icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 4
Kesepakatan
Jumlah Kata:785    |    Dirilis Pada:21/10/2022

Laskar bangkit berdiri dari kursi roda dengan kilatan bahaya di matanya.

"Kamu lebih pintar dari yang terlihat, Nona Bramantia. Sepertinya aku telah meremehkanmu. Jadi, katakan padaku. Apa kamu benar-benar ingin menikah denganku?" tanya Laskar sambil menyipitkan mata padanya dengan dingin. "Katakan padaku. Berapa banyak uang yang kamu inginkan untuk membatalkan pertunangan ini?"

Sambil menatap matanya tanpa henti, Rossa berkata, "Aku bertunangan denganmu sejak aku berusia dua tahun, Tuan Wahid. Apa kamu pikir di usia sedini itu, aku paham soal uang dan keuntungan menikah dengan keluarga kaya? Apa aku yang masih berusia dua tahun bisa memaksa ibu kita untuk mengatur pernikahan kita?"

Laskar mencibir dengan jijik. Seperti yang dia duga, wanita ini benar-benar pandai berbicara.

"Saat itu, aku baru berusia dua tahun, sedangkan kamu sudah berusia sepuluh tahun. Apa kamu pikir aku akan tertarik pada seorang pria tua?" tanya Rossa dengan kilatan agresif di matanya.

Raut wajah Laskar menjadi suram. Pria tua? Dirinya masih muda, usianya masih belum menginjak kepala tiga. Wanita ini berani memanggilnya pria tua! Berani-beraninya dia!

Ketegangan meliputi seisi ruangan.

Begitu menyadari perubahan di raut wajah Laskar, Rossa mengerutkan bibir dan bertanya-tanya apakah dirinya sudah keterlaluan. Satu-satunya alasan mengapa dia bersedia menikah dengan Keluarga Wahid adalah Peter telah berjanji bahwa dia akan mengembalikan apa yang menjadi milik ibunya. Dia tidak berniat menjadikan calon suaminya sebagai musuh.

"Tuan Wahid, aku tahu kamu juga tidak ingin menikah denganku ...." Rossa melembutkan nada suaranya dengan sengaja dan mengurangi keagresifannya. Dia juga sengaja terdiam sejenak untuk mengamati reaksi Laskar. Meskipun hanya ada sedikit perubahan pada raut wajah pria itu, dia tetap menyadarinya.

"Jadi, mari kita buat kesepakatan," usul Rossa dengan tekad di matanya.

"Haha," tawa Laskar garing. "Nona Bramantia, apa yang membuatmu berpikir kamu bisa bernegosiasi denganku?"

Rossa merenung sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku akan menceraikanmu sebulan setelah pernikahan."

Dengan alis terangkat, Laskar bertanya, "Apa ini kesepakatan yang ingin kamu diskusikan denganku?"

"Ya. Kita masih harus menikah sesuai dengan keinginan ibu kita. Tapi setelah itu, kita bisa bercerai karena alasan yang masuk akal, seperti kepribadian yang berbeda, dan lain-lain. Dengan begitu, kita tidak melanggar perjanjian. Selain itu, kamu juga tidak perlu hidup dengan orang yang tidak kamu cintai selama sisa hidupmu."

Setelah itu, Rossa melambatkan tempo bicaranya, "Kurasa kamu mencintai orang lain sehingga kamu ingin Keluarga Bramantia membatalkan pertunangan, kan?"

Ekspresi Laskar menjadi suram. Dengan suara pelan, dia mendesis, "Itu bukan urusanmu." Lalu dia menatap Rossa yang terlihat tenang dan bertanya, "Bagaimana denganmu? Apa yang bisa kamu dapatkan dari kesepakatan ini?" Laskar tidak percaya bahwa Rossa melakukan hal ini hanya demi kebaikannya.

Begitu mendengar pertanyaan Laskar, jantung Rossa hampir copot. Dia tidak bisa mengatakan pada pria itu bahwa dia melakukan semua ini demi harta ibunya. Dia mengedipkan mata dan berkata dengan cuek, "Ibuku sangat mementingkan pertunangan ini. Kesehatannya sedang kurang baik, jadi aku tidak ingin mengecewakannya."

"Benarkah begitu?" tanya Laskar dengan dingin seolah-olah bisa melihat melalui pikirannya.

Rossa merasa tidak nyaman di bawah tatapan Laskar yang tajam. Saking tajamnya, dia merasa seolah-olah tatapan itu bisa menembus jantungnya.

Tepat ketika Rossa sedang kehilangan kata-kata, ponsel pria itu mulai berdering. Laskar melirik Rossa, lalu mengeluarkan ponselnya. Ketika melihat nama yang terpampang di layar, ekspresinya melunak. Dia berbalik dan menjawab telepon.

Setelah menutup panggilan telepon, seakan telah memikirkan sesuatu, dia berbalik dan berkata, "Karena kita hanya akan menikah selama sebulan, kita tidak perlu mengadakan pesta pernikahan."

Rossa mengangguk setuju sambil menjawab, "Tidak masalah."

Tiga hari kemudian, Tanto datang menjemput Rossa. Tidak ada pernikahan, bahkan tidak ada upacara sederhana. Rossa sama sekali tidak peduli karena dia tahu hal ini hanya merupakan bagian dari kesepakatan.

Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah vila yang megah. Di bawah terik sinar matahari, bangunan yang kokoh itu membentang hampir sejauh mata memandang.

"Silakan masuk," ucap Tanto dengan sopan sambil memberi isyarat untuk mempersilakan masuk. Dia tidak bersikap antusias atau dingin, melainkan hanya bersikap sopan dan formal. Dia mungkin tahu bahwa pernikahan Rossa dengan Laskar hanya sebatas status, sehingga wanita itu tidak memiliki kekuatan yang nyata di dalam Keluarga Wahid.

Meskipun vila itu besar, di dalamnya terasa sepi. Di dalam aula yang luas, Rossa hanya menemukan seorang pelayan. Tanto pergi begitu saja tanpa repot-repot menemani Rossa keliling rumah.

Setelah Tanto pergi, Rossa merasa sedikit tidak nyaman.

"Selamat siang. Nama saya Siti Parwani. Saya adalah pelayan yang mengurus Tuan Wahid. Anda bisa memanggil saya Siti. Jika Anda butuh sesuatu, katakan saja pada saya." Setelah itu, Siti mengantar Rossa ke kamarnya.

Satu bulan bukanlah waktu yang lama, jadi Rossa hanya mengemas beberapa barang. Meskipun dia merasa ragu dirinya membutuhkan bantuan Siti, dia berkata, "Oke, terima kasih."

Siti membuka pintu kamar dan berbalik menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia menghela napas dan berkata, "Tuan Wahid mungkin tidak pulang malam ini karena hari ini adalah hari ulang tahun Nona Bustami."

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Pertama Kali2 Bab 2 Hamil3 Bab 3 Mengapa Kamu Berpura-pura4 Bab 4 Kesepakatan5 Bab 5 Malam Pernikahan6 Bab 6 Bergantung Satu Sama Lain7 Bab 7 Aborsi8 Bab 8 Sikap Seperti Apa yang Harus Kumiliki9 Bab 9 Wawancara Kerja10 Bab 10 Tidak Memenuhi Syarat untuk Pekerjaan11 Bab 11 Jangan Tertipu12 Bab 12 Panggil Aku Luis13 Bab 13 Kamu Bisa Berbicara Bahasa Aven14 Bab 14 Tak Terduga15 Bab 15 Apa Itu Bayimu 16 Bab 16 Bawa Aku ke Rumah Sakit17 Bab 17 Anak Haram18 Bab 18 Ciuman Tiba-Tiba19 Bab 19 Aroma Memikat20 Bab 20 Tidak Ada yang Namanya Cinta Sejati21 Bab 21 Pingsan22 Bab 22 Kecurigaan23 Bab 23 Aku Meremehkanmu24 Bab 24 Aku Mencintai Ayah Anakku25 Bab 25 Tidak Lumpuh26 Bab 26 Polos di Luar, Licik di Dalam27 Bab 27 Melompat Keluar dari Mobil yang Melaju Kencang28 Bab 28 Jangan Terlalu Baik Padaku29 Bab 29 Syarat30 Bab 30 Sesuatu Terjadi Padaku Tadi Malam31 Bab 31 Keributan di Dapur Kering32 Bab 32 Demi Malam Itu33 Bab 33 Rencana Andini34 Bab 34 Meminta Bantuan35 Bab 35 Kesempatan Langka36 Bab 36 Diberi Obat37 Bab 37 Jangan Sentuh Aku38 Bab 38 Apa Ini Hanya Kebetulan39 Bab 39 Biarkan Aku Menjagamu40 Bab 40 Bantu Aku41 Bab 41 Dia Adik Laki-lakiku42 Bab 42 Dunia Kita Berbeda43 Bab 43 Momen Damai44 Bab 44 Di Luar Kendali45 Bab 45 Bantu Aku Menghentikan Rasa Sakitnya46 Bab 46 Seperti Pasangan yang Saling Mencintai47 Bab 47 Berlutut48 Bab 48 Kerumunan49 Bab 49 Pembicaraan dengan Laksmi50 Bab 50 Kami Adalah Pasangan51 Bab 51 Mengembalikan Uang Mereka52 Bab 52 Ayah Sang Bayi53 Bab 53 Keguguran54 Bab 54 Ayo Kita Bercerai55 Bab 55 Kembar56 Bab 56 Kenzo dan Kesya57 Bab 57 Aku Menyukaimu58 Bab 58 Kamu Menyakitiku59 Bab 59 Istriku60 Bab 60 Kamu Harus Membayar Kejahatan Putramu61 Bab 61 Deja Vu62 Bab 62 Babak 62 Terbakar dan Berpacu63 Bab 63 Diundang64 Bab 64 Kita Impas65 Bab 65 Apa Gunanya Anak Ini Baginya66 Bab 66 Apa yang Kamu Lakukan di Sini 67 Bab 67 Mengganggu Kehidupanku yang Damai68 Bab 68 Jika Kekasih Tidak Bertemu69 Bab 69 Merawatnya70 Bab 70 Pria yang Tidak Setia71 Bab 71 Kamu Bisa Melupakannya72 Bab 72 Merindukan Cinta73 Bab 73 Pertanyaan yang Paling Penting74 Bab 74 Kembali ke Negeri Zeva75 Bab 75 Memutuskan untuk Kembali76 Bab 76 Bersalah77 Bab 77 Memohonlah dan Aku akan Membantumu78 Bab 78 Seseorang akan Membayarnya79 Bab 79 Sopir yang Mati80 Bab 80 Membuktikannya Sendiri81 Bab 81 Mengapa Hatinya Terasa Begitu Sakit 82 Bab 82 Siapa yang Mengajarimu83 Bab 83 Kemiripan84 Bab 84 Anak di Luar Nikah85 Bab 85 Wanita dalam Rekaman86 Bab 86 Kalian Tidak Bersama87 Bab 87 Peduli terhadap Wanita88 Bab 88 Apa yang Dilakukan pada Malam Hari, Muncul pada Siang Hari89 Bab 89 Dia Milikku90 Bab 90 Memanggilku Sayang91 Bab 91 Pria yang Baik untuk Ibu92 Bab 92 Kebenaran Tentang Kecelakaan93 Bab 93 Sombong94 Bab 94 Jangan Biarkan Mereka Pergi95 Bab 95 Bekerja Sama96 Bab 96 Dia Wanita yang sudah Menikah97 Bab 97 Melahirkan Anakku98 Bab 98 Bertemu Peter lagi99 Bab 99 Merasa Gelisah100 Bab 100 Rencana Licik