Dosa Termanis dengan Calon Iparku

Dosa Termanis dengan Calon Iparku

NA_VYA

5.0
Komentar
4.4K
Penayangan
95
Bab

Harusnya Safira tidak menerima kesepakatan yang ditawarkan calon adik iparnya yang bernama Kai. Harusnya dia bisa menjaga hati dan cintanya hanya untuk sang calon suami-Arkana. Hingga tanpa sadar, Safira pun telah melanggar batas yang tidak seharusnya dia lewati. Membiarkan Kai-calon adik iparnya mengusik ketenangan hatinya dan membuatnya goyah. Dosa Termanis antara Safira dan Kai pun tak bisa terelakkan. Bahkan, sampai menumbuhkan benih di rahim sang gadis yang berstatus sebagai calon istri pria lain. Akankah Safira bahagia dengan kesalahan fatal yang sengaja dia lakukan? Siapakah di antara Kai dan Arkana, yang pada akhirnya akan menjadi pelabuhan terakhir Safira? Simak kisahnya di sini!

Dosa Termanis dengan Calon Iparku Bab 1 Semaunya!

happy reading:")

***

Siang itu seorang gadis cantik berpenampilan sederhana terlihat sedang berbincang dengan seorang lelaki yang penampilannya berbanding terbalik. Tubuh proporsional dibalut dengan setelan jas warna hitam, wajah sangat tampan, dan senyuman yang menawan membuat para perempuan di sekitar curi-curi pandang.

Keduanya terlibat obrolan ringan sambil menikmati menu yang tersaji di meja Restoran, yang cukup terkenal. Di weekend seperti sekarang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pasangan serasi itu. Bertemu dua kali dalam seminggu merupakan salah satu cara agar hubungan mereka tetap terjaga.

Dan di setiap pertemuan, mereka akan membahas mengenai apa saja tak terkecuali masalah pekerjaan. Sang wanita terus tersenyum, kadang tersipu apabila mendapat perhatian kecil dari pujaannya. Namun senyuman itu seketika pudar ketika bunyi pesan masuk terdengar.

Wanita yang memakai jumpsuit dress warna maroon sebatas lutut itu melirik pada ponselnya, lalu mengejanya dalam hati.

Kai : [Ke sini sekarang! Gue tunggu! Gue duduk di deket pintu keluar restoran ini.]

Safira berdecak setelah membaca notifikasi pesan yang masuk lewat pop up layar ponselnya. Dia membiarkannya, tak berminat untuk membukanya. "Dia gak tau apa, kalo aku lagi sama Arkana?" cicitnya lirih yang hanya dapat didengar dirinya sendiri.

Kai selalu saja mengganggu di mana pun Safira berada. Bahkan tak segan untuk menerornya. Menyebalkan!

Pesan dari Kai, Safira abaikan, dan dia memutuskan kembali berbincang dengan Arkana. Namun, belum ada satu menit, bunyi notifikasi pesan masuk kembali berdenting. Manik Safira memejam sesaat, seraya mengontrol emosi agar tidak meledak, dan bisa membuat Arkana curiga.

Akan tetapi, Arkana tidak tuli, dan dia cukup peka.

"Siapa, Fir? Kayaknya dari tadi ada yang kirim chat? tanyanya, melirik ponsel Safira yang tergeletak di meja. Layarnya perlahan meredup sehingga Arkana belum sempat melihat notif pesan yang masuk.

Safira membeku seketika, otaknya mendadak blank, dan tidak bisa digunakan untuk berpikir cepat.

Pertanyaan Arkana jelas memaksa perempuan itu untuk menjawabnya, dan mengarang satu kebohongan lagi.

"Ah, eng ... gak, kok, Mas. Bukan siapa-siapa." Safira menampik dengan senyum terkesan kaku, dan sudut matanya terus melirik pada ponselnya. Beruntung Arkana mengangguk percaya pada jawaban yang diberikan Safira.

'Bener-bener si Kai!' umpatan itu terlontar dalam hati Safira.

Mau tidak mau, Safira harus menemui Kai, supaya dia berhenti mendapat teror dari lelaki itu. Ya, harus!

Berdeham singkat, sambil mengatur napas, dan degup jantung yang seperti habis dikejar-kejar setan, Safira pun beranjak dari duduknya dan berpamitan, "Mas, aku ke toilet bentar, ya?"

Arkana mengangguk tanpa menaruh curiga sedikit pun pada kekasihnya itu. "Iya, Fir. Jangan lama-lama. Habis dari sini kita harus ke butik buat fitting baju."

"Iya, Mas." Mendapat izin dari Arkana, Safira tak membuang-buang waktu lagi. Dia melenggang dengan cepat, sedikit berlari sambil menggerutu kesal. "Gara-gara si Kai, aku jadi bohong terus sama Arkana."

Sambil berjalan, Safira menghubungi Kai yang katanya berada di Restoran yang sama. Gadis itu memelankan langkah, ketika mengenali sosok berbaju lengan panjang hijau army melambai ke arahnya. Niat menghubungi pun dia tunda.

"Kai?" desis Safira dengan perasaan dongkol setengah hidup, meremas benda pipih di tangan, kemudian berjalan menghampiri Kai yang duduk agak jauh dari tempatnya berdiri.

Rupanya, Kai tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Buktinya, lelaki bertato dan bertindik di telinga itu benar-benar menyusulnya ke tempat ini.

Sial!

Hidup Safira selalu dirundung kesialan selama mengenal dan berurusan dengan makhluk bernama Arthur Barack Kai.

-

"Duduk!" Kai memerintah seenak jidat begitu gadis yang dia tunggu tiba di depan mata.

"Gak mau! Aku nyamperin kamu cuma bentar doang. Tadi aku alesan sama Mas Arkana cuma ke toilet," tolak Safira menyahut ketus, wajahnya masam sambil bersedekap dan mata memicing tajam ke arah Kai yang terlihat santai.

Benar-benar menyebalkan!

"Dia masih di sini?" Lelaki yang siang ini memakai topi hitam itu mendengkus, mendengar Safira menyebut nama Arkana dengan panggilan 'MAS'. Berbeda sekali dengan cara Safira memanggilnya.

Safira memutar bola matanya, "Masihlah! Habis dari sini aku sama dia mau ke butik."

Sepasang alis Kai terangkat tinggi, "Mau ngapain?" tanyanya, seraya melarikan pandangan ke arah Arkana yang duduk agak jauh memunggungi posisi keduanya. Agak jauh dan tentu saja Arkana tidak tahu jika tunangannya menghampiri pria lain di satu tempat yang sama. "Suruh dia pulang, Fir! Gue mau ngajak lu pergi."

"Eh?" Safira mengerjap heran mendengar Kai lagi-lagi memerintah. Menghela napasnya kasar, Safira tidak mengacuhkan pertanyaan Kai sebelumnya, dia justru melayangkan protes, "Ya ... Gak bisa, dong! Sekarang 'kan memang waktunya aku pergi sama dia. Ini weekend, Kai. Kamu gak bisa perintah aku seenaknya."

Perjanjian awal tidak seperti ini. Setiap weekend atau saat Safira off. Dia dan Arkana hanya sempat bertemu di hari tertentu. Sedangkan urusan Kai, kapan pun lelaki itu mau, Safira akan menuruti perintahnya. Dan hari ini Kai sudah melanggar perjanjian dengan datang diam-diam mengikuti Safira dan Arkana.

Apa-apaan, coba?

Satu sudut bibir Kai naik, lalu menanggapi protes Safira, "Gue tau ini weekend. Tapi gue maunya pergi sekarang sama lu, Fir."

"Kai, please ...." Raut Safira memelas, tatapannya terlihat memohon pada seorang Kai. "Kamu 'kan bisa pergi sama pacar kamu. Lagian, aku sama Mas Arkana cuma dua kali, loh, ketemuannya." Safira tidak berhenti mengingatkan si kepala batu di hadapannya ini.

"Gue gak peduli, Fir! Itu urusan lu sama dia! Yang jelas, gue mau perginya sama elu bukan sama Eve." Kai mengangkat bahu sekilas, menolak mentah-mentah rengekan Safira, dan berkata tidak sedang ingin pergi dengan pacarnya. "Cari alesan apa aja. Gue tunggu sepuluh menit di parkiran. Cepetan!" Pemuda itu lantas bangkit dan melenggang dari hadapan Safira tanpa menoleh lagi.

Safira menelan ludah, lalu berteriak memanggil pemuda sinting yang tidak mengacuhkannya. "Kai! Kai! Kai! Arrghh ...! Kai ngeselin!" Kakinya menghentak-hentak kesal di lantai, dan otomatis orang-orang di sekitar langsung memusatkan perhatian pada Safira.

Perempuan itu tidak peduli dengan tatapan nyalang orang-orang yang tidak tahu menahu masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Mungkin, sebagian besar dari mereka menganggap Safira wanita aneh.

"Hfft ... Aku mesti alesan apa, coba, sama Mas Arkana?" Kepala Safira terantuk lesu, seraya memutar tungkai untuk kembali ke tempat Arkana berada. Otaknya yang kecil sedang dipaksa berpikir, mencari alasan. "Kai sialan! Sialan!"

-

"Kenapa mendadak?" Arkana bertanya dengan nada bicara terdengar kecewa setelah Safira mengatakan hendak menggantikan salah satu temannya yang tidak bisa berangkat bekerja karena anaknya tiba-tiba jatuh sakit.

"Iya, Mas. Maaf ...." Yang hanya bisa dilakukan Safira adalah menundukkan kepala, menyembunyikan matanya dari tatapan Arkana yang bisa saja membaca kebohongannya. Kedua tangannya saling meremas di atas paha dengan perasaan bersalah.

Arkana bisa apa, selain mengizinkan. "Ya udah. Enggak apa-apa, Fir. Kita ke butiknya Minggu depan," ucapnya, lalu menghela besar. "Sebenernya aku masih kangen sama kamu. Kita ketemu cuma seminggu dua kali. Ini aja belum ada sehari kita barengan, tapi kamu-"

"Makasih, Mas. Sekali lagi maafin, ya ...?" Safira menyela perkataan Arkana, mengangkat pandangannya, dan melihat sorot kekecewaan dari mata kekasihnya. Dia sungguh tidak bisa berbuat banyak.

"Iya." Dan, Arkanalah yang pada akhirnya mengalah.

-

Dalam diam, Safira dan Arkana berjalan menuju parkiran. Tak ada obrolan diantara mereka. Meskipun begitu, Arkana tetap menggenggam tangan Safira sampai tiba di mobilnya. Namun, kesialan sepertinya tak berhenti menghampiri Safira, sebab tiba-tiba saja Kai muncul di hadapannya.

"Kai?" Bukan Safira yang menyebut nama itu, melainkan Arkana. "Kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan alis menaut. Arkana hanya heran bertemu dengan Kai di tempat ini.

Manik Kai menatap sekilas wajah Safira yang memucat. Dia tahu pasti jika perempuan itu takut ketahuan oleh sang pacar. "Suka-suka guelah, mau ada di mana? Gue ada urusan di deket sini," jawabnya ketus.

"Ohh ..." Arkana percaya. "Ya udah silakan lanjutkan. Aku sama Fira pergi dulu. Ayo, Fir."

"Mas." Safira menahan tangan Arkana yang hendak membawanya masuk ke mobil.

"Ya?" Arkana berbalik menatap Safira.

Safira menelan ludah, berdeham singkat, lalu bicara, "Aku ... berangkat naik taksi aja. Mas gak perlu anterin."

Kening Arkana mengerut. "Kenapa? Kan, sekalian aku anter. Nanti pulangnya aku jemput."

Perkataan Arkana jelas membuat Safira serba salah. Tidak mungkin dia berangkat bekerja, sedangkan pada kenyataannya itu cuma alasannya agar bisa menuruti kemauan Kai.

"Hmm ... Aku gak pa-pa, kok, Mas, berangkat sendiri. Lagian, aku mau pulang ke rumah dulu, mau ambil seragam. Pasti itu bakalan ngerepotin kamu, kalo mesti bolak-balik." Safira melirik sekilas ke arah Kai yang tidak berniat beranjak dari tempatnya. Dan, sepertinya memang sengaja melakukan hal tersebut.

"Tapi, Fir-" Ponsel Arkana berdering. "Sebentar." Dia melepas tangan Safira, lalu mengambil ponsel dari saku celana. "Aku jawab ini dulu. Kamu tunggu di sini," pinta Arkana yang langsung dianggukki Safira, dia pun pergi menuju belakang mobil untuk menjawab panggilan telepon.

Merasa memiliki kesempatan, Safira lantas menegur Kai dengan raut geram. "Kamu apa-apaan, sih, Kai? Kamu sengaja, iya?" Suaranya pelan tetapi terdengar tegas.

"Menurut lu?" Kai malah bersedekap, kemudian mempersempit jarak dengan Safira. "Gue tunggu di mobil!" Setelah itu dia pergi dari hadapan Safira dengan seringai puas.

Tangan Safira sontak mengepal kuat di sisi tubuh, dia bergumam dengan rahang mengatup rapat "Sialan kamu, Kai."

"Fir." Arkana menghampiri setelah menyelesaikan percakapan di telepon.

"Iya, Mas." Raut Safira kembali normal. Lembut dan memasang senyum manis.

Arkana mencari keberadaan Kai. "Kai udah pergi?"

"Udah, Mas."

"Oh ..." Angguk Arkana tak banyak bertanya mengenai Kai. "Kayaknya, aku memang gak bisa anter kamu. Aku harus segera pergi. Di gudang ada barang datang, tapi agak bermasalah, dan aku diminta segera ke sana untuk ngecek."

Dalam hati, Safira bernapas lega. "Iya, Mas. Kan, tadi aku juga udah bilang. Aku bisa berangkat sendiri. Mas kalo mau pergi, pergi aja." Dia mengelus lengan Arkana seraya tersenyum lembut.

"Aku pergi dulu. Maaf, gak bisa cariin kamu taksi." Sebelum benar-benar pergi, Arkana memberi kecupan mesra di kening Safira serta usapan lembut di pipi kekasihnya.

Safira tak banyak protes, karena dia sendiri yang menjadi penyebab awal kencan mereka berantakan. Setelah memastikan mobil yang dikemudikan Arkana menghilang dari pandangan, Safira kemudian membuang napas kasar. Kaki jenjangnya terasa berat ketika melangkah menghampiri mobil warna hitam milik Kai.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh NA_VYA

Selebihnya

Buku serupa

Mengandung Anak Tuan Serigala

Mengandung Anak Tuan Serigala

Linsing
5.0

Fang Yi Lan adalah seorang mahasiswi jenius dari jurusan kedokteran. Walaupun memiliki otak yang jenius, tetapi Yi Lan benar-benar buruk dalam menilai seorang pria. Di hari ulang tahunnya yang ke-20, Yi Lan tidak sengaja memergoki kekasihnya sedang berselingkuh dengan adik tirinya. Belum cukup sampai disana, Ayahnya malah menyuruhnya untuk merelakan kekasihnya untuk adik tirinya itu. Selain itu, dia malah dipaksa untuk menerima lamaran dari seorang pria hidung belang. . Yi Lan tentu saja tidak bisa menerima keputusan Ayahnya. Dia langsung memberontak sejadi-jadinya. Dia merasa takdirnya benar-benar kejam dan tidak adil. Dengan segala daya upaya, Yi Lan akhirnya berhasil melarikan diri dari rumah Ayahnya. . Di dalam pelariannya, Yi Lan tidak sengaja bertemu dengan seorang pria yang sedang terluka parah. Pria itu berwajah sangat tampan dan dingin. Tubuhnya juga terlihat sangat kekar dan kuat. Tetapi sayangnya, ketika pria itu pingsan, pria itu tiba-tiba berubah wujud menjadi seekor serigala hitam yang berbulu lebat. . Yi Lan benar-benar terkejut saat melihat perubahan pria itu. Dia refleks langsung berusaha untuk melarikan diri. Tetapi sayangnya, hati nuraninya sebagai seorang dokter melarangnya untuk meninggalkan pria itu. Karena dibebani oleh rasa iba, Yi Lan akhirnya menolong pria itu. . Setelah luka-lukanya diobati, pria itu akhirnya kembali berubah wujud menjadi manuisa. Tetapi sayangnya, bukannya berterima kasih kepada Yi Lan, pria itu malah mengigit leher Yi Lan sampai meninggalkan jejak. Setelah itu, pria itu langsung memperkos4 Yi Lan dengan ganas. . " Wangimu benar-benar enak Nona..., mulai malam ini, kau adalah pasanganku, aku akan membuatmu mengandung anak-anakku... !!" . Yi Lan hanya bisa menangis histeris saat diperkos4 oleh pria itu. Dia merasa nasibnya benar-benar sangat buruk. Kesialan menimpanya tanpa henti. Seandainya memungkinkan, dia ingin mati sekarang juga.

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Dosa Termanis dengan Calon Iparku Dosa Termanis dengan Calon Iparku NA_VYA Modern
“Harusnya Safira tidak menerima kesepakatan yang ditawarkan calon adik iparnya yang bernama Kai. Harusnya dia bisa menjaga hati dan cintanya hanya untuk sang calon suami-Arkana. Hingga tanpa sadar, Safira pun telah melanggar batas yang tidak seharusnya dia lewati. Membiarkan Kai-calon adik iparnya mengusik ketenangan hatinya dan membuatnya goyah. Dosa Termanis antara Safira dan Kai pun tak bisa terelakkan. Bahkan, sampai menumbuhkan benih di rahim sang gadis yang berstatus sebagai calon istri pria lain. Akankah Safira bahagia dengan kesalahan fatal yang sengaja dia lakukan? Siapakah di antara Kai dan Arkana, yang pada akhirnya akan menjadi pelabuhan terakhir Safira? Simak kisahnya di sini!”
1

Bab 1 Semaunya!

23/01/2024

2

Bab 2 Menurut

23/01/2024

3

Bab 3 Pelunas Utang

23/01/2024

4

Bab 4 Perbuatan Kai

23/01/2024

5

Bab 5 Kepergok Seseorang

23/01/2024

6

Bab 6 Hinaan Januar

23/01/2024

7

Bab 7 Menagih Jaminan

23/01/2024

8

Bab 8 Aib Keluarga

23/01/2024

9

Bab 9 Terjebak!

23/01/2024

10

Bab 10 Paksaan Kai

23/01/2024

11

Bab 11 Ada yang salah

23/01/2024

12

Bab 12 Nginep!

23/01/2024

13

Bab 13 Gertakan

23/01/2024

14

Bab 14 Terkejut

23/01/2024

15

Bab 15 Kebencian Kai

23/01/2024

16

Bab 16 Hal Langka

23/01/2024

17

Bab 17 Batas kesabaran Safira

05/02/2024

18

Bab 18 Permintaan Kai

05/02/2024

19

Bab 19 Safira Demam

06/02/2024

20

Bab 20 Kenyamanan semu

06/02/2024

21

Bab 21 Harus kerja

07/02/2024

22

Bab 22 Kelancangan yang

07/02/2024

23

Bab 23 Kemarahan Kai

08/02/2024

24

Bab 24 Bingung

08/02/2024

25

Bab 25 Terbongkar

09/02/2024

26

Bab 26 Perusak Kesenangan

09/02/2024

27

Bab 27 Tak Sudi!

10/02/2024

28

Bab 28 Penolong yang tidak diharapkan

10/02/2024

29

Bab 29 Ide licik Kai

11/02/2024

30

Bab 30 Menuruti Kai

11/02/2024

31

Bab 31 Safira Kecewa

12/02/2024

32

Bab 32 Mulai Menaruh Perhatian

13/02/2024

33

Bab 33 Tidur Sekamar

13/02/2024

34

Bab 34 Kemalangan Safira

14/02/2024

35

Bab 35 Juan ...

14/02/2024

36

Bab 36 Jangan pergi...

15/02/2024

37

Bab 37 Permintaan Safira

15/02/2024

38

Bab 38 Perubahan Sikap Kai

16/02/2024

39

Bab 39 Beberes

16/02/2024

40

Bab 40 Tidur di mobil

17/02/2024