back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Cinta yang Tak Tertahankan

Cinta yang Tak Tertahankan

Gorgeous Killer

5.0
Ulasan
2.6M
Penayangan
404
Bab

Tiga tahun lalu, keluarganya menentang pilihan William untuk menikahi wanita yang dicintainya dan memilih Fransiska sebagai pengantinnya. William tidak mencintainya. Malah, dia membencinya. Tidak lama setelah mereka menikah, Fransiska menerima tawaran dari universitas impiannya dan mengambil kesempatan itu. Tiga tahun kemudian, wanita tercinta William sakit parah. Untuk memenuhi keinginan terakhirnya, dia menelepon Fransiska untuk kembali dan memberinya perjanjian perceraian. Scarlett sangat terluka oleh keputusan mendadak William, tetapi dia memilih untuk membiarkannya pergi dan setuju untuk menandatangani surat cerai. Namun, William tampaknya menunda proses dengan sengaja, yang membuat Fransiska bingung dan frustasi. Sekarang, Fransiska terjebak di antara konsekuensi dari keragu-raguan William. Apakah dia bisa melepaskan diri darinya? Akankah William akhirnya sadar dan menghadapi perasaannya yang sebenarnya?

Bab 1
Pulang Untuk Bercerai

Sudut Pandang Fransiska:

Lagi-lagi aku melihat jam dan menghela napas. Sudah satu setengah jam sejak aku terbang ke sini, dan aku juga tidak ingat sudah berapa kali aku memeriksa arlojiku. Suamiku, William Lusman, tidak ditemukan di mana pun. Seharusnya dia menjemputku dari bandara. Tapi mungkin dia sedang bersama pacarnya sekarang. Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum pahit pada pikiran itu, lalu aku berdiri, dan menyeret koperku keluar dari bandara.

Aku menikahi William tiga tahun yang lalu. Tidak lama setelah pernikahan kami, aku menerima kabar baik dari universitas impianku di luar negeri. Aku telah diterima di salah satu program mereka, jadi aku akhirnya memilih pergi untuk belajar di sana. William dan aku sudah tidak berjumpa selama tiga tahun. Saat aku tidak berada di sini, dia menghabiskan seluruh waktunya dengan wanita yang sungguh dia cintai.

Sekarang aku akhirnya selesai dengan studiku dan kembali pulang. Aku ingin segera mengakhiri pernikahan kami yang hanya sebatas hitam di atas putih. Aku memutuskan bahwa sudah saatnya bagiku untuk berhenti berharap pada hal-hal yang tidak akan pernah terjadi.

Di dalam taksi menuju rumah, aku segera mengirim pesan untuk William yang berbunyi, "Kita perlu bicara."

Tidak lama kemudian, aku sudah berdiri di dalam rumah kami yang kosong. Aku langsung meletakkan koperku dan berjalan menuju ke ruang tamu. Lalu aku duduk di sofa dan menunggu. Rumah ini terlihat dan juga berbau seperti tak ada orang yang tinggal di sini selama bertahun-tahun. Foto pernikahan kami masih tergantung di dinding. Itu membuat aku merasa sedih dan kesal.

Aku kemudian melirik ponselku. William masih belum membalas pesan dariku. Aku rasa mungkin malam ini dia tidak akan ada di rumah.

Tapi untuk beberapa waktu aku hanya duduk dan tenggelam dalam pikiranku sendiri. Kemudian, aku mendengar suara mobil menepi di luar. Aku segera bangkit dari tempat dudukku, merasakan jantungku berdegup kencang. Apakah aku masih mengharapkan sesuatu dari suamiku yang berhati dingin? Mungkin. Mungkin tidak. Tetapi pada detik terakhir, aku menggertakkan gigiku dan menggenggam tanganku yang gemetar. Aku berusaha mengingatkan diriku sendiri, 'Aku di sini untuk mengakhiri ini.'

Kenop pintu diputar dan pintu pun terbuka. William menyalakan lampu, kemudian cahaya lampu mengikutinya sebagai bayangan di lorong. Dia berjalan masuk. Dia mengenakan setelan hitam gelap dan kemeja putih bersih. Raut wajahnya tampak kelelahan, tapi itu tidak dapat menutupi sudut wajah serta tulang pipinya yang menonjol. Semuanya tampak masih sama. Dia bahkan masih memancarkan aura dingin yang bisa kurasakan dari jarak beberapa meter.

Saat dia berjalan mendekat, jantungku berdetak lebih cepat sementara aku mulai kesulitan bernapas. Aku tidak percaya aku bisa lupa betapa tampannya pria ini. Dia seperti dewa yang tidak pantas berada di dunia fana. Pesonanya seakan bisa membuat orang lain langsung menyerah.

Seiring dengan berjalannya waktu dia telah berubah menjadi pria yang tampak lebih dewasa dan luar biasa tampan. Aku langsung mengalihkan pandanganku karena aku merasa seolah pipiku terbakar.

Dia berjalan menuju sofa dan duduk di situ. Aku kemudian duduk di seberangnya.

Lalu dia menatapku dengan matanya yang dingin dan tajam. Otomatis aku langsung berpikir untuk menundukkan kepalaku dan menghindari tatapan langsung dengan kedua matanya, tapi aku memaksakan diriku untuk menatapnya dengan tegar. Aku lalu melihat bayanganku di dalam matanya yang gelap.

"Kamu sudah pulang." Suaranya terdengar monoton seperti biasa, dan ini sudah akan membuatku merinding seandainya aku tidak tahu apa-apa.

"Iya," jawabku, sambil berusaha terdengar masa bodoh seperti dirinya.

"Pengacaraku baru saja mengirim email untukmu." William mengendurkan dasinya sambil berbicara. Dadanya yang berotot menyembul dari balik kemejanya.

"Baik, coba aku lihat dulu." Aku menelan ludah dan mengatur tubuhku agar bisa bersikap netral.

Aku mengeluarkan ponselku untuk memeriksa email, lalu aku melihat ada satu subjek email terbaru di kotak masuk yang membuatku kaget—Perjanjian Perceraian. Meskipun aku sudah menyangka ini semua, aku masih merasa seperti ada seseorang yang sedang menikam dadaku dengan pisau. Rasa sakit yang begitu cepat dan mengejutkan, tetapi aku tetap bersyukur karena untuk sesaat ini dapat membutakanku dari pesona William.

"Baiklah. Aku akan langsung menandatanganinya." Aku meletakkan ponselku dan kembali menatap calon mantan suamiku itu. Sebentar lagi dia sudah bukan milikku. Aku merasa bahagia selama berpura-pura menjadi Nyonya Lusman. Tapi sekarang itu semua harus berakhir, dan aku harus mengusir Tuan Lusman keluar dari duniaku.

"Apa kamu tidak mau membaca perjanjian itu terlebih dahulu?"

"Tidak perlu. Aku yakin Tuan Lusman akan memperlakukan mantan istrinya dengan baik." Aku memaksakan diriku untuk tersenyum. Mantan istri. Aku akan segera menjadi mantan istrinya, tapi aku juga tidak tahu apakah aku baik-baik saja dengan istilah yang terang-terangan ini.

"Rumah di Jalan Garden ini akan menjadi milikmu. Dan juga apartemen di pusat kota ...."

"Kapan?" Aku menyela perkataan William.

"Apa?" Dia lalu mengerutkan kening dan menatapku dengan tatapan menyelidik.

"Kapan kita menandatangani surat-surat itu?" aku bertanya dengan lembut.

"Aku akan membuat janji dengan pengacaraku," jawab William sambil menggosok dagunya.

"Bagus. Aku akan menunggu telepon darimu."

Setelah terdiam beberapa saat, dia kemudian menatapku lagi.

"Fera sedang sakit. Aku hanya ingin memenuhi keinginan terakhirnya," jelasnya.

Aku hanya mengepalkan tinjuku sementara aku menelan gumpalan yang ada di tenggorokanku. Memenuhi keinginan terakhirnya? Sungguh pria yang luar biasa. Tapi apa dia harus melakukannya dengan mengorbankanku? Yah, kurasa aku tidak berhak untuk terluka di sini. Lagi pula, aku hanyalah Nyonya Lusman palsu. Seorang pengganti.

"Aku mengerti." Aku hanya mengangguk, meskipun jauh di lubuk hatiku ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan di hadapannya.

"Kalau masih ada hal lain yang kamu perlukan, aku akan bilang pengacaraku untuk memasukkannya ke dalam perjanjian."

"Tidak, aku baik-baik saja. Apa pun yang tertulis di s

itu tampak sudah cukup." Sekali lagi, aku melengkungkan bibirku menjadi sebuah senyum lemah.

"Datang temui Fera besok." William langsung berdiri dan mulai mondar-mandir di depanku.

Dia mengatakan pernyataan terakhirnya dengan tegas. Dia tidak memintaku untuk datang menemui pacarnya. Dia memerintahku. Menurutnya aku ini apa? Dan kenapa juga aku harus menemui wanita itu? Apa dia hanya ingin menaburkan garam ke lukaku?

"Kenapa aku harus pergi menemuinya?" Aku bertanya padanya dengan raut wajah datar.

"Aku tidak ingin dia merasa bersalah atas perceraian kita. Bilang padanya kalau kamu telah jatuh cinta dengan orang lain. Kamu harus yakinkan dia bahwa keputusan kita untuk mengakhiri pernikahan kita ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya." Dia berhenti di depanku dan menatap mataku sekali lagi.

"Baiklah."

Aku ingin menolak. Namun, entah kenapa aku selalu kesulitan untuk menolak permintaan pria ini. Dia hanya perlu menatap mataku dan menyuruhku, lalu aku akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan.

"Terima kasih. Besok aku akan menjemputmu."

"Jangan repot-repot. Kirimkan saja alamatnya dan aku akan pergi ke sana sendiri."

William melihatku untuk terakhir kalinya dan kemudian pergi.

Air mata menggenang di mataku sementara aku hanya bisa menatap sosok pria itu yang menghilang. Kami telah menyembunyikan pernikahan kami selama tiga tahun terakhir. Tidak ada yang tahu mengenai pernikahan kami kecuali keluarga dan teman dekat kami. Beberapa bulan lalu, media telah memberitakan tentang kabar pertunangan William dan Fera. Foto-foto Fera yang sedang mencoba gaun pengantin juga telah dipublikasikan dan beredar di seluruh internet. Sungguh pasangan yang sempurna!

Aku bahkan menghabiskan beberapa malam yang panjang sambil melihat foto-foto tersebut, dan setiap kali mataku selalu tertuju pada William. Di saat itu aku berpikir kalau aku tidak boleh kehilangan harapan akan hubungan kami. Aku yakin selama aku masih menikah dengannya, ini berarti masih ada kemungkinan baginya untuk jatuh cinta denganku dan hubungan kami akan menjadi nyata. Aku mencintainya, dan selama aku mencintainya, itu sudah cukup.

Untuk sekian lama aku tidak sadar agar pernikahan ini bisa berhasil, dia juga harus membalas cintaku, bukan hanya segelintir. Aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya.

Aku sudah menghabiskan tiga tahun terakhir untuk menunggunya. Meskipun ada jarak di antara kami, aku tetap berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatianku, tapi aku tidak menerima apa-apa sebagai balasannya. Suatu hari, aku bangun dan membiarkan kenyataan menghajarku hingga babak belur.

Hari itu, Fransiska yang manja dan butuh perhatian sudah meninggal karena kematian yang menyakitkan, dan dari mayatnya itu bangkitlah Fransiska yang baru, dengan dibalut baju besi yang begitu tebal sehingga tidak ada pedang atau tombak yang bisa menembusnya.

Aku pergi ke kamarku sambil membawa koperku, kemudian membongkar pakaianku. Lalu aku mandi dan berganti baju tidur. Sejak aku pergi sepertinya tidak ada seorang pun yang menyentuh ruangan ini. Tidak ada pernak pernik yang berantakan atau bahkan kerutan di seprai. Jelas saja dalam tiga tahun terakhir ini William tidak pernah ada di kamar ini karena dia mungkin tinggal di tempat lain bersama dengan Fera.

Pikiran itu membuatku meringis. Aku pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Namun aku kaget saat melihat mobil William yang masih terparkir di jalan masuk. Kenapa dia masih ada di sini? Bukannya dia harus langsung kembali menemui Feranya yang tersayang?

Ponselku berdering saat aku menatap mobil William dengan pandangan kosong. Itu adalah sahabatku, Susanna. Aku pun menjawab panggilannya.

"Hai, Susanna!"

"Sis! Selamat datang kembali!"

"Terima kasih."

"Aku masih dalam perjalanan bisnis. Maaf ya aku tidak bisa menjemputmu di bandara hari ini."

"Tidak apa-apa. Pekerjaan itu lebih penting."

"Apakah kamu pulang untuk selamanya atau kamu akan pergi lagi kalau bisa?"

"Kurasa aku akan tetap tinggal di sini untuk sekarang."

"Bagus! Kamu kerja saja di stasiun radio kami. Maksudku, kamu ini sempurna untuk pekerjaan itu. Kamu kuliah jurusan media, suaramu enak didengar, dan kamu cantik sekali. Orang-orang pasti akan suka sekali denganmu. Kamu pasti cocok. Bagaimana menurutmu?"

"Baik."

"Apakah kamu sudah berbicara dengan William?" Tiba-tiba suara Susanna menjadi pelan, seakan dia ingin merasakan sesuatu.

"Iya." Aku lihat mobil William di jalan masuk.

"Apakah dia bilang tentang pacar mungilnya?"

"Iya."

"Dasar brengsek tidak tahu malu! Beraninya dia menyebut wanita itu padamu?"

"Tidak apa-apa, Susanna. Dia bahkan memintaku untuk menemui Fera besok, dan aku juga setuju."

"Apa? Kamu setuju untuk menemui wanita jalang yang mencuri suamimu? Fransiska, apa kamu sudah gila? Wanita itu sudah merayu William dan mendorongnya untuk menceraikanmu. Sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa dia membuang-buang tenaganya. Tiga tahun yang lalu Keluarga Lusman tidak setuju dengan hubungannya dan William. Apa dia pikir mereka entah bagaimana sudah berubah pikiran sekarang?" Susanna langsung mengaum dari ujung telepon.

"Semua sudah dikatakan dan dilakukan. Sekarang aku hanya ingin membiarkan yang lalu menjadi kenangan." Aku tersenyum kecil.

"Yang lalu? Fransiska, kamu pasti masih mencintainya, bukan?"

Aku tidak menjawab. Tentu saja aku masih mencintainya. Aku tidak pernah berhenti mencintainya.

"Fransiska!" Teriakan Susanna menyadarkanku kembali ke dunia ini.

"Aku lelah, Susanna. Besok aku telepon lagi, baikkah? Sampai jumpa lagi."

Aku langsung menutup telepon sebelum Susanna sempat protes dan menarik napas dalam-dalam. Mobil William tampak masih ada di sana, dan sepertinya dia tidak berencana untuk pergi dalam waktu dekat. Tapi peduli amat?

Tiba-tiba saja aku seperti ambruk karena kelelahan. Aku kembali ke kamarku dan merangkak ke tempat tidur. Aku berbaring telentang, menatap langit-langit, dan menunggu hingga terlelap. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara seseorang mengetuk pintu.

Sambil mengusap kantuk dari mataku, aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Aku melihat William yang sedang berdiri di luar.

Unduh Buku