icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 11
Masuk Tanpa Izin
Jumlah Kata:1436    |    Dirilis Pada:03/12/2021

Maria takut ketahuan oleh orang itu. Pemilik Vila Harmoni ini tidak mengizinkan Maria untuk tinggal di sana. Jadi dia tidak pernah menyalakan AC dan mencoba untuk meredakan panas yang menyengat dengan mandi air dingin sebelum tidur. Dahinya dipenuhi oleh butiran-butiran keringat karena dia sangat gugup bersembunyi di balik tirai itu.

Pria itu berjalan dengan santai ke arah tirai. Keduanya sekarang berada begitu dekat sehingga Maria akhirnya bisa mendengar langkah kakinya yang diredam oleh karpet. Pria itu lalu berhenti. Maria mempersiapkan dirinya untuk berkelahi tetapi dia tidak bisa mendengar suaranya lagi.

James tidak bergerak untuk waktu yang lama. Maria mendengar suara yang dikenalnya, tepat ketika dia menjadi gelisah dan bertanya-tanya apakah dia harus menyergap orang itu, "Keluar!"

Itu adalah James!

Menyadari siapa orang itu, Maria kemudian mendengar suara batinnya berkata, 'Selesai sudah!'

Dia sudah diam-diam tinggal di vila ini tanpa izin James. Maria tidak akan pernah bisa datang ke sini lagi jika James tahu bahwa dirinya menyusup ke sini!

Maria membeku penuh rasa takut. Dia sedang merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

James mungkin sudah menduga bahwa dirinyalah yang bersembunyi di balik tirai. Dia hanya perlu memastikannya.

Entah bagaimana, meskipun ada penjaga baik manusia maupun alat elektronik, namun Maria masih bisa menyelinap masuk dan tinggal di sini tanpa diketahui.

Mau tak mau James bertanya-tanya apakah itu karena peralatan pemantaunya yang terlalu buruk atau wanita ini memang sungguh terampil.

Maria lalu menyibakkan tirai tebal itu ke samping. Dia berharap agar ujung tirai terbang ke wajah James dan menutupi penglihatannya serta memberikan kesempatan baginya untuk melarikan diri.

Tapi itu tidak akan terjadi. James sama terampilnya dengan Maria, bahkan mungkin lebih terampil.

Dia meraih pergelangan tangan Maria dengan erat begitu Maria menyibakkan tirai ke samping. Maria segera menundukkan kepalanya, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya, namun tetap terlihat karena cahaya bulan yang terang.

James menatap wanita yang berada di genggamannya. Dia mengenakan gaun tidur dan rambut panjangnya tergerai menutupi wajahnya. James tidak bisa melihat siapa itu. James tahu wanita itu tidak mengenakan alas kaki, jadi dia mungkin meninggalkan tempat tidur dengan tergesa-gesa. James menarik pergelangan tangannya dengan keras dan memutarnya. Dia akan segera melihat wajah wanita ini.

Maria tahu bahwa dirinya akan segera terlihat, jadi dia mengulurkan tangan dan mencoba menutupi mata James.

Tapi pria itu menggerakkan kepalanya dan uluran tangan Maria pun meleset.

Di saat bersamaan, James mengulurkan tangan kanannya mencoba untuk menyingkap rambut Maria dari wajahnya.

Maria menepis tangan kanan James dengan kasar. Sementara itu, dia mengangkat tangannya yang bebas untuk memukul tangan yang sedang memegang pergelangan tangannya.

Tapi James terlalu cepat untuknya. James tahu persis apa yang Maria sedang coba lakukan, jadi James pun melepaskan pergelangan tangannya. Lagi-lagi Maria meleset.

'Bagus! Latihan bela diriku tidak ada gunanya. Aku bahkan tidak bisa mengalahkan pria yang hanya duduk di kantor sepanjang hari!'

Maria melangkah mundur dengan marah sambil membenci dirinya sendiri. Akhirnya James akan melihat wajahnya dan mengetahui identitasnya. Kemudian dia akan berada dalam lebih banyak masalah.

James bergerak untuk menutup jarak mereka saat Maria mundur beberapa langkah. James terus bergerak mendekat sementara Maria terus mundur. Namun Maria salah perhitungan dan jatuh di ranjang besar yang berada di belakangnya. Maria telah berencana untuk berbalik dan melompat ke sisi lain ranjang agar bisa mendekat ke pintu kamar tidur. Maria mendorong dirinya dengan satu tangan sambil berharap agar dia bisa cepat melakukan ini.

Namun dalam sekejap James telah menariknya ke bawah dan melompat ke atasnya, dia menekannya ke ranjang.

Rambut panjang yang menutupi wajah wanita itu pun tersingkap. James bisa melihat wajahnya dengan jelas di bawah sinar bulan. Dugaan James memang benar terbukti. James memiliki keuntungan saat dia menggerakkan tangannya ke kedua sisi kepala Maria untuk menekannya di ranjang.

Semakin Maria memikirkannya, dirinya menjadi semakin marah. Maria kira dirinya cukup andal dalam bela diri. Dia seharusnya bisa mengalahkan James dengan mudah. Tapi dia malah berakhir seperti ini. Maria mencemooh dirinya sendiri karena khayalan naifnya yang sudah meremehkan James.

Tidak hanya tidak bisa menyingkirkan pria ini, tapi dia juga terjepit erat di bawah tubuh James hingga tidak bisa bergerak sama sekali. Kalau saja James memegang pisau sekarang, akan mudah sekali baginya untuk memotong tenggorokan Maria. Pikiran itu membuat Maria sangat gusar.

James bisa dengan jelas melihat suatu api kemarahan di mata wanita itu. Dia lalu mencibir, "Jadi, kamu yang masuk tanpa izin tapi kamu yang marah?"

'Bukankah seharusnya aku yang pantas marah? Dia tidak seharusnya berada di sini. Dia bisa mengungguli para satpam di sini. Untuk apa aku membayar orang-orang itu? Jika aku tidak memutuskan untuk mampir, berapa lama dia akan terus tinggal di sini? Ini bukan hotel. Besok yang akan kulakukan pertama kali adalah memecat semua orang yang seharusnya menjaga vila ini!' James membuat keputusan dan menyembunyikan kemarahannya dengan sempurna. Maria tidak bisa menebak apa pun dari raut wajah James.

Maria sadar bahwa dirinya kesal, lalu dia berusaha menahan amarahnya dan tersenyum lembut. "Sama sekali tidak, Tuan Wijaya. Aku baru saja menumpang di sini malam ini, aku tidak pindah ke sini. Aku tidak menyentuh apa pun." Dia hanya tidur di ranjang dan menggunakan kamar mandi.

"Kamu tidak menyentuh apa pun?" James sama sekali tidak mempercayainya. "Kamu menyentuh papan tombol kode kunci di pintu." James meraih selimut yang digunakan Maria. "Dan dari mana kamu mendapatkan ini?"

Maria hanya menatap James dengan mata polosnya yang berkedip dari waktu ke waktu. Maria mengutuk di dalam hati, 'Bajingan!' Tapi Maria mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak melawan. Memang dia yang salah. Maria tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk melingkarkannya di leher pria itu. Kemudian dia mencoba untuk meminta ampun. "Tuan Wijaya, aku tahu aku salah, tapi aku hanya ingin melihat rumah kita yang dulu lagi. Aku harus menyelinap masuk karena kamu tidak mengizinkanku masuk."

Dia semakin dekat dengan pria itu sehingga Maria bisa menghirup aromanya. Secara diam-diam, tentunya. Biasanya dalam cuaca seperti ini para pria akan berbau tidak enak. Terutama James, karena dia memakai jas sepanjang hari. Tapi James sama sekali tidak berbau seperti itu. Bau badannya seperti bau mint.

"Hentikan omong kosongmu," perintah pria itu dengan ekspresi datar. Dia tidak mempercayai Maria. Maria mencoba untuk menenangkan James dan membuatnya merasakan sesuatu untuknya. Tangan kanan James melingkari leher Maria, siap untuk mencekiknya.

Namun Maria tidak bereaksi apa pun terhadap sikap kasarnya. Malah sebaliknya, dia mencium pipi James. Dengan tatapan yang kabur dan melamun, dia menatap James dengan mata mengantuk. Kemudian Maria mengedipkan mata padanya. "Yah, kamu tahu sendiri... Aku sudah sangat ingin melakukan ini sejak kita bertemu di pesta!"

Maria jelas mencoba merayu James. Namun tatapan James sedingin es. Dengan kasar dia melepaskan lengan Maria dari lehernya dan kemudian memelototinya. Mata James memancarkan rasa bahaya. "Jangan membuatku memukulmu. Kamu tahu konsekuensinya."

James tidak sedang membuat ancaman kosong. Semua orang tahu bahwa James adalah orang yang menepati janjinya.

Maria tidak akan mundur darinya. Dia tesenyum dengan penuh rayuan sambil meletakkan tangannya di dada James yang kokoh. "Masa sih? Kamu akan memukulku? Bukannya kamu lebih suka melakukan hal yang lain?"

James menunduk untuk melihat sepasang tangan Maria di dadanya. Namun dia tidak tertarik dan tetap bergeming. Sebuah tatapan membunuh melintas di mata James, "Coba saja kalau berani!"

James tidak menganggap dirinya orang yang picik, tetapi dia tidak bisa memaafkan wanita yang sudah membunuh anaknya. 'Kamu mungkin tidak melakukannya dengan sengaja, tetapi dia meninggal karena dirimu. Seharusnya kamu tidak pernah kembali ke sini!' James memutuskan untuk tidak membuang waktu lagi pada wanita ini saat dia memikirkan masa lalu mereka.

James bangkit untuk merapikan pakaiannya dan kembali ke sikap acuhnya yang biasa, dia berusaha melawan hasrat agar tidak mengusir Maria keluar. Dia memperingatkan wanita itu untuk terakhir kalinya, "Sudah kubilang jangan datang ke sini. Sekarang kamu harus keluar! Aku yang akan menyeretmu dan melemparmu keluar dari pintu jika kamu tidak pergi dalam tiga menit!"

Meskipun Maria masih ingin tinggal di sini, tapi dia tahu bahwa dia harus pergi dengan harga dirinya. Bagaimanapun dia cukup senang bisa tinggal di sini sepanjang minggu.

Dia turun dari ranjang dan menyalakan lampu samping lalu dengan tenang merapikan ranjang itu. Kemudian dia pergi ke kamar mandi, di mana semua barang-barangnya berada.

Dia mendengar James menghitung mundur pada menit kedua dan 55 detik. "5, 4, 3..." James menatap jam tangannya sepanjang waktu.

Maria terus mengumpulkan barang-barangnya sambil mencibir, 'Dasar keparat!'

Maria berjalan perlahan ke pintu kamar tidur dengan ransel di bahunya pada detik terakhir. "Aku akan pergi dari vila ini, tapi bukan dari kota ini. Aku hanya ingin memberitahumu, Tuan Wijaya. Sampai jumpa lagi!" Maria sudah kembali dan dia akan tinggal di sini sampai akhir hayatnya.

James berjalan menuju pintu seakan dia tidak mendengar apa yang dikatakan Maria. Jantung Maria berdetak kencang karena takut James akan memukulnya. Dia bergegas keluar dari kamar tidur sebelum James bisa menyentuhnya.

James membanting pintu di belakangnya saat Maria berada di lorong. Brakk!

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Kembalinya Sang Dewi2 Bab 2 Berhubungan Dengan Tuan Sanjaya3 Bab 3 Arthur4 Bab 4 Permainan dan James5 Bab 5 Aku Punya Kekasih Baru6 Bab 6 Hukuman7 Bab 7 Mantan Istri James8 Bab 8 Keluar dari Rumah Sakit9 Bab 9 Bajingan Sombong10 Bab 10 Kenangan di Vila11 Bab 11 Masuk Tanpa Izin12 Bab 12 Janji dengan Alina Dibatalkan13 Bab 13 Aku Adalah Sang Pemilik Toko14 Bab 14 Pengumuman yang Mengejutkan15 Bab 15 Dipecat16 Bab 16 Penghinaan dari James17 Bab 17 Aku Akan Membuat Hidupmu Menderita18 Bab 18 Berpura-Pura Menjadi Sepupu Dekat19 Bab 19 Akuisisi Gedung20 Bab 20 Dua Tamparan21 Bab 21 Berkelahi Sendirian22 Bab 22 Hentikan Akuisisinya23 Bab 23 Dewasa dan Mempesona24 Bab 24 Tak Akan Pernah Menimbulkan Drama25 Bab 25 Kesombongan26 Bab 26 Seorang Pria Licik dan Kekanak-kanakan27 Bab 27 Penderitaan Para Tuan28 Bab 28 Menjadi Sama29 Bab 29 Meminta Bantuan30 Bab 30 Wanita Cantik Pembawa Bencana31 Bab 31 Alasan Tersembunyi Lainnya32 Bab 32 Melayani Secara Pribadi33 Bab 33 Sengaja Mempersulitnya34 Bab 34 Rasa Malu yang Membara35 Bab 35 Ceroboh36 Bab 36 Memohon Sambil Berlutut37 Bab 37 Dia Harus Dihukum38 Bab 38 Kamu Itu Brengsek39 Bab 39 Ulurkan Tanganmu40 Bab 40 Jatuh Cinta Lagi41 Bab 41 Aku Hamil42 Bab 42 Pertemuan Keluarga43 Bab 43 Pertemuan di Bandara44 Bab 44 Tatapan Kematian45 Bab 45 Cengkraman Kematian46 Bab 46 Pria yang Tangguh47 Bab 47 Menghajar Tuan Wildan48 Bab 48 Memata-matai Dia49 Bab 49 Aku Tidak Menyukai Wanita50 Bab 50 Serangan Balik51 Bab 51 Gerakan Mematikan52 Bab 52 Pergi ke Neraka53 Bab 53 Aku Ingin Menikah Denganmu54 Bab 54 Mengungkap Sebuah Kebohongan55 Bab 55 Terlahir Kembali56 Bab 56 Mempermalukan Diri Sendiri57 Bab 57 Putus Hubungan58 Bab 58 Kenangan59 Bab 59 Penyakit yang Tak Dapat Disembuhkan60 Bab 60 Sangat Tersanjung61 Bab 61 Menggunakan Cara Lembut dan Keras62 Bab 62 Cincin Pertunangan63 Bab 63 Pernikahan Bisnis64 Bab 64 Mendapat Kelemahan Keluarga Kurniawan65 Bab 65 Memohon Bantuan66 Bab 66 Dia Tidak Mencintaimu67 Bab 67 Ukuran Cincin68 Bab 68 Informasi Orang Dalam69 Bab 69 Dokumen Rahasia70 Bab 70 Sebuah Apel di Tanganku71 Bab 71 Anting-Anting Zamrud72 Bab 72 Ethan yang Naif dan Polos73 Bab 73 Aku Tidak Peduli Jika Kamu Mati74 Bab 74 Kehilangan Kendali75 Bab 75 Rencana B76 Bab 76 Pelindung Tanpa Kasih Karunia77 Bab 77 Bos Kami78 Bab 78 Aku Sangat Mencintaimu79 Bab 79 Seorang Ibu Rumah Tangga80 Bab 80 Melampaui Penebusan81 Bab 81 James Ditampar82 Bab 82 Dia Tidak Boleh Mati83 Bab 83 Bekas Cakaran Wanita84 Bab 84 Duri yang Konstan Di Sisinya85 Bab 85 Kafe Miracle Dihancurkan86 Bab 86 Berikan Aku Buktinya87 Bab 87 Tidak Ada Kemajuan88 Bab 88 Sebuah Kambing Hitam89 Bab 89 Tawar Menawar90 Bab 90 Sang Pelaku91 Bab 91 Hamil Dengan Udara92 Bab 92 Bayar Tagihannya93 Bab 93 Mendapatkan Secara Gratis94 Bab 94 Situasi yang Saling Menguntungkan95 Bab 95 Cepat Selesaikan Itu96 Bab 96 Bingung Entah Kenapa97 Bab 97 Persetan!98 Bab 98 Jangan Sentuh Dia99 Bab 99 Seorang Pria Tak Berperasaan100 Bab 100 Bersama dengan Arthur