JALAN PULANG
lu sibuk, sama seperti hidupnya. Telepon di mejanya berdering, memecah keheningan sesaat yang jarang ia temui. Dengan enggan, ia me
rbicara dengan ibunya, percakapan mereka sering terasa formal
dengar rapuh, penuh dengan kerinduan dan keletihan.
tak terlihat yang tiba-tiba menekan dadanya. Karina memejamkan mata, mencoba mengendalikan perasaannya. Sudah dua puluh tahun ia m
jeda yang panjang. Suaranya sedikit ber
i lebih pelan, seolah-olah berbicara tentang penyakit
akhir kali ia menginjakkan kaki di rumah lamanya di desa kecil itu. Desa yang penuh dengan kenangan yang ingin
menjawab dengan suara datar
a terputus, hanya terdengar isak tangis yang ditahan. Karina menutup mat
pikiran yang saling bertabrakan. Bagaimana jika ibunya benar-benar tidak memiliki banyak waktu lagi? Na
ejenak menenangkan pikirannya. Dari balkon, ia bisa melihat seluruh pemandangan kota Jakarta yang gemerlap di bawah sana. K
mkan dirinya dalam pekerjaan, dalam rutinitas yang tak pernah berhenti, seolah-olah semua itu bisa menghapus masa lalu. Tetapi
s luka di hatinya? Tempat di mana ia kehilangan banyak hal-da
khirnya membuka matanya. Mungk
mencoba meredakan gejolak perasaan di dalam hatinya. Ia tahu b
ilang sebagai salah satu eksekutif perempuan paling berpengaruh di perusahaannya. Setiap sudut kota ini menyimpan ken
engan satu senyuman. Mereka pernah merencanakan masa depan bersama, namun semua itu runtuh dengan tiba-tiba. Ia masih ingat hari ketika ia memutuskan untuk pergi, meninggalkan Arman dan seluruh kehidupann
Kali ini bukan dari ibunya, melain
k pagi. Ada klien besar yang ingin bertemu," s
si, dan proyek besar adalah prioritas yang tidak bisa diganggu gugat. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak yakin. Haruskah ia t
nya Andi, suaranya terdengar
m menjawab. "Ya, Andi, aku dengar. T
rkejut. "Apa kamu bil
, meski ada perasaan aneh yang menyelubungi dirinya saat ia mengucapkan kata-kata i
bisa aku bantu?" tanya
waktu. Tolong urus semuanya di
ya diambil, meskipun perasaan campur aduk masih menggelayuti pikirannya. Ia menyadari bahwa kepulanganny
batin yang panjang-mungkin bahkan lebih menantang daripada perjalanan kariernya yang selama ini ia jalani di Jakarta. Ia akan mengha
tuk menghadapi masa lalu. Tapi sa
ia sedang mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan kembali ke kampung h
Sebuah pertanyaan terlintas di benaknya: apakah ia benar-benar siap untuk menghadapi semua yang telah ia tinggalkan? Ap
tapi Karina akan pergi. Dan ia tidak tahu apa yang m
ambu