icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 7
Rumah
Jumlah Kata:1524    |    Dirilis Pada:07/03/2022

"Esther Yuri!" dengan geram Arya meneriakkan nama lengkap Esther. Rudy berada jauh dari mereka sehingga dia tidak mendengarnya.

"Sekarang tugasmu adalah untuk memperbaikinya, paham? Kamu telah mengubah rencana pesta anggur menjadi konferensi tanpa meminta persetujuan dariku. Apakah kamu tahu berapa banyak uang yang hilang karena tindakanmu ini? Yang aku minta sekarang adalah, kamu pergi menemani Tuan Afif dan pergi makan siang dengannya, supaya perusahaan kita punya peluang kerja sama dalam jangka panjang dengan perusahaan miliknya. Kamu berhutang itu padaku.. Apakah kamu mengerti?"

Melihat Esther tidak mengucapkan sepatah kata pun, Arya melanjutkan dengan nada yang lebih tenang, "Kamu tahu kan kalau perusahaan kita sedang mengalami masa sulit? Tolong pergilah dan makan siang dengan Tuan Afif. Makan siang ini akan ditanggung oleh perusahaan."

Taktik yang digunakan oleh Arya itu berhasil, Esther akhirnya setuju untuk menemani Rudy makan siang.

Esther masih ingat, Arya adalah orang yang memberinya pekerjaan meskipun saat itu dia tidak memenuhi kualifikasi yang disyaratkan, membantunya ketika dia tidak punya tempat untuk pergi. Esther tidak bisa melupakan kebaikannya itu.

Sehingga meskipun beberapa perusahaan lain mengajaknya bergabung dengan tawaran yang lebih baik, tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja sekarang.

"Ri, apakah kamu sudah siap?" tanya Rudy. "Pergilah bersamanya, kumohon." ucap Arya memohon sambil menepuk pundak Esther.

"Ya. Ayo jalan," jawab Esther penuh keraguan. Mereka berpapasan dengan Diana Wijaya ketika keluar dari ruang pertemuan.

Diana memalingkan muka dengan rasa kesal. Dia benar-benar merasa iri dengan Esther.

"Kalian kembalilah ke kantor terlebih dahulu," perintah Rudy kepada para staf yang menemaninya. Suyanto Markus yang merupakan asisten khusus Rudy, mau tidak mau memperhatikan kecantikan Esther yang sedang berdiri tepat di samping bosnya itu.

Dia merasa ada hal yang sangat berbeda dengan Rudy hari ini. Banyak hal penting yang harus dilakukan oleh Rudy hari ini, namun demi pertemuan dengan Perusahaan Komandia dia sampai melewatkan sebuah konferensi video yang harus dihadirinya. Pertemuan ini terlalu sepele sehingga bahkan Suyanto Markus sendiri menganggapnya tidak layak untuk dihadiri.

Namun melihat wanita yang sedang berdiri di samping Rudy saat ini, dia mulai paham mengapa Rudy begitu bersemangat untuk menghadiri pertemuan dengan Perusahaan Komandia.

Meskipun kemarin Suyanto Markus berdiri di kejauhan, namun ia masih ingat betul wajah Nyonya Afif.

"Tuan Afif, tidak banyak restoran bagus di sekitar perusahaan kami. Mari pergi dan makan ke kedai kopi di sudut sana, bagaimana menurut Anda? Dan kita juga dapat mendiskusikan dengan lebih detail rencana pertemuan tahunan perusahaan Anda..."

"Kenapa kita tidak pergi ke tempat lain saja jika memang tidak ada restoran yang bagus di sini? Saya dengar ada restoran baru di Jalan Bomo yang menyajikan masakan Jepang yang enak. Bagaimana kalau kita makan siang di sana?"

"Jalan Bomo?" Esther terkejut, "Bukankah butuh waktu hampir satu jam hanya untuk pergi ke sana dan kembali? Tuan Afif, saya hanya punya waktu satu jam untuk makan siang..."

"Ayo pergi," ucap Rudy memotong perkataan Esther dan kemudian menggandengnya ke mobil. Setelah Esther duduk di dalam mobil, mereka pun pergi ke restoran itu.

"Saya ingin salmon goreng, tamayaki, bola gurita, sup miso, dan... mousse ceri. Itu saja. Terima kasih." Sepertinya Rudy sangat spesifik tentang apa yang ingin dia pesan. Rudy memesan makanan untuk mereka berdua. Duduk tepat di sebelah Rudy, Esther sempat melirik daftar harga di buku menu.

Biaya makan siang ini hampir sama besarnya dengan gaji mingguan Esther.

Rudy mungkin tidak pernah tahu apa artinya makan di restoran mewah bagi orang biasa.

Kini, saat mereka hanya berdua, Esther dapat mendapatkan kembali ketenangannya. "Apakah kamu sering datang ke sini bersama Ayu Septiani?" tanya Esther yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

Rudy menaikkan satu alisnya karena heran. Dia tidak mengerti kenapa Esther terus menerus menyebut Ayu.

"Ya, kami memang pernah makan di sini beberapa kali. Hidangan yang aku pesan tadi merupakan menu favoritnya." Tampak jelas bahwa Rudy sangat kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Esther. Sehingga dia mengarang jawaban untuk membalasnya.

"Oh, aku paham," angguk Esther kemudian melanjutkan, "Nona Septiani adalah seorang bintang, kamu harus memperlakukannya dengan baik."

Charles bingung bagaimana ia harus menanggapi pernyataan Esther itu.

"Tuan Afif, jika menurut Anda ada hal-hal yang perlu diperbaiki dari rencana yang saya presentasikan tadi, maka Anda bisa beritahu saya sekarang. Saya akan memperbaikinya begitu sampai di kantor." Esther masih bersikap kaku sebagaimana dia memperlakukan seorang klien. Hal ini menjadikan suasana tampak canggung yang membuat Rudy merasa kurang nyaman. Sehingga Rudy menunjukkan beberapa hal pelik untuk dibahas. Esther mencatatnya satu demi satu di buku dengan teliti.

"Ayo kita makan dulu," Ajak Rudy, dia merasa sedikit tenang setelah melihat wajah Esther yang tegang dan keseriusannya dalam mencatat setiap hal yang ia sampaikan.

"Mulai sekarang aku akan menjemputmu untuk makan siang setiap hari," kata Esther tiba-tiba. Esther tersedak ketika mendengar apa yang baru saja Rudy katakan. Tanpa ragu sedikit pun dia mengungkapkan penolakannya, "Tidak, tidak, tidak... Kamu tidak perlu... "

"Silv... Ri, sekarang aku adalah suamimu. Kamu harus mulai belajar untuk mendengarkan aku," ucap Rudy dengan nada tegas. Dia sedang tidak ingin mendengar penolakan lebih jauh dari Esther.

Bayangan tentang Ayu Septiani melintas di benak Esther sehingga ia mencoba untuk mengungkapkan penolakannya sekali lagi, "Tapi ..." Namun kemudian dia berhenti. Setelah berpikir sejenak Esther berkesimpulan, ia yakin bahwa Rudy punya rencana sendiri. Sehingga akhirnya ia mengangguk tanda setuju tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Selesai makan siang, Esther diantar oleh Rudy kembali ke kantornya, dan kali ini Rudy menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk kantor Esther. Ketika Esther memasuki ruangannya, Diana yang saat itu sedang membawa segelas air berjalan ke arahnya. Esther berusaha menghindarinya, namun meskipun begitu air itu mengenainya dan membuat pakaiannya menjadi sangat basah.

"Oh tidak! Maafkan aku, aku tidak sengaja..." ucap Diana sambil tersenyum.

Untungnya air itu tidak panas sehingga Esther tidak terluka. Esther mencoba berjalan melewati Diana dan mengabaikannya. Namun belum sempat Esther melangkah, Diana menghampirinya dan berkata, "Meskipun kamu cantik, tidak sepatutnya kamu merusak pernikahan orang lain Ri. Kamu beruntung karena air ini hanya tumpah di pakaianmu. Lain kali mungkin seseorang akan menyiramkannya ke wajahmu," cibir Diana, "Aku memperingatkanmu demi kebaikanmu sendiri. Tuan Afif adalah seorang laki-laki yang sudah menikah. Jika kamu masih punya rasa malu, kamu pasti akan berhenti mengejarnya. Karena jika kamu tetap melakukannya, maka kamu akan kehilangan segalanya. Aku harap agar kamu tidak akan menyesalinya jika itu yang terjadi padamu pada akhirnya."

Esther merasa heran sehingga dia mengerutkan keningnya. Namun ia tidak ingin menanggapi perkataan Diana sedikit pun dan kembali berusaha berjalan melewatinya.

Diana menjadi semakin geram dengan sikap cuek yang ditunjukkan oleh Esther. Hingga ia bergumam di belakang Esther, "Teruslah bersandiwara seperti gadis lugu. Entah berapa banyak pria yang telah tidur denganmu... "

Sore harinya, Esther mendapat telepon dari pembantu Rudy. Pembantu itu telah diberitahu oleh Rudy bahwa dirinya akan pulang lebih awal untuk makan malam. Namun karena dirinya memiliki sebuah urusan yang mendesak di rumah, maka mau tidak mau pembantu itu meminta bantuan Esther untuk membuatkan makan malam untuk Rudy.

Esther bisa saja menolak permintaan dari pembantu itu, tapi dia sadar, bahwa dirinya adalah istri Rudy sekarang. Jadi dia akhirnya menyetujuinya. Bahkan dia sempat bertanya kepada pembantu itu tentang makanan yang disukai Rudy.

Rudy merasa terkejut ketika pembantunya mengatakan bahwa Esther bersedia menyiapkan makan malam untuknya. Jarinya mengetuk meja dengan pelan dan keningnya berkerut.

Dia sudah mencari tahu tentang calon istrinya itu jauh hari sebelum pernikahan, dan salah satu hal yang dia temukan adalah bahwa Silvia Gauri tidak bisa memasak. Jadi, kenapa Esther setuju untuk menyiapkan makan malam baginya?

"Bos?" Rudy sedang mendengarkan laporan Suyanto Markus mengenai kinerja perusahaan bulan lalu ketika panggilan telepon dari pembantunya masuk. Suyanto tidak mengira bahwa Rudy akan tenggelam dalam pikirannya setelah menerima telepon itu. Suyanto belum pernah melihat Rudy bersikap seperti ini sebelumnya.

"Suyanto, apakah menurutmu... mungkin bagi seseorang mengubah kepribadiannya setelah dia menikah?" Rudy tidak yakin, namun dia berpikir bahwa mungkin ada sesuatu yang salah dengan istrinya.

"Kurasa tidak," kata Suyanto merasa sedikit bingung dengan pertanyaan yang diterimanya.

Bahkan, Suyanto Markus sesungguhnya merasa tidak yakin dengan jawaban yang baru saja ia berikan. Karena dia sendiri juga belum menikah. Mana mungkin dia bisa tahu apa jawabannya?

"Pergilah dan gali informasi tentang Silvia dan keluarganya. Aku ingin tahu apakah ada yang salah dengannya. Ambilkan juga beberapa fotonya untukku," perintah Rudy kepada Suyanto.

Mengetahui bahwa Esther yang akan menyiapkan malam untuknya di rumah, untuk pertama kalinya Rudy meninggalkan kantor tepat pada waktunya. Di luar kelaziman, karena dia memiliki kebiasaan untuk bekerja lembur.

Sepulang kerja Esther naik kereta bawah tanah dan mampir ke supermarket untuk membeli beberapa iga babi, fillet ikan, dan beberapa jenis sayuran. Selesai berbelanja ia pun langsung pulang ke rumah.

Ketika kecil, Esther dibesarkan oleh neneknya dan belajar memasak darinya.

Sehingga meskipun dia tidak memasak untuk waktu yang cukup lama, namun dia masih ingat dengan jelas cara memasak yang telah dipelajarinya. Dia mulai memasak segera setelah mengikat rambutnya dengan model sanggul dan mengenakan celemek. Dia sedang sibuk menyiapkan makan malam saat Rudy tiba di rumah.

"Makan malam hampir siap. Segera cuci tanganmu dan kita bisa mulai makan malam," kata Esther pada Rudy. Dia mendengar suara pintu terbuka dan tahu bahwa Rudy baru saja tiba, jadi dia mencondongkan tubuh dan mengatakan hal itu kepada Rudy.

Rudy ingin memecahkan teka-teki tentang istrinya dengan mencoba masakannya. Namun sebuah kata melintas di benak Rudy ketika melihat Esther mengenakan celemek, kata itu adalah 'Rumah.'

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Baiklah! Aku Akan Menikah Dengannya!!2 Bab 2 Kesepakatan3 Bab 3 Hubungan Keluarga yang Memuakkan4 Bab 4 Rencana Ayu (Bagian 1)5 Bab 5 Hidup Bersama6 Bab 6 Presentasi7 Bab 7 Rumah8 Bab 8 Ada Sesuatu yang Salah9 Bab 9 Apakah Dia Mencintainya 10 Bab 10 Berita Halaman Depan11 Bab 11 Suami Protektif, Rudy12 Bab 12 Memasuki Perusahaan Cemerlang untuk pertama kalinya.13 Bab 13 Sibuk Dengan apa 14 Bab 14 Ayu atau Esther 15 Bab 15 Pecat Dia16 Bab 16 Peringatan Ayu Kepada Esther17 Bab 17 Kudapan Sore Diana18 Bab 18 Makan Malam19 Bab 19 : Siapa yang Akan Menjadi Direktur Perencanaan Baru20 Bab 20 Kekacauan Saat Mabuk21 Bab 21 Makan Malam Keluarga Besar22 Bab 22 Menghentikannya Berbicara23 Bab 23 Sepupu Yang Aneh24 Bab 24 Kunjungan Rudy ke Tempat Mertuanya.25 Bab 25 Silvia Menginginkan Rudy Kembali26 Bab 26 Kekasih Atau Pelacur Laki-Laki27 Bab 27 Tentang Nyonya Afif28 Bab 28 Perpisahan29 Bab 29 Kemarahan Hadi30 Bab 30 Pinjamkan Aku Empat Belas Milyar Rupiah31 Bab 31 Tidur Bersama32 Bab 32 Kencan!33 Bab 33 Nyamuk Pengganggu34 Bab 34 Berpura-pura Baik Setelah Mendapat Keuntungan35 Bab 35 Beri Aku Kesempatan36 Bab 36 Konfrontasi Sinta Dengan Rudy37 Bab 37 Obrolan di Kantor38 Bab 38 Taktik Diana39 Bab 39 Pengunduran Diri40 Bab 40 Kesalahan Diana di Kantor Rudy41 Bab 41 Tidak Ada yang Bisa Dilakukan42 Bab 42 Peringatkan Nyonya Afif43 Bab 43 Kamu Tidak Berguna44 Bab 44 Fakta45 Bab 45 Aku Bisa Membiayaimu46 Bab 46 Esther Kembali di Kantor47 Bab 47 Ia Takkan Kembali48 Bab 48 Dijebak49 Bab 49 Perselisihan di Toko50 Bab 50 Kebenaran Akan Selalu Menang51 Bab 51 Sungguh Kebetulan!52 Bab 52 Suami Pecemburu53 Bab 53 Ciuman Romantis54 Bab 54 Ri Kecil55 Bab 55 Mengejar Apa yang Kamu Inginkan56 Bab 56 Proses On-boarding Karyawan57 Bab 57 Terima kasih58 Bab 58 Kamu Harus Ikut Dengan Kami59 Bab 59 Badai di Departemen Sekretaris60 Bab 60 Sikap Ramah yang Mengejutkan dari Miranda Sidabutar61 Bab 61 Niat Rudy62 Bab 62 Dia Tidak Bisa Pergi63 Bab 63 Tuan Purba64 Bab 64 Pertahanan65 Bab 65 Kebohongan yang Jelas66 Bab 66 James Membela Esther67 Bab 67 Ini Belum Berakhir68 Bab 68 Menyatakan Hubungan di Depan Umum69 Bab 69 Rudy Terluka70 Bab 70 Rudy Berada di Rumah Sakit71 Bab 71 Negosiasi72 Bab 72 Satu Lawan Satu dengan James73 Bab 73 Sinta Patah Hati74 Bab 74 Ayu Kembali75 Bab 75 Rudy Keluar dari Rumah Sakit76 Bab 76 Nasihat Hadi77 Bab 77 Mandi78 Bab 78 Dia Membuatnya Terpesona79 Bab 79 Perseteruan dengan Mirna80 Bab 80 Permintaan Maaf Mirna81 Bab 81 Pengunduran Diri82 Bab 82 Menghampiri Seorang Kenalan Selama Perekrutan83 Bab 83 Makan Malam dengan Rudy84 Bab 84 Niat Silvia85 Bab 85 Lamaran Silvia86 Bab 86 Pengunduran Diri Esther87 Bab 87 Kembali ke Rumah Keluarga Gauri88 Bab 88 Video Nenek Esther89 Bab 89 James Menemukan Kebenaran90 Bab 90 Penyesalannya91 Bab 91 Makan Malam di Rumah Keluarga Gauri92 Bab 92 Menjadi Berselisih93 Bab 93 Mengantar Esther ke Bandara94 Bab 94 Tiana95 Bab 95 Orang Tua Tiana96 Bab 96 Alergi97 Bab 97 Di Rumah Sakit98 Bab 98 Mengasuh Anak99 Bab 99 Makan Malam yang Canggung100 Bab 100 Kebakaran Hotel