icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 5
Malam Pernikahan
Jumlah Kata:802    |    Dirilis Pada:21/10/2022

"Aku mengerti," jawab Rossa sambil tersenyum kecut.

Pernikahannya dengan Laskar hanyalah sebuah kesepakatan. Dia tidak berhak untuk ikut campur dalam kehidupan pribadi pria itu. Selain itu, Rossa merasa lebih nyaman ketika Laskar tidak berada di sekitarnya.

Setelah memasuki kamar, Rossa mengamati sekelilingnya. Di kamar tidur yang luas itu, terdapat perabotan mewah berwarna hitam putih yang tidak mencolok dengan dekorasi yang minimalis tetapi nyaman. Jelas, kamar ini adalah kamar tidur bujangan.

"Ini adalah kamar Tuan Wahid," jelas Siti sambil tersenyum ketika melihat Rossa yang sedang mengagumi dekorasi kamar.

Rossa membuka mulut dan hampir meminta untuk tinggal di kamar lain, tetapi pada akhirnya, dia hanya bisa mengangguk.

Malamnya, Rossa berguling-guling di tempat tidur. Karena tidak bisa tidur di tempat yang asing, akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk mencari pekerjaan melalui ponselnya. Dengan bekerja, dia bisa memiliki penghasilan yang stabil, merawat ibunya dengan baik, dan mempersiapkan masa depan yang cerah bagi bayinya.

Tiba-tiba, Rossa melihat lowongan pekerjaan sebagai seorang penerjemah. Yang membuatnya terkejut, perusahaan itu sedang mencari penerjemah yang mahir berbahasa Aven. Negeri Aven adalah negara asing di mana Peter mengasingkannya bersama ibunya.

Yang lebih mengejutkan adalah gaji yang cukup besar. Tanpa pikir panjang, Rossa langsung melamar pekerjaan itu. Setelah mengirim CV, dia meletakkan ponselnya dan perlahan-lahan tertidur.

Di luar, seberkas cahaya putih menerangi halaman dan sebuah mobil Maybach berhenti di depan vila. Tidak lama kemudian, Laskar masuk ke dalam kamar dengan terhuyung-huyung.

Dia menarik kerah kemejanya dengan tidak nyaman, lalu menuangkan segelas air dan menenggak semuanya sekaligus untuk meredakan sensasi terbakar di tenggorokannya. Dia minum banyak saat pesta ulang tahun Sonia. Biasanya dia adalah peminum yang baik, tetapi sekarang dia mabuk.

Sambil mengusap dahi, Laskar berjalan menuju tempat tidurnya. Tanpa pikir panjang, dia menjatuhkan diri ke tempat tidur dan langsung tertidur lelap.

Di tengah tidurnya, Rossa merasakan ada sesuatu yang bergerak di tempat tidur, tetapi dia tidak terlalu memikirkannya dan terus tertidur pulas.

Di pagi hari

Sinar matahari menyusup masuk ke dalam kamar seperti benang-benang emas yang menerangi seluruh ruangan.

Di tempat tidur, ada seorang wanita sedang tertidur nyenyak dengan meringkuk di atas lengan seorang pria. Bagi orang lain, mereka mungkin terlihat seperti pasangan yang manis.

Laskar membuka matanya secara perlahan. Kepalanya berdenyut-denyut. Tepat ketika dia hendak duduk di tempat tidur, dia menemukan ada sesuatu yang membebani lengannya. Dia menoleh ke samping dan menemukan seorang wanita sedang meringkuk di atas lengannya.

Kulitnya mulus dan halus, serta bulu matanya melengkung seperti sayap kupu-kupu. Bibirnya yang kemerahan sedikit terbuka saat dia bernapas dengan stabil. Posisi tidurnya menyamping. Melalui garis leher piyama wanita itu, dia samar-samar bisa melihat dadanya yang bulat.

Laskar tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan ludah. Saat ini, dia merasakan dorongan yang belum pernah dia rasakan saat bersama Sonia. Dia tidak menyangka seorang wanita yang baru dia temui dua kali akan membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.

Sementara itu, Rossa sedang berada di tengah mimpi yang menegangkan. Dalam mimpinya, ada seekor singa yang ganas sedang menatapnya, seolah-olah binatang buas itu ingin memangsanya.

Akhirnya, dia terbangun dari mimpinya dengan gelisah. Namun, begitu dia membuka matanya, dia melihat seorang pria sedang menatapnya. Dalam kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, pikirannya menjadi benar-benar kosong untuk sesaat.

Tiba-tiba, dia membelalak dan bertanya, "Kenapa kamu ada di tempat tidurku?!"

Laskar membuang muka dengan tenang dan mengangkat selimut sambil menjawab, "Ini tempat tidurku."

Rossa ingin membalas, tetapi ketika melihat di mana dia berada, dia menelan kata-kata di ujung lidahnya. "Bukankah kamu pergi untuk merayakan ulang tahun pacarmu? Kenapa kamu pulang?" tanya Rossa sambil melompat dari tempat tidur dan mundur beberapa langkah.

Karena Siti telah memberitahunya bahwa Laskar tidak akan pulang, dia jadi lengah. Saat memikirkan dia tidur di tempat tidur yang sama dengan Laskar, pipinya memerah. Dia menundukkan kepala dengan malu.

Laskar membuka kancing kemejanya dan melirik wanita yang sedang berdiri di sudut dalam kondisi kebingungan. Sambil tersenyum main-main, dia bertanya, "Apa ulang tahun pacarku lebih penting daripada malam pernikahanku?"

Begitu mendengar pertanyaan ini, Rossa kehilangan kata-kata. Pernikahan mereka hanya sebuah kesepakatan. Mereka bukan pasangan sungguhan. Malam pernikahan apa yang dia bicarakan?

Akan tetapi, sebelum Rossa bisa membalas, Laskar melepas kemejanya.

Rossa buru-buru membalikkan badan. Dia tidak menyangka pria itu akan melepas pakaian di hadapannya. Sejak malam itu, dia secara khusus menolak untuk berdekatan dengan pria.

Dia buru-buru berkata, "Aku mau keluar dulu." Tanpa menunggu jawaban, dia segera berlari keluar dari kamar.

Laskar mengabaikannya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Saat hendak mengambil beberapa potong pakaian dari lemari, dia menjatuhkan sebuah tas ransel secara tidak sengaja sehingga semua barang di dalam tas berjatuhan.

Dia tertegun sejenak dan bertanya-tanya apakah tas itu milik Rossa. Berani-beraninya? Wanita itu tidak ragu-ragu untuk meletakkan barang-barangnya di lemari pakaian miliknya.

Laskar mencibir dan berlutut untuk mengambil barang-barang yang berserakan di lantai. Tiba-tiba, secara sekilas, dia melihat sebuah dokumen dari rumah sakit. Dia mengernyitkan kening dan mengambilnya.

Rossa Bramantia, perempuan, 18 tahun, hamil enam minggu. Wanita itu hamil?!

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Pertama Kali2 Bab 2 Hamil3 Bab 3 Mengapa Kamu Berpura-pura4 Bab 4 Kesepakatan5 Bab 5 Malam Pernikahan6 Bab 6 Bergantung Satu Sama Lain7 Bab 7 Aborsi8 Bab 8 Sikap Seperti Apa yang Harus Kumiliki9 Bab 9 Wawancara Kerja10 Bab 10 Tidak Memenuhi Syarat untuk Pekerjaan11 Bab 11 Jangan Tertipu12 Bab 12 Panggil Aku Luis13 Bab 13 Kamu Bisa Berbicara Bahasa Aven14 Bab 14 Tak Terduga15 Bab 15 Apa Itu Bayimu 16 Bab 16 Bawa Aku ke Rumah Sakit17 Bab 17 Anak Haram18 Bab 18 Ciuman Tiba-Tiba19 Bab 19 Aroma Memikat20 Bab 20 Tidak Ada yang Namanya Cinta Sejati21 Bab 21 Pingsan22 Bab 22 Kecurigaan23 Bab 23 Aku Meremehkanmu24 Bab 24 Aku Mencintai Ayah Anakku25 Bab 25 Tidak Lumpuh26 Bab 26 Polos di Luar, Licik di Dalam27 Bab 27 Melompat Keluar dari Mobil yang Melaju Kencang28 Bab 28 Jangan Terlalu Baik Padaku29 Bab 29 Syarat30 Bab 30 Sesuatu Terjadi Padaku Tadi Malam31 Bab 31 Keributan di Dapur Kering32 Bab 32 Demi Malam Itu33 Bab 33 Rencana Andini34 Bab 34 Meminta Bantuan35 Bab 35 Kesempatan Langka36 Bab 36 Diberi Obat37 Bab 37 Jangan Sentuh Aku38 Bab 38 Apa Ini Hanya Kebetulan39 Bab 39 Biarkan Aku Menjagamu40 Bab 40 Bantu Aku41 Bab 41 Dia Adik Laki-lakiku42 Bab 42 Dunia Kita Berbeda43 Bab 43 Momen Damai44 Bab 44 Di Luar Kendali45 Bab 45 Bantu Aku Menghentikan Rasa Sakitnya46 Bab 46 Seperti Pasangan yang Saling Mencintai47 Bab 47 Berlutut48 Bab 48 Kerumunan49 Bab 49 Pembicaraan dengan Laksmi50 Bab 50 Kami Adalah Pasangan51 Bab 51 Mengembalikan Uang Mereka52 Bab 52 Ayah Sang Bayi53 Bab 53 Keguguran54 Bab 54 Ayo Kita Bercerai55 Bab 55 Kembar56 Bab 56 Kenzo dan Kesya57 Bab 57 Aku Menyukaimu58 Bab 58 Kamu Menyakitiku59 Bab 59 Istriku60 Bab 60 Kamu Harus Membayar Kejahatan Putramu61 Bab 61 Deja Vu62 Bab 62 Babak 62 Terbakar dan Berpacu63 Bab 63 Diundang64 Bab 64 Kita Impas65 Bab 65 Apa Gunanya Anak Ini Baginya66 Bab 66 Apa yang Kamu Lakukan di Sini 67 Bab 67 Mengganggu Kehidupanku yang Damai68 Bab 68 Jika Kekasih Tidak Bertemu69 Bab 69 Merawatnya70 Bab 70 Pria yang Tidak Setia71 Bab 71 Kamu Bisa Melupakannya72 Bab 72 Merindukan Cinta73 Bab 73 Pertanyaan yang Paling Penting74 Bab 74 Kembali ke Negeri Zeva75 Bab 75 Memutuskan untuk Kembali76 Bab 76 Bersalah77 Bab 77 Memohonlah dan Aku akan Membantumu78 Bab 78 Seseorang akan Membayarnya79 Bab 79 Sopir yang Mati80 Bab 80 Membuktikannya Sendiri81 Bab 81 Mengapa Hatinya Terasa Begitu Sakit 82 Bab 82 Siapa yang Mengajarimu83 Bab 83 Kemiripan84 Bab 84 Anak di Luar Nikah85 Bab 85 Wanita dalam Rekaman86 Bab 86 Kalian Tidak Bersama87 Bab 87 Peduli terhadap Wanita88 Bab 88 Apa yang Dilakukan pada Malam Hari, Muncul pada Siang Hari89 Bab 89 Dia Milikku90 Bab 90 Memanggilku Sayang91 Bab 91 Pria yang Baik untuk Ibu92 Bab 92 Kebenaran Tentang Kecelakaan93 Bab 93 Sombong94 Bab 94 Jangan Biarkan Mereka Pergi95 Bab 95 Bekerja Sama96 Bab 96 Dia Wanita yang sudah Menikah97 Bab 97 Melahirkan Anakku98 Bab 98 Bertemu Peter lagi99 Bab 99 Merasa Gelisah100 Bab 100 Rencana Licik