icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 15
Upacara Pendewasaan dan Sebuah Hadiah
Jumlah Kata:1705    |    Dirilis Pada:01/06/2022

Setelah semua keributan itu Yun Shang pergi tidur, dan tidak bangun sampai di waktu siang hari berikutnya. Dia baru saja menyelesaikan makan siangnya ketika sebuah suara tajam mengumumkan, "Yang Mulia tiba..."

Yun Shang berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang kaisar. Meskipun Kaisar Ning masih berada di luar Aula Qingxin, suaranya bisa terdengar sampai ke dalam ruangan. "Shang'er, bukankah Master Wu Na mengatakan bahwa hari ini akan turun hujan? Tapi kamu bisa lihat, matahari bersinar begitu terang di langit. Dan sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Apa ucapanku ini benar?"

Yun Shang berjalan pergi untuk menyapa kedatangan sang kaisar, "Jangan khawatir, Ayah. Master Wu Na memberitahuku bahwa tidak akan ada hujan sampai di waktu senja."

Kaisar Ning berjalan pergi ke tengah ruangan, dan duduk di kursi. Dia menghela napas dengan wajah muram, "Kamu pergi ke Kuil Ningguo dan membawa kembali wahyu suci dari Master Wu Na. Meskipun banyak orang yang menghormati Master Wu Na, tetap saja hari ini adalah Upacara Pendewasaan Hua Jing. Sudah menjadi haknya untuk menerima upacara yang layak. Tetapi semua keperluannya telah dibatalkan hanya karena wahyu suci ini. Meskipun Hua Jing memang membuat sebuah kesalahan kemarin, dan telah menjadi tahanan rumah sejak itu, bagaimanapun juga, statusnya adalah seorang Putri Kekaisaran di negara ini. Tentu, apabila nanti hujan, semua akan berjalan baik. Tetapi jika tidak, aku khawatir akan ada beberapa orang akan menganggap ini sebagai kesempatan untuk mencari-cari kesalahan denganmu. Kemudian, alih-alih menyalahkan Master Wu Na, mereka akan curiga bahwa kamu merancang semua rencana ini dengan sengaja..."

Yun Shang berlutut di sebuah kursi dan menggunakan sikunya untuk menopang dirinya di atas meja. Dia tersenyum saat kedua matanya menatap Kaisar Ning. "Hujan atau tidak hujan, ya? Itu hanya masalah waktu saja, Ayah. Dan, Ayah, Master Wu Na menyebutkan bahwa seharusnya hari ini tidak ada upacara besar-besaran. Ayah masih bisa mengadakan upacara sederhana untuk Kakak. Mungkin Ayah bisa membebaskan Kakak dan Ibu, lalu mengundang beberapa pejabat senior serta anggota keluarga mereka untuk menghadiri acara tersebut? Bagaimanapun, Upacara Pendewasaan itu adalah suatu upacara yang penting bagi seorang gadis. Seharusnya Kakak tidak diperlakukan dengan buruk."

Kaisar Ning menatap pada Yun Shang untuk waktu yang lama. Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk membelai rambut milik anaknya itu. Pria itu berbicara dengan nada lembut, "Kamu sudah dewasa. Dan dengan begitu cepat juga. Hanya dalam waktu yang singkat, secepat kedipan mata, kamu sudah tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas."

Yun Shang terkekeh dan melompat turun dari kursi. "Hari ini adalah Upacara Pendewasaan untuk Kakak, hari yang besar. Saat datang ke sana, aku akan memakai gaunku yang paling indah. Aku tidak bisa mempermalukan Ibu dan Kakak... Ayah, tolong kirimkan dekrit kaisar sesegera mungkin. Panggil siapa pun yang penting bagi Ayah untuk ikut serta dalam upacara penting milik Kakak."

Kaisar Ning sedikit terpana setelah mendengar kata-kata itu dari anaknya yang baru berusia delapan tahun. Mengangkat alisnya, dia berkata, "Shang'er sudah cukup mampu untuk memerintahkan ayahnya, seorang kaisar untuk mengerjakan suatu tugas?" Dia berhenti sejenak dan, setelah memeriksa senyumnya, dia memandang Yun Shang, "Shang'er, apakah kemarin kamu tidak merasa marah kemarin ketika kakakmu menyalahkan kesalahan yang dia perbuat sendiri kepadamu?"

Sebuah sinar mengilap di mata Yun Shang. Dia berkata sambil tersenyum, "Ayah, Kakak selalu memperlakukanku dengan baik. Kakak pasti melakukannya karena alasan yang aku rasa mungkin di luar kendalinya. Ada pepatah yang berkata. Aku tidak ingat kapan aku mendengarnya, tetapi aku ingat pepatah itu. Konon katanya, sebuah keluarga yang dalam kedamaian akan menghasilkan keberuntungan. Ayah sangat sibuk dan lelah dengan urusan sidang kekaisaran, jadi aku dan Kakak harus memperlakukan satu sama lain dengan baik dan hidup dalam damai. Kami tidak boleh membiarkan Ayah merasa khawatir."

"Sebuah keluarga dalam kedamaian akan menghasilkan keberuntungan." Kaisar Ning mengulangi ucapan itu. Merasakan sakit di dalam hatinya, dia menatap Yun Shang, "Kamu adalah anak gadisku yang baik..." Dia tersenyum pada Yun Shang, dan kemudian melanjutkan berbicara, "Baiklah. Aku akan memberikan perintah seperti yang kamu ucapkan tadi. Pergilah dan ganti bajumu."

Yun Shang memberi hormat sopan, "Hati-hati, Ayah."

Yun Shang kembali ke dalam ruangan setelah sosok Kaisar Ning menghilang di kejauhan. Qin Yi, yang telah menunggu di samping ayah dan anak itu, mengerutkan kening dan berkata, "Putri, tidak mudah untuk menempatkan Putri Hua Jing dan Permaisuri dalam tahanan rumah. Bagaimana Anda bisa membantu mereka mendapatkan pengampunan? Baru satu hari berlalu. Tidak mungkin mengirim mereka kembali menjadi tahanan rumah begitu mereka bebas."

Yun Shang kini sedang duduk di depan meja rias. Dia mengerutkan kening saat dia melihat bayangan mungilnya terpantul di cermin. Dia menghela napas sebelum berbicara, "Apakah kamu benar-benar berpikir mereka tidak dapat diampuni tanpa permohonan dariku? Itu hanya masalah waktu saja. Keluarga Permaisuri sangat berpengaruh di sidang kekaisaran. Kamu masih belum paham mengapa Ayah datang ke sini hari ini, 'kan? Penasihat agung pasti sudah mengambil andil dalam meyakinkan Ayah untuk berubah pikiran atas hukuman yang beliau jatuhkan. Jika aku mengajukan permohonan sesuai keinginan Ayah, dia akan berpikir aku adalah seorang gadis yang masuk akal, dan dia akan merasa menyesal atas sikap buruk yang sudah aku terima kemarin. Tetapi jika aku bersikap keras kepala dan mengecewakannya, dia akan berpikir bahwa aku adalah anak yang jahat."

Qin Yi merenung tentang itu sebentar. Kemudian pelayannya itu berkata dengan sentuhan emosi, "Putri, apakah Anda benar-benar berusia delapan tahun? Mengapa saya merasa Anda lebih dewasa dibanding saya?"

Yun Shang menyeringai dan, alih-alih menjawab pertanyaan itu, dia berkata, "Pergi dan ambilkan gaun merah muda cerah milikku ke sini. Aku akan memakainya untuk acara hari ini."

Qin Yi mengangguk dan pergi untuk mengambil gaun yang diminta oleh majikannya.

Yun Shang berhenti tersenyum polos, melepas topeng yang sedari tadi dia kenakan, dan kegelapan melintas di matanya. Dia yang sekarang tidak memiliki kekuatan untuk dimanfaatkan, atau siapa pun untuk diandalkan. Itu adalah hambatan terbesarnya dalam hidup ini. Tapi dia akan mengingat apa yang terjadi hari ini, selamanya. Dia tidak akan pernah sudi memaafkan siapa pun dari keluarga Li.

"Putri, apakah menurut Anda gaun ini warnanya tidak terlalu muda untuk digunakan di acara nanti? Saya pikir gaun Anda yang berwarna merah tua itu lebih cantik." Qin Yi mendekat dengan membawa gaun itu.

Yun Shang melihat dari pantulan di cermin bahwa Qin Yi sedang menatap dua gaun yang ada di tangannya, satu berwarna merah muda cerah dan lainnya merah tua. Sepertinya tidak bisa mengambil keputusan.

Yun Shang tersenyum, "Hari ini merupakan hari Upacara Pendewasaan Putri Hua Jing. Dia suka warna merah tua. Sebaiknya aku tidak memakai warna yang sama seperti warna yang dia sukai."

Qin Yi berpikir sejenak, dan kemudian menyingkirkan gaun merah tua dari tangannya. Dia berjalan mendekat dengan gaun yang berwarna pink cerah, dan membantu Yun Shang berpakaian.

Setelah selesai mengenakan gaun itu, Yun Shang menyuruh sang pelayan menyisir rambutnya menjadi sanggul. Dia bersantai sampai dia mendengar suara seorang kasim. "Putri, Upacara Pendewasaan Putri Hua Jing akan diadakan di Pulau Penglai di Kolam Taiye..."

Yun Shang mengangguk, "Baik. Aku akan berada di sana tepat pada waktu acara."

Dia berlama-lama di dalam kamar sampai jam lima sore. Gadis kecil itu sudah didandani dengan baik sebelum dia pergi ke Pulau Penglai bersama Qin Yi dan Qin Meng. Begitu dia menginjakkan kaki di pulau itu, dia melihat sosok sang permaisuri dan Putri Hua Jing sekilas. Sudah ada banyak orang di perjamuan tersebut. Ada tiga buah kursi telah disiapkan di ujung tempat acara. Permaisuri dan Putri Hua Jing duduk di kedua sisi kursi yang disiapkan untuk diduduki oleh Kaisar Ning. Tidak mengejutkan baginya bahwa Hua Jing memang mengenakan jubah merah tua untuk acara hari ini. Dia tampak lebih gembira karena warna tersebut.

Yun Shang melihat sekeliling sebelum mengambil tempat duduknya yang terletak di ujung berlawanan dari ayah, ibu, dan kakaknya.

Yun Shang baru saja duduk sebelum Hua Jing berbicara dengan suara dingin, "Putri kita Yun Shang pergi ke Kuil Ning'guo untuk berdoa bagi penduduk kita beberapa hari yang lalu, dan membawa kembali wahyu suci Master Wu Na, yang mengatakan hari ini akan hujan. Tapi sejauh yang saya lihat, cuaca hari ini sangat bagus, langit biru begitu cerah tanpa awan. Saya ingin tahu di bagian negara Ning mana yang akan turun hujan."

Mendengar ini, beberapa anggota bangsawan dan pejabat senior juga menimpali, "Benar sekali. Sama sekali tidak ada tanda-tanda hujan hari ini."

Tapi sang permaisuri memotong dengan dingin, "Jing'er, sudah waktunya ganti baju. Upacara Pendewasaan-mu akan segera dimulai setelah Yang Mulia tiba. Pergi dan ganti bajumu sekarang."

Hua Jing mengatupkan giginya untuk menekan amarah yang ada di dalam dirinya, dan pergi bersama pelayannya untuk mematuhi perintah sang permaisuri.

"Yang Mulia tiba..." suara dari seorang kasim memberi tahu semua orang akan kedatangan sang kaisar. Semua yang hadir berdiri lalu membungkuk untuk menunjukkan kesopanan yang mendalam. Kaisar Ning, yang mengenakan jubah naganya, berjalan ke kursinya. Dia berbalik dan berbicara, "Para pejabat yang terhormat, hari ini putri sulungku, Hua Jing, akan menjadi dewasa, dan aku mengadakan Upacara Pendewasaan ini untuk merayakan momen berharga ini di pulau ini. Mari kita rayakan momen berharga ini untuknya."

Semua tamu membungkuk lagi sebelum mereka duduk.

Pemuji yang diundang untuk Upacara Pendewasaan Hua Jing adalah cucu dari penasihat agung, tentu saja tidak lain, adalah sepupu Hua Jing. Dia pergi ke tengah, dan menatap Hua Jing, yang hari ini mengenakan pakaian yang cocok untuk seorang gadis remaja. Rambutnya ditata dalam sanggul dua cincin, yang menandakan bahwa gadis itu masih belum menikah. Hua Jing membungkuk hormat kepada orang-orang. Pemuji mengambil sisir dari nampan yang dipegang oleh pelayan istana, dan mulai menyisir rambut milik Hua Jing.

(*TN: Pemuji adalah tamu wanita dalam Upacara Pendewasaan seorang gadis, yang membantu gadis tersebut menyelesaikan upacara dengan melakukan ritual khusus, sambil memuji perilaku dan kualitas yang dimiliki gadis itu, dan mendoakan keberuntungannya.)

Setelah dia selesai dengan menyisir rambut Putri Hua Jing, Ritual Cuci Tangan dimulai. Istri penasihat agung dan sang permaisuri berdiri untuk membantu Putri Hua Jing.

(*TN: Ritual Cuci Tangan dimulai dengan orang yang lebih tua mencuci tangan mereka sebelum mereka membantu anak perempuan atau laki-laki menyisir rambut mereka menjadi gaya rambut untuk orang dewasa.)

Istri penasihat agung mengambil sapu tangan dan jepit rambut yang diberikan oleh para pelayan, berjalan menuju Hua Jing, dan mengucapkan kata-kata untuk memberkahi Hua Jing. Kemudian dia memasukkan jepit rambut di tangannya ke rambut Hua Jing. Pada saat semua orang sedang memuji dan bergantian memberkati Hua Jing, langit yang semula terang perlahan-lahan mulai berubah menjadi gelap. Tak lama awan gelap berkumpul diiringi dengan suara guntur yang menggelegar seolah membelah langit.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Terlahir Kembali3 Bab 3 Sendirian di Malam yang Dingin4 Bab 4 Api yang Menyala dan Terbangun dari Mimpi5 Bab 5 Dini Hari6 Bab 6 Sebuah Mimpi yang Menghantui7 Bab 7 Masalah Datang8 Bab 8 Hanya Memperlihatkan Sedikit Senyum9 Bab 9 Cahaya yang Berkilauan dalam Kegelapan10 Bab 10 Kehati-hatian11 Bab 11 Awal dari Rencana12 Bab 12 Keributan13 Bab 13 Saling Bersinggungan14 Bab 14 Tindakan Berbeda untuk Situasi Berbeda15 Bab 15 Upacara Pendewasaan dan Sebuah Hadiah16 Bab 16 Menjadi Populer17 Bab 17 Sakit yang Datang Secara Mendadak18 Bab 18 Rencana Selir Jin19 Bab 19 Kunjungan Master Wu Na20 Bab 20 Hal yang Baik21 Bab 21 Reuni Keluarga22 Bab 22 Tumbuh Dewasa23 Bab 23 Kembali Lagi ke Istana24 Bab 24 Gosip25 Bab 25 Kucing yang Keracunan26 Bab 26 Niat Buruk27 Bab 27 Pertarungan Antara Dua Harimau28 Bab 28 Jepit Rambut Feniks29 Bab 29 Ajakan dari Sang Kakak30 Bab 30 Rencana31 Bab 31 Pesta Perayaan Kemenangan32 Bab 32 Sebuah Insiden Lain33 Bab 33 Sulaman34 Bab 34 Upacara Pendewasaan (Bagian Satu)35 Bab 35 Upacara Pendewasaan (Bagian Dua)36 Bab 36 Pangeran Jing37 Bab 37 Sakit38 Bab 38 Orang di Balik Selir Shu39 Bab 39 Tabib yang Direkomendasikan oleh Pangeran Jing40 Bab 40 Aliansi41 Bab 41 Qin Meng yang Tergesa-gesa42 Bab 42 Menjatuhkan Hukuman pada Qin Meng43 Bab 43 Rencana Licik Permaisuri44 Bab 44 Hilangnya Lin45 Bab 45 Sang Pelayan, Qian Yin46 Bab 46 Langkah Pertama47 Bab 47 Qin Meng Mencari Bantuan48 Bab 48 Hamil 49 Bab 49 Rayuan50 Bab 50 Perzinahan yang Terungkap51 Bab 51 Qin Meng Menerima Gelar Kehormatan52 Bab 52 Putri Hua Jing Kembali ke Istana53 Bab 53 Selir Jin Hamil54 Bab 54 Biarkan Permaisuri untuk Merawat Selir Jin55 Bab 55 Yun Shang Menghilang56 Bab 56 Kegagalan Rencana Hua Jing57 Bab 57 Nyonya Zhao58 Bab 58 Kekhawatiran Hua Jing59 Bab 59 Hadiah dari Yun Shang60 Bab 60 Memberikan Hadiah di Ruang Doa Buddhis61 Bab 61 Permintaan Hua Jing62 Bab 62 Ramalan Takdir untuk Nyonya Zhao63 Bab 63 Seorang Gadis Bernama Qian Shui64 Bab 64 Sebuah Pembunuhan65 Bab 65 Interogasi66 Bab 66 Rahasia yang Tidak Sengaja Didengar Wang Jinhuan67 Bab 67 Penyelidikan Hua Jing68 Bab 68 Pernikahan yang Diatur oleh Kaisar Ning69 Bab 69 Perjamuan Hua Jing70 Bab 70 Jatuh dalam Perangkap71 Bab 71 Serangan Balik72 Bab 72 Permaisuri Hamil73 Bab 73 Sebelum Badai Dimulai74 Bab 74 Mencari Kebenaran75 Bab 75 Kunjungan Selir Jin76 Bab 76 Peringatan Dari Selir Ming77 Bab 77 Pesta di Istana Jinxiu78 Bab 78 Pertunjukan Menarik79 Bab 79 Rahasia Sang Permaisuri80 Bab 80 Pelajaran untuk Selir Shu81 Bab 81 Kekacauan di Upacara Pengorbanan82 Bab 82 Menyelesaikan Kekacauan83 Bab 83 Datang ke Area Perbatasan84 Bab 84 Berkonspirasi dengan Iblis85 Bab 85 Surat Rahasia dari Pangeran Qingsu86 Bab 86 Kemunculan Hua Jing yang Tiba-Tiba87 Bab 87 Kebakaran di Perkemahan88 Bab 88 Cinta Tak Terduga89 Bab 89 Rencana Penanggulangan90 Bab 90 Rencana Penempatan Tentara Ning yang Dicuri91 Bab 91 Debu Menetap92 Bab 92 Selir Fu93 Bab 93 Kucing yang Aneh94 Bab 94 Membiarkannya Begitu Saja95 Bab 95 Mimpi Buruk96 Bab 96 Beragam Versi Kebenaran97 Bab 97 Kunjungan Pangeran Jing98 Bab 98 Pernikahan yang Dikabulkan pada Malam Tahun Baru Imlek99 Bab 99 Fitnah100 Bab 100 Perpecahan