icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 9
Cahaya yang Berkilauan dalam Kegelapan
Jumlah Kata:1305    |    Dirilis Pada:01/06/2022

Terkejut mendengar itu, Putri Hua Jing dengan cepat melompat berdiri dan memperbaiki gaunnya. Meskipun kesakitan, dia memaksakan dirinya untuk membungkuk ke arah sosok yang mengenakan jubah kuning di pintu. "Ayah," sapanya dengan suara datar.

Kaisar Ning melangkah menuju ke kursi dan duduk. Matanya melirik kepada tiga wanita yang ada di dalam aula. Setelah waktu yang lama, dia berkata, "Permaisuri, aku merasa sangat kecewa. Kamu baru-baru ini telah melaporkan kepadaku tentang kelainan Yun Shang dan menyimpulkan bahwa dia mungkin dirasuki oleh roh jahat. Jadi kamu memintaku untuk mengirim biksu Tao untuk melakukan pengusiran roh jahat. Meskipun aku tidak percaya pada hantu atau roh jahat, demi kebaikan Yun Shang aku tetap menuruti permintaanmu. Aku tidak pernah membayangkan kamu akan membiarkan seseorang masuk ke istana tanpa setidaknya melakukan pemeriksaan dengan saksama terhadap identitasnya. Kamu adalah Permaisuri Yuan Zhen dari Ning, wanita yang telah aku ambil sebagai istriku. Namun, kamu bahkan tidak dapat menangani masalah sekecil ini dengan benar. Bagaimana aku bisa memercayaimu untuk tetap memegang kendali atas istanaku lebih lama lagi?"

Mendengar ketidaksenangan sang kaisar, Permaisuri Yuan Zhen merasakan hawa dingin merayapi tulang punggungnya. Dia berlutut di depannya dan meletakkan dahinya hingga menempel di tanah. "Aku sungguh sangat menyesal, Yang Mulia, ini semua salahku."

Tiba-tiba, permaisuri mendengar suara Yun Shang datang dari belakang tubuhnya. Nada suara gadis kecil itu lembut dan penuh perhatian, "Ayah, tolong jangan salahkan Ibu. Beliau melakukan segalanya untuk kebaikanku. Biksu yang datang kemari itu sepertinya adalah orang jahat. Dia sudah menipu Ibu. Kakak bahkan juga terluka! Kita tidak bisa membiarkan biksu itu lolos begitu saja!"

Kaisar Ning tidak menjadi santai barang sedikit pun. "Seorang pelayan memberitahuku bahwa biksu itu bahkan menodongkan pedangnya pada Yun Shang. Bagaimana jika pria itu menyakitinya hari ini? Bagaimana jika dia kemudian mencoba membunuhku? Bagaimana kamu bisa bertanggung jawab untuk ini, Permaisuri?"

Permaisuri bersujud lagi kepada kaisar, "Yang Mulia, ini semua salahku. Aku seharusnya tidak begitu lalai. Aku akan segera melakukan penyelidikan atas apa yang terjadi."

Kaisar Ning menatapnya dengan tatapan cuek, "Tidak perlu. Kejahatan biksu itu jelas. Dia sudah selesai ditangani. Adapun kejadian memalukan yang terjadi di halaman sebelumnya, aku sudah memerintahkan pada Selir Shu untuk menyelidiki masalahnya. Kamu tidak diperbolehkan untuk ikut campur lebih lanjut dalam masalah ini. Upacara Pendewasaan Hua Jing akan dilaksanakan dalam beberapa hari lagi. Kamu harus menyibukkan diri dengan persiapan yang diperlukan. Aku sarankan padamu untuk berhati-hati, agar tidak membuat kesalahan lagi. Selir Shu akan membantumu dalam mempersiapkan acara tersebut."

Mendengar pernyataan kaisar, permaisuri merasa amarah memuncak di dalam dirinya, tetapi dia tidak berani berbicara melawan sang kaisar. Dia menyentuhkan kepalanya ke lantai lagi dan menjawab kaisar, "Baik, Yang Mulia."

Kaisar Ning mengangguk, berdiri dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Permaisuri Yuan Zhen yang masih bersujud di lantai. Setelah beberapa saat, saat dia berdiri, permaisuri memperhatikan kehadiran Yun Shang di sudut ruangan. Sambil mengerutkan kening dan gemetar karena marah, dia menunjuk gadis itu dan berkata, "Aku tidak percaya kamu bisa bertindak selicik ini pada usiamu sekarang. Beraninya kamu mengadu kepada Kaisar? Apakah ini yang aku dapatkan darimu setelah memperlakukanmu dengan sangat baik seperti putri kandungku sendiri sendiri selama bertahun-tahun?"

Yun Shang hampir memutar matanya ke atas mendengar pertanyaan itu. 'Memperlakukanku dengan sangat baik?' Dia menahan diri untuk tidak gegabah mengungkapkan isi hatinya, ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan sandiwara sang permaisuri. Sambil memikirkan ini, dia menatap permaisuri, matanya berlinang air mata. "Apa yang Ibu bicarakan, Bu? Aku tidak bisa mengerti sepatah kata pun? Aku tidak bermaksud mengatakan apa pun kepada Ayah. Aku tidak tahu siapa yang memberitahunya tentang apa yang terjadi. Aku sedang tidur siang di Aula Qingxin ketika Ayah dan Selir Shu masuk ke kediamanku. Selir Shu pertama-tama memelukku untuk menenangkanku. Dia bilang pasti aku merasa ketakutan setengah mati. Dia mengutuk biksu jahat itu dan berkata dia tahu bahwa biksu itu palsu. Dia pikir biksu itu bersikap terlalu berani dan sembrono. Setelah itu, Ayah bertanya bagaimana keadaanku sekarang. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku khawatir tentang Kakak Hua Jing, karena dia digigit anjing. Ayah kemudian langsung datang ke sini. Aku pikir beliau datang kemari untuk menenangkan Ibu dan Kakak, jadi aku datang juga untuk berkunjung.

"Selir Shu," mata permaisuri berkobar dengan amarah, "Beraninya dia melakukan itu padaku? Tidakkah cukup baginya untuk menjadi selir secara terbuka bagi Kaisar? Atau apakah dia sekarang berniat untuk menggantikanku sepenuhnya?"

Yun Shang merasakan dorongan untuk tersenyum lagi mendengar semua itu. Tidak ada tangan yang bersih di Istana Belakang kaisar. Dia tidak lupa kapan, dalam kehidupan terakhirnya, Selir Shu juga telah memanfaatkan dirinya untuk melawan Permaisuri Yuan Zhen. Sekarang, Yun Shang yang akan menambahkan bahan bakar ke api di sekitar istana untuk membuat semuanya kacau balau! Dia akan mengambil momen ini untuk bisa selangkah lebih maju melawan musuh-musuhnya.

Yun Shang mengeluarkan sebuah botol giok putih kecil dari lengan bajunya dan mulai menyerahkannya kepada Hua Jing. "Aku ingin memberikan ini padamu, Kakak. Ini adalah obat yang dibuat oleh tabib kekaisaran sendiri. Aku pernah menggunakannya sebelumnya dan itu bekerja dengan baik. Bahkan tidak ada bekas luka tersisa lagi sekarang."

"Siapa yang butuh perhatianmu yang palsu itu!" Putri Hua Jing berteriak nyaring saat menampar botol dari tangan Yun Shang. Saat tamparan itu mendarat, Yun Shang kehilangan pegangannya pada botol kaca, yang langsung pecah berkeping-keping di lantai.

Dengan cepat Yun Shang berjongkok dan mulai mengambil pecahan kaca dengan jarinya. "Kakak, lukamu pasti terasa sangat menyakitkan. Rasa sakit dari lukaku juga menyiksaku dan membuatku dalam suasana hati yang buruk. Tapi lukamu itu akan baik-baik saja, aku janji. Ibu pasti akan mencarikan tabib terbaik di kekaisaran untuk mengobatimu. Kakak pasti akan segera sembuh dalam beberapa hari."

"Hua Jing, segeralah minta maaf pada adikmu. Dia hanya sedang berusaha membantu. Dan Yun Shang, berhati-hatilah. Pecahan botolnya tajam dan bisa menembus kulitmu seolah-olah itu adalah kertas. Aku akan menyuruh pelayanku untuk membersihkannya. Aku sangat lelah sekarang dan perlu istirahat. Kembalilah ke aula Qingxin dan beristirahatlah juga. Kamu pasti kelelahan setelah peristiwa di halaman tadi." Permaisuri menatap dengan jijik pada Yun Shang, yang kini masih berjongkok di tanah. Namun, suaranya ditutupi dengan nada penuh kasih dan keibuan, sungguh berbeda dengan tatapan matanya.

Yun Shang bangkit dan membungkuk opan ke arah permaisuri. "Beristirahatlah dengan baik, Bu." Dia keluar dari ruangan dengan perlahan dan segera meninggalkan Istana Qiwu.

Setelah pintu di belakang Yun Shang tertutup, Hua Jing berjalan dengan hati-hati ke arah permaisuri dan memegang tangannya. "Bu, sudah jelas dia yang berada di balik ini. Kenapa Ibu malah memihaknya?"

Permaisuri Yuan Zhen duduk di kursinya dan mengerutkan kening, ada jejak lelah di wajahnya. "Tidak, pelakunya bukan Yun Shang. Selama bertahun-tahun dia adalah anak yang pemarah dan tidak bijaksana. Dia tidak mampu merencanakan dan melakukan sesuatu yang begitu rumit. Bahkan jika dia punya andil dalam kejadian tadi, dia mungkin dimanfaatkan oleh orang lain. Aku pikir aku sudah bersikap terlalu baik dan murah hati kepada para selir kaisar akhir-akhir ini. Tapi justru merekalah yang sudah salah paham. Aku tidak akan menjadi sasaran empuk. Aku akan memberi pelajaran pada Selir Shu di lain waktu. Para wanita Istana Belakang Yang Mulia akan sekali lagi tahu siapa yang memiliki kekuatan di tempat ini."

"Ibu, bagaimana Ibu bisa begitu yakin pelakunya adalah Selir Shu? Bagaimana dia bisa tahu apa yang kita rencanakan? Selain itu, Yun Shang adalah satu-satunya orang yang tidak terluka akibat binatang-binatang buas hari ini. Bagaimana kita menjelaskan soal yang satu itu?" Tampaknya Hua Jing masih memiliki keraguan.

Tapi permaisuri sepertinya tidak mendengarkan ucapan putrinya. Dia sibuk bergumam pada dirinya sendiri. "Bahkan jika Yang Mulia melarangku untuk melakukan penyelidikan, aku tetap akan menemukan cara untuk mencari tahu siapa di balik ini. Dan ketika aku mengetahuinya, aku bersumpah aku tidak akan menunjukkan belas kasihan."

Permaisuri berdiri dan memanggil salah seorang pelayannya, "Xiu Xin, Xiu Xin!"

Pelayan dengan jabatan tertinggi itu bergegas masuk dan membungkuk sedikit kepada majikannya, dengan semangat menunggu perintahnya.

"Aku ingin kamu diam-diam membawa semua pelayan yang ada di Aula Qingxin ke hadapanku. Aku akan menggali mereka semua dan mencari tahu semua kebenaran dalam kejadian ini!"

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Terlahir Kembali3 Bab 3 Sendirian di Malam yang Dingin4 Bab 4 Api yang Menyala dan Terbangun dari Mimpi5 Bab 5 Dini Hari6 Bab 6 Sebuah Mimpi yang Menghantui7 Bab 7 Masalah Datang8 Bab 8 Hanya Memperlihatkan Sedikit Senyum9 Bab 9 Cahaya yang Berkilauan dalam Kegelapan10 Bab 10 Kehati-hatian11 Bab 11 Awal dari Rencana12 Bab 12 Keributan13 Bab 13 Saling Bersinggungan14 Bab 14 Tindakan Berbeda untuk Situasi Berbeda15 Bab 15 Upacara Pendewasaan dan Sebuah Hadiah16 Bab 16 Menjadi Populer17 Bab 17 Sakit yang Datang Secara Mendadak18 Bab 18 Rencana Selir Jin19 Bab 19 Kunjungan Master Wu Na20 Bab 20 Hal yang Baik21 Bab 21 Reuni Keluarga22 Bab 22 Tumbuh Dewasa23 Bab 23 Kembali Lagi ke Istana24 Bab 24 Gosip25 Bab 25 Kucing yang Keracunan26 Bab 26 Niat Buruk27 Bab 27 Pertarungan Antara Dua Harimau28 Bab 28 Jepit Rambut Feniks29 Bab 29 Ajakan dari Sang Kakak30 Bab 30 Rencana31 Bab 31 Pesta Perayaan Kemenangan32 Bab 32 Sebuah Insiden Lain33 Bab 33 Sulaman34 Bab 34 Upacara Pendewasaan (Bagian Satu)35 Bab 35 Upacara Pendewasaan (Bagian Dua)36 Bab 36 Pangeran Jing37 Bab 37 Sakit38 Bab 38 Orang di Balik Selir Shu39 Bab 39 Tabib yang Direkomendasikan oleh Pangeran Jing40 Bab 40 Aliansi41 Bab 41 Qin Meng yang Tergesa-gesa42 Bab 42 Menjatuhkan Hukuman pada Qin Meng43 Bab 43 Rencana Licik Permaisuri44 Bab 44 Hilangnya Lin45 Bab 45 Sang Pelayan, Qian Yin46 Bab 46 Langkah Pertama47 Bab 47 Qin Meng Mencari Bantuan48 Bab 48 Hamil 49 Bab 49 Rayuan50 Bab 50 Perzinahan yang Terungkap51 Bab 51 Qin Meng Menerima Gelar Kehormatan52 Bab 52 Putri Hua Jing Kembali ke Istana53 Bab 53 Selir Jin Hamil54 Bab 54 Biarkan Permaisuri untuk Merawat Selir Jin55 Bab 55 Yun Shang Menghilang56 Bab 56 Kegagalan Rencana Hua Jing57 Bab 57 Nyonya Zhao58 Bab 58 Kekhawatiran Hua Jing59 Bab 59 Hadiah dari Yun Shang60 Bab 60 Memberikan Hadiah di Ruang Doa Buddhis61 Bab 61 Permintaan Hua Jing62 Bab 62 Ramalan Takdir untuk Nyonya Zhao63 Bab 63 Seorang Gadis Bernama Qian Shui64 Bab 64 Sebuah Pembunuhan65 Bab 65 Interogasi66 Bab 66 Rahasia yang Tidak Sengaja Didengar Wang Jinhuan67 Bab 67 Penyelidikan Hua Jing68 Bab 68 Pernikahan yang Diatur oleh Kaisar Ning69 Bab 69 Perjamuan Hua Jing70 Bab 70 Jatuh dalam Perangkap71 Bab 71 Serangan Balik72 Bab 72 Permaisuri Hamil73 Bab 73 Sebelum Badai Dimulai74 Bab 74 Mencari Kebenaran75 Bab 75 Kunjungan Selir Jin76 Bab 76 Peringatan Dari Selir Ming77 Bab 77 Pesta di Istana Jinxiu78 Bab 78 Pertunjukan Menarik79 Bab 79 Rahasia Sang Permaisuri80 Bab 80 Pelajaran untuk Selir Shu81 Bab 81 Kekacauan di Upacara Pengorbanan82 Bab 82 Menyelesaikan Kekacauan83 Bab 83 Datang ke Area Perbatasan84 Bab 84 Berkonspirasi dengan Iblis85 Bab 85 Surat Rahasia dari Pangeran Qingsu86 Bab 86 Kemunculan Hua Jing yang Tiba-Tiba87 Bab 87 Kebakaran di Perkemahan88 Bab 88 Cinta Tak Terduga89 Bab 89 Rencana Penanggulangan90 Bab 90 Rencana Penempatan Tentara Ning yang Dicuri91 Bab 91 Debu Menetap92 Bab 92 Selir Fu93 Bab 93 Kucing yang Aneh94 Bab 94 Membiarkannya Begitu Saja95 Bab 95 Mimpi Buruk96 Bab 96 Beragam Versi Kebenaran97 Bab 97 Kunjungan Pangeran Jing98 Bab 98 Pernikahan yang Dikabulkan pada Malam Tahun Baru Imlek99 Bab 99 Fitnah100 Bab 100 Perpecahan