icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 7
7. Begitu Banyak Rahasia
Jumlah Kata:1110    |    Dirilis Pada: 01/07/2022

Embun memejamkan mata ketika merasakan pergerakan Putra pada bibirnya. Jujur, perlakuan Putra membuatnya terbuai. Embun begitu meresapi setiap apa yang dilakukan Putra pada bibirnya. Ini adalah merupakan ciuman pertamanya, yang berarti juga pengalaman pertama bagi Embun. Antara bahagia, tapi juga waspada lantaran pada akhirnya Putra melakukan hal itu padanya.

Putra menyeringai di sela ciumannya menyadari ini merupakan pengalaman pertama bagi sang istri. Ia dapat merasakan tubuh Embun bergetar dalam pelukannya, pun gadis itu yang sama sekali tak melakukan perlawanan. Dalam hatinya lelaki itu bersorak menyadari dirinya yang pertama untuk Embun. Akal pikiran Putra sungguh sepenuhnya telah dikuasai oleh gairah. Ciuman yang semula begitu pelan dan penuh penghayatan, berubah menjadi begitu mendalam dan menuntut. Putra menelusupkan jemarinya pada tengkuk Embun untuk memperdalam pagutannya.

Bahkan kedua dada mereka saling menghimpit satu sama lain, deru napas mereka terdengar memburu saling bersahutan. Hingga lenguhan pertama Embun lolos dari bibirnya, tapi teredam akibat ciuman Putra. Jemari Putra pun mulai tak tinggal diam, mulai berkelana mencari satu titik hingga ia bisa memainkan benda itu yang membuat Embun semakin menggelinjang.

Namun, kenikmatan yang sempat membuat Embun hampir lupa diri itu berakhir ketika Embun kembali tersadar akan tujuannya melakukan rencana pertama.

'Ini tidak benar.' tanpa sengaja Embun mendorong dada suaminya dari atas tubuhnya.

Hal itu tentu saja mengundang tanya dalam benak Putra. Ia yang masih dalam posisinya terjengkang dan hampir saja jatuh dari pembaringan seandainya saja tak bertopang pada kedua sikunya yang bertumpu pada bibir ranjang. Tercengang. Putra sampai tak bisa berkata-kata saking terkejutnya lantaran kegiatan menyenangkan itu berakhir begitu saja.

"Ehm, ma-maaf Kak. Tiba-tiba saja aku merasa seperti ...,"

Belum sempat Embun melanjutkan perkataannya, suara getaran ponsel lebih dulu menyela.

Putra yang panik gegas mencari keberadaan ponselnya yang tadi dia taruh asal, takut terpergok Embun. Putra yakin Giska mencoba untuk menghubunginya lagi.

"Ponsel kamu, Kak?" Kata Embun seraya menyodorkan benda tipis itu pada suaminya. Ternyata benda itu berada tak jauh dari tubuhnya.

"I-iya." Putra langsung menyambar benda itu dan memarahi si penelepon.

"Bisa nggak sih kalau nggak penting-penting banget itu nggak usah telepon aku? Aku kan sedang cuti menikah dan sedang bulan madu saat ini. Untuk sementara waktu urusan rumah sakit serahkan saja pada dokter Venia, paham?" Pria itu menyentak keras dengan napas memburu.

Entah mengapa Putra terlihat begitu kesal karena kegiatan mengasyikkannya tadi menjadi terganggu. Gairah yang sempat memuncak mendadak lenyap, menguap di udara.

Namun, mustahil bagi Putra untuk memarahi kekasihnya di hadapan Embun. Di sisi lain dia begitu takut jika Embun sampai mengetahui hubungan gelapnya, jadilah Putra berpura-pura memarahi si penelepon.

"Sabar, Kak." Embun mengusap bahu suaminya.

"Duh, iya deh maaf. Mama lupa kalau anak Mama sedang bulan madu sekarang, padahal tadinya Mama cuma mau tanya kabar kalian. Maaf deh sudah ganggu."

Putra dan Embun saling bertatapan. Putra menurunkan ponsel dari daun telinganya, ternyata sang mama yang menghubunginya dan bukannya Giska. Putra menghela napas lega.

"Mama," Cicit Putra setengah berbisik, menjawab rasa penasaran Embun.

"Ya Ma, maaf. Tadi aku kira yang telepon asistenku di rumah sakit, dia memang terkadang sangat cerewet. Maaf ya Ma?"

"Ya Nak, nggak apa-apa. Embun bagaimana kabarnya? Kalian berdua baik-baik saja kan?" Widya menyahut di ujung telepon.

"Ya Ma, kami baik-baik saja. Ini aku sama Embun baru mau tidur." Putra melirik istrinya sekilas. Matanya masih merah menahan gairah yang sempat padam tadi.

"Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya ya. Selamat bersenang-senang. Mama tunggu kabar baiknya."

Perkataan yang dilontarkan Widya entah mengapa membuat sudut bibir Putra melekuk. Impiannya memiliki rumah tangga yang harmonis lengkap dengan anak-anak yang lucu hanya ia labuhkan pada Giska. Akan tetapi lantaran gairahnya pada Embun tadi, ia menjadi berbunga hanya karena mendengar perkataan Widya yang menyinggung soal anak.

Lelaki itu kembali menyimpan ponselnya di nakas, kemudian beralih menatap Embun yang masih bertahan dengan posisinya. Embun mendekap erat bantal untuk menutupi tubuhnya, dia bisa melihat kilat gairah yang terpancar dari sorot mata Putra. Ternyata hasrat yang menguasai sang suami belum sepenuhnya lenyap dan Embun tahu apa yang diinginkan pria itu.

"Embun," Lirih Putra memanggil istrinya dengan tatapan begitu mendamba. Tubuhnya bergerak maju memangkas jarak.

Namun, Embun tak membiarkan pria itu berbuat lebih meski Putra adalah suaminya. Embun sadar masih ada banyak rencana yang harus dia lakukan demi memastikan dia mendapatkan hati Putra. Embun tak ingin mereka melakukan itu tanpa didasari dengan adanya cinta.

"Embun?" Putra menatap penuh tanya kala Embun menepis tangannya dan mendorong pelan dadanya.

"Ma-maaf, Kak." Embun beringsut dari sana, tapi kalah cepat karena Putra berhasil menahannya.

"Apa maksudmu, Embun?"

Gadis itu memalingkan wajah mendapati Putra menatapnya sedemikian rupa. Dari pancaran mata itu, rasa kecewa yang paling mendominasi.

"Maaf Kak, sepertinya kita belum bisa melanjutkan kegiatan tadi?" Berbicara sambil menundukkan kepala.

"Iya, tapi kenapa?" Putra nampak begitu kesal.

"Sepertinya aku kedatangan tamu bulananku. Ini baru mau aku cek."

"Argh! Sialan!" Putra melepas pergelangan tangan istrinya. "Cepat cek, apa siklus haidmu benar-benar datang atau hanya perasaanmu saja."

Embun mengangguk. Sengaja ia berjalan lambat ke kamar mandi untuk membuat suaminya semakin tersiksa. Sementara itu begitu masuk kamar mandi, Embun menahan tawa.

"Nggak semudah itu aku menyerahkan diri, kak. Jikapun nggak ada sedikit cinta di hatimu untukku, setidaknya perasaanmu pada Giska telah lenyap," Monolognya pelan.

Embun gegas mengganti pakaiannya dan memasang benda lembut bersayap pada pakaian dalamnya agar Putra tak curiga.

"Maafkan aku kak, terpaksa aku berbohong karena sejujurnya aku juga memikirkan nasib anak kita seandainya aku hamil sementara kamu berniat untuk menceraikanku. Aku pasti akan memberikan hakmu, tapi tidak sekarang. Aku masih terlalu takut," Gumam Embun lagi.

Putra menyentak napas kasar manakala rungunya mendengar daun pintu terbuka dan melihat sang istri telah berganti pakaian, semua itu cukup menjawab kekhawatirannya.

"Gagal deh."

Embun mendengar dengan jelas bagaimana suaminya itu mendengus kesal. Ia berusaha menahan tawanya. Menurutnya, lucu sekali seorang pria yang katanya mencintai wanita lain, tapi tetap tak menolak ketika ada wanita yang sengaja mendatanginya, menyajikan kenikmatan lain yang terasa lebih menggoda.

Teringat hal itu membuat hati Embun diliputi kesedihan. Embun ingat bagaimana suaminya berciuman bersama kekasihnya dengan begitu ganas. Embun dibuat merinding sendiri memikirkan kalau-kalau dua orang itu juga bergumul di ranjang, saling memadu cinta bertukar peluh bersama. Embun tak sanggup membayangkan kalau selama ini Putra dan Giska sering melakukan hal itu tanpa sepengetahuannya.

Sampai kemudian lamunan Embun terputus, suaminya terus menggerutu sambil berlalu menuju kamar mandi. Embun yang tak tahu harus berbuat apa memilih tidur lebih dulu.

'Ini baru awal, dan perjalananku masih sangat jauh. Aku harus segera mencari tahu sudah sejauh apa hubungan Kak Putra dan Giska.'

Tanpa terasa butiran bening itu meluncur membelai pipi Embun tatkala ia memejamkan mata. Ternyata kehidupan rumah tangganya tak seindah seperti apa yang dia bayangkan selama ini. Masih ada begitu banyak rahasia yang disembunyikan Putra darinya. Selain tentang hubungan gelap suaminya dengan Giska, Embun juga perlu tahu alasan dibalik Putra menikahinya.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 1. Ternyata Bukan Aku Pemilik Hatinya2 Bab 2 2. Ditinggalkan Di Malam Pertama3 Bab 3 3. Tak Tinggal Diam4 Bab 4 4. Tak Ingin Terbuai5 Bab 5 5. Wanita Seperti Apa 6 Bab 6 6. Strategi Pertama7 Bab 7 7. Begitu Banyak Rahasia8 Bab 8 8. Menuntaskan Kerinduan9 Bab 9 9. Kecewa10 Bab 10 10. Pertikaian Kecil11 Bab 11 11. Hampir Tertangkap Basah12 Bab 12 12. Akting Yang Sempurna13 Bab 13 13. Nasehat Bella14 Bab 14 14. Rela Melakukan Apa Saja15 Bab 15 15. Sebatas Mimpi16 Bab 16 16. Mengamuk17 Bab 17 17. Sebuah Keputusan18 Bab 18 18. Tragedi19 Bab 19 19. Tragedi Part 220 Bab 20 20. Hanya Orang Asing21 Bab 21 21. Curiga22 Bab 22 22. Hadiah Ulang Tahun23 Bab 23 23. Akhirnya Terbongkar24 Bab 24 24. Berita Besar25 Bab 25 25. Mencari Tahu26 Bab 26 26. Kembali Mencari Bukti27 Bab 27 27. Meninggalkan Semua Kenangan28 Bab 28 28. Kehilangan29 Bab 29 29. Tanpa Kabar Berita30 Bab 30 30. Membuka Lembaran Baru31 Bab 31 31. Tiga Purnama32 Bab 32 32. Hampa33 Bab 33 33. Insiden Kecil34 Bab 34 34. Karma35 Bab 35 35. Sesal Putra36 Bab 36 36. Mulai Terkuak37 Bab 37 37. Bukti Lain38 Bab 38 38. Hutang Yang Harus Dibayar39 Bab 39 39. Hancur Lebur40 Bab 40 40. Mengembalikan Nama Baik Embun41 Bab 41 41. Tak Sendiri Lagi42 Bab 42 42. Benar-benar Hancur43 Bab 43 43. Jatuh Cinta 44 Bab 44 44. Kasmaran45 Bab 45 45. Mulai Berjuang46 Bab 46 46. Pacar Pura-pura47 Bab 47 47. Bisikan Cinta Di Bawah Rintik Gerimis48 Bab 48 48. Hukuman Bagi Putra49 Bab 49 49. Gerak Cepat50 Bab 50 50. Tetangga Baru51 Bab 51 51. Lamaran52 Bab 52 52. Cinta Yang Bersambut53 Bab 53 53. Cincin Pengikat54 Bab 54 54. Akhirnya55 Bab 55 55. Suami Idaman56 Bab 56 56. Pertemuan Yang Tak Disengaja57 Bab 57 57. Penantian Yang Berakhir Manis58 Bab 58 58. Bukan Om-om Biasa59 Bab 59 59. Tak Sebanding60 Bab 60 60. Ikrar Suci61 Bab 61 61. Romantisme Pengantin Baru62 Bab 62 62. Senjata Makan Tuan63 Bab 63 63. Mas Davi 64 Bab 64 64. Embun Yang Memulai65 Bab 65 65. Candu Yang Mematikan66 Bab 66 66. CEO Dingin Itu Penyelamatku67 Bab 67 67. Tragedi Di Kantor Davi68 Bab 68 68. Gelora Dalam Lift69 Bab 69 69. Kedalaman Rasa70 Bab 70 70. Lelaki Terakhir71 Bab 71 71. Kabar Mengejutkan72 Bab 72 72. Bersedia Untuk Berlutut73 Bab 73 73. Kekuatan Cinta74 Bab 74 74. Tak Mengenalnya75 Bab 75 75. Berakhir Sia-sia76 Bab 76 76. Cari Masalah77 Bab 77 77. Salah Memilih78 Bab 78 78. Lahirnya Kebahagiaan79 Bab 79 79. Sedikit Masalah80 Bab 80 80. Jalan Keluar81 Bab 81 81. Dengan Cara Lain82 Bab 82 82. Terlalu Takut83 Bab 83 83. Mimpi Buruk84 Bab 84 84. Akan Berakhir85 Bab 85 85. Tenggelam Dalam Cinta86 Bab 86 86. Menantikan Hari Baru87 Bab 87 87. Memberikan Kejutan88 Bab 88 88. Bukan Sembarang Orang89 Bab 89 89. Baru Permulaan90 Bab 90 90. Kehilangan Semangat Hidup91 Bab 91 91. Ternyata Masih Belum Berakhir92 Bab 92 92. Lubang Di Hati93 Bab 93 93. Cinta Yang Senantiasa Terjaga94 Bab 94 94. Dengan Status Yang Berbeda95 Bab 95 95. Wanita Yang Berbeda96 Bab 96 96. Bumbu Cinta97 Bab 97 97. Menua Bersama98 Bab 98 98. Akhir Kisah Yang Menantang Takdir99 Bab 99 99. Cinta Luar Biasa100 Bab 100 100. Sedikit Drama