icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 9
Bajingan Sombong
Jumlah Kata:1490    |    Dirilis Pada:03/12/2021

James selalu cekatan dalam menangani masalah sehingga rapatnya tidak berlangsung lama. Maria juga tidak perlu menunggu lama. Mungkin dia menunggu sekitar sepuluh menit. Dia melihat James berjalan ke arah kantornya. Summer berada dekat di belakangnya.

Lorenzo pun segera berdiri, "Permisi, Tuan Wijaya..." Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke wanita yang berdiri di depan jendela, Lorenzo berusaha menjelaskan situasi tersebut.

James memahami isyarat Lorenzo tersebut dan juga melihat ke arah Maria. Dia berjalan menuju kantornya tanpa berhenti seolah-olah Maria tidak ada di situ.

Summer diam-diam melambai kepada Maria, kemudian dia duduk di bangkunya. Maria mengangguk padanya sambil tersenyum, lalu berjalan menuju kantor CEO.

Lorenzo yang melihat hal tersebut ingin menghentikan Maria, tapi Summer terlalu cepat untuknya, "Maaf, Lorenzo. Di dalam rapat tadi, Tuan Wijaya mengatakan bahwa..."

Lorenzo tidak bisa menyela Summer karena dia menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Maria memasuki kantor tersebut seolah-olah dia adalah pemilik tempat itu.

Dia menyadari apa yang telah dilakukan Summer untuknya. Maria akan selalu mengingatnya dan berterima kasih kepada Summer di dalam hati.

Sambil mengikuti James, Maria memasuki kantor dengan tenang.

Dia menginjak karpet yang lembut serta melihat sekeliling kantor. Itu adalah salah satu kantor terbesar yang pernah dilihatnya. Dekorasinya juga sungguh mewah. Dalam hati, Maria sangat kagum, namun dia segera kembali ke akal sehatnya. Ada suatu urusan yang perlu didiskusikan dengan James. Dia tidak berada di sini untuk melihat-lihat kantor.

James sudah duduk di depan laptop, jari-jarinya yang ramping menari-nari di atas keyboard.

Maria berhenti di depan meja James lalu memanggil namanya dengan lembut, "James Wijaya."

Ketika mereka pertama kali menikah Maria masih memanggilnya sebagai "Tuan Wijaya". Setelah mereka bercinta beberapa kali, barulah dia mulai memanggilnya "James". Tapi untuk saat ini, nama lengkapnya saja sudah cukup.

Pria itu benar-benar mengabaikan Maria dan terus saja menatap layar komputer.

"Aku ingin diberi akses masuk Vila Harmoni karena aku telah menghabiskan tiga botol brendi. Aku akan sangat berterima kasih jika kamu memberitahu John mengenai hal itu. Jangan khawatir, aku tidak akan pindah ke sana. Aku hanya ingin melihat-lihat saja." 'Aku hanya ingin menghabiskan waktu sambil mengenang masa lalu, dan mencari beberapa benda yang mengingatkanku pada putraku,' pikir Maria.

Pria itu kemudian berhenti mengetik dan menatap Maria, "Aku tidak ingat pernah membuat kesepakatan apa pun denganmu. Aku sudah bilang kamu tidak diizinkan masuk ke dalam Vila Harmoni dan aku serius. Aku tidak peduli seberapa banyak yang kamu minum."

Maria menatap James. 'Aku tahu itu. Tapi aku berharap kamu memberikanku pengecualian sehingga kamu mengizinkanku masuk. Untuk apa dirinya meminum tiga botol brendi? Bukan untuk apa-apa? Aku sampai muntah darah, dasar sialan!' Suara batin Maria menangis.

Sadar bahwa pria ini memang sulit dibujuk, Maria kemudian menarik nafas dalam-dalam dan berkata dengan nada memohon, "Sekarang aku memohon padamu. Bolehkah aku masuk ke Vila Harmoni?"

"Keluar dari sini!" Dengan kejam James langsung menolaknya.

Maria sangat marah sehingga dia merasakan nyeri yang tidak begitu parah di perutnya. Dia mengepalkan tinjunya dan berkata, "James Wijaya, kamu bilang aku tidak pantas memasuki Vila Harmoni atau melihat Arthur. Jika kamu tidak pernah bermaksud untuk mengizinkanku masuk ke vila, lalu kenapa kamu menyuruhku menghabiskan tiga botol minuman keras? Membiarkan Alina mengejekku? Kenapa?"

James tidak menjawab apa pun setelah perkataan tersebut keluar dari mulut Maria. Satu-satunya suara yang bisa didengar adalah jemari James yang mengetuk tombol keyboard secara berurutan dengan cepat. Dia berkata pada Maria setelah selesai mengetik, "Karena aku adalah James Wijaya."

'Dasar keparat!' Maria masih amat murka meskipun dia sudah tahu orang macam apa James itu. Perkataan sederhana itu terdengar sangat memerintah, seolah-olah dia memberi tahu Maria bahwa dia bisa saja menyuruhnya seperti robot, dan Maria tidak bisa protes sama sekali.

Maria menarik nafas dalam-dalam sambil mencoba menenangkan diri. "Kamu tahu aku mengandung Arthur di perutku selama sembilan bulan, kan? Jadi siapa yang paling menderita setelah dia mengalami kecelakaan? Karena kamu bilang aku tidak pantas bertemu dengannya, lalu bagaimana denganmu? Kamu bahkan tidak pernah menghabiskan waktu dengan putramu sendiri. Kamu hanya ada di rumah satu atau dua hari dalam sebulan. James, bagaimana perasaanmu ketika putramu meninggal? Apa kamu merasa sedih?"

Maria dan James belum pernah bertemu secara langsung atau membicarakan mengenai Arthur sejak kecelakaan yang merenggut nyawanya terjadi. Sekarang beberapa tahun telah berlalu, dan Maria mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkit masa lalu. Masa lalu yang sebenarnya tidak ingin dia bicarakan. Masa lalu yang penuh dengan rasa sakit. Tapi Maria ingin menghapus kesalahpahaman di antara mereka berdua.

Namun, James tampaknya tidak ingin membicarakan hal itu. Dia bahkan tidak ingin memikirkannya. Tak peduli betapa hancurnya hati Maria. Sambil melihat arlojinya, James sadar bahwa Maria telah menghabiskan hampir lima menit waktunya dari pekerjaan. "Apa kamu sudah selesai? Jika sudah, Nona Setiadi, tolong pergi dan tutup pintu di belakangmu itu."

Maria tercengang mendengar perkataan James.

'Dia adalah orang bodoh yang menjengkelkan!'

Maria memutuskan untuk memperjelas rasa kesalnya. Dia berjalan di sekitar meja James sambil mendekatinya. Kemudian Maria menutup laptop James dengan sangat kuat hingga mengeluarkan suara. Maria menatap James dengan berlinang air mata dan menekankan setiap suku kata, "Aku ingin masuk ke Vila Harmoni!"

Suhu di kantor yang penuh dengan hiasan itu turun dengan drastis.

Lengan James terangkat, tangannya mencengkram leher Maria seperti orang jahat. James berdiri perlahan sambil meremas leher rapuh Maria dengan satu tangan, dia meletakkan tangan lainnya di sakunya. Matanya dipenuhi amarah yang bergelora, "Karena kamu sudah memintaku untuk bersikap seperti ini, jadi aku tidak keberatan memberikannya."

James terkejut karena Maria langsung pingsan begitu tangan James mencekik lehernya.

Maria terjatuh ke dalam pelukan James. Wajah James berubah menjadi suram. Dia ingin memanggil asistennya untuk mengusir wanita ini. Maria pasti berpura-pura, 'kan? Tapi saat James maju selangkah, tubuh kurus Maria segera jatuh ke lantai yang dilapisi karpet. Matanya masih tertutup.

James mencoba membangunkan Maria sambil berlutut dan menepuk wajahnya. Dia mengangkatnya, menggendongnya dalam pelukan, lalu berjalan keluar dari kantor. James memerintahkan Lorenzo untuk menekan tombol lift saat dia keluar dari pintu. Saat itu, James benar-benar amat sibuk.

Lorenzo memandang wanita di lengan James dengan heran. Tapi dengan bijaksana Lorenzo memutuskan untuk tetap diam serta berlari menyusuri lorong untuk menekan tombol agar lift eksklusif CEO tiba.

Saat James lewat, Summer melirik Maria dengan tatapan penuh rasa khawatir. Mata elang James tidak melewati itu. James menatap Summer dengan dingin. Summer ketakutan dan kembali bekerja.

Maria masih berada dalam pelukannya ketika James tiba di tempat parkir. Lorenzo mengikutinya sampai ke sana. Asisten James membuka pintu belakang Harkim hitam untuknya. Awalnya James ingin ikut dengannya, tetapi dia dengan cepat mengubah pikirannya.

Dia mendorong wanita pucat itu ke kursi belakang mobil, lalu menutup pintu dengan tegas dan memberi perintah kepada Lorenzo. "Bawa dia ke Rumah Sakit Swasta Medica!"

"Baik, Tuan Wijaya. Saya mengerti."

James memikirkan apa yang baru saja terjadi dan menjadi sangat kesal setelah mereka pergi. Dia melonggarkan dasinya dan menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Sesudah itu, James merasa agak lebih baik.

'Sialan kamu, Maria!' James mengutuk di dalam hati.

James mondar-mandir di parkiran mobil, dia mencoba mencari cara untuk menghilangkan amarah yang bergelora di dalam dirinya. Akhirnya dia mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah nomor, "Jangan pernah berpikir untuk coba-coba meminjam uang dariku tahun depan," katanya ketika orang di ujung telepon mengangkat panggilan.

"Tidak! James! Tolong dengarkan aku!" Orang yang dimarahi James itu menjadi panik.

James menutup telepon itu dan memotong Ethan di tengah rengekannya.

Maria kembali ke bangsal rumah sakit. Tak lama setelah itu, Norman datang menemuinya. Norman bertanya ke mana dia pergi setelah keluar dari rumah sakit. Maria hanya menatap Norman.

Norman memutuskan untuk membiarkannya karena Maria tidak ingin menceritakan apa pun padanya. Dia meninggalkan rumah sakit setelah mengingatkan Maria untuk menjaga dirinya sendiri. Jika Maria ingin Norman datang, maka dia selalu bisa meneleponnya.

Setelah tiga hari Maria pun keluar dari rumah sakit, Norman tidak ada di sana untuk menjemputnya karena dia sangat sibuk. Maria sama sekali tidak keberatan. Lagi pula, Norman sudah banyak membantunya.

Maria kembali ke hotel, kemudian mengirimkan resumenya ke bagian sekretaris Grup HM melalui email. Setelah menyelesaikan beberapa urusan lainnya, Maria lalu menutup laptop itu.

Saat itu sudah tengah malam. Maria berdiri untuk meregangkan tubuh dan memesan makan malam. Sudah lewat jam makan malam tapi belum waktunya untuk sarapan.

Setelah makan, Maria membuka lemari lalu berganti dengan pakaian santai. Dia lalu berjalan keluar dari hotel dan memanggil taksi.

Kemudian, seorang wanita dengan peralatan lengkap berjalan di pintu gerbang Vila Harmoni. Semua yang dia butuhkan untuk misinya kali ini ada di ranselnya.

Maria menurunkan topinya, lalu dia mendekati gerbang dengan hati-hati, berusaha untuk tidak terlihat. Dia mengeluarkan perangkat kecil dari ranselnya dan mengarahkannya ke arah lampu kamera yang berkedip.

Arahannya tepat dan segera saja anak panah itu terbang ke lensa kamera lalu tertancap di sana, sebuah penutup langsung menghalangi kamera. Wanita itu terus bergerak karena sekarang dia sudah terhalang dari pandangan kamera.

Dengan cepat dia memanjat gerbang perunggu dan merayap masuk ke vila dalam diam. Setibanya di pintu depan, Maria berhasil menonaktifkan lensa kamera di sana dengan cara yang sama. Dia merasa lega saat melihat sekelilingnya untuk memastikan keselamatan dirinya. Tidak ada penjaga yang terlihat. Apabila Maria bisa membuka kode kunci pintu, maka akhirnya dia akan bisa masuk.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Kembalinya Sang Dewi2 Bab 2 Berhubungan Dengan Tuan Sanjaya3 Bab 3 Arthur4 Bab 4 Permainan dan James5 Bab 5 Aku Punya Kekasih Baru6 Bab 6 Hukuman7 Bab 7 Mantan Istri James8 Bab 8 Keluar dari Rumah Sakit9 Bab 9 Bajingan Sombong10 Bab 10 Kenangan di Vila11 Bab 11 Masuk Tanpa Izin12 Bab 12 Janji dengan Alina Dibatalkan13 Bab 13 Aku Adalah Sang Pemilik Toko14 Bab 14 Pengumuman yang Mengejutkan15 Bab 15 Dipecat16 Bab 16 Penghinaan dari James17 Bab 17 Aku Akan Membuat Hidupmu Menderita18 Bab 18 Berpura-Pura Menjadi Sepupu Dekat19 Bab 19 Akuisisi Gedung20 Bab 20 Dua Tamparan21 Bab 21 Berkelahi Sendirian22 Bab 22 Hentikan Akuisisinya23 Bab 23 Dewasa dan Mempesona24 Bab 24 Tak Akan Pernah Menimbulkan Drama25 Bab 25 Kesombongan26 Bab 26 Seorang Pria Licik dan Kekanak-kanakan27 Bab 27 Penderitaan Para Tuan28 Bab 28 Menjadi Sama29 Bab 29 Meminta Bantuan30 Bab 30 Wanita Cantik Pembawa Bencana31 Bab 31 Alasan Tersembunyi Lainnya32 Bab 32 Melayani Secara Pribadi33 Bab 33 Sengaja Mempersulitnya34 Bab 34 Rasa Malu yang Membara35 Bab 35 Ceroboh36 Bab 36 Memohon Sambil Berlutut37 Bab 37 Dia Harus Dihukum38 Bab 38 Kamu Itu Brengsek39 Bab 39 Ulurkan Tanganmu40 Bab 40 Jatuh Cinta Lagi41 Bab 41 Aku Hamil42 Bab 42 Pertemuan Keluarga43 Bab 43 Pertemuan di Bandara44 Bab 44 Tatapan Kematian45 Bab 45 Cengkraman Kematian46 Bab 46 Pria yang Tangguh47 Bab 47 Menghajar Tuan Wildan48 Bab 48 Memata-matai Dia49 Bab 49 Aku Tidak Menyukai Wanita50 Bab 50 Serangan Balik51 Bab 51 Gerakan Mematikan52 Bab 52 Pergi ke Neraka53 Bab 53 Aku Ingin Menikah Denganmu54 Bab 54 Mengungkap Sebuah Kebohongan55 Bab 55 Terlahir Kembali56 Bab 56 Mempermalukan Diri Sendiri57 Bab 57 Putus Hubungan58 Bab 58 Kenangan59 Bab 59 Penyakit yang Tak Dapat Disembuhkan60 Bab 60 Sangat Tersanjung61 Bab 61 Menggunakan Cara Lembut dan Keras62 Bab 62 Cincin Pertunangan63 Bab 63 Pernikahan Bisnis64 Bab 64 Mendapat Kelemahan Keluarga Kurniawan65 Bab 65 Memohon Bantuan66 Bab 66 Dia Tidak Mencintaimu67 Bab 67 Ukuran Cincin68 Bab 68 Informasi Orang Dalam69 Bab 69 Dokumen Rahasia70 Bab 70 Sebuah Apel di Tanganku71 Bab 71 Anting-Anting Zamrud72 Bab 72 Ethan yang Naif dan Polos73 Bab 73 Aku Tidak Peduli Jika Kamu Mati74 Bab 74 Kehilangan Kendali75 Bab 75 Rencana B76 Bab 76 Pelindung Tanpa Kasih Karunia77 Bab 77 Bos Kami78 Bab 78 Aku Sangat Mencintaimu79 Bab 79 Seorang Ibu Rumah Tangga80 Bab 80 Melampaui Penebusan81 Bab 81 James Ditampar82 Bab 82 Dia Tidak Boleh Mati83 Bab 83 Bekas Cakaran Wanita84 Bab 84 Duri yang Konstan Di Sisinya85 Bab 85 Kafe Miracle Dihancurkan86 Bab 86 Berikan Aku Buktinya87 Bab 87 Tidak Ada Kemajuan88 Bab 88 Sebuah Kambing Hitam89 Bab 89 Tawar Menawar90 Bab 90 Sang Pelaku91 Bab 91 Hamil Dengan Udara92 Bab 92 Bayar Tagihannya93 Bab 93 Mendapatkan Secara Gratis94 Bab 94 Situasi yang Saling Menguntungkan95 Bab 95 Cepat Selesaikan Itu96 Bab 96 Bingung Entah Kenapa97 Bab 97 Persetan!98 Bab 98 Jangan Sentuh Dia99 Bab 99 Seorang Pria Tak Berperasaan100 Bab 100 Bersama dengan Arthur