icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 8
Hak Sebagai Suami
Jumlah Kata:1141    |    Dirilis Pada:21/02/2022

Sudut Pandang William:

Aku tidak mau mundur. Sebenarnya aku malah ingin lebih mendekat lagi. Ketika aku dan Fransiska saling menatap, aku merasakan suatu keinginan yang luar biasa untuk memeluknya.

Tapi sebelum aku bisa memeluknya, dia sudah menekan tangannya ke dadaku dan mendorongku menjauh.

Dia kemudian membuka mulutnya. Dia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi memutuskan untuk tidak melakukannya. Tiba-tiba, aku menjadi kesal saat memikirkan pria Prancis yang menyukainya.

Apa dia juga mendorongnya menjauh ketika pria itu mencoba untuk memeluknya?

Atau dia hanya tidak ingin dekat denganku?

Semua pikiran ini mendorong batas kesadaranku, dan semakin aku melihat Fransiska, semakin aku ingin meraihnya, menciumnya, dan membawanya. Aku ingin memilikinya sebagaimana seorang suami dengan istrinya.

Tapi kemudian, ponselku berdering seolah-olah alam semesta berkonspirasi melawanku.

Aku mengutuk dengan pelan. Aku ingin menolak panggilan itu, tapi kemudian mengangkatnya karena melihat nama Fera.

Baru saat itulah aku sadar betapa konyolnya diriku barusan.

Aku mencintai Fera. Apa yang ada di pikiranku ketika mengharapkan Fransiska seperti itu?

"Halo?" Aku melonggarkan dasiku dan berjalan menjauh dari tempat tidur. Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum menjawab panggilan dari Fera.

"Hai, William. Aku sedang tidak enak badan hari ini. Aku merasa amat kelelahan dan tidak bisa jalan. Aku takut, William. Rasanya aku seperti akan mati. Apa aku akan mati?"

"Tidak apa-apa, Fera. Kamu akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu istirahat."

"Aku tidak mau sendirian di rumah. Maukah kamu datang untuk menemaniku?"

Sambil mendengarkan Fera yang memintaku untuk datang melalui telepon, aku berbalik dan menatap Fransiska. Dia sudah bangun dari tempat tidur dan sedang merapikan pakaiannya.

Tadi malam dia masuk angin dan badannya demam tinggi sejak pagi ini, tapi aku tidak pernah mendengarnya mengeluh. Dia bergerak dan melakukan apa yang harus dia lakukan seolah-olah dia sehat-sehat saja.

Ini membuatku bertanya-tanya, bagaimana dia dan Fera bisa begitu berbeda meskipun keduanya sama-sama wanita.

"Ada urusan penting yang harus aku tangani di kantor hari ini dan aku tidak bisa meninggalkannya. Jangan terlalu berlebihan berpikir, oke? Istirahatlah. Kamu akan merasa lebih baik setelah tidur siang."

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghibur Fera. Aku merasa bersalah karena tidak datang menemaninya, tapi di saat yang bersamaan, aku juga sedang tidak ingin melihatnya hari ini. Aku tidak tahan dengan isak tangis dan rasa cemasnya yang berlebihan. Aku tidak ingin menghabiskan waktu luangku dengan menyerap energi negatifnya.

Aku menutup telepon dan menatap Fransiska. "Apa kamu sudah merasa lebih baik?"

"Apa?" Dia sangat terkejut mendengar pertanyaanku, hingga dia menjatuhkan beberapa pakaiannya saat ingin membereskan kopernya.

"Aku tanya apakah kamu sudah merasa lebih baik," ulangku, yang biasanya tidak kulakukan. Namun, aku mencoba untuk meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak memberikan kelonggaran bagi Fransiska karena aku mencintainya. Dia itu masih keluargaku. Aku masih peduli padanya.

Sudut Pandang Fransiska:

"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya William. Aku tidak bisa membalasnya karena aku tidak menyangka bahwa dia akan menanyakan itu. Aku menjatuhkan beberapa pakaianku yang aku kemas dan buru-buru mengangkatnya. Fera baru saja meneleponnya. Sekarang dia harusnya pergi untuk menemui wanita itu, bukannya menanyakan bagaimana perasaanku.

Bagaimanapun, aku hanyalah seorang wanita yang ditakdirkan untuk menjadi titik kecil di masa lalunya. Aku hanyalah seorang pejalan kaki di dunianya yang tak terbatas.

"Aku baik-baik saja." Aku mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum.

William memperhatikanku menyingkirkan pakaianku untuk sementara waktu dan tidak mengatakan apa-apa. Lalu dia akhirnya berbalik untuk pergi. Aku tidak tahu apakah aku jadi berani karena sakit kepalaku yang berdenyut, tapi setelah aku meletakkan semua pakaianku, aku pun memanggilnya dan bertanya dengan tegas, "Apa kamu tidak lelah bolak-balik padaku dan Fera seperti ini?"

William berhenti sesaat tetapi dia tidak menjawab.

"Kamu mencintainya, bukan? Kalau begitu pergi saja dan tinggal dengannya. Mari kita buat ini mudah untuk kita bertiga." Aku telah menikah dengan William selama tiga tahun, tapi tidak sekalipun aku pernah merasa sebagai istri yang sebenarnya. Aku hanyalah sebuah gundukan di jalan menuju takdirnya yang sesungguhnya—Fera. Aku tidak paham kenapa dia masih berusaha untuk menunda hal yang tidak dapat dihindari, dan ini mulai membuatku frustasi.

Aku mencintainya, tapi aku tidak senang digantung seperti ini.

"Kenapa kamu kelihatannya sangat terburu-buru untuk bercerai? William berbalik dan menatapku dengan ekspresi yang menghina.

Jantungku melompat ke tenggorokanku, tapi aku menolak untuk mundur. Aku menegakkan punggungku dan menjawab, "Yang kamu inginkan adalah perceraian, bukan?"

"Iya, tapi aku tidak ingin hal-hal di antara kita berakhir tanpa aku memenuhi tugasku sebagai suami terlebih dahulu,"

jawab William dengan tiba-tiba.

Maksudnya apa?

Aku memeras otak untuk menemukan jawabannya, sementara keheningan yang aneh menyelimuti udara di sekeliling kami.

Apa dia ingin bercinta denganku?

Aku segera menepis pikiran itu. Mungkin aku sudah salah paham dengan apa yang dimaksudnya.

Sebelum aku bisa mengatakan apa-apa lagi, William sudah berbicara lagi dengan tergesa-gesa. "Bercerai itu lebih rumit dari apa yang kamu kira, Fransiska. Selain itu, Kakek juga telah menyimpan akta nikah kita. Bahkan jika kita berdua menandatangani surat itu sekarang, tetap saja kita tidak akan langsung resmi bercerai. Ini akan memakan waktu lama untuk melalui proses hukum."

Mendengar hal itu, aku tidak bisa menahan perasaan kecewa dan kemudian marah. Aku mengerti bahwa perceraian kami memang dimaksudkan untuk melalui proses hukum. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia menunda menyerahkan kertas yang ditandatangani untuk memulai proses ini. Rasanya dia mencoba untuk memanipulasiku.

Apa dia berusaha mempertahankanku dalam hidupnya selama yang dia bisa karena dia tahu aku cukup mencintainya untuk memenuhi setiap keinginannya?

Aku menggertakkan gigiku dan terus melanjutkan tatapan marahku padanya. Dengan putus asa aku mencari sedikit kilat ejekan di matanya, tapi aku tidak dapat melihatnya.

"Apa kamu lapar? Apa kamu ingin makan sesuatu?" Sekali lagi, dia bertingkah seolah dia benar-benar peduli padaku. Saat ini dia pasti melakukannya karena rasa bersalah.

Aku langsung menolak dan membuang muka.

"Tidak, aku baik-baik saja. Pergi saja dan temui Fera. Dialah yang seharusnya kamu khawatirkan sekarang."

"Aku belum menandatangani surat cerai. Kita masih menikah. Aku masih berkewajiban untuk menjagamu saat kamu sakit," kata William dengan tidak sabar.

"Tapi kamu tidak mencintaiku, kan? Aku tidak butuh belas kasihanmu, William. Kita akan segera kembali menjadi orang asing. Cara terbaik bagi kita untuk tetap berdamai adalah dengan tidak saling mengganggu satu sama lain. Kamu mengerti, kan?"

Aku mencintainya tapi tidak cukup untuk mengorbankan diriku melalui rasa sakit yang tak terucapkan. Aku masih punya harga diri. Aku tidak butuh rasa kasihan William, dan jika ini adalah satu-satunya jenis hubungan yang aku miliki dengannya, maka aku lebih baik sendiri.

"Aku mendoakan seluruh kebahagiaan bagimu dan Fera." Aku menatapnya dan memberinya harapan baikku yang tulus.

"Kamu baik sekali, Fransiska." Aku melihat kilatan singkat rasa sakit, marah, dan sedih di kedua mata William. Nada suaranya terdengar agak sinis, tapi kupikir itu hanya karena akhir-akhir ini ada banyak orang yang memberitahunya apa yang harus dia lakukan dan dia muak dengan itu. Bagaimanapun juga, dia adalah pria dominan, dan dia tidak suka melepaskan kendali, terutama atas urusan pribadinya.

"Aku akan kembali ke tempat tidur. Aku lelah. Pergi dan temanilah Fera." Tanpa menunggu jawaban dari William, aku kembali merangkak ke bawah selimut dan memejamkan mata.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Pulang Untuk Bercerai2 Bab 2 Perasaan Muak3 Bab 3 Tamu Tak Terduga4 Bab 4 Pria Serakah5 Bab 5 Gadis Tercerdas6 Bab 6 Harimau Tak Bertaring7 Bab 7 Aku Mau Pindah8 Bab 8 Hak Sebagai Suami9 Bab 9 Cinta Tanpa Sadar10 Bab 10 Makan Malam Bersama11 Bab 11 Tunjangan Perceraian12 Bab 12 Tidur Di Ranjang Yang Sama13 Bab 13 Mendapatkan Akta Nikah14 Bab 14 Malam Tanpa Tidur15 Bab 15 Sebuah Ciuman16 Bab 16 Mengingkari Janji17 Bab 17 Dipaksa Untuk Berkompromi18 Bab 18 Demam19 Bab 19 Skandal20 Bab 20 Minum21 Bab 21 Pingsan22 Bab 22 Pura-Pura Berpacaran23 Bab 23 Dalam Kekacauan24 Bab 24 Menginap Lagi25 Bab 25 Aku Tidak Mencintainya26 Bab 26 Gaun Pengantin27 Bab 27 Restu28 Bab 28 Mabuk29 Bab 29 Apa yang Terjadi Kemarin Malam30 Bab 30 Hargaku31 Bab 31 Kamu Tak Ternilai32 Bab 32 Bertingkah Seperti Tikus33 Bab 33 Ternyata Kamu!34 Bab 34 Mengoleskan Salep35 Bab 35 Kondisi Kritis36 Bab 36 Lufita Pingsan37 Bab 37 Aku Tidak Akan Menandatanganinya38 Bab 38 Membeli Bunga39 Bab 39 Aku Tidak Membencimu40 Bab 40 Disiram Dengan Cat41 Bab 41 Membuat Sarapan42 Bab 42 Kebenaran43 Bab 43 Dipukuli44 Bab 44 Adegan Hangat45 Bab 45 Masalah Pria46 Bab 46 Mungkin Dia Tidak Ingin Menceraikanmu47 Bab 47 Pengungkapan48 Bab 48 Foto49 Bab 49 Kue50 Bab 50 Sakit51 Bab 51 Di Luar Kendali52 Bab 52 Mimpi Atau Kenyataan 53 Bab 53 Janji54 Bab 54 Menyembunyikan55 Bab 55 Suapi Aku56 Bab 56 Dapat Diandalkan57 Bab 57 Perang Dingin58 Bab 58 Pesta Kantor59 Bab 59 Aku minta maaf60 Bab 60 Rumor61 Bab 61 Sugar Daddy62 Bab 62 Babak 62 Bermain Tenis63 Bab 63 Pengakuan64 Bab 64 Sponsor65 Bab 65 Melindungi66 Bab 66 Cucu Menantu67 Bab 67 Hubungan Yang Tak Pasti68 Bab 68 Gugatan69 Bab 69 Pertemuan70 Bab 70 Jatuh Cinta71 Bab 71 Tertekan di Bawah72 Bab 72 Berita73 Bab 73 Berlian74 Bab 74 Mencoba Gaun Pengantin75 Bab 75 Nama Kontaknya76 Bab 76 Memutuskan Hubungan77 Bab 77 Rayuan78 Bab 78 Perceraian79 Bab 79 William Mabuk80 Bab 80 Berita Tak Terduga81 Bab 81 Fera Ada Di Mana-Mana82 Bab 82 Kehamilan83 Bab 83 Perselisihan84 Bab 84 Lupa Ingatan85 Bab 85 Demam86 Bab 86 Rasa Pahit87 Bab 87 Panggilan dari Thomas88 Bab 88 Menyelidiki89 Bab 89 Dijebak90 Bab 90 Juru Selamat91 Bab 91 Mengumumkan92 Bab 92 Berita Tak Terduga93 Bab 93 Kecelakaan Mobil94 Bab 94 Kunjungan95 Bab 95 Janji96 Bab 96 Permainan di Antara Kedua Belah Pihak97 Bab 97 Cincin98 Bab 98 Sebuah Lelucon99 Bab 99 Pertanyaan Para Tetua100 Bab 100 Menginap Semalam