icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 3
Tamu Tak Terduga
Jumlah Kata:1304    |    Dirilis Pada:21/02/2022

Sudut Pandang William:

Setelah mengantar Fera pulang, aku kembali ke kantor untuk mengurus beberapa masalah bisnis.

Di malam hari, aku menerima pesan dari Gunawan.

Pesan tersebut berbunyi, "William, apakah kamu ingin ikut dengan kami? Semua orang ada di sini."

Aku membalasnya, "Baik. Aku akan segera pergi ke sana."

Aku mengetik pesan sambil berjalan keluar dari kantor.

Gunawan adalah pemilik Bar Mint. Itu adalah salah satu bar yang paling terkenal di kota ini, dan malam ini bar tersebut tampak sungguh ramai oleh pengunjung. Begitu aku masuk, aku melihat ada Gunawan dan Antoni. Kami semua sudah berteman sejak kami masih kecil.

"Apakah kamu sudah bertemu dengan Fransiska?" tanya Gunawan begitu aku tiba di hadapannya.

"Iya," jawabku dan kemudian aku meminta bartender untuk menyajikan segelas wiski.

"Apakah kamu benar-benar telah menceraikannya?" Gunawan mendesak dan mendekatiku.

"Iya," jawabku dengan tidak sabar dan menyalakan sebatang rokok.

"Bisa-bisanya kamu, bro? Fransiska itu sudah seperti saudari kita. Kita bahkan tumbuh besar bersama. Kamu dan Fera jahat sekali padanya."

Aku menghembuskan asap rokok ke udara saat bartender tersebut meletakkan minumanku di depanku. Aku memutuskan untuk tidak menjawab Gunawan dan meminum wiskiku. Akan tetapi apa yang telah dikatakannya itu memang benar.

Sejujurnya, tadi malam aku gugup ketika berbicara dengan Fransiska mengenai perceraian. Sementara itu, dia hanya duduk di sana sepanjang waktu, terlihat begitu tenang dan juga kalem. Aku tidak tahu apakah tindakan itu membuatku kesal atau terkesan. Kami sudah tidak bertemu selama tiga tahun. Dia bukan lagi gadis kecil manis dengan emosi yang tampak jelas. Dia benar-benar telah tumbuh dewasa.

Aku agak kesal karena kembali bertemu dengannya yang berwatak seperti itu.

"Apakah dia setuju?" tanya Antoni dengan penasaran.

"Iya, dia setuju."

Sekarang aku sangat menyesali keputusanku untuk keluar dan bertemu teman-temanku ini. Aku hanya ingin minum dengan mereka, dan di sini mereka malah tidak henti- hentinya menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

"Jadi apakah kamu benar-benar akan menikahi Fera?"

"Iya."

"Apakah kamu serius? Apakah kamu benar-benar akan mengorbankan kebahagiaanmu hanya karena dia telah menyelamatkanmu?" Antoni langsung berubah menjadi sangat emosional ketika mendengar jawabanku tadi. Dia tidak sengaja menumpahkan anggurnya ke pakaianku.

"Sial!" Aku mengumpat dengan marah.

"Astaga. Maafkan aku, bro," Antoni langsung meminta maaf padaku.

Aku tidak mau terlihat berantakan begini saat duduk di sana, jadi aku pun pamit pulang untuk berganti pakaian. Aku segera meninggalkan bar itu dan memanggil layanan taksi. Aku sudah berencana untuk pulang, tapi begitu aku masuk ke dalam mobil, aku pun berhenti sejenak untuk berpikir.

Lalu sebagai gantinya, aku meminta sopir untuk mengantarku ke Jalan Garden.

Saat aku tiba di sana, rumah itu tampak terang benderang, dan aku bisa mendengar ledakan tawa yang datang dari jendela yang terbuka. Ada sebuah Mercedes yang tampak akrab terparkir di garasi.

Sepertinya Ibu dan Nenekku datang berkunjung.

Aku berjalan cepat menuju pintu, tapi sebelum aku bisa memasukkan kata sandi, seseorang telah membuka pintu itu dari dalam.

"Dari mana saja kamu? Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" Ibuku melangkah mendekatiku dan kemudian memarahiku.

"Aku tadi sedang rapat, Bu."

"Dan kenapa kamu malah bau alkohol? Apakah tadi kamu pergi minum-minum? Ya Tuhan, kamu tampak berantakan sekali. Sana pergi ganti baju." Ibu hanya mengernyitkan hidungnya dan menyuruhku masuk.

Aku masuk ke rumah dan melihat Nenek serta Fransiska sedang duduk di ruang tamu, berbicara dan tertawa. Di meja kopi terdapat buah-buahan dan bahkan pai apel.

"Hai, Nenek." Aku pergi untuk menyapa dan mengambil sepotong pai apel, tetapi Nenekku malah menampar tanganku.

"Jangan sentuh itu. Itu bukan untukmu. Itu untuk Fransiska."

"William, kamu kenapa? Ayo, pergi ganti baju bersih." Fransiska berdiri dan berjalan ke arahku.

"Kalian sudah lama menikah. Kenapa kamu masih memanggil William dengan nama depannya?" Nenek bertanya pada Fransiska dan kemudian menatapku dengan curiga.

"Apakah ada yang salah dengan caraku memanggilnya?" Fransiska langsung berhenti dan bertanya.

"Bukannya pasangan muda yang menikah seperti kalian biasanya menyebut pasangan mereka sayang atau cinta atau semacamnya?"

Sejenak Fransiska membeku dan tampak memutar otaknya. Dia lalu berdeham kecil. "Ayo, Sayang. Aku akan membantumu ganti baju."

Dia membantuku melepas jasku dan tersenyum dengan tulus.

"Ini baru benar," Nenek berseri-seri, nada suaranya dipenuhi dengan kepuasan.

Dia sangat mencintai Fransiska. Dalam beberapa tahun terakhir saat Fransiska masih di luar negeri, Nenek sering bertanya padaku tentangnya. Setiap kali aku hanya menjawabnya dengan cuek.

Tidak lama, Nenek memulai topik pembicaraan baru.

"William, aku sudah membuat janji dengan dokter untukmu minggu ini. Jangan minum sampai saat itu. Aku ingin kamu pergi untuk memeriksakan dirimu."

Aku kaget ketika mendengarnya.

"Tapi aku baru saja melakukan pemeriksaan fisik, Nek. Aku sehat sekali."

"Aku tidak mau kamu pergi melakukan pemeriksaan fisik lagi. Ini adalah pemeriksaan yang lebih khusus. Sudah beberapa tahun. Di mana cicit-cicitku? Dan menurutku ini bukan salahnya Fransiska. Ini adalah salahmu."

Fransiska mengerutkan bibirnya dan menatapku. Sebuah otot berkedut di rahangnya. Dia tampak seperti sedang berusaha agar tidak tertawa terbahak-bahak.

Sebelum aku bisa membela diri, ponselku pun berdering, dan aku menghela napas lega. Fransiska, yang memegang jaketku, mengeluarkan ponselku dari saku dan melihat nama penelepon di layar. Dari raut wajahnya yang langsung berubah, aku tahu bahwa panggilan itu pasti dari Fera.

"Apakah itu adalah panggilan dari wanita tersebut? Ah, benar-benar ya!" seru Ibuku.

Aku mengambil ponselku dari Fransiska dan menolak panggilan tersebut.

"Apakah itu Fera? William, kamu sekarang sudah menikah. Kenapa kamu masih berhubungan dengan wanita itu? Kamu harusnya setia dengan Fransiska. Dan apa-apaan itu foto Fera mengenakan gaun pengantin yang aku lihat di berita? Ada apa ini?" Nenek mengomel.

"Ini tidak seperti yang Nenek pikirkan."

"Terus kenapa kamu menolak teleponnya? Apakah ada sesuatu yang kalian ingin bicarakan dan tidak ingin kami dengar?"

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku bisa berbohong pada orang lain tapi tidak pada Nenekku. Beliau selalu bisa menembus kebohonganku.

Nenek tampak sangat marah hingga tubuhnya gemetar. Langsung saja Fransiska menuangkan segelas air untuknya.

"William akan menjawab pertanyaan dari Nenek dengan senang hati, tapi biarkan aku mengantarnya untuk berganti pakaian terlebih dahulu," kata Fransiska sambil mendorongku ke atas menuju kamar tidur.

"Ada beberapa kemeja putih di lemari ketiga."

Begitu Fransiska pergi untuk mengambilkanku kemeja bersih, aku melepas kemeja yang diwarnai oleh Antoni dengan anggurnya. Kemeja ini sudah rusak. Sialan. Lain kali aku tidak akan mengampuni Antoni.

Kemudian, aku merasakan keheningan yang gamblang di belakangku. Aku berbalik.

Fransiska berdiri di sana dan menatapku sambil membawa salah satu kemejaku di tangannya. Dia menunduk, berusaha untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?"

Dia tidak menjawab. Dia langsung menutup matanya dengan cepat. Aku berjalan ke arahnya.

Kali ini, aku bisa melihat lebih banyak sisi baru dirinya. Dia bukan lagi gadis kecil seperti dulu. Tiga tahun terakhirnya di Prancis telah mengubahnya dari kuncup biasa menjadi sekuntum mawar yang indah.

Bulu matanya yang panjang bergetar. Bibirnya terkatup membentuk garis tipis seolah-olah dia sedang menekan sesuatu di benaknya. Setiap menit wajahnya berubah semakin merah.

Aku mengambil kemeja itu dari tangannya dan segera memakainya.

Setelah aku berganti baju bersih, kami kembali ke ruang tamu bersama.

"Aku tidak punya waktu bertahun-tahun lagi, William. Kenapa kamu tidak bisa hidup damai bersama Fransiska? Kenapa kamu selalu berusaha membuatku kesal, sih?" Nenek masih menyalahkanku.

"Lain kali kalau Nenek mau datang ke sini, Nenek bisa meneleponku dan aku akan langsung datang menjemput, oke?" Aku masih tidak tahu bagaimana harus menjawab beliau, jadi aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.

"Tidak, terima kasih. Kamu selalu sibuk sekali. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku hanya ingin melihat apa kamu memperlakukan istrimu dengan baik."

"Nenek, aku baik-baik saja," Fransiska menimpali.

"Baiklah kalau begitu. Omong-omong, jangan lupa besok itu pesta ulang tahun ke-60 Grup Lusman. William, aku berharap agar kamu membelikan Fransiska gaun malam yang indah untuk pesta ini. Aku ingin semua orang melihat betapa beruntungnya kamu mendapatkan seorang wanita seperti dirinya. Jangan sampai kamu membuatku sedih lagi, dengar tidak, anak muda?

"Tentu saja, Nenek."

Setelah beberapa lama mengobrol dengan Nenek dan Ibuku, akhirnya aku bisa meyakinkan mereka untuk pulang dan mengantar mereka keluar.

Dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin aku bisa menyebutkan perceraian kepada mereka tanpa menimbulkan suatu kegemparan.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Pulang Untuk Bercerai2 Bab 2 Perasaan Muak3 Bab 3 Tamu Tak Terduga4 Bab 4 Pria Serakah5 Bab 5 Gadis Tercerdas6 Bab 6 Harimau Tak Bertaring7 Bab 7 Aku Mau Pindah8 Bab 8 Hak Sebagai Suami9 Bab 9 Cinta Tanpa Sadar10 Bab 10 Makan Malam Bersama11 Bab 11 Tunjangan Perceraian12 Bab 12 Tidur Di Ranjang Yang Sama13 Bab 13 Mendapatkan Akta Nikah14 Bab 14 Malam Tanpa Tidur15 Bab 15 Sebuah Ciuman16 Bab 16 Mengingkari Janji17 Bab 17 Dipaksa Untuk Berkompromi18 Bab 18 Demam19 Bab 19 Skandal20 Bab 20 Minum21 Bab 21 Pingsan22 Bab 22 Pura-Pura Berpacaran23 Bab 23 Dalam Kekacauan24 Bab 24 Menginap Lagi25 Bab 25 Aku Tidak Mencintainya26 Bab 26 Gaun Pengantin27 Bab 27 Restu28 Bab 28 Mabuk29 Bab 29 Apa yang Terjadi Kemarin Malam30 Bab 30 Hargaku31 Bab 31 Kamu Tak Ternilai32 Bab 32 Bertingkah Seperti Tikus33 Bab 33 Ternyata Kamu!34 Bab 34 Mengoleskan Salep35 Bab 35 Kondisi Kritis36 Bab 36 Lufita Pingsan37 Bab 37 Aku Tidak Akan Menandatanganinya38 Bab 38 Membeli Bunga39 Bab 39 Aku Tidak Membencimu40 Bab 40 Disiram Dengan Cat41 Bab 41 Membuat Sarapan42 Bab 42 Kebenaran43 Bab 43 Dipukuli44 Bab 44 Adegan Hangat45 Bab 45 Masalah Pria46 Bab 46 Mungkin Dia Tidak Ingin Menceraikanmu47 Bab 47 Pengungkapan48 Bab 48 Foto49 Bab 49 Kue50 Bab 50 Sakit51 Bab 51 Di Luar Kendali52 Bab 52 Mimpi Atau Kenyataan 53 Bab 53 Janji54 Bab 54 Menyembunyikan55 Bab 55 Suapi Aku56 Bab 56 Dapat Diandalkan57 Bab 57 Perang Dingin58 Bab 58 Pesta Kantor59 Bab 59 Aku minta maaf60 Bab 60 Rumor61 Bab 61 Sugar Daddy62 Bab 62 Babak 62 Bermain Tenis63 Bab 63 Pengakuan64 Bab 64 Sponsor65 Bab 65 Melindungi66 Bab 66 Cucu Menantu67 Bab 67 Hubungan Yang Tak Pasti68 Bab 68 Gugatan69 Bab 69 Pertemuan70 Bab 70 Jatuh Cinta71 Bab 71 Tertekan di Bawah72 Bab 72 Berita73 Bab 73 Berlian74 Bab 74 Mencoba Gaun Pengantin75 Bab 75 Nama Kontaknya76 Bab 76 Memutuskan Hubungan77 Bab 77 Rayuan78 Bab 78 Perceraian79 Bab 79 William Mabuk80 Bab 80 Berita Tak Terduga81 Bab 81 Fera Ada Di Mana-Mana82 Bab 82 Kehamilan83 Bab 83 Perselisihan84 Bab 84 Lupa Ingatan85 Bab 85 Demam86 Bab 86 Rasa Pahit87 Bab 87 Panggilan dari Thomas88 Bab 88 Menyelidiki89 Bab 89 Dijebak90 Bab 90 Juru Selamat91 Bab 91 Mengumumkan92 Bab 92 Berita Tak Terduga93 Bab 93 Kecelakaan Mobil94 Bab 94 Kunjungan95 Bab 95 Janji96 Bab 96 Permainan di Antara Kedua Belah Pihak97 Bab 97 Cincin98 Bab 98 Sebuah Lelucon99 Bab 99 Pertanyaan Para Tetua100 Bab 100 Menginap Semalam