JALAN PULANG

JALAN PULANG

Ufuk Timur

5.0
Komentar
607
Penayangan
20
Bab

Seorang wanita karier sukses memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun meninggalkannya. Kembali ke sana membuka luka lama tentang cinta pertamanya dan trauma masa kecil yang tidak pernah terselesaikan. Ia harus menghadapi mantan kekasihnya dan keputusan yang bisa mengubah hidupnya.

JALAN PULANG Bab 1 Panggilan Masa Lalu

Karina memandang keluar jendela apartemennya di lantai 20, melihat gemerlap lampu kota yang tak pernah tidur. Malam di Jakarta selalu sibuk, sama seperti hidupnya. Telepon di mejanya berdering, memecah keheningan sesaat yang jarang ia temui. Dengan enggan, ia meraih ponsel yang tergeletak di antara tumpukan dokumen kontrak yang harus ia selesaikan. Nama di layar membuat hatinya berdebar-Ibu.

"Ya, Bu?" suara Karina terdengar kaku. Ia sudah lama tidak berbicara dengan ibunya, percakapan mereka sering terasa formal, nyaris seperti orang asing yang tidak lagi saling mengenal.

"Karina... Ibu sakit," suara di seberang telepon terdengar rapuh, penuh dengan kerinduan dan keletihan. "Dokter bilang... mungkin waktunya tidak banyak lagi."

Seketika, ruang kerja yang penuh sesak dengan dokumen dan laptop terasa sempit. Kata-kata ibunya menggantung di udara seperti beban tak terlihat yang tiba-tiba menekan dadanya. Karina memejamkan mata, mencoba mengendalikan perasaannya. Sudah dua puluh tahun ia meninggalkan kampung halaman, dua puluh tahun sejak ia memutuskan untuk mengejar mimpi di kota besar dan tidak menengok ke belakang.

"Ibu... sakit apa?" tanya Karina setelah jeda yang panjang. Suaranya sedikit bergetar meskipun ia berusaha tetap tenang.

"Kanker. Sudah stadium lanjut," jawab ibunya, kali ini lebih pelan, seolah-olah berbicara tentang penyakit itu membuatnya semakin lemah. "Kamu... kapan pulang?"

Kata-kata itu menusuk Karina. Pulang. Kata yang terasa begitu asing baginya. Sudah dua dekade berlalu sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di rumah lamanya di desa kecil itu. Desa yang penuh dengan kenangan yang ingin ia lupakan-tentang ayahnya yang keras, ibunya yang lemah, dan Arman... cinta pertamanya yang hilang tanpa jejak.

"Aku tidak tahu, Bu," Karina menjawab dengan suara datar. "Aku... banyak pekerjaan."

"Kamu harus pulang, Karina. Ibu ingin melihatmu sebelum...," suara ibunya terputus, hanya terdengar isak tangis yang ditahan. Karina menutup matanya erat, mencoba melawan perasaan bersalah yang mulai merayapi hatinya.

Setelah menutup telepon, Karina melemparkan ponselnya ke meja dengan frustrasi. Kepalanya penuh dengan pikiran yang saling bertabrakan. Bagaimana jika ibunya benar-benar tidak memiliki banyak waktu lagi? Namun, pulang berarti menghadapi semua yang selama ini ia coba lupakan-keluarga, kenangan buruk, dan Arman.

Langkah-langkah Karina terasa berat saat ia berjalan menuju balkon apartemennya. Angin malam yang sejuk menyapu wajahnya, sejenak menenangkan pikirannya. Dari balkon, ia bisa melihat seluruh pemandangan kota Jakarta yang gemerlap di bawah sana. Kota yang telah memberinya segalanya-kesuksesan, karier, kekayaan-tetapi juga merampas satu hal yang paling mendasar: rumah.

Karina memejamkan matanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Selama bertahun-tahun, ia berhasil menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, dalam rutinitas yang tak pernah berhenti, seolah-olah semua itu bisa menghapus masa lalu. Tetapi, panggilan dari ibunya membangunkan sesuatu yang sudah lama ia coba kubur. Dan kini, ia dihadapkan pada keputusan yang sulit.

Apakah ia siap kembali ke tempat yang telah meninggalkan bekas luka di hatinya? Tempat di mana ia kehilangan banyak hal-dan mungkin, menemukan kembali bagian dari dirinya yang hilang?

Dengan napas panjang, Karina akhirnya membuka matanya. Mungkin, sudah waktunya untuk pulang.

Karina memandangi pemandangan kota yang gemerlap di hadapannya, mencoba meredakan gejolak perasaan di dalam hatinya. Ia tahu bahwa keputusan untuk kembali ke kampung halaman tidaklah mudah.

Jakarta telah menjadi rumahnya selama dua puluh tahun terakhir-kota ini adalah tempat di mana ia membangun karier gemilang sebagai salah satu eksekutif perempuan paling berpengaruh di perusahaannya. Setiap sudut kota ini menyimpan kenangan tentang ambisinya, kerja kerasnya, dan kesuksesannya. Namun, ada sesuatu yang tetap tidak terisi dalam dirinya.

Kenangan tentang masa lalu, terutama tentang Arman, muncul seiring dengan panggilan telepon dari ibunya tadi. Arman adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu berhasil membuat hatinya berdebar hanya dengan satu senyuman. Mereka pernah merencanakan masa depan bersama, namun semua itu runtuh dengan tiba-tiba. Ia masih ingat hari ketika ia memutuskan untuk pergi, meninggalkan Arman dan seluruh kehidupannya di kampung, untuk mengejar impian di kota besar. Ketika itu, Karina bertekad tidak akan menoleh ke belakang, tetapi sekarang ia tidak bisa menghindari kenyataan bahwa masa lalu selalu membayangi dirinya.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini bukan dari ibunya, melainkan dari Andi, asistennya yang setia.

"Karina, aku butuh konfirmasi untuk rapat besok pagi. Ada klien besar yang ingin bertemu," suara Andi terdengar terburu-buru di ujung sana.

Karina menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Selama bertahun-tahun, ia selalu mengutamakan pekerjaannya. Setiap jadwal rapat, presentasi, dan proyek besar adalah prioritas yang tidak bisa diganggu gugat. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak yakin. Haruskah ia tetap tinggal dan menjalankan rutinitas seperti biasa, atau... apakah sudah waktunya untuk memprioritaskan keluarganya yang selama ini ia abaikan?

"Karina? Kamu dengar aku?" tanya Andi, suaranya terdengar sedikit khawatir di ujung sana.

Karina menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ya, Andi, aku dengar. Tapi... besok aku tidak bisa datang."

"Maaf?" tanya Andi terkejut. "Apa kamu bilang tidak bisa datang?"

"Ya, aku harus pulang ke kampung halamanku. Ibuku sakit," jawab Karina dengan tegas, meski ada perasaan aneh yang menyelubungi dirinya saat ia mengucapkan kata-kata itu. Pulang-kata yang dulu terasa begitu asing kini mulai memiliki arti lain baginya.

"Apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu?" tanya Andi dengan nada khawatir.

"Tidak, Andi. Aku hanya butuh waktu. Tolong urus semuanya di sini sementara aku pergi, ya?"

Setelah menutup telepon, Karina merasa berat di dadanya berkurang sedikit. Keputusan untuk pulang akhirnya diambil, meskipun perasaan campur aduk masih menggelayuti pikirannya. Ia menyadari bahwa kepulangannya bukan hanya tentang ibunya yang sakit, tetapi juga tentang menghadapi luka yang selama ini ia hindari.

Malam semakin larut, dan Karina tahu bahwa perjalanan pulangnya nanti akan jauh lebih dari sekadar fisik. Ini akan menjadi perjalanan batin yang panjang-mungkin bahkan lebih menantang daripada perjalanan kariernya yang selama ini ia jalani di Jakarta. Ia akan menghadapi kembali kampung kecil yang dulu ia tinggalkan, tempat di mana kenangan masa kecil dan trauma lama menunggu untuk dibuka kembali.

Ia tahu, tidak ada jalan mudah untuk menghadapi masa lalu. Tapi satu hal yang pasti: ia harus pulang.

Dengan keputusan itu, Karina mulai membereskan barang-barangnya. Setiap gerakan terasa lambat, seolah-olah ia sedang mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman. Bagasi emosional yang ia bawa jauh lebih berat daripada koper yang nanti akan ia angkut ke bandara.

Ketika malam semakin larut, Karina berdiri di jendela, memandang lagi pemandangan kota yang selama ini menjadi dunianya. Sebuah pertanyaan terlintas di benaknya: apakah ia benar-benar siap untuk menghadapi semua yang telah ia tinggalkan? Apakah ia siap untuk melihat Arman lagi, dan apakah ia mampu memaafkan dirinya sendiri atas keputusan yang pernah ia buat?

Besok pagi, Jakarta akan terbangun seperti biasa, tetapi Karina akan pergi. Dan ia tidak tahu apa yang menantinya di sana-di tempat yang dulu ia sebut rumah.

Bersambung...

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Ufuk Timur

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku