icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 2
Hamil
Jumlah Kata:1053    |    Dirilis Pada:21/10/2022

"Rossa, pernikahan bukanlah hal yang main-main. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini." Jelita menatap putrinya dengan cemas.

Rossa meletakkan makanan yang dibawanya di meja samping ranjang dan berkata, "Bu, aku bukannya akan menikah dengan orang asing. Dia putra dari teman lama Ibu, kan?"

"Temanku sudah lama meninggal. Aku belum pernah bertemu dengan putranya. Bahkan jika aku harus melanggar janjiku padanya, aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini. Aku ingin kamu menikah dengan orang yang kamu cintai. Kamu seharusnya tidak menggunakan pernikahan ini sebagai alat tawar-menawar. Aku lebih suka tinggal di negara ini selama sisa hidupku." Jelita meraih tangannya sambil berbicara dengan tulus.

Seseorang yang dicintainya?

Bahkan jika Rossa bertemu pria yang tepat di masa depan, dia takut dia tidak pantas untuknya.

Dia menundukkan kepalanya dengan pahit. Tidak masalah dengan siapa dia menikah. Yang penting baginya adalah mengambil kembali semua yang pernah menjadi milik mereka.

Tidak dapat mengubah pikiran Rossa, Jelita mulai mengemasi barang-barangnya dan kembali ke dalam negeri bersama putrinya itu keesokan harinya.

Peter tidak ingin Jelita dan Rossa tinggal bersama keluarganya, jadi dia menyuruh mereka untuk menyewa sebuah apartemen.

Rossa tidak mempermasalahkannya. Dia juga tidak ingin melihat istri dan anak perempuan Peter.

Sementara itu, Jelita masih diliputi kekhawatiran. "Rossa, meskipun akulah yang menjanjikan pernikahan ini pada teman lamaku, Peter tidak akan membiarkanmu menikah dengan Keluarga Wahid jika dia berpikir bahwa pernikahan ini adalah hal yang baik."

Rossa tidak ingin membicarakan ini lagi, jadi dia dengan cepat mengubah topik pembicaraan. "Bu, Ibu harus makan sesuatu."

Melihat reaksi putrinya, Jelita hanya bisa menghela napas.

Rossa memegang sendok, dan ketika dia hendak mengambil makanan, dia tiba-tiba ingin muntah.

"Apa kamu sakit? Wajahmu terlihat sangat pucat," ucap Jelita yang khawatir.

"Aku baik-baik saja. Mungkin hanya lelah karena penerbangan yang lama. Aku akan kembali ke kamarku dulu."

Rossa tidak ingin ibunya mengkhawatirkannya, jadi dia membuat alasan yang sederhana.

Tanpa memberi Jelita kesempatan untuk mengatakan apa-apa, dia bergegas ke kamarnya dan menutup pintu. Segera setelahnya, dia merasa ingin muntah lagi.

Sudah lebih dari sebulan berlalu sejak malam itu. Menstruasinya juga terlambat sepuluh hari. Ini hanya bisa berarti satu hal ....

Rossa segera menggelengkan kepalanya, tidak berani berpikir lebih jauh.

Keesokan harinya, Rossa memeriksakan diri di rumah sakit.

"Kamu hamil enam minggu."

Rossa meninggalkan rumah sakit dalam keadaan linglung, ucapan sang dokter masih terngiang-ngiang di kepalanya.

Dia melihat ke bawah, dan tidak bisa menahan diri untuk meletakkan tangannya di perutnya. Meskipun terkejut dan bahkan sedikit malu, dia merasa enggan untuk menggugurkan kandungannya.

Mungkin inilah yang disebut naluri keibuan karena dia merasa senang menanti kehadiran seorang anak.

Sebelum memasuki apartemen, Rossa dengan hati-hati menyelipkan laporan USG-nya.

Begitu dia membuka pintu, ekspresinya menjadi muram.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya pada Peter yang sedang duduk di ruang tamu. "Ini belum hari pernikahan."

"Beraninya kamu berbicara dengan ayahmu seperti itu?"

Peter sudah menunggu selama dua jam dan dia menjadi gusar. Pertanyaan kasar Rossa akhirnya memicu amarahnya.

"Ganti pakaianmu," teriaknya kesal.

Rossa mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Kita akan menemui calon suamimu." Peter menatapnya dari atas ke bawah. "Apakah kamu benar-benar ingin dia melihatmu dengan pakaian lusuh seperti itu? Apa kamu sengaja ingin mempermalukanku?"

"Jika aku kaya, kamu pikir aku akan mengenakan pakaian seperti ini? Jika aku kaya, apa adik laki-lakiku akan meninggal di rumah sakit karena terlambat mendapatkan perawatan? Sebagai seorang ayah, kamu seharusnya tahu persis bahwa aku tidak kaya, bukan?"

Rossa menggertakkan gigi dan mengepalkan tinjunya, tidak mampu menahan amarahnya.

Peter tampak sedikit malu dan terbatuk canggung. "Kita bicarakan ini nanti. Ayo pergi. Keluarga Wahid akan segera tiba. Kita tidak bisa membuat mereka menunggu."

"Rossa, aku sudah kehilangan seorang putra. Aku hanya ingin kamu menjalani kehidupan yang baik. Uang tidaklah penting bagiku." Jelita berdiri di depan Rossa, masih berusaha meyakinkannya.

"Bu, jangan khawatir. Aku tahu apa yang kulakukan." Rossa memberinya tatapan meyakinkan dan kemudian memeluknya.

"Ayo cepat!" bentak Peter tidak sabar. Dia takut Rossa akan berubah pikiran jika mereka semakin lama berada di sini, jadi dia menariknya.

Perhentian pertama mereka adalah sebuah toko pakaian wanita kelas atas.

Begitu mereka memasuki toko, seorang asisten toko menyambut kedatangan mereka. Peter mendorong Rossa ke depan dan berkata, "Berikan dia satu set pakaian yang layak."

Asisten toko mengamati sosok Rossa dengan cermat dan kemudian mengangguk. "Silakan ikuti saya, Nona."

Asisten toko pergi untuk mengambil gaun biru muda dari salah satu rak dan menyerahkannya pada Rossa. "Gaun ini terlihat bagus untuk Anda. Bagaimana kalau Anda mencobanya di kamar ganti?"

Rossa mengambilnya dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh sang asisten toko.

"Laskar, apa kamu benar-benar harus menikahi wanita dari Keluarga Bramantia itu?" Terdengar suara seorang wanita yang diwarnai dengan nada mengeluh.

Hal itu membuat Rossa refleks berhenti dan melihat ke kamar ganti sebelah. Melalui celah antara pintu dan kusennya, dia bisa melihat seorang wanita sedang memeluk leher seorang pria, cemberut. "Jika kamu menikahinya, bagaimana denganku?"

Laskar Wahid merasa kasihan pada wanita dalam pelukannya. Dengan suara rendah, dia bertanya, "Apa kamu kesakitan malam itu?"

Lebih dari sebulan yang lalu, dia pergi ke luar negeri untuk memeriksa sebuah proyek. Namun, dia digigit ular berbisa di sana. Racunnya begitu kuat, dan memberikan efek peningkatan hasrat seksual yang tak terkendali. Jika dia tidak melampiaskan hasratnya pada seorang wanita, dia bisa mati karena rasa panasnya.

Sonia Bustami-lah yang menyelamatkannya malam itu.

Wanita itu kesakitan, tetapi dia tidak berani mengeluarkan suara. Dia hanya menanggungnya, gemetar dalam pelukannya.

Laskar tahu bahwa Sonia mencintainya, tetapi dia tidak pernah memberinya kesempatan.

Alasan yang pertama adalah dia tidak mencintainya. Sementara alasan yang kedua adalah ibunya telah mengatur sebuah pertunangan untuknya sejak lama.

Sonia adalah sekretarisnya selama bertahun-tahun, dan dia selalu melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

Setelah apa yang terjadi pada malam itu, dia merasa harus bertanggung jawab untuk menikahi wanita ini.

Bersandar di dada Laskar, Sonia menunduk dan cemberut malu-malu.

Dia mencintai Laskar, tetapi dia sudah tidak perawan lagi. Dia tidak bisa membiarkan pria ini mengetahui rahasianya, jadi dia menggunakan tipu daya malam itu.

"Jika ada sesuatu yang kamu suka, belilah," ucap Laskar dengan lembut.

"Itu kamar ganti VIP, Nona. Anda tidak bisa masuk ke sana. Silakan pergi ke kamar ganti di sebelah kanan," ucap asisten toko pada Rossa, menyadarkannya dari pikirannya.

"Oh, baiklah." Rossa mengalihkan wajahnya dengan cepat dan melangkah ke kamar ganti yang ada di sebelah kanan.

Saat dia berganti pakaian, dia tidak bisa berhenti memikirkan percakapan antara pria dan wanita di kamar ganti VIP tadi. Mereka sepertinya sedang membicarakan Keluarga Bramantia.

Apakah pria itu ...?

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Pertama Kali2 Bab 2 Hamil3 Bab 3 Mengapa Kamu Berpura-pura4 Bab 4 Kesepakatan5 Bab 5 Malam Pernikahan6 Bab 6 Bergantung Satu Sama Lain7 Bab 7 Aborsi8 Bab 8 Sikap Seperti Apa yang Harus Kumiliki9 Bab 9 Wawancara Kerja10 Bab 10 Tidak Memenuhi Syarat untuk Pekerjaan11 Bab 11 Jangan Tertipu12 Bab 12 Panggil Aku Luis13 Bab 13 Kamu Bisa Berbicara Bahasa Aven14 Bab 14 Tak Terduga15 Bab 15 Apa Itu Bayimu 16 Bab 16 Bawa Aku ke Rumah Sakit17 Bab 17 Anak Haram18 Bab 18 Ciuman Tiba-Tiba19 Bab 19 Aroma Memikat20 Bab 20 Tidak Ada yang Namanya Cinta Sejati21 Bab 21 Pingsan22 Bab 22 Kecurigaan23 Bab 23 Aku Meremehkanmu24 Bab 24 Aku Mencintai Ayah Anakku25 Bab 25 Tidak Lumpuh26 Bab 26 Polos di Luar, Licik di Dalam27 Bab 27 Melompat Keluar dari Mobil yang Melaju Kencang28 Bab 28 Jangan Terlalu Baik Padaku29 Bab 29 Syarat30 Bab 30 Sesuatu Terjadi Padaku Tadi Malam31 Bab 31 Keributan di Dapur Kering32 Bab 32 Demi Malam Itu33 Bab 33 Rencana Andini34 Bab 34 Meminta Bantuan35 Bab 35 Kesempatan Langka36 Bab 36 Diberi Obat37 Bab 37 Jangan Sentuh Aku38 Bab 38 Apa Ini Hanya Kebetulan39 Bab 39 Biarkan Aku Menjagamu40 Bab 40 Bantu Aku41 Bab 41 Dia Adik Laki-lakiku42 Bab 42 Dunia Kita Berbeda43 Bab 43 Momen Damai44 Bab 44 Di Luar Kendali45 Bab 45 Bantu Aku Menghentikan Rasa Sakitnya46 Bab 46 Seperti Pasangan yang Saling Mencintai47 Bab 47 Berlutut48 Bab 48 Kerumunan49 Bab 49 Pembicaraan dengan Laksmi50 Bab 50 Kami Adalah Pasangan51 Bab 51 Mengembalikan Uang Mereka52 Bab 52 Ayah Sang Bayi53 Bab 53 Keguguran54 Bab 54 Ayo Kita Bercerai55 Bab 55 Kembar56 Bab 56 Kenzo dan Kesya57 Bab 57 Aku Menyukaimu58 Bab 58 Kamu Menyakitiku59 Bab 59 Istriku60 Bab 60 Kamu Harus Membayar Kejahatan Putramu61 Bab 61 Deja Vu62 Bab 62 Babak 62 Terbakar dan Berpacu63 Bab 63 Diundang64 Bab 64 Kita Impas65 Bab 65 Apa Gunanya Anak Ini Baginya66 Bab 66 Apa yang Kamu Lakukan di Sini 67 Bab 67 Mengganggu Kehidupanku yang Damai68 Bab 68 Jika Kekasih Tidak Bertemu69 Bab 69 Merawatnya70 Bab 70 Pria yang Tidak Setia71 Bab 71 Kamu Bisa Melupakannya72 Bab 72 Merindukan Cinta73 Bab 73 Pertanyaan yang Paling Penting74 Bab 74 Kembali ke Negeri Zeva75 Bab 75 Memutuskan untuk Kembali76 Bab 76 Bersalah77 Bab 77 Memohonlah dan Aku akan Membantumu78 Bab 78 Seseorang akan Membayarnya79 Bab 79 Sopir yang Mati80 Bab 80 Membuktikannya Sendiri81 Bab 81 Mengapa Hatinya Terasa Begitu Sakit 82 Bab 82 Siapa yang Mengajarimu83 Bab 83 Kemiripan84 Bab 84 Anak di Luar Nikah85 Bab 85 Wanita dalam Rekaman86 Bab 86 Kalian Tidak Bersama87 Bab 87 Peduli terhadap Wanita88 Bab 88 Apa yang Dilakukan pada Malam Hari, Muncul pada Siang Hari89 Bab 89 Dia Milikku90 Bab 90 Memanggilku Sayang91 Bab 91 Pria yang Baik untuk Ibu92 Bab 92 Kebenaran Tentang Kecelakaan93 Bab 93 Sombong94 Bab 94 Jangan Biarkan Mereka Pergi95 Bab 95 Bekerja Sama96 Bab 96 Dia Wanita yang sudah Menikah97 Bab 97 Melahirkan Anakku98 Bab 98 Bertemu Peter lagi99 Bab 99 Merasa Gelisah100 Bab 100 Rencana Licik