icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 2
Merenggut Keperawanan Vanessa
Jumlah Kata:1397    |    Dirilis Pada:14/02/2022

“Sial! Kau sudah basah!” Rafael menggeram kala jemarinya merasakan kelembaban di area kewanitaan Vanessa. Dengan gerakan cepat, ia mengambil posisi di kedua kaki Vanessa.

“Jangan Tuan! Saya mohon, jangan lakukan ini.” Vanessa serta merta bangkit dan menahan tangan Rafael yang memegang kedua kakinya.

Gigi pria yang diselimuti gairah itu menggeletuk dan sesaat kemudian ia menyerang bibir Vanessa dengan brutal.

Vanessa meronta dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Namun, semuanya menjadi sia-sia. Melawan seorang pria bertubuh besar dan tinggi bukanlah hal yang mudah. Apalagi pria itu berselimut kabut gairah yang liar.

“Tidak. Tolong lepaskan aku! Aku bukan jalang.” Teriakan itu hanya menggema di batin Vanessa. Pria yang kini memanggut liar bibirnya tak memberikan jeda sedikit pun. Terus menekan dan menuntut pembalasan.

Bercinta dengan seorang gadis perawan memang menyita kesabaran seorang Rafael Aditya Syahreza. Pria yang biasanya dipuaskan dan dipuja wanita itu harus bersabar untuk menuntun pergerakan gadis yang belum tersentuh untuk memuaskan hasratnya.

Hal itu tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jika gadis itu seperti Vanessa yang malah memberontak dan tak mengijinkan ia menyentuhnya.

Geraman dari bibir Rafael menggema. Sekali lagi perawan di dalam dekapannya masih meronta dan tak membuka mulutnya. Padahal ia ingin menikmati setiap rasa di dalam mulut gadis itu.

“Buka mulutmu, Gadis Sialan!” seru Rafael dengan tatapan tajamnya ketika ia melepaskan bibirnya. Apa-apaan gadis tak tahu diri ini? Apa dia tidak bisa luluh dengan ketampanannya?

Biasanya, meski dengan perawan sekalipun, gadis mana pun akan takluk hanya dengan melihat kedua matanya. Belum lagi jika ia menjanjikan nominal uang dan kepuasan.

Akan tetapi, kenapa perawan yang satu ini malah membangkang? Seolah menghindarinya?

Darah dalam tubuh Rafael mendidih. Ia merasa terhina dengan penolakan Vanessa yang terang-terangan itu. Dan jangan katakan jika seorang Rafael Syahreza tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Dengan tatapan nyalang ia mengunci semua pergerakan Vanessa. Menindih gadis itu dan memberikan dua pilihan yang sama-sama tak menguntungkan.

“Pilihlah! Kau minta disiksa sebelum bercinta atau setelahnya?” Sorot mata hitam bak elang yang mencabik-cabik itu tertuju kepada Vanessa. Membuat gadis itu membeku.

Perih. Ia tak bisa memilih salah satunya. Karena semua sama-sama tak ia inginkan. Untuk itu ia bungkam.

Plak

Satu tamparan mendarat di pipi Vanessa sebelah kiri. Kerasnya pukulan itu membuatnya menoleh.

Sakit. Rasanya tak pernah Vanessa bayangkan.

‘Kenapa ia harus merasakan hal ini, Tuhan? Kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga mendapatkan hukuman seperti ini?’

Pertanyaan itu hanya terngiang di benak Vanessa. Menyadari bahwa ia tak bisa mundur untuk melawan pria itu, ia memejamkan mata. Menerima takdir yang ada di depan mata.

Emosi di benak Rafael semakin memuncak kala Vanessa tak kunjung memberikan jawaban. Bahkan, dengan beraninya gadis itu memejamkan mata. Yang mana menjadi satu penghinaan untuk pria itu.

Seringai berbalut emosi bertakhta di sudut bibir Rafael. “Jadi kau memilih pilihan pertama? Menginginkan siksaan sebelum menjemput kenikmatan?”

Tangan pria berdada telanjang itu kemudian beralih mencekik leher Vanessa hingga gadis itu meronta dengan mata membelalak.

Vanessa terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Kuatnya cekikan di lehernya membuat ia tak bisa berteriak atau memohon ampunan.

“Aku sudah memberimu pilihan. Dan kau tak memanfaatkannya dengan baik.” Rafael mendekatkan wajahnya. Berpaling kemudian di dekat telinga Vanessa. Memberikan gigitan kecil yang seiring waktu berubah menjadi brutal.

“Tolong!” Jeritan itu hanya bisa menggema di dalam batin Vanessa.

Bibir Rafael turun ke leher jenjang Vanessa. Ia mengisap kulit putih mulus dengan liar dan penuh tekanan. Meninggalkan banyak tanda kemerahan sebagai pelampiasan emosi yang bercokol di hatinya.

Belum pernah Rafael semarah ini ketika ia sedang bergairah. Biasanya ia akan bersikap layaknya manusia normal yang ingin bercinta, meskipun ada penyiksaan sebagai bumbu penyedapnya.

Perlahan tangan Rafael yang mencekik leher Vanessa melonggar. Kesempatan itu digunakan Vanessa untuk menghirup udara dengan rakus. Napasnya masih tersengal diiringi suara batuk berkali-kali yang menyiksa.

“Ayah, tolong aku?” lirih Vanessa dalam hati seraya menetralkan kembali debaran dadanya karena ketakutan.

Mata hitam Rafael kembali membidik Vanessa. Menghunjam dengan tajam dan tanpa ada rasa iba.

“Jadi .... masih mau membangkang?” Pertanyaan itu masih dengan nada yang sama. Dingin dan datar.

“Sa-saya bukan seorang jalang, Tuan,” ujar Vanessa dengan bibir bergetar. Ia masih ingin mempertahankan diri meskipun itu mustahil baginya.

Seketika tawa mengerikan menggema di kamar hotel itu. Siapa lagi pelakunya jika bukan pria yang menindih tubuh Vanessa.

“Apa kau bilang? Bukan seorang jalang?” Tawa Rafael lenyap digantikan sorot penghakiman. Layaknya memang hanya dirinyalah yang bisa memutuskan status pada diri Vanessa.

Yakin, Vanessa mengangguk dengan harapan masih ada kesempatan untuk bernegosiasi. Tapi, ia salah. Pria yang memiliki gairah liar seperti Rafael hanya akan bisa dilunakkan dengan bahasa tubuh. Atau lebih tepatnya percintaan panas yang membuatnya candu.

Namun, selama belasan tahun lamanya pria bergairah liar itu tak menemukan wanita yang mampu melakukan itu.

“Kalau begitu ...” Membidik kedua mata Vanessa, pria yang sepenuhnya berhasrat itu menekankan setiap ucapannya. “... aku yang akan menjadikanmu seorang jalang.”

Bagai ada sebilah belati yang menghunjam hati Vanessa kala itu. Sakit dan perih. Namun, tak terlihat.

“Jadi ... bersiaplah menerima takdirmu malam ini. Aku yakin ...” Mata hitam Rafael menyusuri keindahan yang sejenak memikatnya. Pada bibir, hidung, dan kedua payudara yang terpampang di hadapannya. “... kau akan menjerit puas ketika aku memberikan hunjaman terbaik, pada kewanitaanmu sebagai pengalaman pertamamu.”

Begitulah pria itu adanya. Kejam dan tak memedulikan orang lain. Selain itu, ia adalah sosok yang tak mau dibantah. Apa pun itu. Keputusannya adalah mutlak.

Air mata mengalir begitu saja di kedua sudut mata Vanessa. Gadis dengan bibir bergetar, diiringi ketakutan itu hanya bisa berteriak dalam hati tatkala bibir Rafael kemudian menyerangnya brutal.

Pria yang sudah dikuasai gairah itu tak memberi jeda sedikit pun. Melumat sesuka hati. Menekan dengan semua kekuatan yang ia miliki.

Tangan Vanessa terkunci oleh Rafael yang sigap seiring pergerakan bibirnya yang kemudian turun ke leher. Mengisap hampir seluruh permukaan dada atas Vanessa, sebelum pada akhirnya meraup puting payudaranya yang telah menegang.

Vanessa merasakan ada yang salah pada tubuhnya ketika mulut hangat Rafael menenggelamkan putingnya. Rasa geli itu membuat gadis yang belum dijamah pria mana pun menggerakkan kedua kakinya, gelisah.

Ada desakan bertubi-tubi yang tak bisa dijelaskan. Bahkan ia merasakan dengan pasti denyutan di area kewanitaannya.

Berganti dari puting yang satu ke lainnya, Rafael seperti tak pernah puas merasakan rasa manis yang ditawarkan. Ini aneh dan baru pertama kali ia rasakan.

Mengabaikan pemikiran itu, tangannya kemudian bergerak turun. Menyentuh kewanitaan Vanessa.

“Buka pahamu!”

Perintah mutlak itu ingin dibantah, tetapi, tenaga Vanessa tak sekuat itu. Tangan besar Rafael memaksa untuk membuka paha Vanessa dengan kasar.

Tak kunjung mendapatkan apa yang diinginkan, Rafael melepaskan puting Vanessa dalam satu tarikan ketat yang membuat gadis itu melenguh.

“Kau memang seorang pembangkang,” desis Rafael tajam. Tanpa aba-aba kedua tangannya bergerak bersamaan. Membuka kedua paha itu dengan paksa. Kemudian menekuknya ke atas membuat pekikan tertahan keluar dari bibir Vanessa.

Jakun Rafael naik turun melihat betapa basahnya area kewanitaan Vanessa. Ia tak sabar untuk melesakkan kejantanannya yang telah berdenyut dan tegang ke dalam sana.

Maka, tak butuh waktu lama ia menarik handuk yang masih bertengger di pinggangnya. Meraih kejantanan yang sudah berdiri tegak itu dan menggesekkan pada permukaan kewanitaan Vanessa.

“Jangan lakukan ini!” Lirihan Vanessa yang tak sampai ke telinga Rafael menjadi tak berarti karena sesaat kemudian Pria itu menghunjamkan kejantanannya tanpa peringatan.

“Arghh!”

Rafael mengerang tatkala kejantanannya sudah sepenuhnya masuk ke dalam kewanitaan Vanessa. Otot-otot di dalam sana terasa mencengkeram miliknya dengan liat dan erat. Menciptakan sensasi warna-warni yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.

“Sial! Ini sangat sempit sekali,” erang Rafael yang masih menikmati sensasi yang menyergap kejantanannya. Tak ingin menahan terlalu lama, ia pun kemudian bergerak. Menghunjamkan miliknya perlahan dan seiring waktu menjadi kasar dan liar.

Rasa yang Rafael rasakan benar-benar di luar akal sehatnya. Ini bukan pertama kalinya ia membuka segel seorang perawan. Tapi, kali ini rasanya sulit dijelaskan.

Mengabaikan rintihan kesakitan Vanessa disertai air mata yang mengalir, Rafael menghunjamkan kejantanannya. Menikmati cengkeraman kewanitaan yang membuatnya gelap mata lebih lama.

Ia menindih Vanessa. Menempelkan tubuh polos mereka. Gerakan pinggulnya semakin liar tatkala gelombang kenikmatan itu membayang di pelupuk mata.

“F*ck!” umpat Rafael karena terlalu menikmati aktivitas seksualnya. Gila. Ini benar-benar gila dan tak pernah ia bayangkan. Mengapa bisa sesempit ini?

Tak lama kemudian ia tak lagi bisa menahan kala ledakan itu datang. Meluluhlantakkan tulang-tulang di dalam dirinya.

Tubuhnya hancur berkeping-keping karena ledakan kenikmatan itu menyergap kuat di dalam kejantanannya. Cairan cinta yang berjumlah tak sedikit itu pun tumpah di titik terdalam.

Terlalu terpikat oleh tubuh Vanessa, ada satu hal yang Rafael lupakan sepanjang sejarah ia menggauli wanita. Adalah satu benda yang tak pernah ia lupakan untuk dipasang di kejantanannya.

.

.

.

Bersambung ....

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Nafsu Liar Rafael2 Bab 2 Merenggut Keperawanan Vanessa3 Bab 3 Ronde Kedua4 Bab 4 Gairah yang Membara5 Bab 5 Perasaan Asing6 Bab 6 Denyut Kesakitan Vanessa7 Bab 7 Bercinta dengan Dua Wanita8 Bab 8 Transaksi9 Bab 9 Surat Perjanjian10 Bab 10 Hasrat Sang Penguasa 11 Bab 11 Gairah yang Mendominasi12 Bab 12 Sebuah Informasi13 Bab 13 Sadar14 Bab 14 Siapa Rafael 15 Bab 15 Makan Malam Pertama16 Bab 16 Kemarahan Rafael17 Bab 17 Bersiap Menerima Hukuman18 Bab 18 Sentuhan Liar Rafael19 Bab 19 Rasa Kesal Rafael ditolak Vanessa20 Bab 20 Kesempatan di dalam Kesempitan21 Bab 21 Kekacauan22 Bab 22 Perdebatan Gunawan dan Istri Kedua23 Bab 23 Tingkah Aneh Sang CEO24 Bab 24 Kemarahan Rafael25 Bab 25 Keputusan Vanessa26 Bab 26 Desah 'kan Namaku, Sayang27 Bab 27 Menuntaskan Hasrat28 Bab 28 Tamu tak Diundang29 Bab 29 Rencana Gila Vanessa 30 Bab 30 Merayu Sang CEO31 Bab 31 Memenuhi Keinginan Rafael32 Bab 32 Syarat Pertama33 Bab 33 Ledakan dari Syarat Kedua dan Ketiga 34 Bab 34 Euforia Kenikmatan35 Bab 35 Janji tanpa Syarat36 Bab 36 Pergulatan Panas di Pagi Hari37 Bab 37 Ancaman Rafael 38 Bab 38 Pereda Hasrat39 Bab 39 Siksaan Kenikmatan40 Bab 40 Tawaran Rafael 41 Bab 41 Gaya Baru42 Bab 42 Berita Menghebohkan43 Bab 43 Bahagia dalam Bayang Kenikmatan44 Bab 44 Gairah yang Tak Pernah Puas45 Bab 45 Bercinta di dalam Mobil46 Bab 46 Perbincangan Ferdinan dan Rafael 47 Bab 47 Kenikmatan di Pagi Hari48 Bab 48 Drama Pre Wedding 49 Bab 49 Perasaan yang Tak Menentu 50 Bab 50 Percikan Emosi 51 Bab 51 Berita Mengejutkan52 Bab 52 Resmi menjadi Nyonya Rafael 53 Bab 53 Malam Pertama54 Bab 54 Ledakan Hasrat55 Bab 55 Menolak Pilihan Mama56 Bab 56 Amarah yang Menggebu57 Bab 57 Kenyataan yang Menyakitkan58 Bab 58 Berita Menjelang Pernikahan 59 Bab 59 Tindakan Nekat 60 Bab 60 Pernikahan Rafael dan Vanessa.61 Bab 61 Kenikmatan setelah Pesta Pernikahan62 Bab 62 Gejolak yang Berbeda63 Bab 63 Sisi Lembut Sang CEO 64 Bab 64 Tertampar oleh Kenyataan 65 Bab 65 Terjerat Pesona Vanessa66 Bab 66 Pertemuan yang Tak Diinginkan67 Bab 67 Kabar yang Menyenangkan untuk Rafael68 Bab 68 Berita Panas69 Bab 69 Rafael Panik70 Bab 70 Terjerat Semakin Dalam 71 Bab 71 Siksaan72 Bab 72 Nikmat yang Tiada Duanya73 Bab 73 Peringatan dari Rafael 74 Bab 74 Prioritas di tengah Badai75 Bab 75 Pemantik Emosi76 Bab 76 Meyakinkan Perasaan77 Bab 77 Gairah yang Meledak78 Bab 78 Posesif 79 Bab 79 Perhatian dari Rafael 80 Bab 80 Gairah yang Mendesak81 Bab 81 Gairah yang Tak Tersalurkan82 Bab 82 Tangisan Vanessa83 Bab 83 Pertemuan yang Tak Diinginkan84 Bab 84 Perasaan yang Tak Seharusnya85 Bab 85 Amarah Rafael86 Bab 86 Kenyataan yang Menyakitkan87 Bab 87 Amarah Ferdinan88 Bab 88 Perasaan Vanessa yang Labil89 Bab 89 Aku Hamil, Rafael90 Bab 90 Amarah Vanessa91 Bab 91 Hancurnya Sebuah Harapan92 Bab 92 Keributan Adrian dan Gunawan93 Bab 93 Permintaan Vanessa94 Bab 94 Sikap Posesif Tuan CEO95 Bab 95 Tawaran untuk Sang CEO 96 Bab 96 Dorongan Hasrat97 Bab 97 Kerinduan yang Tercurahkan 98 Bab 98 Ancaman Perebutan Tahta dan Wanita99 Bab 99 Gejolak Ketakutan100 Bab 100 Janji Vanessa untuk Rafael