icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 7
Aborsi
Jumlah Kata:643    |    Dirilis Pada:21/10/2022

Mendengar pengakuan dari putrinya, Jelita hampir kehilangan keseimbangannya. Dia harus mundur selangkah dan bersandar ke dinding agar tidak terjatuh karena keterkejutannya.

"Apa yang sudah terjadi?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Bu, aku ...." Rossa merasa terlalu malu untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Air mata mengalir di pipinya tak terkendali.

"Siapa ayah bayi itu?"

Jelita tahu dengan baik bahwa putrinya tidak pernah memiliki seorang pacar di sekolah. Bagaimana bisa dia hamil?

Menggigit bibir bawahnya, Rossa menundukkan kepalanya dan tidak mampu berkata apa pun.

"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" Jelita meraih bahu Rossa. "Kamu tidak boleh melahirkan bayi ini. Kita pergi ke rumah sakit sekarang juga!"

"Tidak!" Rossa meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman ibunya.

Namun, tidak peduli seberapa keras Rossa memohon, Jelita seolah enggan mengubah keputusannya. Pada hari yang sama, Jelita membawa Rossa ke rumah sakit.

Di sana, Jelita meninggalkan Rossa di koridor untuk mengambil laporan hasil pengujian.

Duduk sendirian di bangku koridor rumah sakit, Rossa menutupi perutnya dengan kedua tangan dan terisak dalam diam.

"Oh, Laskar, aku baik-baik saja. Tenang saja. Ini hanya sebuah luka bakar kecil." Sonia mengenakan gaun ketat berwarna hitam, yang menonjolkan bentuk tubuh seksinya dengan sempurna. Sebuah jas tersampir di bahunya. Berjalan di samping wanita itu, Laskar mengenakan sebuah kemeja berwarna putih dengan lengan baju tergulung, memperlihatkan lengannya yang berotot.

"Luka bakar itu mungkin akan meninggalkan bekas jika tidak dirawat dengan baik," jelas Laskar dengan sabar.

Sonia mengangkat kepalanya dan menatap pria di sampingnya. "Andai luka itu meninggalkan bekas, apa kamu akan berhenti mencintaiku?"

"Omong kosong!"

Sonia terkikik seperti seorang gadis remaja.

Mendengar suara yang dikenalnya, Rossa perlahan mengangkat kepalanya dan melihat Laskar dan Sonia yang tengah berjalan ke arahnya dengan perlahan.

Keduanya tampak seperti pasangan yang sangat serasi.

Menyadari hal ini, Rossa merasa dirinya seperti seorang badut di antara mereka.

"Berikutnya! Rossa Bramantia!" Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka dan perawat memanggil namanya.

Sudah terlambat bagi Rossa untuk bersembunyi.

Mendengar nama Rossa disebut, Laskar berbalik. Dia mengerutkan kening ketika mata keduanya bertemu.

Melihat kata-kata "Ruang Operasi" di ambang pintu, Laskar mengernyitkan alisnya.

Apa yang wanita itu sedang lakukan di tempat ini?

Pagi ini, dia berpura-pura begitu peduli dengan bayi yang dikandungnya di hadapannya, tetapi sekarang dia hendak melakukan aborsi?

Mengikuti tatapan Laskar, Sonia melihat ke arah Rossa.

Saat dia melihat wajah pucat Rossa, dia merasa mengenal wajah itu, tetapi tidak bisa mengingat di mana pernah melihat wanita itu sebelumnya. Merasa penasaran, Sonia bertanya dengan lembut, "Apa kamu mengenalnya, Laskar?"

"Tidak." Laskar membuang muka dengan cepat.

Laskar mengecap Rossa di benaknya. Laskar melukiskannya sebagai seorang wanita bebas dan liar yang telah hamil sebelum menikah. Rossa telah berpura-pura mencintai bayi yang dikandungnya di hadapannya, tetapi sekarang wanita itu hendak melakukan aborsi di belakangnya.

Sungguh seorang wanita yang licik!

Rossa berdiri dengan canggung, menundukkan kepalanya, dan mengikuti perawat masuk ke dalam ruang operasi.

Menyadari bahwa Laskar terlihat marah, Sonia menelan ludah dan merasa gelisah. Dia menarik lengan Laskar dan memanggil namanya dengan lembut. "Laskar."

Dengan ekspresi datar, Laskar berkata dengan dingin, "Ayo kita pergi."

Sambil memegang lengan Laskar lebih erat, Sonia melirik dari balik bahunya ke arah pintu ruang operasi. Matanya menjadi suram.

Dilihat dari reaksi Laskar, Sonia berpikir bahwa Laskar merahasiakan sesuatu pada dirinya. Akan tetapi, sekarang Sonia telah bersama Laskar selama bertahun-tahun, dan tidak pernah ada wanita lain dalam hidup pria itu.

Jadi siapa wanita barusan?

Kenapa dia memiliki pengaruh begitu besar pada suasana hati Laskar?

"Laskar, gadis barusan ...."

"Kamu tidak perlu khawatir tentang orang tidak penting," sela Laskar acuh tak acuh.

Tanpa bertanya lagi, Sonia memutuskan untuk melupakan masalah ini untuk sementara waktu.

Di ruang operasi, Rossa merasa ketakutan saat melihat peralatan medis yang telah disiapkan.

"Berbaringlah," perintah sang dokter.

"Aku tidak ingin menjalani operasi." Rossa menggelengkan kepalanya dan melarikan diri.

Dia berlari begitu cepat sehingga tidak melihat ke mana dia pergi dan menabrak seorang pria.

Melangkah mundur dengan tergesa-gesa, Rossa dengan cepat meminta maaf, "Maaf, maaf ...."

"Rossa?"

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Pertama Kali2 Bab 2 Hamil3 Bab 3 Mengapa Kamu Berpura-pura4 Bab 4 Kesepakatan5 Bab 5 Malam Pernikahan6 Bab 6 Bergantung Satu Sama Lain7 Bab 7 Aborsi8 Bab 8 Sikap Seperti Apa yang Harus Kumiliki9 Bab 9 Wawancara Kerja10 Bab 10 Tidak Memenuhi Syarat untuk Pekerjaan11 Bab 11 Jangan Tertipu12 Bab 12 Panggil Aku Luis13 Bab 13 Kamu Bisa Berbicara Bahasa Aven14 Bab 14 Tak Terduga15 Bab 15 Apa Itu Bayimu 16 Bab 16 Bawa Aku ke Rumah Sakit17 Bab 17 Anak Haram18 Bab 18 Ciuman Tiba-Tiba19 Bab 19 Aroma Memikat20 Bab 20 Tidak Ada yang Namanya Cinta Sejati21 Bab 21 Pingsan22 Bab 22 Kecurigaan23 Bab 23 Aku Meremehkanmu24 Bab 24 Aku Mencintai Ayah Anakku25 Bab 25 Tidak Lumpuh26 Bab 26 Polos di Luar, Licik di Dalam27 Bab 27 Melompat Keluar dari Mobil yang Melaju Kencang28 Bab 28 Jangan Terlalu Baik Padaku29 Bab 29 Syarat30 Bab 30 Sesuatu Terjadi Padaku Tadi Malam31 Bab 31 Keributan di Dapur Kering32 Bab 32 Demi Malam Itu33 Bab 33 Rencana Andini34 Bab 34 Meminta Bantuan35 Bab 35 Kesempatan Langka36 Bab 36 Diberi Obat37 Bab 37 Jangan Sentuh Aku38 Bab 38 Apa Ini Hanya Kebetulan39 Bab 39 Biarkan Aku Menjagamu40 Bab 40 Bantu Aku41 Bab 41 Dia Adik Laki-lakiku42 Bab 42 Dunia Kita Berbeda43 Bab 43 Momen Damai44 Bab 44 Di Luar Kendali45 Bab 45 Bantu Aku Menghentikan Rasa Sakitnya46 Bab 46 Seperti Pasangan yang Saling Mencintai47 Bab 47 Berlutut48 Bab 48 Kerumunan49 Bab 49 Pembicaraan dengan Laksmi50 Bab 50 Kami Adalah Pasangan51 Bab 51 Mengembalikan Uang Mereka52 Bab 52 Ayah Sang Bayi53 Bab 53 Keguguran54 Bab 54 Ayo Kita Bercerai55 Bab 55 Kembar56 Bab 56 Kenzo dan Kesya57 Bab 57 Aku Menyukaimu58 Bab 58 Kamu Menyakitiku59 Bab 59 Istriku60 Bab 60 Kamu Harus Membayar Kejahatan Putramu61 Bab 61 Deja Vu62 Bab 62 Babak 62 Terbakar dan Berpacu63 Bab 63 Diundang64 Bab 64 Kita Impas65 Bab 65 Apa Gunanya Anak Ini Baginya66 Bab 66 Apa yang Kamu Lakukan di Sini 67 Bab 67 Mengganggu Kehidupanku yang Damai68 Bab 68 Jika Kekasih Tidak Bertemu69 Bab 69 Merawatnya70 Bab 70 Pria yang Tidak Setia71 Bab 71 Kamu Bisa Melupakannya72 Bab 72 Merindukan Cinta73 Bab 73 Pertanyaan yang Paling Penting74 Bab 74 Kembali ke Negeri Zeva75 Bab 75 Memutuskan untuk Kembali76 Bab 76 Bersalah77 Bab 77 Memohonlah dan Aku akan Membantumu78 Bab 78 Seseorang akan Membayarnya79 Bab 79 Sopir yang Mati80 Bab 80 Membuktikannya Sendiri81 Bab 81 Mengapa Hatinya Terasa Begitu Sakit 82 Bab 82 Siapa yang Mengajarimu83 Bab 83 Kemiripan84 Bab 84 Anak di Luar Nikah85 Bab 85 Wanita dalam Rekaman86 Bab 86 Kalian Tidak Bersama87 Bab 87 Peduli terhadap Wanita88 Bab 88 Apa yang Dilakukan pada Malam Hari, Muncul pada Siang Hari89 Bab 89 Dia Milikku90 Bab 90 Memanggilku Sayang91 Bab 91 Pria yang Baik untuk Ibu92 Bab 92 Kebenaran Tentang Kecelakaan93 Bab 93 Sombong94 Bab 94 Jangan Biarkan Mereka Pergi95 Bab 95 Bekerja Sama96 Bab 96 Dia Wanita yang sudah Menikah97 Bab 97 Melahirkan Anakku98 Bab 98 Bertemu Peter lagi99 Bab 99 Merasa Gelisah100 Bab 100 Rencana Licik