icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 5
Dini Hari
Jumlah Kata:1557    |    Dirilis Pada:01/06/2022

"Ibu, Ibu…" Setelah kembali ke Istana Qiwu, Hua Jing segera berlari ke sisi sang permaisuri.

Dia langsung berhadapan dengan ekspresi suram di wajah sang permaisuri. "Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu seharusnya berada di tempat tidur sekarang."

Hua Jing melambaikan tangannya kepada para pelayan yang berdiri di sekitar sang permaisuri dan membuat mereka mundur. Kemudian, dia berkata, "Ibu, aku mendengar bahwa ada kebakaran di Istana Nichang. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah mahluk murahan itu terbakar?"

Sang permaisuri sedang murung karena peristiwa menyedihkan yang terjadi di Istana Nichang dan mendengus ketika mendengar apa yang diucapkan Hua Jing, "Terbakar? Kamu membuatnya terdengar sangat mudah! Dia diselamatkan oleh pengawal ayahmu dan dia kemudian mengatakan bahwa dia melihat beberapa sosok yang mencurigakan. Pada akhirnya, semua anak buahku yang aku perintahkan untuk berada di sekelilingnya ditangkap!"

"Bagaimana ini bisa terjadi? Bisakah kita memercayai mereka untuk tidak… mengkhianati kita?" Sebagai seorang gadis yang masih muda, Hua Jing belum terbiasa dengan masalah seperti ini. Ketika mendengar ucapan sang permaisuri, dia merasa gugup dan gelisah.

Sang permaisuri menjawabnya dengan acuh tak acuh, "Semua orang yang telah aku pilih adalah orang-orang benar-benar setia. Mereka akan menyimpan rahasia kita meskipun mereka berhadapan dengan siksaan atau kematian!" Sang permaisuri berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Tapi sepertinya ada yang tidak beres dengan Yun Shang. Tentu saja, dia tidak melanggar perintahku. Tapi ketika sang kaisar memerintahkan agar para pelayan ditangkap, dia…"

Hua Jing berpikir sejenak tentang apa yang dikatakan sang permaisuri kepadanya. "Pada siang hari, dia sama sekali tidak berbicara denganku. Mungkin dia hanya sedang merasa kewalahan dengan segala sesuatu yang terjadi, tetapi dia sepertinya tidak melakukan sesuatu yang tidak biasa. Aku benar-benar merasa bahwa kita tidak perlu khawatir tentang gadis naif itu, Bu… Ngomong-ngomong, Lian Xin memberitahuku bahwa dia kerasukan roh jahat. Mereka akhirnya harus memanggil seorang biksu untuk melakukan pengusiran roh jahat."

"Pengusiran roh jahat?" Sang Permaisuri mengulangi ucapan putrinya itu dan kemudian tersenyum. "Yah, kita memang benar-benar perlu mengusir roh jahat tertentu…"

"Apakah Ibu punya rencana?" Ketika mendengar ucapannya, Hua Jing langsung tahu bahwa ibunya itu sudah memiliki sebuah rencana. Dia yakin bahwa ibunya memiliki rencana yang sempurna untuk membuat si jalang kecil itu menderita untuk selama-lamanya.

Sang Permaisuri tersenyum dan memberi isyarat dengan jarinya, "Mendekatlah." Hua Jing menuruti apa yang diperintahkan ibunya. Dia mendengarkan dengan saksama bisikan dingin dari ibunya, "Upacara Kedewasaanmu akan segera diadakan. Saat upacara itu…"

Sementara itu, ketika sang ibu dan putri itu sedang sibuk menyusun rencana mereka, Yun Shang mendapati dirinya kehabisan kata-kata. Mengingat lima tahun terakhir yang dia lalui di kehidupan sebelumnya, Yun Shang merasa aneh ketika sekarang dia menjadi begitu dekat dengan ayahnya lagi. Hal ini, ditambah dengan fakta bahwa dia hidup di dalam tubuh seorang gadis berusia delapan tahun, membuatnya merasa tidak nyaman.

"Mengapa kamu tiba-tiba diam? Apakah kamu takut? Mengapa kamu tidak berbicara dengan ayahmu ini?" Sang Kaisar telah berhenti berjalan dan sekarang sedang menatap Yun Shang dengan khawatir.

Yun Shang menggelengkan kepalanya. "Aku kira Ayah sedang sibuk memikirkan sesuatu. Aku tidak ingin mengganggu Ayah."

Sang Kaisar berhenti melangkah lagi dan menatap gadis kecil itu dari dekat. Di bawah cahaya redup lentera yang dibawa oleh para pelayan, gadis kecil itu mengingatkannya pada Selir Jin. Ketika memikirkannya, dia tersenyum dan berkata, "Kamu tidak pernah bersikap seperti ini di masa lalu."

Yun Shang mencoba mengingat kembali suara dirinya yang berusia delapan tahun, "Aku tidak terdengar seperti diriku? Kalau begitu, aku terdengar seperti siapa?"

Sang Kaisar dikejutkan dengan emosi antara suka dan duka yang tiba-tiba muncul dengan saling bertentangan di hatinya. "Kamu terdengar seperti ibu kandungmu."

Yun Shang terkejut ketika sang Kaisar menyebut ibu kandungnya. Dia tahu sang Kaisar sedang membicarakan Selir Jin, yang tinggal di Istana Dingin. Dia mendapati dirinya tidak bisa mengatakan apa-apa, tetapi sang Kaisar tampaknya tidak mengharapkan tanggapan apa pun darinya. Dia melanjutkan, "Ibu kandungmu adalah orang yang pendiam dan pasif. Dulu, aku mengira bahwa kamu berbeda darinya, tetapi sepertinya aku salah. Selir Jin juga berbakat dalam empat seni klasik, meskipun aku rasa kamu belum mempelajari satu pun dari seni itu."

"Benarkah?" Di lubuk hatinya, Yun Shang merasakan emosinya bergejolak. Namun di luar, dia tersenyum dan tertawa dengan lepas.

"Kamu pasti merasa lelah karena semua kekacauan itu. Pergilah ke Istana Wanshou untuk beristirahat sekarang. Kami akan segera mengadakan pertemuan di Istana Qinzhen dan aku perlu menyiapkan beberapa dokumen resmi. Aku akan meminta tabib Kekaisaran untuk memberimu sesuatu untuk membantu membuat perasaanmu lebih baik."

Yun Shang membungkuk dan menjawab dengan sopan, "Baik, Ayah. Sesuai keinginanmu."

Dia menunggu sampai sang Kaisar pergi sebelum dia berdiri dan memulai perjalanannya ke Istana Wanshou.

Yun Shang terbangun dari tidur siangnya. Namun, setelah makan beberapa hidangan ringan, dia masih merasa lelah. Tepat ketika dia hendak kembali tidur, sang kepala kasim masuk diikuti dengan sekitar selusin pelayan lainnya. Dari pakaian yang mereka kenakan, Yun Shang tahu bahwa mereka semua adalah pelayan dan kasim. Ketika dia duduk, dia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang mereka lakukan di sini dan mengganggu tidur siangnya seperti ini. Sang kepala kasim segera berbicara, "Putri, Yang Mulia mengirimkan para pelayan ini untuk Anda. Anda dapat memilih pelayan yang Anda mau. Pelayan yang tidak terpilih akan langsung dikirim kembali."

Yun Shang mengangguk kepada mereka. "Aku akan memilih dua pelayan untuk berada dekat di sisiku dan membiarkanmu memilih sisanya sesuai kebutuhan. Aku tidak membutuhkan terlalu banyak pelayan, selama kita bisa menangani tugas yang ada dengan baik."

Di kehidupan sebelumnya, dia selalu mengelilingi dirinya dengan pelayan sebanyak yang dia bisa. Namun, dia telah belajar bahwa memiliki lebih banyak pelayan artinya dia juga akan memiliki lebih banyak mata-mata. Dia ingin menghindari jalan yang berisiko itu kali ini. Setelah memilih dua orang kasim yang paling pandai dan seorang pelayan muda, dia melihat seorang pelayan lain yang sedang berdiri di samping dengan lengan baju digulung ke siku. Terkejut dengan apa yang dia lihat di pergelangan tangan pelayan itu, Yun Shang bertanya kepadanya, "Siapa namamu?"

Pelayan itu menjawabnya dengan hormat, "Putri, nama saya Qin Yi."

Yun Shang mengangguk, "Kamu terlihat kompeten, aku akan menjadikanmu pelayanku juga."

"Ini adalah kehormatan bagi saya, Putri," jawab pelayan itu.

Sang kepala kasim tersenyum ketika melihat pelayan yang telah dipilih oleh Yun Shang. "Istana Qingxin adalah tempat yang indah. Istana ini terletak di sebelah Danau Yanque dan dikelilingi oleh pemandangan gunung yang menakjubkan. Danau itu adalah tempat yang tenang, tidak seperti Danau Mingjing yang ramai. Di sana, Anda akan menemukan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa."

Dalam ingatan Yun Shang, di kehidupan masa lalunya, Istana Qingxin selalu diberikan kepada selir kesukaan sang kaisar. Dia mengingat istana itu dengan penuh kasih dan merasa tidak sabar untuk melihat pemandangannya yang indah. Mungkin keberuntungannya telah berubah sekarang dan segalanya akhirnya mulai membaik. Ketika memikirkan istana itu, dia merasa bahagia dan perasaannya menjadi jauh lebih ringan. Dia berbicara kepada sang kasim lagi, "Karena Yang Mulia sedang menghadiri urusan resmi dengan para menterinya, aku tidak akan mengganggunya. Tolong sampaikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya kepadanya. Aku akan pergi ke Istana Qingxin bersama para pelayan ini sekarang juga."

Sang kepala kasim menerima perintah itu dan segera meninggalkan Yun Shang. Yun Shang dan para pelayannya memulai perjalanan mereka ke Istana Qingxin.

Karena Istana Qingxin diberikan kepada Yun Shang secara mendadak, seluruh tempat itu telah dibersihkan dan ditata ulang dengan tergesa-gesa. Terlepas dari ketidaksempurnaannya, Yun Shang benar-benar merasa puas dengan tempat itu. Dia memasuki istana dan memerintahkan semua pelayannya, kecuali Qin Yi, untuk mengurus barang bawaannya. Meskipun Istana Nichang telah terbakar, sebagian besar barang kepunyaannya berhasil diselamatkan dan telah dikirimkan ke Istana Qingxin.

Hanya Yun Shang dan Qin Yi yang kini tersisa di pintu masuk istana yang megah itu. Yun Shang mengamati gadis di hadapannya dengan hati-hati. Dia menemukan seorang wanita muda yang cantik dan lembut, dengan sepasang mata yang menawan. Kecantikan luar Qin Yi telah menjadi alasan utama mengapa Yun Shang mengabaikannya pada awalnya. Dia menginginkan pelayan yang kompeten dan banyak akal, bukan hanya pelayan yang berwajah cantik.

"Siapa yang mengirimmu ke sini?" tanya Yun Shang setelah terdiam cukup lama.

Qin Yi membungkuk kepada gadis kecil itu dan melepaskan sebuah gelang dari pergelangan tangannya. Dia menyerahkannya kepada Yun Shang. "Putri, apakah Anda tahu gelang ini milik siapa?"

Yun Shang mengambil gelang itu dan memeriksanya dengan cepat. Itu adalah gelang yang dia berikan kepada Selir Jin. Satu-satunya alasan Yun Shang memilih Qin Yi sebagai pelayannya adalah karena gelang itu.

"Selir Jin adalah dermawan yang telah membantu saya. Tapi mulai sekarang, Anda adalah majikan saya."

Masih merasa tidak yakin dengan alasan mengapa Selir Jin mengirim Qin Yi kepadanya, Yun Shang melihat ibu kandungnya itu dengan cara yang baru. Mungkin dia tidak selemah yang dia pikirkan. Lagi pula, bertahan hidup di lingkungan Istana Kekaisaran yang kejam itu membutuhkan keuletan dan kemampuan tertentu. Tapi tetap saja, Yun Shang masih belum yakin apakah melibatkan ibunya dalam masalah yang terjadi akhir-akhir ini adalah hal yang bijaksana untuk dilakukan.

Setelah menghela napas ringan, Yun Shang mencoba menjernihkan benaknya dari pikiran-pikiran yang berkeliaran itu dan berbicara kepada Qin Yi dengan suara rendah. "Karena ibuku mengirimmu, aku akan menganggapmu sebagai orang yang terpercaya. Meskipun aku memiliki status di tempat ini, aku masih tidak memiliki siapa pun yang bisa aku percayai. Kamu adalah orang pertama yang aku rasa bisa aku percayai. Aku harap kamu tidak mengecewakanku." Kemudian, dia menambahkan, "Aku tidak yakin apakah pelayan lainnya adalah teman atau musuh. Tolong awasi mereka untukku."

Qin Yi mengangguk. "Baik, Putri, saya akan melakukannya sesuai dengan perintah Anda."

Keduanya melanjutkan percakapan mereka untuk beberapa saat sebelum Yun Shang akhirnya membiarkan Qin Yi pergi.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Terlahir Kembali3 Bab 3 Sendirian di Malam yang Dingin4 Bab 4 Api yang Menyala dan Terbangun dari Mimpi5 Bab 5 Dini Hari6 Bab 6 Sebuah Mimpi yang Menghantui7 Bab 7 Masalah Datang8 Bab 8 Hanya Memperlihatkan Sedikit Senyum9 Bab 9 Cahaya yang Berkilauan dalam Kegelapan10 Bab 10 Kehati-hatian11 Bab 11 Awal dari Rencana12 Bab 12 Keributan13 Bab 13 Saling Bersinggungan14 Bab 14 Tindakan Berbeda untuk Situasi Berbeda15 Bab 15 Upacara Pendewasaan dan Sebuah Hadiah16 Bab 16 Menjadi Populer17 Bab 17 Sakit yang Datang Secara Mendadak18 Bab 18 Rencana Selir Jin19 Bab 19 Kunjungan Master Wu Na20 Bab 20 Hal yang Baik21 Bab 21 Reuni Keluarga22 Bab 22 Tumbuh Dewasa23 Bab 23 Kembali Lagi ke Istana24 Bab 24 Gosip25 Bab 25 Kucing yang Keracunan26 Bab 26 Niat Buruk27 Bab 27 Pertarungan Antara Dua Harimau28 Bab 28 Jepit Rambut Feniks29 Bab 29 Ajakan dari Sang Kakak30 Bab 30 Rencana31 Bab 31 Pesta Perayaan Kemenangan32 Bab 32 Sebuah Insiden Lain33 Bab 33 Sulaman34 Bab 34 Upacara Pendewasaan (Bagian Satu)35 Bab 35 Upacara Pendewasaan (Bagian Dua)36 Bab 36 Pangeran Jing37 Bab 37 Sakit38 Bab 38 Orang di Balik Selir Shu39 Bab 39 Tabib yang Direkomendasikan oleh Pangeran Jing40 Bab 40 Aliansi41 Bab 41 Qin Meng yang Tergesa-gesa42 Bab 42 Menjatuhkan Hukuman pada Qin Meng43 Bab 43 Rencana Licik Permaisuri44 Bab 44 Hilangnya Lin45 Bab 45 Sang Pelayan, Qian Yin46 Bab 46 Langkah Pertama47 Bab 47 Qin Meng Mencari Bantuan48 Bab 48 Hamil 49 Bab 49 Rayuan50 Bab 50 Perzinahan yang Terungkap51 Bab 51 Qin Meng Menerima Gelar Kehormatan52 Bab 52 Putri Hua Jing Kembali ke Istana53 Bab 53 Selir Jin Hamil54 Bab 54 Biarkan Permaisuri untuk Merawat Selir Jin55 Bab 55 Yun Shang Menghilang56 Bab 56 Kegagalan Rencana Hua Jing57 Bab 57 Nyonya Zhao58 Bab 58 Kekhawatiran Hua Jing59 Bab 59 Hadiah dari Yun Shang60 Bab 60 Memberikan Hadiah di Ruang Doa Buddhis61 Bab 61 Permintaan Hua Jing62 Bab 62 Ramalan Takdir untuk Nyonya Zhao63 Bab 63 Seorang Gadis Bernama Qian Shui64 Bab 64 Sebuah Pembunuhan65 Bab 65 Interogasi66 Bab 66 Rahasia yang Tidak Sengaja Didengar Wang Jinhuan67 Bab 67 Penyelidikan Hua Jing68 Bab 68 Pernikahan yang Diatur oleh Kaisar Ning69 Bab 69 Perjamuan Hua Jing70 Bab 70 Jatuh dalam Perangkap71 Bab 71 Serangan Balik72 Bab 72 Permaisuri Hamil73 Bab 73 Sebelum Badai Dimulai74 Bab 74 Mencari Kebenaran75 Bab 75 Kunjungan Selir Jin76 Bab 76 Peringatan Dari Selir Ming77 Bab 77 Pesta di Istana Jinxiu78 Bab 78 Pertunjukan Menarik79 Bab 79 Rahasia Sang Permaisuri80 Bab 80 Pelajaran untuk Selir Shu81 Bab 81 Kekacauan di Upacara Pengorbanan82 Bab 82 Menyelesaikan Kekacauan83 Bab 83 Datang ke Area Perbatasan84 Bab 84 Berkonspirasi dengan Iblis85 Bab 85 Surat Rahasia dari Pangeran Qingsu86 Bab 86 Kemunculan Hua Jing yang Tiba-Tiba87 Bab 87 Kebakaran di Perkemahan88 Bab 88 Cinta Tak Terduga89 Bab 89 Rencana Penanggulangan90 Bab 90 Rencana Penempatan Tentara Ning yang Dicuri91 Bab 91 Debu Menetap92 Bab 92 Selir Fu93 Bab 93 Kucing yang Aneh94 Bab 94 Membiarkannya Begitu Saja95 Bab 95 Mimpi Buruk96 Bab 96 Beragam Versi Kebenaran97 Bab 97 Kunjungan Pangeran Jing98 Bab 98 Pernikahan yang Dikabulkan pada Malam Tahun Baru Imlek99 Bab 99 Fitnah100 Bab 100 Perpecahan