icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 2
Terlahir Kembali
Jumlah Kata:1428    |    Dirilis Pada:01/06/2022

Dua sosok sedang berjalan di taman Istana Kerajaan Ning di bawah terik sinar matahari pagi. Itu adalah salah satu hari terpanas di musim panas saat itu. Mereka berhenti di bawah sebuah atap untuk beristirahat.

Sang pelayan dalam gaun hitam sederhana mengerutkan kening dengan khawatir dan berkata, "Apa yang terjadi pada sang Putri? Dia sepertinya telah kehilangan jiwanya sejak dia bangun. Dia jarang berbicara dan selalu duduk di depan cermin dalam keadaan linglung. Hampir setiap malam dia mengalami mimpi buruk. Apa dia masih merasa takut setelah kecelakaannya?"

Sang kasim melihat sekeliling dengan hati-hati dan mencondongkan tubuh ke depan untuk berbisik di telinga sang pelayan, "Lian Xin, menurutku Putri telah terkena sihir. Aku pernah melihat sesuatu seperti ini sebelum aku datang ke Istana Kekaisaran. Itu terjadi pada anak saudara perempuanku. Dia tenggelam di sungai. Setelah mereka menyelamatkannya, dia mulai bertingkah aneh. Mereka mengundang seorang biksu untuk datang. Dia mengatakan sesuatu yang buruk mengikuti keponakanku. Jadi biksu melakukan pengusiran roh jahat. Keponakanku segera pulih setelah itu. Bagaimana menurutmu jika kita mengundang seorang biksu?"

Lian Xin mengerutkan kening, "Benarkah? Permaisuri mengaku bersalah dan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada sang Putri. Dia meminta Yang Mulia untuk menghukumnya dan dia telah dikurung di Istana Qifeng selama tiga hari penuh. Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka akan sangat penting untuk melakukan pengusiran roh jahat. Mari kita melapor kepada Permaisuri dan meminta izin."

Sang kasim pun menggumamkan persetujuannya. Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Permaisuri telah merawat sang Putri dengan sangat baik. Meskipun Permaisuri bukanlah ibu kandung sang Putri, tapi dia sangat baik hati. Sang Putri bertingkah nakal dan akhirnya membuat dirinya terluka. Tapi malah Permaisuri yang mengaku bersalah. Permaisuri benar-benar wanita yang berhati baik."

Sang kasim dan Lian Xin masih mendiskusikan peristiwa ini saat mereka merasa ada seseorang yang mendekat. Mereka berbalik dan melihat seorang gadis kecil berbaju merah muda, berjalan di taman tanpa alas kaki.

Putri Yun Shang.

Sang kasim bergegas menyapa gadis kecil itu, "Putri."

Yun Shang hanya mengangguk dan memandang sekilas pada sang kasim di halaman dengan santai. Kemudian dia berbalik dan kembali masuk ke istana. Dia telah mendengar setiap kata yang diucapkan oleh kedua orang itu. 'Baik hati?' Bibir Yun Shang pun menyeringai. Senyumnya yang muram tidak cocok dengan wajahnya yang cantik dan polos.

Yun Shang duduk di depan cermin lagi. Dia menatap pantulan bayangannya. Wajah halus seorang gadis muda berusia sekitar delapan atau sembilan tahun balas menatapnya.

Yun Shang mengangkat tangannya dan dengan lembut menyentuh pipi kanannya. Dia teringat luka dalam yang disebabkan oleh kakak kesayangannya, Putri Hua Jing. Dia adalah putri kandung sang permaisuri, yang dikenal karena kecantikan dan bakatnya.

Hua Jing telah menikah dengan seorang jenderal. Sayangnya, pria itu tewas dalam perang. Karena kasihan pada kakaknya, Yun Shang membawa Hua Jing ke rumahnya untuk menemaninya. Yun Shang tidak pernah menyangka bahwa Hua Jing akan berselingkuh dengan suaminya. Dia mengingat bagaimana kakaknya dan suaminya yang tercinta mengikat dirinya ke kursi dan memaksanya untuk menyaksikan mereka bercinta.

Dan suaminya, pria yang dicintai dan dipercaya Yun Shang sepanjang hidupnya, telah melemparkan bayi mereka ke luar jendela di hadapannya.

Bayi kecil yang malang. Satu-satunya anak kesayangannya... Memikirkan bayinya yang masih polos dan tidak berdosa, Yun Shang merasa hatinya hancur.

Terlepas dari bagaimana kakaknya dan suaminya yang memperlakukan dirinya dengan kejam dan tidak adil, hal yang paling menyakitkan adalah menerima kenyataan bahwa sang permaisuri, wanita yang selalu dihormati dan dianggap Yun Shang sebagai ibunya sendiri, juga telah menipu dirinya dengan memberikannya minuman anggur yang beracun.

Yun Shang memejamkan matanya saat kenangan yang menyakitkan itu membanjiri pikirannya dan mencoba menenangkan diri. Dia tahu bahwa dia harus menyembunyikan semua emosinya.

Tidak peduli seberapa keras dia mencoba, dia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana dia bersumpah untuk membalas dendam saat kehidupan meninggalkan tubuhnya di malam yang dingin dan berhujan itu. Diracuni oleh ibunya, disakiti oleh kakaknya, dikhianati oleh suami dan pelayannya. Itu semua sangat menyakitkan bagi Yun Shang. Tetapi, dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan terlahir kembali sebagai dirinya yang masih berusia muda untuk membalas dendam. Segalanya terasa begitu tidak nyata hingga dia mengira bahwa itu adalah mimpi. Sejak dia membuka matanya, dia tidak melakukan apa-apa selain menunggu kematian untuk membangunkannya dari mimpi ini. Tetapi, seiring berjalannya waktu, Yun Shang pun menyadari bahwa semua yang dia alami sama seperti kehidupannya saat dia masih kecil.

Apa dia benar-benar mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup kembali?

Yun Shang masih mengingat dengan jelas bahwa dirinya yang berusia muda terjatuh dan mengalami koma selama beberapa hari. Saat dia akhirnya bangun, dia mendengar bahwa sang permaisuri berbaik hati dengan mengaku bersalah atas dirinya kepada sang kaisar dan meminta untuk dihukum. Dia bukan ibu kandung Yun Shang, tetapi dia melindunginya dengan segala cara yang tidak pernah terbayangkan oleh Yun Shang. Setelah kecelakaan itu, Yun Shang sangat berterima kasih kepada permaisuri dan hubungan mereka menjadi semakin dekat. Dia menerima permaisuri sebagai ibunya dan melakukan apa pun yang diperintahkan.

Sekarang Yun Shang memiliki kesempatan untuk memikirkan kembali semua peristiwa dari kehidupan sebelumnya, dia akhirnya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi tampaknya berada di bawah kendali permaisuri. Ibu kandung Yun Shang tumbuh bersama sang kaisar dan kemudian dianugerahi gelar Selir Jin. Tetapi entah bagaimana dia menyinggung sang kaisar, jadi dia dibuang ke Istana Dingin. Sejak saat itulah Yun Shang diadopsi oleh permaisuri.

Sang permaisuri sangat menyukai Yun Shang. Dia memanjakan Yun Shang dan memenuhi setiap kebutuhannya. Yun Shang, di sisi lain, menjadi sombong dan arogan, selalu membuat masalah. Pada akhirnya, bahkan sang kaisar pun kehabisan kesabaran dan begitu ada kesempatan, dia menikahkan Yun Shang dengan pria pilihannya sendiri segera setelah Upacara Pendewasaannya. Yun Shang mengira dia akan hidup bahagia selamanya dengan pria yang dicintainya. Tetapi ibu mertuanya sama sekali tidak menyukainya meskipun dia adalah seorang Putri Kekaisaran. Karena ibu mertuanya selalu mengganggunya, Yun Shang belajar untuk sangat berhati-hati.

Yun Shang menyeringai kembali saat memikirkannya. Bahkan jika ini semua hanya mimpi, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya melakukan kesalahan yang sama. Dan semua utang mereka padanya, dia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia akan membuat mereka membayarnya kembali, sedikit demi sedikit.

"Yun Shang, Yun Shang..." Sebuah suara merdu memanggil sang putri muda dari luar. Tak lama kemudian, Yun Shang mendengar sapaan sang pelayan, "Selamat siang, Putri Hua Jing."

Terkejut, Yun Shang tiba-tiba bangkit dari kursinya hingga dia secara tidak sengaja menabrak meja riasnya. Saat pernak-pernik di atas meja terjatuh ke tanah, Yun Shang menyadari bahwa dia mungkin bereaksi berlebihan. Meskipun sudah beberapa hari sejak dia mengetahui segalanya, Yun Shang masih tidak bisa menenangkan dirinya saat dia melihat Putri Hua Jing.

"Adik..." Seorang gadis berbaju ungu segera berlari ke dalam ruangan dan berhenti di hadapan Yun Shang. Dia meraih tangan Yun Shang dan memperhatikannya dari kepala hingga kaki dengan hati-hati sebelum bertanya, "Apa kamu sudah merasa lebih baik? Kamu belum pulih sepenuhnya. Kenapa kamu berdiri tanpa alas kaki seperti ini? Meskipun hari ini cukup panas, tetap saja tidak baik bagi kesehatanmu." Kemudian dia berbalik dan memerintahkan sang pelayan yang berdiri di belakang, "Lian Xin, apa ini caramu merawat majikanmu? Cepat, ambilkan sepatu untuk adikku."

Yun Shang mengamati Hua Jing sejak dia masuk ke kamarnya. Meskipun dia hanya seorang gadis kecil, Hua Jing terlihat persis seperti yang diingat Yun Shang pada usia itu. Dia tampak menggemaskan. Hampir tidak ada yang bisa membayangkan bahwa dia akan mampu melakukan hal yang kejam. Yun Shang kemudian mengerti bahwa tidak mungkin untuk benar-benar mengetahui karakter seseorang hanya dari penampilan luar mereka.

Lian Xin hendak mengambil sepatu saat Yun Shang melepaskan tangan Hua Jing dan langsung menuju kamar tidurnya. Dia berbaring di tempat tidurnya dengan mata terbuka lebar.

Samar-samar, dia bisa mendengar suara Hua Jing yang bingung datang dari luar, "Ada apa? Apa dia masih tidak enak badan?"

Kemudian dia mendengar Lian Xin yang menjawab, "Saya tidak tahu. Putri Yun Shang sudah bertingkah seperti ini sejak dia bangun. Dia hanya duduk di sana sendirian, tidak bergerak dan dia hampir tidak berbicara. Saya baru saja berbicara dengan An, dan dia mengatakan bahwa mungkin sang Putri kerasukan. Kami sedang mendiskusikan apakah kami harus melapor kepada Permaisuri dan mengundang seorang biksu yang ahli untuk mengusir roh jahat."

Setelah terdiam beberapa saat, Hua Jing berkata, "Aku akan segera berbicara dengan ibuku..."

Tidak ada suara lagi yang terdengar dari luar. Sepertinya Hua Jing sudah pergi. Yun Shang menutup matanya dan mencoba menenangkan diri. Dia berpikir, 'Aku harus cukup kuat jika aku ingin membalas dendam, dimulai dengan menghadapi mereka dengan tenang.'

Satu-satunya masalah adalah semua pelayan di istana Yun Shang dipilih oleh sang permaisuri. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa dipercaya. Yun Shang sangat mengerti bahwa dia tidak akan bertahan hidup jika dia sendirian, tanpa seorang pun di sisinya.

Siapa yang akan membantunya?

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Terlahir Kembali3 Bab 3 Sendirian di Malam yang Dingin4 Bab 4 Api yang Menyala dan Terbangun dari Mimpi5 Bab 5 Dini Hari6 Bab 6 Sebuah Mimpi yang Menghantui7 Bab 7 Masalah Datang8 Bab 8 Hanya Memperlihatkan Sedikit Senyum9 Bab 9 Cahaya yang Berkilauan dalam Kegelapan10 Bab 10 Kehati-hatian11 Bab 11 Awal dari Rencana12 Bab 12 Keributan13 Bab 13 Saling Bersinggungan14 Bab 14 Tindakan Berbeda untuk Situasi Berbeda15 Bab 15 Upacara Pendewasaan dan Sebuah Hadiah16 Bab 16 Menjadi Populer17 Bab 17 Sakit yang Datang Secara Mendadak18 Bab 18 Rencana Selir Jin19 Bab 19 Kunjungan Master Wu Na20 Bab 20 Hal yang Baik21 Bab 21 Reuni Keluarga22 Bab 22 Tumbuh Dewasa23 Bab 23 Kembali Lagi ke Istana24 Bab 24 Gosip25 Bab 25 Kucing yang Keracunan26 Bab 26 Niat Buruk27 Bab 27 Pertarungan Antara Dua Harimau28 Bab 28 Jepit Rambut Feniks29 Bab 29 Ajakan dari Sang Kakak30 Bab 30 Rencana31 Bab 31 Pesta Perayaan Kemenangan32 Bab 32 Sebuah Insiden Lain33 Bab 33 Sulaman34 Bab 34 Upacara Pendewasaan (Bagian Satu)35 Bab 35 Upacara Pendewasaan (Bagian Dua)36 Bab 36 Pangeran Jing37 Bab 37 Sakit38 Bab 38 Orang di Balik Selir Shu39 Bab 39 Tabib yang Direkomendasikan oleh Pangeran Jing40 Bab 40 Aliansi41 Bab 41 Qin Meng yang Tergesa-gesa42 Bab 42 Menjatuhkan Hukuman pada Qin Meng43 Bab 43 Rencana Licik Permaisuri44 Bab 44 Hilangnya Lin45 Bab 45 Sang Pelayan, Qian Yin46 Bab 46 Langkah Pertama47 Bab 47 Qin Meng Mencari Bantuan48 Bab 48 Hamil 49 Bab 49 Rayuan50 Bab 50 Perzinahan yang Terungkap51 Bab 51 Qin Meng Menerima Gelar Kehormatan52 Bab 52 Putri Hua Jing Kembali ke Istana53 Bab 53 Selir Jin Hamil54 Bab 54 Biarkan Permaisuri untuk Merawat Selir Jin55 Bab 55 Yun Shang Menghilang56 Bab 56 Kegagalan Rencana Hua Jing57 Bab 57 Nyonya Zhao58 Bab 58 Kekhawatiran Hua Jing59 Bab 59 Hadiah dari Yun Shang60 Bab 60 Memberikan Hadiah di Ruang Doa Buddhis61 Bab 61 Permintaan Hua Jing62 Bab 62 Ramalan Takdir untuk Nyonya Zhao63 Bab 63 Seorang Gadis Bernama Qian Shui64 Bab 64 Sebuah Pembunuhan65 Bab 65 Interogasi66 Bab 66 Rahasia yang Tidak Sengaja Didengar Wang Jinhuan67 Bab 67 Penyelidikan Hua Jing68 Bab 68 Pernikahan yang Diatur oleh Kaisar Ning69 Bab 69 Perjamuan Hua Jing70 Bab 70 Jatuh dalam Perangkap71 Bab 71 Serangan Balik72 Bab 72 Permaisuri Hamil73 Bab 73 Sebelum Badai Dimulai74 Bab 74 Mencari Kebenaran75 Bab 75 Kunjungan Selir Jin76 Bab 76 Peringatan Dari Selir Ming77 Bab 77 Pesta di Istana Jinxiu78 Bab 78 Pertunjukan Menarik79 Bab 79 Rahasia Sang Permaisuri80 Bab 80 Pelajaran untuk Selir Shu81 Bab 81 Kekacauan di Upacara Pengorbanan82 Bab 82 Menyelesaikan Kekacauan83 Bab 83 Datang ke Area Perbatasan84 Bab 84 Berkonspirasi dengan Iblis85 Bab 85 Surat Rahasia dari Pangeran Qingsu86 Bab 86 Kemunculan Hua Jing yang Tiba-Tiba87 Bab 87 Kebakaran di Perkemahan88 Bab 88 Cinta Tak Terduga89 Bab 89 Rencana Penanggulangan90 Bab 90 Rencana Penempatan Tentara Ning yang Dicuri91 Bab 91 Debu Menetap92 Bab 92 Selir Fu93 Bab 93 Kucing yang Aneh94 Bab 94 Membiarkannya Begitu Saja95 Bab 95 Mimpi Buruk96 Bab 96 Beragam Versi Kebenaran97 Bab 97 Kunjungan Pangeran Jing98 Bab 98 Pernikahan yang Dikabulkan pada Malam Tahun Baru Imlek99 Bab 99 Fitnah100 Bab 100 Perpecahan