back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati

Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati

Heir

5.0
Ulasan
9.8M
Penayangan
1151
Bab

“Usir wanita ini keluar!” "Lempar wanita ini ke laut!” Saat dia tidak mengetahui identitas Dewi Nayaka yang sebenarnya, Kusuma Hadi mengabaikan wanita tersebut. Sekretaris Kusuma mengingatkan“Tuan Hadi, wanita itu adalah istri Anda,". Mendengar hal itu, Kusuma memberinya tatapan dingin dan mengeluh, “Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?” Sejak saat itu, Kusuma sangat memanjakannya. Semua orang tidak menyangka bahwa mereka akan bercerai.

Bab 1
Perjanjian Perceraian

"Panji, ini perjanjian perceraiannya. Aku sudah menandatanganinya. Tolong bantu aku untuk memberikan ini pada Kusuma."

Bukan hal yang mudah bagi Dewi Nayaka untuk mengumpulkan keberaniannya dan menyerahkan perjanjian perceraian yang telah dia tandatangani kepada Panji, pelayan dari keluarga Hadi.

Panji nampak terkejut saat mendengar kata-kata "perjanjian perceraian". Pikiran pertama yang terlintas di benaknya adalah Dewi ingin bercerai untuk mendapatkan harta milik Kusuma Hadi.

Tetapi ketika dia mengecek dan membaca dokumen yang diserahkan padanya itu, dia melihat bahwa Dewi ingin menyerahkan segalanya, termasuk bagiannya atas kepemilikan properti bersama.

Panji menghela napas berat. "Dewi, kenapa kamu bertingkah konyol seperti ini? Kenapa kamu ingin menceraikan Tuan Hadi dan bahkan memilih untuk menyerahkan kepemilikan propertimu?"

Dewi sekarang hanyalah seorang mahasiswa biasa, dan dia tidak memiliki orang tua. Tidak bijaksana baginya untuk meminta bercerai sekarang, apalagi menyerahkan harta miliknya yang bernilai cukup tinggi.

Karena malu, Dewi membuang muka dan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Aku sudah menikahi Kusuma selama tiga tahun, tetapi pernikahan kami hanya ada di atas kertas. Aku tidak ingin membuang waktuku untuknya lagi," alih-alih menyembunyikannya dari Panji, dia memilih untuk mengakui apa alasan dirinya untuk membuat keputusan seperti ini.

Dia memiliki kehidupannya sendiri. Dia tidak ingin pernikahan yang hanya tertulis di atas kertas ini merenggut masa mudanya.

Di matanya, Kusuma hanyalah orang asing yang belum pernah dia temui secara langsung, jadi dia tidak akan mengalami kerugian apapun jika membiarkannya pergi. Selain itu, pernikahan ini adalah suatu hal yang diatur oleh mendiang orang tuanya. Dia sama sekali tidak punya perasaan untuk tetap mempertahankan pernikahan ini.

"Aku mengerti. Tampaknya keputusanmu sudah bulat. Hari ini... Tidak. Aku akan memberikan surat perceraian ini pada Tuan Hadi besok."

Dewi akhirnya bisa menghela napas lega. "Terima kasih, Panji," ucapnya dengan senyum manis di wajahnya.

Panji berdiri untuk pergi dari sana. Tetapi sebelum dia mengambil langkah, dia menoleh ke Dewi dan berkata, "Dewi, Tuan Hadi adalah seorang pria yang baik. Menurutku, kalian berdua adalah pasangan yang sangat cocok. Aku harap kamu akan berpikir dua kali."

'Pasangan yang sangat cocok?' Dewi mengulangi perkataan Panji di dalam pikirannya. Tapi dalam tiga tahun terakhir, dia bahkan belum pernah melihat suaminya. Bahkan jika mereka adalah pasangan yang sangat cocok, lalu memangnya kenapa?

Sebuah senyum pahit terbentuk di bibirnya. Dewi menarik napas dalam-dalam dan dengan tegas menjawab, "Panji, keputusanku sudah bulat."

Keesokan harinya di waktu sore, Panji masih belum menerima panggilan telepon dari Dewi. Dia mengharapkan Dewi untuk menyesali keputusannya yang terlalu terburu-buru untuk bercerai atau setidaknya menambahkan beberapa persyaratan untuk melakukan perceraian pada perjanjian cerai-nya. Namun, telepon yang dinantikan oleh Panji itu tidak datang juga.

Menyerah, Panji mengeluarkan ponselnya dan memanggil sebuah nomor. Begitu dia terhubung dengan Kusuma, dia berkata, "Tuan Hadi, ada dokumen yang perlu tanda tangan Anda."

"Dokumen apa itu?" Kusuma bertanya dengan nada cuek.

Panji merasa ragu-ragu sejenak sebelum menjawab, "Ini... adalah perjanjian perceraian."

Kusuma, yang sedang sibuk mengurus beberapa dokumen di kantornya, membeku.

Baru pada saat itulah dia ingat bahwa dia punya seorang istri.

Karena Panji tidak menerima tanggapan dari ujung telepon yang lain, dia menyarankan, "Tuan Hadi, mengapa Anda tidak berbicara dengan Nyonya Hadi terlebih dahulu tentang ini?"

"Berapa banyak uang yang dia inginkan?" Kusuma bertanya dengan dingin.

"Dia tidak meminta uang. Dia bahkan ingin menyerahkan kepemilikannya atas properti Anda."

"Dia ingin menyerahkan semuanya?"

"Benar. Tapi Tuan Hadi, saya ingin mengingatkan pada Anda bahwa ay

ah Anda tidak dalam keadaan yang sehat sekarang. Jika beliau tahu tentang ini, saya merasa cemas beliau akan kehilangan kesabarannya lagi. Apalagi jika ada berita yang menyebar mengenai Anda telah dicampakkan oleh istri Anda, saya khawatir itu akan meninggalkan dampak buruk bagi Anda dan juga pada perusahaan," pungkas Panji dengan tenang.

"Baiklah. Letakkan perjanjian itu di kantorku. Dua hari lagi, aku akan kembali ke Kota Yoya."

"Baik, Tuan Hadi." Panji tidak berani mengatakan apa-apa lagi.

Lagi pula, begitu Kusuma mengambil keputusan, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.

Di Bar Malam Biru di Kota Yoya.

Saat malam tiba, semakin banyak anak muda yang berjalan memasuki bar itu.

Biasanya Dewi memilih untuk mengenakan pakaian kasual. Tetapi karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, dia memutuskan untuk mengenakan gaun merah muda yang dihiasi dengan renda. Merupakan sesuatu hal yang tidak biasa baginya untuk berpakaian feminin layaknya seorang gadis. Beberapa teman sekelasnya mengeluarkan ponsel mereka masing-masing dan berfoto dengannya.

Saat mereka menikmati pesta, entah dari mana datang seorang pria bertubuh gemuk yang mabuk dan melingkarkan lengannya di pinggang Dewi.

"Hei, gadis cantik. Ayo kita berdua berfoto juga."

Saat pria itu mulai melakukan pelecehan seksual padanya, Dewi menampar wajahnya dengan sekuat tenaga.

Pria mabuk itu dalam sejekap langsung tersadar. Dia menggertakkan gigi karena marah dan berjalan mendekat, berniat memberikan pelajaran pada Dewi.

Untungnya, teman-teman sekelasnya langsung berdiri di depannya untuk melindungi Dewi dari pria itu.

Dewi adalah seorang gadis yang sangat cantik. Ini bukan pertama kalinya dia mengalami pelecehan dari pria menjijikkan seperti ini.

Salah satu teman sekelas Dewi memandang pria yang mabuk itu dari atas ke bawah dan berkomentar dengan penuh rasa jijik, "Bisakah kamu bersikap baik? Sungguh sangat memalukan melihat seorang lelaki tua sepertimu mengganggu seorang gadis muda."

"Lain kali, lihat bagaimana penampilan dirimu sendiri di cermin sebelum pergi meninggalkan rumah. Bagaimana bisa kamu memiliki keberanian untuk mengajak berfoto seorang gadis yang begitu cantik? Dasar orang gila," ejek yang lain.

Pria itu semakin marah karena sekelompok anak muda menghina penampilannya. Dengan marah, dia meletakkan minumannya dan berteriak, "Beraninya kamu?! Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!"

Begitu pria mabuk itu mengucapkan kata-kata tersebut, dia melambaikan tangannya. Beberapa saat kemudian, sekelompok preman mengepung Dewi dan teman-teman sekelasnya.

Orang-orang yang menghadiri acara ulang tahun Dewi adalah mahasiswa. Mereka takut akan membuat masalah untuk diri mereka sendiri, jadi mereka tidak berani melakukan keributan di luar kampus.

Sementara itu, mata Dewi melebar ngeri saat menyadari bahwa mereka kalah jumlah dengan para preman itu. Jadi, tanpa ragu-ragu, dia berteriak pada teman-temannya, "Lari!"

Teman-teman sekelasnya juga sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk berusaha menjadi seorang pahlawan. Tanpa membuang waktu, mereka mengambil tas mereka dan berlari pergi dari tempat itu.

Para preman tentu saja tidak tinggal diam, mereka berusaha mengejar teman-teman Dewi yang berlari ke segala arah.

Sayangnya untuk Dewi, dia tidak bisa berlari kencang karena dia mengenakan gaun dan sepatu hak tinggi. Bahkan sebelum dia bisa mencapai pintu keluar, dirinya terpisah dari teman-temannya.

Karena itu, dia melepas sepatu yang dia kenakan dan berlari dengan kaki telanjang.

Ketika dia berbelok di sebuah tikungan, matanya tiba-tiba melihat sosok yang akrab.

Sementara itu, para preman yang mengejarnya bergerak semakin dekat. Dewi, yang sedikit mabuk, tidak punya waktu untuk memikirkan rencana, jadi dia hanya melemparkan dirinya ke dalam pelukan pria itu dan memeluknya dengan penuh rasa putus asa. "Sayang!" dia mengucapkan kata itu dengan suara paling centil yang bisa dia kerahkan.

Unduh Buku