icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 4
Apa Sakit
Jumlah Kata:1050    |    Dirilis Pada:15/06/2022

Dalam perjalanan pulang, Rachel mampir ke warung untuk membeli seikat ayam dan cabai. Karena harga ayam negri sedang murah, Rachel membeli setengah potong ayam. Hari ini ia berencana masak sesuatu yang istimewa untuk menyenangkan hati Jo. Siapa tahu masakan spesial ini bisa meredam amarah sang suami. Masih ada sedikit beras dan minyak yang tersisa kemarin, jadi ia tidak membeli dua barang itu. Kembalian uangnya dipakai untuk membeli kentang. Setelah bumbu dan semua yang ia perlukan untuk membuat semur ayam kentang lengkap, Rachel segera membayar. Masih ada kembalian lima belas ribu setelah dia membayar, Rachel menyisihkan yang lima ribu ke dalam dompet kecil dan yang sepuluh ribu ia belikan satu sachet susu, biskuit dan jajanan untuk Alea. Semuanya habis tujuh ribu, sementara yang tiga ribu ia simpan untuk jajan anak itu sore nanti.

Melihat ibunya datang membawa makanan, Alea berteriak girang. Apalagi saat melihat ada ayam. Mulutnya yang kecil langsung berceloteh. “Nanti Alea minta ayam goyeng ya, Bunda?”

“Ayam goreng, oke deh. Alea mau berapa?” Sembari menanggapi celotehan Alea, Rachel mengeluarkan belanjaannya.

“Dua, dua. Eh jangan ayam goyeng, Bu, ayam upin ipin aja.”

“Ayam goreng atau ayam upin ipin?”

Gadis kecil itu duduk dengan kaki ditekuk, kepalanya miring ke samping, tangan kirinya ia letakkan di dagu dan berpikir keras dengan serius sambil mulutnya bergumam, “Apa yaaaa?”

Melihat gaya anaknya seperti itu, Rachel tertawa geli.

Sembilan puluh persen, Alea sangat mirip dengan Jonathan, Kulitnya terang dan matanya sipit. Hanya bentuk wajahnya yang mengikuti bentuk wajah Rachel yang mungil. Rachel berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Allea, dan meremas wajah sang putri yang menggemaskan. “Nah, Allea pikir dulu mau yang mana, kalau udah pilih kasih tahu Bunda, ya. Bunda mau angkat kasur sama jemuran dulu, oke?”

Benar saja, tidak lama setelah Rachel mengangkat jemuran, air tumpah dari langit dengan deras. Ia bersyukur kasurnya tidak basah kuyup. Sampai malam hujan belum juga berhenti dan semakin deras.

Rumah kontrakan yang hanya punya satu kamar itu sangat tenang saat ini, Alea sudah tidur dan kelihatan sangat nyenyak. Sore tadi dia melahap satu potong ayam goreng Upin Ipin atau ayam goreng tepung dan kentang goreng yang dipilih Alea setelah berpikir lama. Gawai sederhana yang bahkan tidak dilengkapi kamera milik Rachel berdering. Sebuah panggilan masuk dari ibunya.

Rachel buru-buru mengangkat, “Assalamualaikum, Bu.”

“Waalaikumussalam, Rachel. Di sana hujan kah, Nak?”

“Iya, Bu. Dari tadi sore tak hujannya nggak berhenti. Mana hujan angin, deras banget.”

“Jo sudah pulang belum?”

“Belum, Bu.”

“Telepon suruh pulang lah, hujan-hujan gini jangan diforsir, nanti suamimu sakit gimana?”

Rachel terdiam sejenak. Andai ia bisa meminta Jo pulang. Suaminya itu tak akan kembali meskipun dini hari, jika belum tutup orderan, alias belum mendapat nafkah untuk dirinya dan Alea. “Insha Allah sebentar lagi pulang, Bu.”

“Yasudah, Ibu harap kalian baik-baik saja. Semalam ibu mimpi nggak enak, takut kamu dan suamimu kenapa-kenapa.”

“Jangan dipikirin, Bu, mimpi itu cuma bunga tidur.”

Ibunya membuang napas keras. “Kamu itu dibilangi kok ngeyel. Mimpi ibu tuh selalu titis, alias menjadi kenyataan. Waktu kamu hamil Alea, sampai bikin almarhum bapakmu collaps dan meninggal dulu, Ibu udah mimpi nggak enak malemnya. Dan beneran kejadian.”

Hati Rachel seperti ditumbuk palu raksasa. Selalu terasa nyeri luar biasa setiap ingat kematian bapaknya setelah mendengar ia hamil di luar nikah sama Jo yang beda agama. “Maafin Rachel ya, Bu.”

“Yaudah, jangan diambil hati, yang penting kamu waspada, Rachel. Kalau nggak kemalangan ya kehilangan akan menimpamu dalam waktu dekat. Semoga nggak terjadi apa-apa, ya.”

“Aamiin, Bu. Rachel akan lebih hati-hati.”

“Oh iya, mana Alea?”

“Sudah tidur, Bu,” lirih Rachel sambil membenarkan selimut Alea.

“Oalah, Ibu kangen sama Alea, tiap Ibu telepon Alea pasti tidur, kalau enggak main. Makanya kamu itu beli hape yang agak bagus napa si, Chel. Biar ibu bisa video call Alea tanpa nungguin Jo pulang.”

Rachel memijit pangkal hidungnya. “Iya, nanti kalau ada rezeki Rachel beli hape lebih bagus, Bu. Sudah dulu ya, Bu. Nanti pulsa Ibu habis kalau kelamaan teleponannya.”

“Ya udah, titip salam buat Jo sama Alea, ya. Kalau ada waktu main lah ke sini. Ibu kangen bener sama Alea. Di rumah sendirian jujur saja Ibu merasa kesepian. Kenapa kalian nggak tinggal di Sukabumi sama Ibu aja sih? Ngapain kontrak di Jakarta?”

“Eung, Bu kita sambung nanti ya, Rachel mau beresin cucian dulu.” Tak bisa menjawab, Rachel memilih menghindar. Ia sebenarnya ingin tinggal dengan ibunya, tapi Jo tak mau. Apa boleh buat, ia harus ikut ke manapun suaminya pergi.

Rachel sibuk sendirian di rumah, ia merapikan piring dan baju yang belum sempat ia kerjakan sore tadi. Ia juga mengeluarkan celana pendek dan kaos oblong serta celana dalam bersih untuk dipakai suaminya nanti.

Setelah itu dia merebus air panas untuk membuat teh dan mengisi termos untuk air mandi Jonathan. Saat itu lewat jam sepuluh malam saat suara motor terdengar di depan kontrakannya. Rachel menyambar handuk dari atas rak, sebelum membuka pintu. Jonathan yang baru datang masih mengenakan jas hujan , dengan kaki lurus yang panjang, sebanding dengan selebriti tanah air. Wajahnya yang kelelahan sangat halus dengan mata gelap seperti malam. Jembatan hidungnya tinggi, bibir tipis dan membulat namun dingin seperti cuaca hujan di tengah malam.

Rachel membantunya melepas jas hujan yang basah dan sepertinya menempel jadi satu dengan tubuh pria itu, lalu memberikan handuk kering untuk mengusap wajah suaminya yang pucat kedinginan.

“Ahe!”

Jonathan meletakkan tangannya ke bibirnya dan terbatuk dua kali, sebuah suara kecil, tapi masih masuk ke dalam gendang telinga Rachel yang langsung memasang wajah khawatir.

“Kamu batuk, Yah? Dari jam berapa?”

“Nggak apa-apa palingan cuma angin, Bun.” Sahut Jonathan sembari memasukkan motornya ke dalam rumah, “Rachel, kamu ngapain di situ? Cepetan masuk, dingin di luar!”

Rachel bergegas masuk, dan mendengar Jonathan masih batuk. “Tunggu sebentar aku buatin rebusan jahe biar tenggorokanmu hangat,” katanya dengan prihatin. Berbalik dan menuju ke dapur, tapi begitu melangkah lengannya ditarik.

Tangan pria itu jauh lebih besar dari tangan Rachel. Jemari besar itu memegang tangan kecil mungil, dan kehangatan yang akrab berlalu di ujung jari mereka.

"Aku capek, Rachel." Pria itu berkata tiba-tiba. Ia menunduk untuk meletakkan dahinya di bahu Rachel. Suara Jo parau dan jauh. Namun wajah dingin akhirnya mendapat sedikit ekspresi setelah memeluk sang istri.

“Mau langsung istirahat? Aku pijitin, ya?” tangan Rachel mengusap punggung suaminya dengan gerakan naik turun, dan Jonathan tidak bereaksi. Sibuk dengan isi kepalanya sendiri.

Dengan gerakan tiba-tiba pria itu meluruskan punggungnya berkata dengan suara lesu, “Aku mandi dulu, nanti kita bicara, ya.”

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Penuh Perjuangan2 Bab 2 Aku Hamil 3 Bab 3 Kisah Cinta4 Bab 4 Apa Sakit 5 Bab 5 Menyembunyikan Kenyataan6 Bab 6 Mual Muntah7 Bab 7 Butuh Ketabahan Hati8 Bab 8 Ada Kesempatan dan Ada Kesempitan9 Bab 9 Merindukan Kebiasaan Masa Lalu10 Bab 10 Tidak Menerima Anak Kedua11 Bab 11 Pilih yang Mana12 Bab 12 Teganya Dia13 Bab 13 Awal Penyesalan14 Bab 14 Menolak Pergi15 Bab 15 Hampir Kehilangan16 Bab 16 Keputusan Yang Salah17 Bab 17 Keyakinan Berubah18 Bab 18 Perpisahan19 Bab 19 Hampir Kehilangan20 Bab 20 Penderitaan Seorang Ibu21 Bab 21 Go Home22 Bab 22 Mediasi dan Keputusan23 Bab 23 Si Penolong24 Bab 24 Sampai Jumpa, Lea!25 Bab 25 Pengacara26 Bab 26 New Home27 Bab 27 New Life28 Bab 28 Denis Family29 Bab 29 Ide Gila30 Bab 30 Dinner Mate31 Bab 31 Tidak Sengaja Bertemu32 Bab 32 Carai Itu Apa 33 Bab 33 Rahasia yang Terungkap34 Bab 34 Kekalahan Pertama35 Bab 35 Penghinaan36 Bab 36 Serangann Balasan37 Bab 37 Pasrah Pada Kuasanya38 Bab 38 Makan Malam39 Bab 39 Luapan Emosi40 Bab 40 Mengapa Semua Orang Jahat 41 Bab 41 Diusir42 Bab 42 Tidak Punya Hati43 Bab 43 Selalu Disalahkan44 Bab 44 Mulai Hidup Yang Baru45 Bab 45 Sebuah Perjalanan46 Bab 46 Mulut Pedas Tetangga47 Bab 47 Kembali Bertemu48 Bab 48 Akankah Jadi Awal Kebahagiaan49 Bab 49 Menetapkan Hati50 Bab 50 Mengidam51 Bab 51 Ikatan Batin52 Bab 52 His Palsu53 Bab 53 Cemburu54 Bab 54 Pendarahan55 Bab 55 Mencari Bantuan56 Bab 56 Keadaan Genting57 Bab 57 Pilihan yang Sulit58 Bab 58 Kehidupan Baru59 Bab 59 Si Tampan Bayiku60 Bab 60 Mimpi Buruk61 Bab 61 Bertemu Kembali62 Bab 62 Mantan Pria Yang Pernah Kucinta63 Bab 63 Dia Telah Mati64 Bab 64 Peluang Rachel65 Bab 65 Penyelamatan66 Bab 66 Dimana Bayiku67 Bab 67 Tanda Terima Kasih68 Bab 68 Winner and Loser69 Bab 69 Rumah Masa Depan70 Bab 70 Awal Kehancuran Jon71 Bab 71 Kejutan Sederhana72 Bab 72 Ungkapan Cinta73 Bab 73 Kejutan Demi Kejutan74 Bab 74 Papa Denis75 Bab 75 Lampu Hijau!76 Bab 76 Kabar Buruk77 Bab 77 Hukuman Untuk Jon78 Bab 78 Kebahagiaan Untuk Rachel79 Bab 79 Bayi Besar80 Bab 80 Siapa Denis 81 Bab 81 Peringatan Untuk Nathalia82 Bab 82 Pembalasan Dari Rachel83 Bab 83 Melegakan Hati!84 Bab 84 Ciuman Panas di Dalam Mobil85 Bab 85 Restu Nenek!86 Bab 86 Hanya Prank!87 Bab 87 Kang Gombal88 Bab 88 Keperdulian Terhadap Arka89 Bab 89 Ini Anak Denis!90 Bab 90 Perjuangan Denis91 Bab 91 Karma Untuk Orang Jahat92 Bab 92 Pasangan Baru93 Bab 93 Karma Keluarga Jon94 Bab 94 Selalu Menyalahkan Rachel95 Bab 95 Untuk Rachel96 Bab 96 Jadi Insecure97 Bab 97 Jadi ratu98 Bab 98 Diratukan Pria Yang Tepat99 Bab 99 Dimabuk Asmara100 Bab 100 Lupa Waktu