icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 10
Kehati-hatian
Jumlah Kata:2080    |    Dirilis Pada:01/06/2022

Setelah apa yang terjadi, Yun Shang merasa bahwa matahari bersinar lebih terang hari ini. Dia dan Qin Yi sedang berada di taman di Aula Qingxin. Qin Yi berdiri di belakangnya, mendorong ayunan yang diduduki olehnya ketika mereka berbicara.

"Putri, meskipun Yang Mulia telah meminta Selir Shu untuk menangani masalah ini, Permaisuri pasti tidak akan menyerah begitu saja. Jika dia melacaknya, saya khawatir…" Ketika Qin Yi memikirkan tentang peristiwa yang terjadi pada hari itu, dia mendapati dirinya terkesan. Dia telah melihat begitu banyak hal yang tersembunyi di dalam diri putri delapan tahun ini.

Yun Shang tersenyum, "Dia tidak akan menyerah. Dalam beberapa hari, seseorang akan datang untuk menginterogasimu. Tapi jangan khawatir, katakan saja kepada mereka apa yang sudah aku siapkan. Dia tidak akan pernah menemukan jejak keterlibatanku dan semua bukti yang ada akan mengarah ke Istana Shuya. Setelah itu, Permaisuri akan mengejar Selir Shu. Dan kita akan menonton semuanya terjadi dengan aman, sementara yang lain bertarung."

Qin Yi tetap diam. Istana ternyata memang tempat yang penuh dengan intrik dan konspirasi. Putri baru berusia delapan tahun, tetapi dia sudah bertindak dengan sangat teliti. Dia tidak tahu apakah hal itu merupakan hal yang baik atau buruk.

"Ngomong-ngomong, Qin Yi, apakah ada pelayan di dapur kita yang memiliki aroma cendana pada tubuhnya?" Pertanyaan itu membuat Yun Shang memikirkan tentang peristiwa yang terjadi hari itu. Anjing-anjing itu telah menjadi gila setelah mereka mengendus aroma kayu cendana. Dan sang biksu itu masih berusaha membawakan dupa yang menyala itu lebih dekat kepadanya. Jelas bahwa kayu cendana itu adalah katalis yang telah mengubah obat itu menjadi racun. Tapi Lin telah melaporkan bahwa ayam-ayam itu menjadi gila setelah dia memasukkan obat itu ke dalam pakan mereka.

Qin Yi berpikir sejenak sebelum berkata, "Putri meminta saya untuk mengawasi para pelayan dan saya telah memperhatikan tindakan yang mereka lakukan sehari-hari. Saya menemukan bahwa seorang pelayan wanita tua yang bekerja di dapur mengenakan untaian manik-manik cendana di pergelangan tangannya. Tapi dia adalah penganut agama Buddha."

"Aku mengerti. Masuk akal kalau begitu. Tapi Lin masih tampak seperti orang yang sangat mencurigakan."

Yun Shang merenung sejenak. Tepat ketika dia hendak melanjutkan ucapannya, dia melihat seorang pelayan menghampiri mereka. Qin Meng telah dipilih oleh Yun Shang pada hari yang sama ketika dia memilih Qin Yi untuk bekerja sebagai pelayan di istananya. Qin Meng membungkuk dan berkata, "Putri, para pelayan di dapur membuat sup kacang hijau untuk Anda karena hari ini cuacanya panas terik." Dia menatap langit dengan cemas. "Saya tidak tahu apa yang terjadi tahun ini. Belum hujan sama sekali dan cuacanya panas."

"Belum hujan sama sekali? Dan cuacanya panas?" Yun Shang gemetar ketika sebuah kenangan tiba-tiba melintas di benaknya. Dia bertanya, "Sudah berapa lama sejak hujan terakhir turun?"

Qin Meng menjawab dengan cepat, "Sejak bulan Februari. Sekarang sudah bulan Agustus… Jadi, sudah setengah tahun."

Yun Shang gemetar ketika dia mengingat peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sebelumnya. Hujan tidak turun selama setengah tahun. Pada saat itu, dia hanya berpikir untuk mengeluh tentang cuaca panas sepanjang hari, menuntut agar para pelayan memikirkan cara untuk mengatasi panasnya cuaca musim panas. Dalam kehidupan barunya sekarang, semuanya terjadi sama persis seperti sebelumnya. Satu-satunya hal yang berubah adalah Yun Shang bukan lagi seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa.

Dia ingat bagaimana Putri Hua Jing mendapatkan rasa hormat dari rakyat Kekaisaran Ning. Dalam kehidupan barunya, Yun Shang tidak bisa merasakan sejauh mana implikasi dari hujan yang tidak turun selama setengah tahun itu. Satu-satunya hal yang dia ketahui adalah bahwa itu artinya kekeringan yang parah akan melanda rakyat Kekaisaran Ning. Dalam kehidupan terakhirnya, setelah melalui masa kekeringan selama setengah tahun, hujan akhirnya turun pada saat Upacara Perayaan Kedewasaan Hua Jing. Sang permaisuri telah mengambil kesempatan itu untuk menanamkan gagasan kepada semua orang bahwa Putri Hua Jing-lah yang membawa hujan di tengah-tengah masa kekeringan yang panjang itu. Karena rakyat Kekaisaran Ning sangat percaya pada hal-hal mistis, mereka menganggap bahwa Hua Jing dianugerahi oleh berkah Dewa.

Kaisar Ning juga merasa sangat senang. Dia telah menghadiahi Hua Jing dengan sepetak tanah dan gelar Putri Fu Hua. Karena Fu memiliki arti diberkati dan gelar itu diberikan oleh sang kaisar sendiri, kepercayaan rakyat Kekaisaran Ning akan hal itu menjadi semakin kuat. Yun Shang ingat bahwa dirinya merasa cemburu ketika hal itu terjadi. Dia ingat bagaimana dia diminta untuk mengirim berbagai hadiah mahal untuk memberi selamat kepada Hua Jing.

Namun demikian, sang permaisuri tidak sekuat itu untuk memanipulasi cuaca. Ketika mengingat-ingat hal itu kembali, dia bisa melihat bahwa semua peristiwa itu hanyalah kebetulan semata. Dia juga bisa melihat bagaimana Permaisuri Yuan Zhen yang teliti dan cerdik telah memanfaatkan kesempatan itu untuk menghasut rakyat Ning untuk mengagumi Putri Hua Jing.

Yun Shang memikirkan sebuah ide. Dia bertanya kepada pelayannya, "Aku pernah mendengar bahwa kebanyakan rakyat jelata bercocok tanam untuk memberi makan keluarga mereka. Jika tidak hujan, apakah tanamannya akan tetap tumbuh? Apakah mereka akan kelaparan?"

Qin Meng adalah orang yang lugas. Dia langsung menjawab, "Ya, Putri. Seluruh keluarga saya bekerja di ladang, jadi saya tahu betapa bergantungnya semua tanaman itu pada hujan. Para petani hidup di bawah belas kasihan surga. Jika ada musim kemarau panjang atau hujan turun dengan terlalu sering, mereka akan memiliki panen yang buruk. Musim kemarau tahun ini sudah berlangsung begitu lama sehingga saya mengkhawatirkan keluarga saya."

Yun Shang menghela napas, "Qin Yi, berikan lima tael perak kepada semua orang. Karena uang saku bulananku terbatas, hanya itu yang bisa aku berikan kepada mereka. Tapi aku berharap uang itu dapat memberi sedikit kelegaan bagi semua keluarga yang terdampak oleh musim kemarau ini. Qin Meng, kamu dapat memberikan perak itu kepada orang yang kamu cintai ketika kamu mengambil cuti bulanan nanti. Setidaknya mereka bisa membeli makanan dengan itu."

Mendengar ini, Qin Meng merasa sangat tersentuh dan bergegas untuk berlutut, "Terima kasih atas kebaikan Anda, Putri."

Yun Shang mengangguk dan berdiri, "Ambilkan semangkuk sup untukku. Aku akan mengunjungi Ayah."

Yun Shang mengganti pakaiannya dan berjalan menuju Aula Qinzheng* sambil membawa semangkuk sup kacang hijau. Dia tahu bahwa sang kaisar sedang berada di aula untuk menangani urusan pemerintahan saat ini. Ketika mereka sampai di Istana, sang putri dan Qin Yi melihat Kasim Zheng, kepala kasim kekaisaran, sedang menjaga pintu masuk. Dia dengan cepat menghampiri Yun Shang dan bertanya, "Putri Yun Shang, apa yang membawa Anda ke sini?"

(*TN: Yang secara harfiah berarti rajin.)

Yun Shang tersenyum, "Hari ini cuacanya sangat panas dan para pelayan di istanaku membuat sup kacang hijau untukku. Aku pikir Ayah mungkin merasa lelah setelah berurusan dengan urusan pemerintahan. Jadi, aku membawakan sup ini sebagai penyegar. Kasim Zheng, apakah Ayah masih sibuk?"

Kasim Zheng menjawab sambil tersenyum, "Saya akan memberi tahu Yang Mulia. Putri, mohon tunggu di sini sebentar."

Yun Shang mengangguk dan melihat Kasim Zheng memasuki aula. Qin Yi bingung ketika mendengar itu dan bertanya, "Putri, Yang Mulia tidak suka diganggu ketika beliau sedang menangani urusan pemerintahan di Aula Qinzheng. Mengapa Anda…"

Yun Shang tersenyum, "Permaisuri selalu mengamati tindakanku. Ketika Ayah keluar dari Istana, aku tidak bisa menemuinya tanpa sepengetahuan Permaisuri. Berkat Selir Shu, aku memiliki kesempatan untuk mengunjunginya kemarin. Tapi hari ini, aku harus mengunjunginya di sini. Dan aku datang ke sini untuk membahas urusan pemerintahan yang serius, Ayah tidak akan menyalahkanku atas gangguan ini."

"Urusan pemerintahan?" Qin Yi bingung. Tepat ketika dia hendak bertanya lagi, pintu di hadapan mereka berderit terbuka. Kasim Zheng telah kembali. Dia berkata kepada Yun Shang sambil tersenyum, "Putri boleh masuk sekarang."

Yun Shang membalas senyumannya dan berkata, "Terima kasih, Kasim Zheng." Dia mengedipkan mata kepada Qin Yi, yang kemudian dengan cepat meletakkan sebatang perak ke tangan Kasim Zheng.

Yun Shang kemudian memasuki Aula Qinzheng sambil membawa sup kacang hijaunya. Ketika dia masuk, dia menemukan bahwa beberapa pejabat lain juga sedang berada di aula. Sambil menundukkan kepalanya, Yun Shang melirik para pejabat itu dari ekor matanya.

Meskipun Hua Jing telah berselingkuh dengan suami Yun Shang di kehidupan sebelumnya, Yun Shang tetaplah satu-satunya istri sah suaminya itu. Dia memiliki beberapa kenangan tentang para pejabat senior karena hubungan yang dia miliki dengan keluarga bangsawan di Kota Kekaisaran.

Yun Shang mengenali Li Jingyan, sang penasihat agung, dan Wen Yunqing, wakil menteri pendapatan. Tapi ada seorang pria lain yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sang penasihat agung adalah ayah dari permaisuri. Dia sangat dihormati di antara para pejabat. Sang wakil menteri pendapatan adalah seorang pria paruh baya yang sangat sopan, yang hanya pernah ditemui oleh Yun Shang beberapa kali dalam kehidupan sebelumnya. Pria yang belum pernah dia lihat itu tampaknya memiliki pangkat yang tinggi, tetapi dia tidak yakin karena pria itu mengenakan pakaian berwarna biru tua, bukan jubah resmi. Dia juga sangat tampan. Wajahnya tirus dan panjang, tetapi garis wajahnya tampak jelas dan alisnya menawan. Yun Shang mendapati perhatiannya tertarik pada senyum kecil yang muncul di bibir pria itu. Dia juga bisa melihat dari matanya bahwa dia adalah pria yang nakal dan liar.

Dia merasa penasaran dengan pria ini. Dia tidak bisa mengingatnya dari kehidupan sebelumnya. Bagaimana mungkin dia tidak mengenali orang yang begitu gagah sepertinya di Kota Kekaisaran? Yun Shang tidak berani bersikap terlalu mencolok. Setelah menatapnya secara sekilas untuk beberapa saat, dia kembali fokus pada tujuan utamanya datang ke sini. Setelah memberi hormat kepada Kaisar Ning, dia berjalan mendekati mejanya dan meletakkan supnya.

"Saya tidak tahu bahwa ayah saya sedang mendiskusikan urusan pemerintahan dengan para pejabat setianya. Saya sangat menyesal telah mengganggu Anda sekalian." Dia melihat sekeliling sebelum menatap Kaisar Ning.

Sang kaisar tersenyum, "Apa yang membawa Shang'er-ku ke sini?"

Yun Shang melirik Li Jingyan dengan cepat. Kemudian, dia mengerutkan kening dan berkata, "Hari ini cuacanya sangat panas dan pelayanku membuatkan sup kacang hijau untukku. Aku membawakan semangkuk sup itu untuk Ayah sebagai penyegar." Dia membuka semangkuk sup kacang hijau dan menyerahkannya kepada Kaisar Ning.

Sang kaisar mengangkat mangkuk itu dan menyesapnya. Lalu dia bertanya, "Sup saja?"

Yun Shang terkikik. "Ayah sangat mengenalku. Pagi ini, ketika aku sedang memakan sup kacang hijau, pelayanku memberitahuku bahwa hujan telah berhenti turun selama setengah tahun. Jika hujan tidak kunjung turun, rakyat tidak akan panen. Dia juga mengatakan padaku bahwa mereka tidak akan memiliki makanan untuk dimakan. Aku rasa tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk itu. Tapi aku ingin pergi ke Kuil Ningguo untuk berdoa bagi rakyat kita dan juga berdoa ke surga supaya hujan segera turun."

Kaisar Ning menatap putrinya dengan perasaan campur aduk di hatinya. Setelah dia mengirim Selir Jin ke Istana Dingin dan meminta sang permaisuri untuk membesarkan Yun Shang, dia merasa berutang budi kepada putrinya itu karena telah memisahkannya dari ibu kandungnya. Dia juga telah mendengar tentang berbagai kelakuan buruknya. Dia teringat ketika dia melihat putrinya itu kehilangan kesabaran beberapa kali atau menghukum seseorang tanpa alasan yang jelas. Perlahan-lahan, dia mulai merasa kecewa dan tidak terlalu peduli kepadanya. Namun dua hari terakhir ini, dia menemukan bahwa putrinya bersikap berbeda. Dia tenang, murah hati, dan baik hati. Mengingat bahwa dia telah memperlakukan Selir Jin dengan buruk dan merasa bersalah karenanya, dia merasa sangat lega melihat putri mereka tumbuh menjadi seseorang yang bijaksana dan baik hati seperti itu.

"Senang sekali mengetahui bahwa kamu sangat peduli dengan rakyat kita. Akan tidak masuk akal jika aku menolak permintaanmu. Tapi kamu adalah seorang gadis muda. Aku khawatir jika kamu bepergian sendirian. Aku akan meminta komandan pengawal kerajaan dan beberapa anak buahnya untuk melindungimu dalam perjalanan."

Yun Shang tersenyum. Sebelum dia bisa mengucapkan terima kasih kepada ayahnya, seorang pejabat berkata, "Anggota wanita dari Istana Belakang tidak diizinkan untuk mencampuri urusan pemerintahan. Meskipun Putri masih muda, Putri seharusnya tahu itu."

Dia mengenali suara itu sebagai Li Jingyan, ayah sang permaisuri.

Meskipun tatapan Yun Shang berubah menjadi dingin, dia tetap tersenyum ketika dia berbicara. "Penasihat Agung benar. Dan saya sadar bahwa saya tidak boleh ikut campur dengan urusan pemerintahan. Dan saya telah mematuhi itu sesuai dengan perintah Yang Mulia. Akan tetapi, saya mendengar tentang kekeringan yang sedang melanda negara kita dari percakapan saya dengan para pelayan saya. Meskipun saya tidak diizinkan untuk ikut campur dalam masalah politik, saya bisa berdoa untuk Yang Mulia dan negara yang dipimpin oleh ayah saya. Itu saja yang saya minta. Bagaimana bisa Anda menganggap hal itu sebagai ikut campur dalam urusan pemerintahan, Penasihat Li?" Setelah mengatakan itu, dia mengangkat kepalanya dengan polos dan menatap Li Jingyan.

Kaisar Ning tertawa ketika dia mendengar alasan Yun Shang. "Itu baru namanya putriku. Kalau begitu sudah kuputuskan. Kamu bisa pergi ke sana besok, Shang'er."

Yun Shang membungkuk dengan hormat kepada sang kaisar dan berkata, "Terima kasih, Ayah. Karena Ayah sedang mendiskusikan hal-hal penting dengan para menteri, aku ingin meminta izinmu untuk pergi." Kaisar Ning mengangguk. Yun Shang membungkuk sekali lagi sebelum meninggalkan aula. Dia merasa bahwa dia sedang diawasi, tetapi dia melangkah pergi tanpa menoleh sekali pun.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Terlahir Kembali3 Bab 3 Sendirian di Malam yang Dingin4 Bab 4 Api yang Menyala dan Terbangun dari Mimpi5 Bab 5 Dini Hari6 Bab 6 Sebuah Mimpi yang Menghantui7 Bab 7 Masalah Datang8 Bab 8 Hanya Memperlihatkan Sedikit Senyum9 Bab 9 Cahaya yang Berkilauan dalam Kegelapan10 Bab 10 Kehati-hatian11 Bab 11 Awal dari Rencana12 Bab 12 Keributan13 Bab 13 Saling Bersinggungan14 Bab 14 Tindakan Berbeda untuk Situasi Berbeda15 Bab 15 Upacara Pendewasaan dan Sebuah Hadiah16 Bab 16 Menjadi Populer17 Bab 17 Sakit yang Datang Secara Mendadak18 Bab 18 Rencana Selir Jin19 Bab 19 Kunjungan Master Wu Na20 Bab 20 Hal yang Baik21 Bab 21 Reuni Keluarga22 Bab 22 Tumbuh Dewasa23 Bab 23 Kembali Lagi ke Istana24 Bab 24 Gosip25 Bab 25 Kucing yang Keracunan26 Bab 26 Niat Buruk27 Bab 27 Pertarungan Antara Dua Harimau28 Bab 28 Jepit Rambut Feniks29 Bab 29 Ajakan dari Sang Kakak30 Bab 30 Rencana31 Bab 31 Pesta Perayaan Kemenangan32 Bab 32 Sebuah Insiden Lain33 Bab 33 Sulaman34 Bab 34 Upacara Pendewasaan (Bagian Satu)35 Bab 35 Upacara Pendewasaan (Bagian Dua)36 Bab 36 Pangeran Jing37 Bab 37 Sakit38 Bab 38 Orang di Balik Selir Shu39 Bab 39 Tabib yang Direkomendasikan oleh Pangeran Jing40 Bab 40 Aliansi41 Bab 41 Qin Meng yang Tergesa-gesa42 Bab 42 Menjatuhkan Hukuman pada Qin Meng43 Bab 43 Rencana Licik Permaisuri44 Bab 44 Hilangnya Lin45 Bab 45 Sang Pelayan, Qian Yin46 Bab 46 Langkah Pertama47 Bab 47 Qin Meng Mencari Bantuan48 Bab 48 Hamil 49 Bab 49 Rayuan50 Bab 50 Perzinahan yang Terungkap51 Bab 51 Qin Meng Menerima Gelar Kehormatan52 Bab 52 Putri Hua Jing Kembali ke Istana53 Bab 53 Selir Jin Hamil54 Bab 54 Biarkan Permaisuri untuk Merawat Selir Jin55 Bab 55 Yun Shang Menghilang56 Bab 56 Kegagalan Rencana Hua Jing57 Bab 57 Nyonya Zhao58 Bab 58 Kekhawatiran Hua Jing59 Bab 59 Hadiah dari Yun Shang60 Bab 60 Memberikan Hadiah di Ruang Doa Buddhis61 Bab 61 Permintaan Hua Jing62 Bab 62 Ramalan Takdir untuk Nyonya Zhao63 Bab 63 Seorang Gadis Bernama Qian Shui64 Bab 64 Sebuah Pembunuhan65 Bab 65 Interogasi66 Bab 66 Rahasia yang Tidak Sengaja Didengar Wang Jinhuan67 Bab 67 Penyelidikan Hua Jing68 Bab 68 Pernikahan yang Diatur oleh Kaisar Ning69 Bab 69 Perjamuan Hua Jing70 Bab 70 Jatuh dalam Perangkap71 Bab 71 Serangan Balik72 Bab 72 Permaisuri Hamil73 Bab 73 Sebelum Badai Dimulai74 Bab 74 Mencari Kebenaran75 Bab 75 Kunjungan Selir Jin76 Bab 76 Peringatan Dari Selir Ming77 Bab 77 Pesta di Istana Jinxiu78 Bab 78 Pertunjukan Menarik79 Bab 79 Rahasia Sang Permaisuri80 Bab 80 Pelajaran untuk Selir Shu81 Bab 81 Kekacauan di Upacara Pengorbanan82 Bab 82 Menyelesaikan Kekacauan83 Bab 83 Datang ke Area Perbatasan84 Bab 84 Berkonspirasi dengan Iblis85 Bab 85 Surat Rahasia dari Pangeran Qingsu86 Bab 86 Kemunculan Hua Jing yang Tiba-Tiba87 Bab 87 Kebakaran di Perkemahan88 Bab 88 Cinta Tak Terduga89 Bab 89 Rencana Penanggulangan90 Bab 90 Rencana Penempatan Tentara Ning yang Dicuri91 Bab 91 Debu Menetap92 Bab 92 Selir Fu93 Bab 93 Kucing yang Aneh94 Bab 94 Membiarkannya Begitu Saja95 Bab 95 Mimpi Buruk96 Bab 96 Beragam Versi Kebenaran97 Bab 97 Kunjungan Pangeran Jing98 Bab 98 Pernikahan yang Dikabulkan pada Malam Tahun Baru Imlek99 Bab 99 Fitnah100 Bab 100 Perpecahan