icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 4
Permainan dan James
Jumlah Kata:1119    |    Dirilis Pada:03/12/2021

Kali ini, James mengirim pesan kepada John yang mengatakan, "Aku tidak perlu mendengar kabar apa pun tentang Maria." Dia tidak ingin tahu apa pun yang dilakukan oleh wanita itu.

Sepulangnya dari kuburan, Maria merasa lelah, dia segera menuju ke tempat tidurnya. Keesokan paginya, Maria pergi ke Grup HM untuk menghadiri suatu wawancara. Itu semua adalah bagian dari rencananya.

Kepulangan Maria membuat gelisah sebagian besar penduduk Kota Harapan.

Alina menelepon Maria di hari ketiganya di Kota Harapan, "Maria, salah satu temanku pulang dari Amerika. Aku akan mengadakan pesta untuk merayakan kepulangannya. Apa kamu mau datang?"

"Tidak, terima kasih. Aku tidak akan tinggal di kota ini lebih lama lagi. Aku akan pergi malam ini," kata Maria dengan suara lembut, tetapi wajahnya tidak menunjukan emosi sedikit pun.

Dulu Maria menganggap Alina sebagai seorang wanita licik, tetapi sepertinya Alina tidak sesabar yang dia kira. 'Hah? Apakah Alina takut kalau aku akan melaporkan kejahatannya ke polisi?

Jangan khawatir, Alina. Aku tidak akan melakukannya sekarang. Permainannya bahkan belum dimulai, ' pikir Maria.

Maria ingin agar Alina tahu bahwa dirinya, Maria, yang memiliki keputusan akhir atas sisa hidup Alina dan bagaimana Alina akan menjalaninya!

"Kamu pergi cepat sekali? Kamu kan baru saja sampai di sini? Kenapa kamu buru-buru? Paling tidak tinggal sebentar saja untuk menghadiri pestaku!" Jika Maria pergi sekarang, maka Alina tidak bisa bermain-main dengannya. Bukan itu saja, Alina harus menegaskan pada Maria bahwa James adalah calon tunangannya dan Maria tidak boleh menyentuhnya.

Nantinya, bahkan jika Maria tidak pergi, Alina akan mencari seseorang untuk mengantarnya pergi. Bagaimanapun juga, Maria adalah mantan istri James. James mungkin masih memiliki perasaan pada Maria.

"Yah... baiklah kalau begitu. Sampai jumpa."

Setelah menutup telepon, kedua wanita itu memikirkan rencana mereka masing-masing.

Maria cukup yakin bahwa James juga akan hadir di pesta itu. Tidak ada alasan bagi Alina untuk mengundang Maria jika James tidak akan hadir. Alina tidak perlu memamerkan kekayaannya. Dia hanya ingin memamerkan calon tunangannya, yakni James.

Benar saja, tebakan Maria tepat. Seperti yang diharapkan, James memang hadir di sana.

Seseorang membuka pintu ruangan pribadi dari luar, kemudian James dan Alina melangkah masuk.

Pria itu mengenakan setelan jas berwarna biru tua tanpa dasi dengan kemeja yang tiga kancing teratasnya dilepas. James tidak terlihat begitu serius sebagaimana di tempat kerja, dia hanya mengenakan pakaian bisnis santai. Namun, sikapnya mengungkapkan martabatnya yang tinggi.

Alina berdiri di sebelahnya dalam balutan gaun berwarna cokelat muda. Rias wajahnya sungguh luar biasa. Bulu mata palsu, alis yang digambar dengan sempurna, serta bibir yang mengulas senyum indah. Alina terus tersenyum, mungkin karena ada James di sisinya.

Semua pengunjung pesta berdiri saat melihat mereka masuk dan mulai menyapa pasangan itu. Mereka menyebabkan kegaduhan untuk sesaat.

Maria mundur beberapa langkah dan duduk dengan tenang di sudut ruangan, dia memperhatikan pasangan itu saling bertukar sapa.

Sesaat kemudian, Alina melihat sekeliling ruangan lalu menatap Maria yang sedang memainkan ponselnya. Lalu Alina pun memanggilnya, "Maria, kamu sudah datang!"

Maria mengenakan kemeja berwarna merah dengan tiga kancing teratas yang dilepas, memperlihatkan kamisol hitam di dalamnya. Dia melengkapi pakaiannya dengan rok hitam panjang berpinggang tinggi, memamerkan lekuk tubuhnya yang sempurna.

Maria segera meletakkan ponselnya ketika mendengar sapaan Alina, dia lalu berdiri dan menyapa wanita yang sedang tersenyum itu. "Hai Alina! Halo, Tuan Wijaya!"

Melihat Maria yang berpakaian seperti itu, Alina yakin bahwa dia sedang mencoba merayu James. Alina melirik pria di sampingnya dan melihat James yang menolak untuk menatap Maria. Alina cukup senang melihatnya.

Dia lalu berdiri dan berjalan ke arah Maria. Dia meraih tangan Maria lalu berkata dengan ramah, "Aku senang kamu bisa datang malam ini. Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu, hingga di pesta malam itu. Aku mau mengubahnya."

Mengikuti akting Alina, Maria pun menjawab, "Oke! Aku juga!"

Stella tidak akan pernah melupakan apa yang telah dilakukan oleh wanita ini padanya. Dia mengambil kesempatan itu dan mulai menghina Maria. "Kamu terlalu baik untuk mengundangnya ke pesta ini, Alina. Kamu memperlakukannya seperti adikmu sendiri, tapi dia mungkin tidak menghargainya! Keluarga Setiadi bahkan sudah memutuskan hubungan dengannya. Untuk apa kamu bersikap baik padanya seperti ini?"

Stella ingin memanggil Maria dengan sebutan pembunuh, tapi dia takut itu akan mengingatkan James pada masa lalunya yang tidak menyenangkan. Dia menelan kata yang paling ingin dia lontarkan untuk menghindari kemarahan James.

Alina menyelipkan rambutnya ke belakang telinga lalu memarahi Stella, "Hentikan itu. Biarkan yang lalu menjadi kenangan. Bagaimanapun juga, dia adalah adik sepupuku."

Alina terlihat seperti dewi yang mulia, secantik Bunda Maria, dan sekali lagi Alina berhasil memenangkan hati para pria di pesta itu.

Stella menggelengkan kepalanya tanpa daya. Kemudian dia menatap James. Sejauh ini dia hanya terdiam saja, "Tuan Wijaya, kudengar kamu akan segera bertunangan. Tolong perlakukan Alina dengan baik. Alina adalah gadis yang baik."

James sedang memainkan korek api di tangannya, dia menyalakannya dan menatap api, kemudian mematikannya lagi. Ketika James mendengar Stella berbicara dengannya, dia menatap Stella lalu berkata, "Apakah kamu memberitahuku apa yang harus kulakukan?"

Suaranya terdengar dingin dan kejam, seketika ruangan itu menjadi sunyi senyap.

Para tamu yang hadir yang biasanya gembira menjadi sangat takut untuk bernafas. Karena hubungannya dengan Alina, Stella sering mencemooh orang-orang yang bergaul dengannya.

Perkataan James tersebut sungguh memalukan. Stella menjadi tersipu malu lalu segera menjelaskan, "Bukan begitu, Tuan Wijaya. Aku tidak bermaksud seperti itu."

Stella akan mencabik-cabiknya jika itu adalah orang lain. Emosi kemarahan Stella sudah sangat melegenda. Tapi orang itu adalah James.

Alina takut James menjadi marah dan kemudian meninggalkan pesta, jadi dia pun tidak memarahi James yang sudah merendahkan temannya. Alina mencoba mengubah topik pembicaraan, "Yah, sudah saatnya untuk memulai pesta ini! Kamu, tolong buka botol anggurnya!"

"Oke, Alina."

Alina berhasil mengatasi momen tidak menyenangkan itu.

Maria duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan semua itu, menunggu Alina untuk mulai melakukan sesuatu.

Setelah mengangkat gelas, mereka bersulang untuk teman Alina yang baru pulang dari luar negeri, mereka kemudian mendentingkan gelas dan menyesap wine.

James datang ke pesta hari ini untuk menemani Alina. Dia duduk di sofa dan menatap ponselnya, sangat berlawanan dengan suasana pesta.

Sikap James begitu mengintimidasi sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mengabaikannya. Mereka membiarkannya, mencoba untuk saling bergaul dengan para tamu pesta lainnya.

Alina lebih gelisah dari yang diperkirakan Maria. Begitu semua orang memegang gelas anggur di tangan mereka, dia pun menjalankan rencananya.

Sesungguhnya, Maria diam-diam memperhatikan semua yang terjadi. Dia datang kemari dengan penuh persiapan. Tadi dia hanya mengulur waktunya, Maria lalu melihat Alina mengedipkan mata pada Stella.

Itu adalah isyarat bagi Stella. Dia lalu meletakkan gelasnya dan menatap Maria sambil tersenyum polos, "Hei, Maria, saat sekolah dulu bukankah kamu pernah menyukai seseorang? Kamu tidak akan pernah mengakuinya, bahkan ketika kamu harus minum tiga gelas wine saat kamu kalah dalam permainan. Sekarang, masa-masa sekolah sudah berlalu, sebenarnya siapa orang yang kamu suka itu?"

Sekali lagi, para tamu pesta terdiam. Semua orang menahan nafas dan menunggu jawaban Maria. Apakah Stella sedang membicarakan James?

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Kembalinya Sang Dewi2 Bab 2 Berhubungan Dengan Tuan Sanjaya3 Bab 3 Arthur4 Bab 4 Permainan dan James5 Bab 5 Aku Punya Kekasih Baru6 Bab 6 Hukuman7 Bab 7 Mantan Istri James8 Bab 8 Keluar dari Rumah Sakit9 Bab 9 Bajingan Sombong10 Bab 10 Kenangan di Vila11 Bab 11 Masuk Tanpa Izin12 Bab 12 Janji dengan Alina Dibatalkan13 Bab 13 Aku Adalah Sang Pemilik Toko14 Bab 14 Pengumuman yang Mengejutkan15 Bab 15 Dipecat16 Bab 16 Penghinaan dari James17 Bab 17 Aku Akan Membuat Hidupmu Menderita18 Bab 18 Berpura-Pura Menjadi Sepupu Dekat19 Bab 19 Akuisisi Gedung20 Bab 20 Dua Tamparan21 Bab 21 Berkelahi Sendirian22 Bab 22 Hentikan Akuisisinya23 Bab 23 Dewasa dan Mempesona24 Bab 24 Tak Akan Pernah Menimbulkan Drama25 Bab 25 Kesombongan26 Bab 26 Seorang Pria Licik dan Kekanak-kanakan27 Bab 27 Penderitaan Para Tuan28 Bab 28 Menjadi Sama29 Bab 29 Meminta Bantuan30 Bab 30 Wanita Cantik Pembawa Bencana31 Bab 31 Alasan Tersembunyi Lainnya32 Bab 32 Melayani Secara Pribadi33 Bab 33 Sengaja Mempersulitnya34 Bab 34 Rasa Malu yang Membara35 Bab 35 Ceroboh36 Bab 36 Memohon Sambil Berlutut37 Bab 37 Dia Harus Dihukum38 Bab 38 Kamu Itu Brengsek39 Bab 39 Ulurkan Tanganmu40 Bab 40 Jatuh Cinta Lagi41 Bab 41 Aku Hamil42 Bab 42 Pertemuan Keluarga43 Bab 43 Pertemuan di Bandara44 Bab 44 Tatapan Kematian45 Bab 45 Cengkraman Kematian46 Bab 46 Pria yang Tangguh47 Bab 47 Menghajar Tuan Wildan48 Bab 48 Memata-matai Dia49 Bab 49 Aku Tidak Menyukai Wanita50 Bab 50 Serangan Balik51 Bab 51 Gerakan Mematikan52 Bab 52 Pergi ke Neraka53 Bab 53 Aku Ingin Menikah Denganmu54 Bab 54 Mengungkap Sebuah Kebohongan55 Bab 55 Terlahir Kembali56 Bab 56 Mempermalukan Diri Sendiri57 Bab 57 Putus Hubungan58 Bab 58 Kenangan59 Bab 59 Penyakit yang Tak Dapat Disembuhkan60 Bab 60 Sangat Tersanjung61 Bab 61 Menggunakan Cara Lembut dan Keras62 Bab 62 Cincin Pertunangan63 Bab 63 Pernikahan Bisnis64 Bab 64 Mendapat Kelemahan Keluarga Kurniawan65 Bab 65 Memohon Bantuan66 Bab 66 Dia Tidak Mencintaimu67 Bab 67 Ukuran Cincin68 Bab 68 Informasi Orang Dalam69 Bab 69 Dokumen Rahasia70 Bab 70 Sebuah Apel di Tanganku71 Bab 71 Anting-Anting Zamrud72 Bab 72 Ethan yang Naif dan Polos73 Bab 73 Aku Tidak Peduli Jika Kamu Mati74 Bab 74 Kehilangan Kendali75 Bab 75 Rencana B76 Bab 76 Pelindung Tanpa Kasih Karunia77 Bab 77 Bos Kami78 Bab 78 Aku Sangat Mencintaimu79 Bab 79 Seorang Ibu Rumah Tangga80 Bab 80 Melampaui Penebusan81 Bab 81 James Ditampar82 Bab 82 Dia Tidak Boleh Mati83 Bab 83 Bekas Cakaran Wanita84 Bab 84 Duri yang Konstan Di Sisinya85 Bab 85 Kafe Miracle Dihancurkan86 Bab 86 Berikan Aku Buktinya87 Bab 87 Tidak Ada Kemajuan88 Bab 88 Sebuah Kambing Hitam89 Bab 89 Tawar Menawar90 Bab 90 Sang Pelaku91 Bab 91 Hamil Dengan Udara92 Bab 92 Bayar Tagihannya93 Bab 93 Mendapatkan Secara Gratis94 Bab 94 Situasi yang Saling Menguntungkan95 Bab 95 Cepat Selesaikan Itu96 Bab 96 Bingung Entah Kenapa97 Bab 97 Persetan!98 Bab 98 Jangan Sentuh Dia99 Bab 99 Seorang Pria Tak Berperasaan100 Bab 100 Bersama dengan Arthur