icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 5
Perasaan Asing
Jumlah Kata:1108    |    Dirilis Pada:26/02/2022

Derap langkah tegas menggema, terdengar begitu pasti dan mengintimidasi. Tatapan mata setajam elang yang siap mencabik-cabik mangsa, membuat orang di sekitar seketika menunduk. Memberikan penghormatan sebagaimana mestinya.

Pria bersetelan jas formal itu acuh dan terus melangkah lurus menuju lift, yang akan membawanya naik ke lantai atas. Tepatnya ruangan Direktur Utama.

Tuan Rafael, begitu orang-orang luar memanggilnya. Sikapnya yang tegas, kejam, dan tak pernah memberi kesempatan kedua adalah hal yang paling menakutkan bagi para saingan bisnis dan membuat semua karyawan tunduk pada perintahnya.

Tak banyak yang bisa menyaingi ketenaran seorang Rafael di dunia bisnis. Dan tak banyak pula para pengusaha yang bisa berinvestasi di perusahaannya.

Memiliki brand dengan produk yang selalu mengguncang pasaran, menjadikan para pesaing Rafael gugur satu per satu hanya dalam waktu singkat. Dan bisa dipastikan siapa pun yang berani membangkang, kematian adalah akibatnya.

Maka dari itu, tidak ada satu pun yang berani mengusik ketenangan Rafael.

Disambut oleh sang asisten dan dua sekretaris yang berjenis kelamin laki-laki, Rafael berjalan tanpa melirik ke arah mereka.

“Selamat pagi, Tuan,” ucap mereka bersamaan.

“Hm. Masuk ke ruanganku, Fras!” Rafael terus melangkah masuk ke dalam ruangan Direktur Utama.

“Baik, Tuan.”

Ruangan yang berada di lantai tertinggi, dengan desain dinding kaca yang membentang, membuat Rafael bisa menikmati pemandangan di luar tatkala ia jenuh.

Namun, hal itu jelas bukan menjadi kebiasaan pria kejam yang terkenal memiliki hati sedingin es batu.

Pria itu akan lebih memilih menghabiskan waktunya dengan wanita malam ketimbang melakukan hal yang tak berguna.

“Silakan Tuan.” Fras meletakkan setumpuk dokumen di atas meja Rafael. “Semua dokumen yang Anda minta kemarin.”

“Bagaimana perkembangan peluncuran produk baru lusa nanti?”

“Semua sudah siap, Tuan. Untuk model yang akan mempromosikan produk ini pun sudah sesuai standar perusahaan,” jawab Fras singkat. Bertahun-tahun bekerja dengan Rafael sudah menjadi hal yang Fras ingat untuk tidak menyampaikan informasi yang bertele-tele.

“Bagus. Aku percayakan semua padamu.” Rafael melirik ke arah Fras yang masih berdiri di hadapannya. “Jangan sampai membuat kesalahan!” imbuhnya dengan penuh ketegasan.

“Saya mengerti, Tuan. Kalau tidak ada lagi yang Anda perlukan, saya mohon undur diri,” pamitnya.

Dengan gerakan satu tangan Rafael memberikan isyarat pada sang asisten.

Lelaki dengan mata tajam itu mulai membuka dokumen di mejanya dan menelaah satu per satu, sebelum membubuhkan tanda tangan dan stempel perusahaan.

Namun, tiba-tiba saja ia teringat dengan sepasang bola mata bening yang menatapnya sayu tadi pagi. Ditambah rintihan kesakitan yang terngiang di telinganya.

Dua hal itu cukup membuat konsentrasinya terganggu untuk beberapa saat.

“Sial!” umpatnya seraya membanting dokumen ke lantai.

*

Aroma maskulin menyeruak masuk tanpa permisi, mengusik ke dalam lubang hidung gadis yang terbaring lemah di atas ranjang. Perlahan kedua bola mata bening itu mengerjap. Menyesuaikan cahaya yang berasal dari lampu di langit- langit ruangan tersebut.

Sesaat setelah menyempurnakan pandangan matanya, gadis itu bangun seketika dengan napas terengah-engah. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menyusuri ruangan di mana dirinya berada saat ini.

“Astaga! Di mana aku? Ini bukan aku kembali pada pria brengsek itu bukan?” gumamnya dalam hati.

Tapi, tunggu dulu! Ini bukan seperti kamar hotel. Ini lebih mirip sebuah kamar. Lebih tepatnya kamar seorang laki-laki.

Deg

Gadis yang tak lain adalah Vanessa itu membulatkan matanya tatkala menangkap foto laki-laki yang ada di nakas dan dinding ruangan itu.

Dadanya berdetak kencang ketika satu ketakutan kembali merasuki dirinya. Apakah ia akan berakhir seperti semalam?

Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Ia beringsut turun sambil menahan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya.

“Ssshh.” Vanessa merasakan sakit yang luar biasa saat menginjakkan kakinya ke lantai. Rasa sakit itu menyerang area femininnya dengan cepat dan menjalar ke seluruh tulang-tulang di dalam tubuhnya.

Astaga! Cobaan apalagi ini?

Vanessa mencoba bertahan. Menghimpun semua pertahanan dirinya untuk bangkit perlahan. Namun, karena kedua kakinya terlalu lemah untuk menopang berat badannya, ia terjatuh ke lantai.

Bersamaan itu, seorang laki-laki muda masuk membawa nampan. Laki-laki itu langsung menghampiri Vanessa setelah meletakkan nampan itu di nakas.

“Hei! Kau masih terlalu lemah untuk turun dari tempat tidur,” ucap lelaki itu panik. Ia menyentuh lengan Vanessa, tapi langsung mendapat tepisan dari gadis itu.

“Jangan menyentuhku!” Vanessa kembali menyilangkan tangan ke depan dadanya. Bahkan ia menatap waspada pada lelaki di hadapannya ini.

“Ck. Jangan takut, Nona! Aku hanya ingin menolongmu. Bukan untuk melakukan hal kotor seperti yang ada di pikiranmu itu.”

Vanessa menyipitkan mata. Kembali waspada ketika lelaki itu berjongkok di hadapannya.

“Aku Rio.” Ia mengulurkan tangannya ke arah Vanessa diikuti senyum kecil yang tersungging di bibirnya.

Tak langsung menyambut, Vanessa menatap bergantian pada tangan dan wajah lelaki itu secara bergantian. Ia ingin meyakinkan bahwa Rio bukan lelaki berbahaya.

“Ck. Wajahku memang tampan. Kau tidak perlu terpesona sampai bengong seperti itu,” gerutu Rio dengan percaya diri dan masih belum menarik tangannya.

Vanessa masih diam. Ia masih bertarung dengan pikiran di benaknya. Kedua bola matanya berputar gelisah, menyadari di mana posisinya saat ini.

Berada di ruangan yang lebih mirip dengan kamar bersama lelaki asing tentu saja menimbulkan pergolakan yang luar biasa. Apalagi ia baru saja mendapat perlakuan brutal dari seorang lelaki brengsek. Yang tidak Vanessa kenal.

“Percayalah padaku! Tidak ada penjahat setampan dan semanis diriku, Nona Cantik.” Ia mengucapkan dengan gemas dan lucu saat ia menyadari ada yang tidak beres.

Tetap saja, kata-kata lembut dan lucu itu tidak masuk dengan benar ke telinga Vanessa. Yang terjadi gadis itu semakin ketakutan.

“Pergi!” seru Vanessa dengan nada meninggi. Butiran- butiran kristal mulai mengumpul di kedua sudut matanya. Bersiap akan tumpah dalam waktu dekat. Tapi gadis itu menahan. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.

“Hei!” Rio tanpa sengaja mencekal lengan Vanessa dan membuat gadis itu refleks memukulnya dengan membabi buta.

“PERGI KAU LAKI-LAKI BAJINGAN!” pekik Vanessa dan mendaratkan tangannya memukul Rio dengan sisa-sia tenaga yang ia miliki.

“Hei, hei, hei! Dengarkan aku!” Dengan sigap Rio menangkap kedua tangan Vanessa dan menenangkan gadis itu. “Aku bukan laki-laki itu! Lihat dengan benar!”

Vanessa menengadah. Memandang wajah lelaki yang berada di hadapannya itu. Wajah yang berbeda dari lelaki semalam.

“See! Kau bisa lihat jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya, right!” ucap Rio dengan senyum kecil yang meneduhkan.

Mengerjapkan matanya berulang, Vanessa melemas. Napasnya memburu ditambah bulir-bulir keringat menetes di beberapa bagian tubuhnya.

“Aku tadi menemukanmu pingsan di lift hotel,” ucap Rio yang melihat gadis itu tak memberontak lagi.

Melirik ke kanan kiri, Vanessa merasa kembali ketakutan. Tubuhnya gemetaran dan bibirnya terasa kaku. “A-aku di mana?” tanyanya susah payah.

“Kau di unit apartemenku.”

“A-apartemen?”

Lelaki itu mengangguk.

Tubuh Vanessa menegang dengan tatapan kosong.

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.

Jangan lupa memberikan komentar setelah membaca tiap bab ya, Kak.

Komentar kalian itu bisa jadi mood booster buat aku bisa lanjutin setiap cerita yang kutulis.

Cerita ini Eksklusif di Bakisah, Ceriaca, dan Pobaca.

Selamat membaca. Semoga kalian menyukai cerita yang penuh dengan emosi dan gairah membara.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Nafsu Liar Rafael2 Bab 2 Merenggut Keperawanan Vanessa3 Bab 3 Ronde Kedua4 Bab 4 Gairah yang Membara5 Bab 5 Perasaan Asing6 Bab 6 Denyut Kesakitan Vanessa7 Bab 7 Bercinta dengan Dua Wanita8 Bab 8 Transaksi9 Bab 9 Surat Perjanjian10 Bab 10 Hasrat Sang Penguasa 11 Bab 11 Gairah yang Mendominasi12 Bab 12 Sebuah Informasi13 Bab 13 Sadar14 Bab 14 Siapa Rafael 15 Bab 15 Makan Malam Pertama16 Bab 16 Kemarahan Rafael17 Bab 17 Bersiap Menerima Hukuman18 Bab 18 Sentuhan Liar Rafael19 Bab 19 Rasa Kesal Rafael ditolak Vanessa20 Bab 20 Kesempatan di dalam Kesempitan21 Bab 21 Kekacauan22 Bab 22 Perdebatan Gunawan dan Istri Kedua23 Bab 23 Tingkah Aneh Sang CEO24 Bab 24 Kemarahan Rafael25 Bab 25 Keputusan Vanessa26 Bab 26 Desah 'kan Namaku, Sayang27 Bab 27 Menuntaskan Hasrat28 Bab 28 Tamu tak Diundang29 Bab 29 Rencana Gila Vanessa 30 Bab 30 Merayu Sang CEO31 Bab 31 Memenuhi Keinginan Rafael32 Bab 32 Syarat Pertama33 Bab 33 Ledakan dari Syarat Kedua dan Ketiga 34 Bab 34 Euforia Kenikmatan35 Bab 35 Janji tanpa Syarat36 Bab 36 Pergulatan Panas di Pagi Hari37 Bab 37 Ancaman Rafael 38 Bab 38 Pereda Hasrat39 Bab 39 Siksaan Kenikmatan40 Bab 40 Tawaran Rafael 41 Bab 41 Gaya Baru42 Bab 42 Berita Menghebohkan43 Bab 43 Bahagia dalam Bayang Kenikmatan44 Bab 44 Gairah yang Tak Pernah Puas45 Bab 45 Bercinta di dalam Mobil46 Bab 46 Perbincangan Ferdinan dan Rafael 47 Bab 47 Kenikmatan di Pagi Hari48 Bab 48 Drama Pre Wedding 49 Bab 49 Perasaan yang Tak Menentu 50 Bab 50 Percikan Emosi 51 Bab 51 Berita Mengejutkan52 Bab 52 Resmi menjadi Nyonya Rafael 53 Bab 53 Malam Pertama54 Bab 54 Ledakan Hasrat55 Bab 55 Menolak Pilihan Mama56 Bab 56 Amarah yang Menggebu57 Bab 57 Kenyataan yang Menyakitkan58 Bab 58 Berita Menjelang Pernikahan 59 Bab 59 Tindakan Nekat 60 Bab 60 Pernikahan Rafael dan Vanessa.61 Bab 61 Kenikmatan setelah Pesta Pernikahan62 Bab 62 Gejolak yang Berbeda63 Bab 63 Sisi Lembut Sang CEO 64 Bab 64 Tertampar oleh Kenyataan 65 Bab 65 Terjerat Pesona Vanessa66 Bab 66 Pertemuan yang Tak Diinginkan67 Bab 67 Kabar yang Menyenangkan untuk Rafael68 Bab 68 Berita Panas69 Bab 69 Rafael Panik70 Bab 70 Terjerat Semakin Dalam 71 Bab 71 Siksaan72 Bab 72 Nikmat yang Tiada Duanya73 Bab 73 Peringatan dari Rafael 74 Bab 74 Prioritas di tengah Badai75 Bab 75 Pemantik Emosi76 Bab 76 Meyakinkan Perasaan77 Bab 77 Gairah yang Meledak78 Bab 78 Posesif 79 Bab 79 Perhatian dari Rafael 80 Bab 80 Gairah yang Mendesak81 Bab 81 Gairah yang Tak Tersalurkan82 Bab 82 Tangisan Vanessa83 Bab 83 Pertemuan yang Tak Diinginkan84 Bab 84 Perasaan yang Tak Seharusnya85 Bab 85 Amarah Rafael86 Bab 86 Kenyataan yang Menyakitkan87 Bab 87 Amarah Ferdinan88 Bab 88 Perasaan Vanessa yang Labil89 Bab 89 Aku Hamil, Rafael90 Bab 90 Amarah Vanessa91 Bab 91 Hancurnya Sebuah Harapan92 Bab 92 Keributan Adrian dan Gunawan93 Bab 93 Permintaan Vanessa94 Bab 94 Sikap Posesif Tuan CEO95 Bab 95 Tawaran untuk Sang CEO 96 Bab 96 Dorongan Hasrat97 Bab 97 Kerinduan yang Tercurahkan 98 Bab 98 Ancaman Perebutan Tahta dan Wanita99 Bab 99 Gejolak Ketakutan100 Bab 100 Janji Vanessa untuk Rafael