icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

CEO Dingin Itu Penyelamatku

Bab 8 8. Menuntaskan Kerinduan

Jumlah Kata:1578    |    Dirilis Pada: 01/07/2022

ya karena tak mendapatkan haknya, Putra menjadi sangat uring-uringan. Seharusnya itu tidak berlaku untuk seseorang yang mengaku tak memiliki rasa cinta

rlu masang muka jutek begitu lagi,"

at hari sepasang suami istri itu menikmati indahnya liburan yang mengatasnamakan bulan madu sebenar

n yang begitu intim tercipta di hampir seluruh sudut pulau. Sangat disayangkan jika mereka berdua hanya

ah lantaran tak bisa mencicipi manisnya madu pernikahan dengan Embun, padahal sejak awal

erbayang-bayang. Jika bibir Embun saja sudah begitu candu dan membuatnya tergila-gila, Putra rasa dia akan semakin gila j

ngapain. Kalau cuma untuk rebahan, jalan-jalan sama cari makanan

a yang ingin Kakak lakukan saat bulan madu dan bel

ngsi dengan baik. Dia juga tak mau merendahkan harga dirinya di hadapan Embun de

Pria itu mengiba

suara yang terdengar meminta para penumpang b

ah dengan dalih ingin segera istirahat. Keduanya meninggalkan bandara menaiki taksi karena memang sengaja tak mengabarkan berita kepulangan me

aku harus menyelesaikannya sendiri. Apa gunanya

mbut oleh Putra. Gelas berembun itu pun tak menyisakan

bagus." Embun mengedarkan pandangannya menyapu

kup luas. Ukuran kamar dan ruangan di setiap bagiannya luas dan aesthetik dengan dekora

t, mungkin untuk tiga hari ke depan kita harus hidup tanpa asisten rumah tangga karena dia baru akan datang

lakukan Putra terhadapnya tak lebih hanyalah seperti seorang kakak memperlakukan adiknya. Putra tak ingin mencari masalah dengan Satria, teman yang kini

mbun yang langsung me

u melingkarkan tangan di sana. Siksaan panjang masih Putra rasakan, meski Embun tidur dengan menjaga jarak darinya, tetap saja b

a berguling mencari posisi yang nyaman, tubuhnya juga amat letih, tapi nyatany

itu terlonjak. Buru-buru Putra meraih benda i

yuara lirih sembari men

ewat pintu keluar samping saja takut ada yang lih

gegas memasuki kamar mandi. Penampilannya harus

*

emakin mendekat ke arah mobilnya. Sama seperti dirinya, Giska pun terlihat begitu

yan

enubruk sang kekasih dengan sebuah pelukan ses

jug

n kekasihnya pun menyambut ciuman Putra dengan tak kalah hangatnya. Keduanya saling mencecap

ini, Giska merasa Putra menciumnya dengan

asnya dengan Giska, entah mengapa tiba-tiba dia teringat pada Embun. Bagaimana kakunya Embun saat ia menciumnya, masi

hasil menguasai diri dari terjangan

tingkah. Ada sebersit rasa yang sulit dia jelaska

du kalau kamu terlalu lama berada di sana." Gadis itu menatap kek

dia tahu betul kalau dia hampir saja melakukan hubungan suami istri deng

man

lagi?" Putra mendengus sebal menyadari apa y

g ke apartemenku. Aku mau puas-pu

elah jalanan. Giska berpamitan pergi mandi tak lama setelah kedua sejoli itu tib

Putra meletakkan

an handuk kecil yang melilit sebagian rambutnya

enatap Putra

a sa

rsebut. Perlahan ia mengeluarkan satu kotak dalam t

us banget. Nggak salah

ng minuman soda di meja, kemudian b

" Bola mata indah gadis itu tak henti tertuju pada seuntai kalung

mengambil alih logam mulia itu

Giska lagi-lagi memba

ku belikan banyak perhiasan, jadi kamu juga harus me

banget si

hilang." Satu kecupan singkat Pu

ng berharga pemberian dari kamu." Membalas kecupa

aki itu membimbing Giska naik ke pangkuannya, sementara satu tangannya te

Pelan tapi pasti, Putra menurunkan tubuh kekasihnya hingga punggung Giska menyentuh sofa dengan tubuhnya berada d

embali menyerang bibir Giska den

Semakin lama Putra semakin tak bisa mengendalikan d

Putra memainkan dadanya dengan lembut. Sialnya, Giska sama sekali

iska hingga membuatnya melihat kedua dada Giska yang membusung indah. Anehnya

ancarkan aksinya, membuat Giska merintih dengan jerit tertahan saat ujung dadanya

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
CEO Dingin Itu Penyelamatku
CEO Dingin Itu Penyelamatku
“Embun kira dengan menikahi pria yang dicintainya maka hidupnya akan bahagia, tapi ternyata dugaannya salah besar. Pria yang dinikahinya itu tak seperti apa yang Embun bayangkan selama ini. Bukan kehidupan rumah tangga penuh cinta, melainkan neraka yang diciptakan sang suami untuknya. Putra, suaminya mencintai wanita lain yang bahkan telah Embun anggap layaknya kakak sendiri. Embun tak tinggal diam, dan sebagai seorang istri dia rela melakukan berbagai macam cara demi bisa mendapatkan cinta suaminya. Namun, saat kehadirannya tak lagi dianggap, saat semua pengorbanan dan perjuangannya dipandang sebelah mata, akankah Embun tetap mempertahankan keutuhan rumah tangganya? "Cintai aku sedikit saja, Kak," lirih Embun pilu usai menghabiskan malam bersama Putra. Bukan kata cinta yang Embun impikan selama ini dapat dia dengar, melainkan seperti sebilah pisau yang menghujam jantungnya saat suaminya menggaungkan nama wanita lain di akhir penyatuan mereka.”