icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 3
Arthur
Jumlah Kata:1574    |    Dirilis Pada:03/12/2021

Maria menggeser tombol jawab di layar ponselnya lalu berkata, "Aku di dalam mobilmu."

"Oke." Percakapan mereka pun selesai.

Setelah menutup panggilan telepon, Maria lalu melempar ponselnya ke kursi di sebelahnya. Jari-jarinya memegang rokok yang masih menyala, Maria menatap ke arah hotel dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di dalam hatinya.

James sepertinya menjadi lebih sulit dihadapi sejak terakhir kali dia melihatnya. Taktik macam apa yang harus digunakannya? Taktik kejam atau halus?

Akhirnya Maria memutuskan dirinya akan menggunakan kedua jenis taktik tersebut sampai dia bisa memenangkan hati James!

Tak lama kemudian, beberapa sosok muncul di tempat parkir. Norman, James, serta para bawahan mereka sedang berjalan ke arah mobil mereka masing-masing.

Mobil James diparkir tidak jauh dari sana. Mobil James adalah mobil Harkim berwarna hitam edisi terbatas yang dikembangkan oleh Grup HL yang berharga puluhan miliar. Setahun yang lalu, mobil itu diluncurkan untuk pertama kalinya di Pertunjukan Mobil Internasional. Maria tidak menutup kaca jendelanya, dia bersandar di kursinya sambil melihat mereka tiba di tempat parkir. Dari balik asap rokoknya, Maria memperhatikan Norman dan James yang saling mengucapkan selamat tinggal satu sama lain.

Setelah mobil Harkim itu melesat pergi, asisten Norman kemudian naik ke kursi pengemudi dan mulai mengemudikan mobil ke tempat di mana Norman sedang menunggu.

Asisten itu membuka pintu di sisi lain untuk Norman. Setelah menaiki mobil, Norman melirik sekilas ke arah Maria dan berkata, "Apa kamu yang menyebabkan luka di dahi Nona Gunardi?" Meskipun Norman tampak sedang mengajukan pertanyaan, namun nada suaranya mengisyaratkan bahwa dia sudah tahu jawabannya.

Maria menatap rokoknya yang perlahan-lahan menyala sampai habis, dia sama sekali tidak menyangkal, "Ya, aku yang melakukannya."

"Ini tidak seperti gayamu dalam melakukan sesuatu."

Maria mengerti apa maksud Norman, dirinya terlalu mudah melepaskan Stella. "Tadi itu hanya peringatan saja," Maria menjelaskan dengan acuh tak acuh. Jika Stella kembali memprovokasinya, maka Maria benar-benar tidak akan bersikap segan lagi.

'Benar juga, apa yang Stella katakan padanya tadi? Dia menyuruhku untuk menjauh dari Norman dan James?

Menarik. Dia pikir dia itu siapa? Berani-beraninya mencoba untuk memerintahku? Stella, sepertinya nyalimu itu sudah terlalu besar! Apa kamu layak?' Maria menyipitkan matanya.

Keheningan memenuhi mobil itu. Setelah tiba di hotel tempat Maria menginap, sang asisten menghentikan laju mobil. Maria sudah keluar dari mobil, Norman menurunkan jendela mobil lalu berkata, "Sekarang semua orang di Kota Harapan tahu bahwa kamu sudah kembali. Belakangan ini aku tidak ada waktu karena masih ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan, jadi semuanya sekarang bergantung padamu. Semoga kamu beruntung, Maria."

Maria menyelipkan rambutnya ke belakang telinga tanpa menoleh sambil melambaikan tangannya pada Norman, "Aku tahu, terima kasih."

Maria lebih memiliki gairah hidup jika dibandingkan dengan kebanyakan wanita lainnya.

Norman juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Setelah menyaksikan Maria memasuki hotel bintang empat tempatnya menginap, Norman kemudian memerintahkan asistennya untuk melajukan mobil.

Hari ini adalah malam pertama Maria kembali ke Kota Harapan. Maria sudah melakukan proses check-in di kamar hotel ini sebelumnya. Kamar ini memiliki luas sekitar 50 m2 dengan harga satu malam sekitar 1, 3 juta rupiah. Maria bahkan bisa mendapatkan diskon besar jika dia memutuskan untuk tinggal dalam jangka waktu panjang di hotel ini.

Maria berencana untuk tinggal di Kota Harapan dalam periode waktu yang tak terbatas. Bagi orang yang akan tinggal lama di Kota Harapan, layanan kamar dan binatu di hotel ini jauh lebih menguntungkan dibanding menyewa rumah lalu mempekerjakan pembantu untuk bersih-bersih.

Setelah membersihkan riasan di wajahnya, Maria kemudian menuangkan segelas alkohol untuk dirinya sendiri dan duduk di depan jendela kaca besar yang menyentuh lantai. Maria kembali tenggelam dalam pikirannya sambil menatap pemandangan malam Kota Harapan.

'Kota Harapan, Maria sudah kembali! Bersulang!'

Setengah jam kemudian, Maria lalu meninggalkan hotel setelah mengganti gaun malamnya dengan pakaian santai.

Saat itu adalah bulan Agustus, yang merupakan bulan terpanas sepanjang tahun di sana. Sudah hampir pukul sepuluh malam ketika Maria meninggalkan hotel. Semua orang sudah bersiap-siap untuk tidur, atau bahkan sudah tertidur lelap di rumah masing-masing di bawah hembusan angin AC.

Maria membayar ongkos kemudian turun dari taksi, dia berdiri di depan gerbang sebuah vila. Maria meletakkan tangannya di jeruji perunggu gerbang sambil melihat ke dalam vila dan halamannya.

Dikarenakan ada orang yang mengurusnya dengan baik, vila tiga lantai itu masih terlihat baru, bahkan hampir sama seperti enam tahun yang lalu. Daun-daun disapu bersih, hamparan bunga yang indah, halaman rumput disemai, pohon dan semak dipangkas rapi, semua itu membuat vila itu tampak terawat dengan baik. Tempat ini sama seperti yang diingatnya. Namun, tidak ada seorang pun yang tinggal di dalam sana karena vila itu tampak gelap.

Maria menatap ke arah salah satu jendela kamar selama beberapa menit, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan sebuah panggilan, "Halo, John, ini aku," kata Maria setelah panggilan itu tersambung.

John Wahyudi awalnya merupakan bawahan kakek James, kemudian dia bekerja sebagai pelayan pribadi James. John melihat bagaimana James tumbuh dewasa, dia juga sangat setia pada Keluarga Wijaya sepanjang hidupnya.

John terdiam sejenak ketika mendengar suara Maria, lalu pada akhirnya dia berkata, "Halo, Nona Setiadi."

Maria tidak suka bertele-tele, jadi dia langsung berkata, "Sekarang aku ada di depan gerbang Vila Harmoni, aku ingin masuk untuk melihat-lihat. Terima kasih sebelumnya, John." Sikap Maria terhadap kepala pelayan tua itu masih penuh dengan rasa hormat seperti sebelumnya, hanya saja suara Maria sekarang jauh terdengar lebih dewasa. Maria terasa berbeda, tetapi John tidak tahu bagaimana mengatakannya.

John tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh Maria, sebaliknya, dia malah menjawab, "Maaf, Nona Setiadi. Mengenai hal ini, aku harus bertanya kepada Tuan Wijaya lebih dulu. Nona juga tahu bagaimana Tuan Wijaya."

"Ya, aku tahu," jawab Maria.

Di Grup HL.

Kantor CEO yang meliputi area seluas sekitar 200 m2 itu didekorasi dengan sederhana namun tampak mewah. Terdapat sebuah meja kayu berwarna abu-abu gelap dengan berbagai perangkat berteknologi tinggi yang tersembunyi di bawah jendela besar yang menyentuh lantai.

James yang memakai kemeja putih sedang duduk di mejanya sambil sibuk bekerja. Dia memakai sepasang kacamata anti radiasi, tatapan matanya terfokus pada dokumen yang ada di tangannya. Merasakan getaran dari ponsel pribadinya, James kemudian mengambil ponselnya lalu menekan tombol jawab, "Paman John, ada apa?"

"Halo, Tuan Wijaya." Setelah menyapa James, kepala pelayan yang setia itu menyampaikan apa yang sedang terjadi.

Tiga menit kemudian, Maria menerima balasan dari John, "Nona Setiadi, Tuan Wijaya berkata bahwa kamu tidak pantas!"

John berkata seperti robot yang tidak memiliki emosi, nada suaranya begitu dingin, dia menyampaikan pesan dari James kepada Maria dengan sikap profesional.

'James berkata aku tidak pantas! Ha ha!'

Maria tersenyum getir, "Baik John, terima kasih."

Maria awalnya berpikir John akan segera menutup telepon, tetapi tidak disangka, John malah menambahkan satu kalimat, "Nona Setiadi, kamu tidak seharusnya kembali."

Maria tercengang saat John menutup telepon.

Maria sudah tahu sedari awal bahwa tidak ada orang yang akan senang dengan kepulangannya ke Kota Harapan. Namun, Maria tidak menyangka dirinya tidak disambut hingga seperti ini, bahkan seorang kepala pelayan pun sangat tidak menyambutnya.

Maria berdiri di depan gerbang perunggu itu sambil terus menatap ke salah satu kamar yang ada di lantai dua.

Kamar itu sebelumnya adalah kamar tidur utama yang ditempati olehnya dan James, tapi setelah mereka pindah kemari, James hanya pulang sesekali. Kemudian, kamar itu menjadi kamarnya dan putranya.

'Putraku...' Maria meneteskan air mata saat memikirkan hal itu. Ya, dulu tempat ini merupakan surga bagi Maria, tetapi tempat ini akhirnya juga berubah menjadi neraka baginya ketika dia diusir pergi.

"Mama." Suara bernada lembut dan manis bergema di dalam ingatan Maria. Samar-samar, Maria seolah-olah masih bisa mendengar suara celotehan dan panggilan putranya yang saat itu baru berusia lima bulan.

Saat itu, Arthur masih kecil dan baru saja belajar bagaimana cara memanggil Mamanya. Arthur juga bisa memanggil "Papa", tetapi dia lebih akrab dengan kata "Mama" karena Maria adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersamanya.

Pada saat itu, James baru saja mengambil alih Grup HL. James sangat sibuk hingga dia hanya bisa tidur selama tiga atau empat jam sehari. Terlebih lagi, pernikahan mereka tidak didasarkan pada cinta, ini membuat James semakin jarang pulang ke rumah. Jika Maria beruntung, mungkin James pulang ke vila satu hari dalam sebulan.

Wajah Arthur yang lembut dan tampan muncul di benak Maria. Suara tawanya yang renyah terus menerus menggema di benaknya.

'Arthur, putraku...' Arthur baru berusia lima bulan, namun dia sudah meninggal sebelum bisa merasakan kehangatan yang ada di dunia. Arthur telah terbaring kaku di dalam kuburan yang dingin selama enam tahun.

Air mata membasahi wajah Maria, hatinya terasa sakit seperti tercabik-cabik oleh sepasang cakar iblis yang tak terlihat. Selama enam tahun ini, setiap kali memikirkan tentang Arthur, Maria merasa dirinya sulit bernapas seolah-olah dirinya tercekik.

Matahari pun terbit. Hari yang baru kembali dimulai. Kota Harapan perlahan-lahan hidup kembali. Para pekerja di kota sudah terbangun dikarenakan alarm mereka yang berbunyi. Mereka memakan sarapan, berpakaian, lalu pergi bekerja. Sementara para penghuni kota yang berusia lebih tua berkumpul di taman untuk mulai berolahraga. Mereka berlatih Tai Chi, menari bersama atau melakukan gerakan olahraga ringan. Para orang tua mencoba untuk membangunkan anak-anak mereka, awalnya memanggil dengan lembut, tetapi pada akhirnya berteriak juga. Anak-anak sibuk memasukkan makanan pertama di hari itu ke dalam mulut mereka, kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

James hanya tidur kurang dari empat jam, kemudian dia menyalakan ponselnya di perjalanan menuju ke tempat gym. Ada satu pesan dari John, "Tuan Wijaya, Nona Setiadi berdiri di luar Vila Harmoni sepanjang malam."

Ekspresi James tidak berubah sama sekali saat membaca pesan tersebut. James lalu kembali ke halaman utama untuk memeriksa apakah ada pesan penting lainnya.

James menerima pesan lain dari John setelah menyelesaikan latihannya yang intens di gym, "Tuan Wijaya, staf pemakaman melihat Nona Setiadi di sana. Saya pikir Tuan mungkin perlu mengetahuinya."

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Kembalinya Sang Dewi2 Bab 2 Berhubungan Dengan Tuan Sanjaya3 Bab 3 Arthur4 Bab 4 Permainan dan James5 Bab 5 Aku Punya Kekasih Baru6 Bab 6 Hukuman7 Bab 7 Mantan Istri James8 Bab 8 Keluar dari Rumah Sakit9 Bab 9 Bajingan Sombong10 Bab 10 Kenangan di Vila11 Bab 11 Masuk Tanpa Izin12 Bab 12 Janji dengan Alina Dibatalkan13 Bab 13 Aku Adalah Sang Pemilik Toko14 Bab 14 Pengumuman yang Mengejutkan15 Bab 15 Dipecat16 Bab 16 Penghinaan dari James17 Bab 17 Aku Akan Membuat Hidupmu Menderita18 Bab 18 Berpura-Pura Menjadi Sepupu Dekat19 Bab 19 Akuisisi Gedung20 Bab 20 Dua Tamparan21 Bab 21 Berkelahi Sendirian22 Bab 22 Hentikan Akuisisinya23 Bab 23 Dewasa dan Mempesona24 Bab 24 Tak Akan Pernah Menimbulkan Drama25 Bab 25 Kesombongan26 Bab 26 Seorang Pria Licik dan Kekanak-kanakan27 Bab 27 Penderitaan Para Tuan28 Bab 28 Menjadi Sama29 Bab 29 Meminta Bantuan30 Bab 30 Wanita Cantik Pembawa Bencana31 Bab 31 Alasan Tersembunyi Lainnya32 Bab 32 Melayani Secara Pribadi33 Bab 33 Sengaja Mempersulitnya34 Bab 34 Rasa Malu yang Membara35 Bab 35 Ceroboh36 Bab 36 Memohon Sambil Berlutut37 Bab 37 Dia Harus Dihukum38 Bab 38 Kamu Itu Brengsek39 Bab 39 Ulurkan Tanganmu40 Bab 40 Jatuh Cinta Lagi41 Bab 41 Aku Hamil42 Bab 42 Pertemuan Keluarga43 Bab 43 Pertemuan di Bandara44 Bab 44 Tatapan Kematian45 Bab 45 Cengkraman Kematian46 Bab 46 Pria yang Tangguh47 Bab 47 Menghajar Tuan Wildan48 Bab 48 Memata-matai Dia49 Bab 49 Aku Tidak Menyukai Wanita50 Bab 50 Serangan Balik51 Bab 51 Gerakan Mematikan52 Bab 52 Pergi ke Neraka53 Bab 53 Aku Ingin Menikah Denganmu54 Bab 54 Mengungkap Sebuah Kebohongan55 Bab 55 Terlahir Kembali56 Bab 56 Mempermalukan Diri Sendiri57 Bab 57 Putus Hubungan58 Bab 58 Kenangan59 Bab 59 Penyakit yang Tak Dapat Disembuhkan60 Bab 60 Sangat Tersanjung61 Bab 61 Menggunakan Cara Lembut dan Keras62 Bab 62 Cincin Pertunangan63 Bab 63 Pernikahan Bisnis64 Bab 64 Mendapat Kelemahan Keluarga Kurniawan65 Bab 65 Memohon Bantuan66 Bab 66 Dia Tidak Mencintaimu67 Bab 67 Ukuran Cincin68 Bab 68 Informasi Orang Dalam69 Bab 69 Dokumen Rahasia70 Bab 70 Sebuah Apel di Tanganku71 Bab 71 Anting-Anting Zamrud72 Bab 72 Ethan yang Naif dan Polos73 Bab 73 Aku Tidak Peduli Jika Kamu Mati74 Bab 74 Kehilangan Kendali75 Bab 75 Rencana B76 Bab 76 Pelindung Tanpa Kasih Karunia77 Bab 77 Bos Kami78 Bab 78 Aku Sangat Mencintaimu79 Bab 79 Seorang Ibu Rumah Tangga80 Bab 80 Melampaui Penebusan81 Bab 81 James Ditampar82 Bab 82 Dia Tidak Boleh Mati83 Bab 83 Bekas Cakaran Wanita84 Bab 84 Duri yang Konstan Di Sisinya85 Bab 85 Kafe Miracle Dihancurkan86 Bab 86 Berikan Aku Buktinya87 Bab 87 Tidak Ada Kemajuan88 Bab 88 Sebuah Kambing Hitam89 Bab 89 Tawar Menawar90 Bab 90 Sang Pelaku91 Bab 91 Hamil Dengan Udara92 Bab 92 Bayar Tagihannya93 Bab 93 Mendapatkan Secara Gratis94 Bab 94 Situasi yang Saling Menguntungkan95 Bab 95 Cepat Selesaikan Itu96 Bab 96 Bingung Entah Kenapa97 Bab 97 Persetan!98 Bab 98 Jangan Sentuh Dia99 Bab 99 Seorang Pria Tak Berperasaan100 Bab 100 Bersama dengan Arthur