Bagian tali pusat pun diklem lalu digunting.

“Owaaa …. Owaa ….” Bayi yang kini dibalut kain jarik pun ditempelkan di dada ibu untuk melakukan inisiasi menyusu dini.

Beruntung tidak ada gangguan saat proses melahirkan. Kini tinggal mengeluarkan plasenta saja. Bagian paha atas pasien disuntikkan oksitosin lalu tak lama kemudian, setelah dilakukan peregangan tali pusat, plasenta pun lahir.

“Lengkap!” ucapnya pada sang asisten.

“Tidak ada robekan!” Beruntungnya tidak ada robekan jalan lahir sehingga tak usah dilakukan penjahitan.

“Bagian tubuh bawah pasien pun dibersihkan dari sisa darah, air ketuban dan kotoran lain.

“Owaa ….” Bayi laki-laki ini matanya sedikit membuka melirik ke arah ibunya, bibirnya mengatup dan membuka saat menempel di puncak gunung bundanya.

“Anak bunda yang tampan, jadi jagoan, ya, Nak. Maaf mama hanya bisa mendidik kamu sendirian.” Dia mengecup pipi yang menyerupai bakpao. Rasanya lega sekali saat bayi sudah berhasil dilahirkan, rasa mulasnya juga berkurang. Kini perutnya hanya mengalami sedikit kontraksi guna untuk mengecilkan ukurannya.

“Owa ….” Maaf ayah kamu gak bisa nemenin kita disini, ya!” Sedih rasanya melahirkan bayi sendirian seperti ini. Di ruangan lain, ada yang mau melahirkan juga, cuma yang itu ditemani oleh suami dan mertuanya. Ada rasa iri seketika, tapi ya mau bagaimana lagi, toh takdir hidup dia seperti ini, jadi janda saat hamil dan melahirkan pun sendiri.

“Bunda janji akan bahagiain kamu, Nak!” Air mata pun menetes dan perasaannya begitu terharu biru.

Inilah awal dari kisah pilu seorang wanita yang harus menjadi ibu tunggal yang kuat. Awal dimana wanita yang rapuh dan lemah berusaha untuk kuat demi kedua anaknya. Kisah pilu dan mengharukan ini berawal dari kejadian di masa lalu. Masa dimana dia harus melewati banyak cobaan untuk sampai di titik ini.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh LianaAdrawi

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku