icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 4
4. Tak Ingin Terbuai
Jumlah Kata:1206    |    Dirilis Pada: 01/07/2022

Tubuh sepasang kekasih itu membeku di tempat, bahkan untuk sekedar memalingkan wajah pun terasa amat berat. Putra memejamkan mata. Suara Satria terdengar amat jelas dan hanya sekat tipis yang memisahkan mereka saat ini.

"Hei! Kenapa hanya berdiri saja di situ? Cepat kemarilah!"

Suara Satria kembali memecah keheningan yang sempat tercipta. Tubuh Putra dan Giska semakin menggigil ketakutan.

"Apa kau tuli! Cepat kemari! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada adikku." Satria kembali menghardik.

"Kakak, kenapa Kakak memarahinya? Aku yang salah karena kurang berhati-hati tadi, aku jatuh karena menabraknya jadi seharusnya aku yang minta maaf padanya." Embun menyahut.

Putra dan Giska saling berpandangan, keduanya masih mencerna perkataan Embun barusan sebelum akhirnya mereka sama-sama menoleh dan menghela napas lega begitu mengetahui kejadian yang sebenarnya. Saat perhatian Satria teralihkan pada pembicaraannya dengan Embun, buru-buru Putra mendorong tubuh kekasihnya untuk masuk ke dalam toilet sebelum ada orang yang memergoki mereka tengah berduaan di sana.

"Aku kira rahasia kita akan terbongkar detik ini juga," Lirih Giska sebelum ia menutup daun pintu.

"Dan aku nggak akan membiarkan semuanya terjadi sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan." Putra menyempatkan diri mencium kening Giska sebelum ia berlalu dari sana.

Sementara itu di balik sekat pemisah, Embun meringis memegangi kakinya yang terasa nyeri. Baru saja dia menabrak salah satu pelayan yang kebetulan melintas di depannya, lantaran terburu-buru mengejar Satria.

"Biar Kakak periksa." Satria melepas sepatu yang membungkus telapak kaki adiknya. "Takutnya kaki kamu terkilir," imbuhnya.

"Astaga, Embun? Kamu kenapa? Apa yang terjadi?"

Putra menghambur ke sisi istrinya ikut mengecek kaki gadis yang selama ini hanya dianggapnya sebagai adik.

Satria hendak menyembur Putra, tapi teringat tujuannya semula membuntuti adik iparnya membuatnya urung dan memilih bungkam.

"Enggak apa-apa, Kak. Tadi nggak sengaja nabrak orang."

Gadis itu tersenyum getir melihat suaminya begitu pandai memerankan lakonnya, tak ubah seperti seorang suami yang sosoknya tampak sempurna di mata orang.

"Syukurlah kaki kamu nggak apa-apa." Putra menggumam usai memeriksa kaki istrinya dan kembali memakaikan sepatu itu.

"Ya sudah, Kakak mau ke toilet dulu, kamu balik ke meja sama suamimu saja ya." Satria bangkit dari lantai.

"Tidak perlu terlalu mencemaskannya begitu, adikmu juga adalah istriku, sudah tentu aku akan menjaganya," tukas Putra.

'Istri yang tak dianggap, dan bahkan akan diceraikan setahun yang akan datang, tapi jangan harap aku akan tinggal diam, kak. Akan aku pastikan kamu akan menjilat ludahmu sendiri. Kamu pasti akan jatuh cinta padaku.' janji Embun dalam hati.

Satria berlalu dari sana tanpa mengucapkan kalimat lagi, sedangkan Putra membantu menggendong Embun untuk kembali ke meja makan.

Dari ekor matanya Embun sempat melirik ke arah Giska yang ternyata sedang berdiri di balik sekat setelah Satria memasuki kamar mandi. Wajah kekasih Putra itu tampak menahan kesal, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya terlebih ketika melihat Embun menyandarkan kepalanya di bahu Putra dengan manja.

'Jika kalian bisa berakting, aku pun bisa melakukannya. Akan aku mainkan peranku dengan baik.' Embun memejamkan mata semakin menempelkan tubuhnya di dada sang suami, sengaja memanas-manasi Giska.

***

Sepanjang acara sarapan itu berlangsung, Giska tak henti menyentak napas. Sedari tadi ia hanya memainkan sendok tanpa menelan makanannya sedikit pun. Perubahan wanita itu mungkin tak begitu tampak bagi orang lain lantaran Giska terbiasa berkamuflase, tapi tidak bagi Embun. Selihai apa pun Giska berusaha menutupi kecemburuan akan kedekatan Embun dan Putra, dengan bersikap biasa, nyatanya Embun dapat melihat kekesalan yang terkumpul dalam diri rivalnya itu.

"Nanti kalian mau bulan madu ke mana? Sudah ada rencana kan sebelumnya?"

Pertanyaan Widya membuat suasana hati Giska semakin memburuk. Bagaimana Giska tak sakit hati saat melihat wanita yang dia harapkan bisa menjadi ibu kedua baginya, terang-terangan begitu memperhatikan gadis lain. Meski telah mempersiapkan mental sebelum menerima keputusan Putra untuk menikahi Embun, tetap saja serasa ada yang melukai sebongkah daging merah yang tersembunyi di balik rongga dada Giska.

"Kalau Embun ngikut Kak Putra saja, Ma. Lagi pula dia kan sibuk di rumah sakit, aku nggak mau sampai mengganggu kegiatannya." Embun melirik suaminya, kemudian tatapannya berpindah pada wanita yang kini duduk di hadapannya. Sudut bibirnya melekuk samar.

"Bukan berarti kalian akan menunda bulan madunya, kan? Suamimu itu dapat cuti seminggu, dan lagi dia kan bekerja di rumah sakit milik keluarga. Putra pasti akan mendapatkan kompensasi." Widya kembali menyahut.

"Mama tuh ya, Embun saja yang istriku mendukung karirku, ini Mama kelihatan semangat banget seolah Mama yang mau pergi bulan madu." Suami Embun itu mencebik.

"Mau bagaimana lagi, kamu itu anak Mama satu-satunya. Mama sudah nggak sabar ingin merasakan bagaimana rasanya menimang cucu." Beralih menatap Embun yang duduk di sampingnya, meraih tangan gadis itu. "Mama tahu kamu masih sangat muda dan pasti masih banyak sekali pencapaian yang ingin kamu raih, tapi Mama minta sama kamu, jangan pakai kontrasepsi ya? Alami saja, urusan hamil nanti entah cepat atau dikasih lambat asalkan sudah berusaha," Ucapnya pada Embun.

"Ya, Ma. Saat memutuskan untuk menikah dengan Kak Putra, aku juga sudah siap dengan segala konsekwensinya, termasuk jika harus punya anak di usia muda. Nggak masalah."

"Syukurlah kalau begitu."

Putra terpekur menatap isi piringnya, sementara Giska terlihat gelisah sambil sesekali melirik sang kekasih. Tanpa berniat menghabiskan sarapannya, Giska berpamitan pada semua orang lantaran harus pergi ke rumah sakit. Pun dengan Satria dan Bella.

Sepasang suami istri itu kini telah berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah sakit.

"Kamu tuh kenapa sih? Aku perhatikan sejak kemarin sore uring-uringan terus. Ini adalah hari bahagia Embun, harusnya kamu ikut bahagia, Sayang."

Pada akhirnya Bella buka suara karena melihat suaminya yang terus memasang wajah masam.

"Jujur aku takut. Embun itu masih terlalu muda untuk menikah, aku takut dia akan menemui banyak masalah. Dia harus bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya." Melirik istrinya sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada medan jalan di depannya.

"Biarpun begitu Embun bukan anak kecil lagi. Menurutku dia bahkan jauh lebih dewasa ketimbang gadis lain seusianya dan aku percaya dia bisa menjadi istri yang baik buat suaminya. Jangan terlalu mencemaskannya." Bella mengusap bahu suaminya sekedar mengurangi rasa cemas dalam diri pria itu.

Setelahnya hanya ada kebisuan panjang yang tercipta hingga keduanya sampai di rumah sakit.

***

Putra terperanjat saat mendengar daun pintu kamar mandi terbuka, ponsel dalam genggamannya hampir saja terlepas seandainya saja dia tak bisa menguasai diri atas keterkejutannya.

'Dia pasti sedang berbalas pesan dengan kekasihnya.' Embun melangkah ragu menghampiri Putra yang kini duduk di bibir ranjang.

Keduanya sama-sama diam dan canggung berada dalam posisi yang cukup dekat saat ini. Seandainya saja Embun tak mengetahui fakta menyakitkan tentang perasaannya yang ternyata bertepuk sebelah tangan, mungkin dia sudah menghamburkan diri ke dalam pelukan suaminya dan bermanja pada pria itu.

Namun, sayangnya Embun harus bisa menahan diri. Rasanya sungguh tidak nyaman.

"Hm, kamu tiduran saja kalau capek." Putra berujar kaku seakan lidahnya terselip di dalam rongga mulutnya.

Embun membeliak. Memang apa yang bisa dia harapkan? Jangan harap akan terjadi sesuatu yang indah seperti yang kebanyakan pasangan pengantin baru rasakan begitu menikah. Embun memang telah menyusun rencana kedepannya, tapi untuk saat ini dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Suaminya itu sepertinya berkeras hati mempertahankan janjinya pada Giska untuk tidak menjamahnya sama sekali.

"Kita bisa pulang kalau memang Kakak nggak nyaman berada di sini," Cetus Embun mengejutkan suaminya.

Pria itu ternganga menatap Embun, tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan istrinya.

'Strategi pertama mungkin akan lebih mudah dilakukan saat aku pergi dari tempat terkutuk seperti ini. Jangan sampai aku terbuai dengan keadaan sebelum aku memastikan suamiku melupakan kekasihnya.'

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 1. Ternyata Bukan Aku Pemilik Hatinya2 Bab 2 2. Ditinggalkan Di Malam Pertama3 Bab 3 3. Tak Tinggal Diam4 Bab 4 4. Tak Ingin Terbuai5 Bab 5 5. Wanita Seperti Apa 6 Bab 6 6. Strategi Pertama7 Bab 7 7. Begitu Banyak Rahasia8 Bab 8 8. Menuntaskan Kerinduan9 Bab 9 9. Kecewa10 Bab 10 10. Pertikaian Kecil11 Bab 11 11. Hampir Tertangkap Basah12 Bab 12 12. Akting Yang Sempurna13 Bab 13 13. Nasehat Bella14 Bab 14 14. Rela Melakukan Apa Saja15 Bab 15 15. Sebatas Mimpi16 Bab 16 16. Mengamuk17 Bab 17 17. Sebuah Keputusan18 Bab 18 18. Tragedi19 Bab 19 19. Tragedi Part 220 Bab 20 20. Hanya Orang Asing21 Bab 21 21. Curiga22 Bab 22 22. Hadiah Ulang Tahun23 Bab 23 23. Akhirnya Terbongkar24 Bab 24 24. Berita Besar25 Bab 25 25. Mencari Tahu26 Bab 26 26. Kembali Mencari Bukti27 Bab 27 27. Meninggalkan Semua Kenangan28 Bab 28 28. Kehilangan29 Bab 29 29. Tanpa Kabar Berita30 Bab 30 30. Membuka Lembaran Baru31 Bab 31 31. Tiga Purnama32 Bab 32 32. Hampa33 Bab 33 33. Insiden Kecil34 Bab 34 34. Karma35 Bab 35 35. Sesal Putra36 Bab 36 36. Mulai Terkuak37 Bab 37 37. Bukti Lain38 Bab 38 38. Hutang Yang Harus Dibayar39 Bab 39 39. Hancur Lebur40 Bab 40 40. Mengembalikan Nama Baik Embun41 Bab 41 41. Tak Sendiri Lagi42 Bab 42 42. Benar-benar Hancur43 Bab 43 43. Jatuh Cinta 44 Bab 44 44. Kasmaran45 Bab 45 45. Mulai Berjuang46 Bab 46 46. Pacar Pura-pura47 Bab 47 47. Bisikan Cinta Di Bawah Rintik Gerimis48 Bab 48 48. Hukuman Bagi Putra49 Bab 49 49. Gerak Cepat50 Bab 50 50. Tetangga Baru51 Bab 51 51. Lamaran52 Bab 52 52. Cinta Yang Bersambut53 Bab 53 53. Cincin Pengikat54 Bab 54 54. Akhirnya55 Bab 55 55. Suami Idaman56 Bab 56 56. Pertemuan Yang Tak Disengaja57 Bab 57 57. Penantian Yang Berakhir Manis58 Bab 58 58. Bukan Om-om Biasa59 Bab 59 59. Tak Sebanding60 Bab 60 60. Ikrar Suci61 Bab 61 61. Romantisme Pengantin Baru62 Bab 62 62. Senjata Makan Tuan63 Bab 63 63. Mas Davi 64 Bab 64 64. Embun Yang Memulai65 Bab 65 65. Candu Yang Mematikan66 Bab 66 66. CEO Dingin Itu Penyelamatku67 Bab 67 67. Tragedi Di Kantor Davi68 Bab 68 68. Gelora Dalam Lift69 Bab 69 69. Kedalaman Rasa70 Bab 70 70. Lelaki Terakhir71 Bab 71 71. Kabar Mengejutkan72 Bab 72 72. Bersedia Untuk Berlutut73 Bab 73 73. Kekuatan Cinta74 Bab 74 74. Tak Mengenalnya75 Bab 75 75. Berakhir Sia-sia76 Bab 76 76. Cari Masalah77 Bab 77 77. Salah Memilih78 Bab 78 78. Lahirnya Kebahagiaan79 Bab 79 79. Sedikit Masalah80 Bab 80 80. Jalan Keluar81 Bab 81 81. Dengan Cara Lain82 Bab 82 82. Terlalu Takut83 Bab 83 83. Mimpi Buruk84 Bab 84 84. Akan Berakhir85 Bab 85 85. Tenggelam Dalam Cinta86 Bab 86 86. Menantikan Hari Baru87 Bab 87 87. Memberikan Kejutan88 Bab 88 88. Bukan Sembarang Orang89 Bab 89 89. Baru Permulaan90 Bab 90 90. Kehilangan Semangat Hidup91 Bab 91 91. Ternyata Masih Belum Berakhir92 Bab 92 92. Lubang Di Hati93 Bab 93 93. Cinta Yang Senantiasa Terjaga94 Bab 94 94. Dengan Status Yang Berbeda95 Bab 95 95. Wanita Yang Berbeda96 Bab 96 96. Bumbu Cinta97 Bab 97 97. Menua Bersama98 Bab 98 98. Akhir Kisah Yang Menantang Takdir99 Bab 99 99. Cinta Luar Biasa100 Bab 100 100. Sedikit Drama