icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 6
Bergantung Satu Sama Lain
Jumlah Kata:854    |    Dirilis Pada:21/10/2022

Laskar menggertakkan giginya dan kemarahan melintas di matanya.

Di ruang tamu, Siti lewat dan melihat Rossa yang tengah duduk di sofa dengan mengenakan piyama. Dia tersenyum dan bertanya, "Selamat pagi, Nyonya. Apakah Anda tidur dengan nyenyak tadi malam?"

Semalam, saat Siti mendengar suara mesin mobil di luar, dia turun dari tempat tidur untuk memeriksanya. Dia merasa sangat senang saat melihat Laskar telah pulang.

Ibu Laskar-lah yang mengatur pernikahan ini, jadi Siti berpikir Rossa pasti seorang wanita yang sempurna.

Alhasil, Siti cukup antusias dengan kehadiran Nyonya Wahid yang baru.

Rossa memaksakan senyum kaku di wajahnya dan berkata, "L-lumayan."

"Baguslah kalau begitu. Silakan mandi dulu. Sarapan sudah siap," ucap Siti sambil berjalan ke ruang makan.

Rossa menggosok matanya dan menguap.

Dia berpikir bahwa Laskar pasti sudah berpakaian rapi saat ini.

Dia berjingkat ke kamar tidur dan mengetuk pintu, tetapi tidak mendapatkan jawaban.

Berpikir bahwa pria itu telah meninggalkan kamar, dia membuka pintu dan disambut oleh tatapan sedingin es yang membuat tulang punggungnya terasa merinding.

Laskar tengah memegang secarik kertas di tangannya dengan erat.

Ketika Rossa melihat barang-barangnya yang berserakan di lantai, jantungnya seolah melompat ke tenggorokannya.

Berusaha untuk tetap tenang, dia menarik napas dalam-dalam dan bertanya dengan tajam, "Apa yang sudah kamu lakukan dengan barang-barangku? Ini adalah sebuah pelanggaran terhadap privasiku!"

"Privasi?" Laskar mencibir dengan tatapan tidak percaya di matanya.

Dia berdiri dan melemparkan kertas itu ke arah Rossa. "Kamu telah begitu berani menikah denganku dalam kondisi mengandung anak haram di dalam perutmu. Sekarang kamu berani berbicara tentang privasi?"

"Aku ...." Semua warna seolah sirna dari wajah Rossa.

Laskar berjalan menghampirinya dan mencubit dagunya. "Katakan padaku. Apa alasan sebenarnya sehingga kamu bersedia menikah denganku?"

Apa wanita ini ingin dia menjadi ayah dari anak haram itu? Apa dia ingin anak haram itu menjadi cucu pertama dari Keluarga Wahid? Apa kesepakatan yang diusulkan wanita ini hanya rencana daruratnya?

Ekspresi Laskar menjadi suram memikirkan itu semua.

Jantung Rossa serasa hampir berhenti berdetak di dadanya, tetapi dia berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. "Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Pernikahan kita hanyalah sebuah kesepakatan dan kita akan bercerai dalam sebulan, jadi aku tidak berpikir bahwa informasi itu penting bagimu. Aku tidak memiliki motif tersembunyi."

"Benarkah begitu?" Laskar mengencangkan cengkeramannya di dagu Rossa.

Rossa meringis kesakitan. "Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku sadar bahwa jika aku bertindak keterlaluan, kamu memiliki kemampuan untuk menghapusku dari muka bumi ini."

Mata Laskar tertuju pada perut Rossa dan ekspresi di wajahnya mengeras. "Semoga saja yang kamu katakan adalah yang sebenarnya atau aku tidak akan mengampunimu."

Rossa mengangguk dan tanpa sadar menyentuh perutnya, seolah berusaha melindungi bayi yang ada di dalamnya.

Anak ini datang secara tidak terduga, tetapi dia berencana untuk tetap melahirkannya. Bagaimanapun, anak itu adalah darah dagingnya.

Dia belum memberi tahu siapa pun mengenai hal ini, bahkan ibunya juga belum tahu. Dia selalu menyimpan laporan kehamilannya rapat-rapat, berjaga-jaga agar tidak seorang pun mengetahuinya.

Tanpa diduga, di hari kedua pernikahan mereka, Laskar mengetahuinya.

Dengan wajah cemberut, Laskar memperingatkan Rossa sekali lagi. "Jika aku sampai mengetahui bahwa kamu bermain-main di belakangku dalam satu bulan ini ...."

"Aku berjanji untuk menjaga sikapku. Jika aku sampai melakukan sesuatu di luar batas, aku akan pasrah pada apa pun keputusanmu." Sebelum Laskar sempat menyelesaikan kata-katanya, Rossa kembali berusaha meyakinkannya.

Bahkan jika dia tidak bisa membuat Laskar percaya sepenuhnya, dia tidak boleh membiarkan pria itu meragukan motifnya.

Rossa perlu mengandalkan pernikahan ini untuk mengambil kembali harta ibunya dari Peter.

Laskar menatap mata Rossa dalam-dalam, seolah mencari kebenaran di dalamnya.

Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan di pintu.

"Tuan dan Nyonya Wahid, sarapan sudah siap." Siti mengingatkan dengan nada ceria.

Laskar menarik tangannya dan berusaha menahan emosinya untuk saat ini. "Bersihkan kekacauan ini."

Dia kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kamar.

Dengan kepergian Laskar, Rossa bersandar ke dinding di belakangnya dan merasakan jantungnya yang berdebar dengan kencang. Butuh waktu lama baginya untuk kembali tenang.

Dia berjongkok dan mengemasi barang-barangnya yang berserakan di lantai. Air mata mengalir di pipinya ketika dia melihat laporan kehamilannya.

Dia menyeka air mata dengan punggung tangannya dan terisak. Dia kemudian menyingkirkan laporan itu, mengganti pakaiannya, dan keluar dari kamar.

Di ruang makan, dia melihat sarapan yang dimakan setengah dan sebuah cangkir kopi yang sudah kosong. Laskar tidak terlihat di mana pun.

Rossa menghela napas lega.

Setelah sarapan, dia kembali ke apartemennya.

Begitu dia memasuki apartemen, Jelita berdiri dari sofa tempatnya duduk dan menghampirinya. "Bagaimana kabar Tuan Wahid?"

Rossa tersenyum menenangkan ibunya. "Dia seorang pria yang baik, Bu. Jangan khawatir tentang aku."

Air mata menggenang di mata Jelita. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu."

Rossa memeluk Jelita dan menepuk punggungnya. "Aku sudah bilang, jangan khawatir tentang diriku. Aku bahagia selama kamu tetap ada di sisiku."

Saat makan siang, Jelita dengan penuh kasih menyiapkan sup ikan kesukaan Rossa saat dia menyadari bahwa putrinya tidak terlihat begitu baik.

Saat Rossa mendekatkan sesendok sup ke mulutnya, bau ikan tercium oleh hidungnya.

Dia tidak bisa menahan keinginannya untuk muntah dan bergegas pergi ke kamar mandi.

"Rossa?"

Jelita mengikuti di belakangnya dengan cemas. Melihat Rossa muntah-muntah di sebelah toilet, hati Jelita mencelos.

Dia bertanya dengan suara gemetar, "Ada apa, Rossa?"

Tubuh Rossa tiba-tiba membeku, dan dia mengepalkan tangannya erat-erat.

Berbalik dan menatap ibunya, Rossa berusaha mengumpulkan keberaniannya.

"Aku hamil, Bu."

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Pertama Kali2 Bab 2 Hamil3 Bab 3 Mengapa Kamu Berpura-pura4 Bab 4 Kesepakatan5 Bab 5 Malam Pernikahan6 Bab 6 Bergantung Satu Sama Lain7 Bab 7 Aborsi8 Bab 8 Sikap Seperti Apa yang Harus Kumiliki9 Bab 9 Wawancara Kerja10 Bab 10 Tidak Memenuhi Syarat untuk Pekerjaan11 Bab 11 Jangan Tertipu12 Bab 12 Panggil Aku Luis13 Bab 13 Kamu Bisa Berbicara Bahasa Aven14 Bab 14 Tak Terduga15 Bab 15 Apa Itu Bayimu 16 Bab 16 Bawa Aku ke Rumah Sakit17 Bab 17 Anak Haram18 Bab 18 Ciuman Tiba-Tiba19 Bab 19 Aroma Memikat20 Bab 20 Tidak Ada yang Namanya Cinta Sejati21 Bab 21 Pingsan22 Bab 22 Kecurigaan23 Bab 23 Aku Meremehkanmu24 Bab 24 Aku Mencintai Ayah Anakku25 Bab 25 Tidak Lumpuh26 Bab 26 Polos di Luar, Licik di Dalam27 Bab 27 Melompat Keluar dari Mobil yang Melaju Kencang28 Bab 28 Jangan Terlalu Baik Padaku29 Bab 29 Syarat30 Bab 30 Sesuatu Terjadi Padaku Tadi Malam31 Bab 31 Keributan di Dapur Kering32 Bab 32 Demi Malam Itu33 Bab 33 Rencana Andini34 Bab 34 Meminta Bantuan35 Bab 35 Kesempatan Langka36 Bab 36 Diberi Obat37 Bab 37 Jangan Sentuh Aku38 Bab 38 Apa Ini Hanya Kebetulan39 Bab 39 Biarkan Aku Menjagamu40 Bab 40 Bantu Aku41 Bab 41 Dia Adik Laki-lakiku42 Bab 42 Dunia Kita Berbeda43 Bab 43 Momen Damai44 Bab 44 Di Luar Kendali45 Bab 45 Bantu Aku Menghentikan Rasa Sakitnya46 Bab 46 Seperti Pasangan yang Saling Mencintai47 Bab 47 Berlutut48 Bab 48 Kerumunan49 Bab 49 Pembicaraan dengan Laksmi50 Bab 50 Kami Adalah Pasangan51 Bab 51 Mengembalikan Uang Mereka52 Bab 52 Ayah Sang Bayi53 Bab 53 Keguguran54 Bab 54 Ayo Kita Bercerai55 Bab 55 Kembar56 Bab 56 Kenzo dan Kesya57 Bab 57 Aku Menyukaimu58 Bab 58 Kamu Menyakitiku59 Bab 59 Istriku60 Bab 60 Kamu Harus Membayar Kejahatan Putramu61 Bab 61 Deja Vu62 Bab 62 Babak 62 Terbakar dan Berpacu63 Bab 63 Diundang64 Bab 64 Kita Impas65 Bab 65 Apa Gunanya Anak Ini Baginya66 Bab 66 Apa yang Kamu Lakukan di Sini 67 Bab 67 Mengganggu Kehidupanku yang Damai68 Bab 68 Jika Kekasih Tidak Bertemu69 Bab 69 Merawatnya70 Bab 70 Pria yang Tidak Setia71 Bab 71 Kamu Bisa Melupakannya72 Bab 72 Merindukan Cinta73 Bab 73 Pertanyaan yang Paling Penting74 Bab 74 Kembali ke Negeri Zeva75 Bab 75 Memutuskan untuk Kembali76 Bab 76 Bersalah77 Bab 77 Memohonlah dan Aku akan Membantumu78 Bab 78 Seseorang akan Membayarnya79 Bab 79 Sopir yang Mati80 Bab 80 Membuktikannya Sendiri81 Bab 81 Mengapa Hatinya Terasa Begitu Sakit 82 Bab 82 Siapa yang Mengajarimu83 Bab 83 Kemiripan84 Bab 84 Anak di Luar Nikah85 Bab 85 Wanita dalam Rekaman86 Bab 86 Kalian Tidak Bersama87 Bab 87 Peduli terhadap Wanita88 Bab 88 Apa yang Dilakukan pada Malam Hari, Muncul pada Siang Hari89 Bab 89 Dia Milikku90 Bab 90 Memanggilku Sayang91 Bab 91 Pria yang Baik untuk Ibu92 Bab 92 Kebenaran Tentang Kecelakaan93 Bab 93 Sombong94 Bab 94 Jangan Biarkan Mereka Pergi95 Bab 95 Bekerja Sama96 Bab 96 Dia Wanita yang sudah Menikah97 Bab 97 Melahirkan Anakku98 Bab 98 Bertemu Peter lagi99 Bab 99 Merasa Gelisah100 Bab 100 Rencana Licik