icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 6
Denyut Kesakitan Vanessa
Jumlah Kata:1146    |    Dirilis Pada:01/03/2022

Vanessa tak bisa menolak ketika Rio memaksa untuk mengantarnya pulang. Selain karena ia lemah, ia tak memiliki uang sepeser pun di tangan.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Rio ke sekian kalinya pada Vanessa yang sesekali merintih pelan.

“Ya. Aku baik-baik saja,” jawabnya cepat. Ia ingin cepat pulang. Rasa sakit yang mendera kewanitaannya kembali datang dan semakin tak bisa ditoleransi.

“Mau ke rumah sakit?” tawar Rio. Ia tadi belum sempat memeriksa gadis itu secara keseluruhan saat berada di apartemen.

“Tidak. Aku tidak mau,” tolak Vanessa dengan cepat. “Antarkan aku pulang saja atau biarkan aku pulang sendiri.”

‘Astaga! Bagaimana kalau ia benar-benar menyuruhmu pulang sendiri, Vanessa?’

Menyadari jika tawarannya sia-sia, lelaki itu menuruti keinginan Vanessa. “Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang.”

Dengan penuh kesabaran, Rio membantu Vanessa yang selalu memasang antisipasi. Termasuk ketika ia membantu wanita itu memasang lock safety belt-nya.

Sesampainya di salah satu persimpangan jalan, Vanessa meminta laki-laki itu berhenti. Tanpa berpamitan atau sekadar mengucapkan terima kasih, ia melepas lock safety belt dengan cepat dan bergegas turun.

Namun, rasa sakit itu membuatnya cukup sulit untuk berjalan dengan cepat. Ia terus memaksakan kedua kakinya untuk lekas menjauh dari mobil laki-laki asing itu.

Menyadari jika ia telah berjalan cukup jauh, Vanessa berbelok mengambil jalan pintas menuju rumah sederhana yang selama ini ia tempati bersama sang ayah.

Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Vanessa tiba di rumahnya. Ia harus berhenti beberapa kali untuk meredakan rasa sakitnya.

Sesampainya di depan pintu rumah ia sempat kebingungan karena tak membawa kunci. Beruntung pintu dalam keadaan tak terkunci, sehingga ia bisa langsung masuk ke dalam.

Wanita memakai dres hitam itu disuguhi oleh suara desahan dan lenguhan kencang yang berasal dari kamar ayahnya. Tenggorokannya tiba-tiba kering, tak bisa berkata apa-apa lagi.

Ingatan semalam melintas seolah-olah berada di depan mata. Bedanya, jika yang saat ini terjadi adalah jeritan kepuasan, sedangkan yang semalam adalah jeritan kesakitan.

Kedua kaki Vanessa melemas seperti jeli. Ia tak kuat lagi mendengar desahan itu. Menghimpun sisa tenaga, ia melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Gadis berpenampilan berantakan itu menangis. Duduk di bawah pancuran air di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia menanggalkan semua pakaiannya. Membuang benda itu asal dan menggosok seluruh tubuhnya.

Ia bahkan menuang banyak sabun mandi dengan harapan semua sisa-sisa yang diberikan laki-laki bajingan itu bersih tak tersisa. Termasuk tanda merah yang terlukis hampir di sekujur tubuhnya.

Bekas sabetan dari ikat pinggang dan cengkeraman tangan pria kejam itu menorehkan luka dalam di tubuh dan hati Vanessa.

“Dasar BAJINGAN!” umpat Vanessa yang tak bisa mengendalikan diri. Ia meraung meratapi keadaannya.

Apa yang akan dia katakan pada kekasihnya nanti? Dan bagaimana kelanjutan masa depan tanpa keperawanan yang ia jaga sepenuh hati?

“Aku sudah membayar mahal atas tubuhmu. Jadi, sebelum aku puas ... aku tidak akan melepaskan kau begitu saja.”

Kata-kata pria bajingan itu menggema di benak Vanessa. Amarahnya bertakhta. Ia menyudahi acara mandinya dan bergegas memakai pakaian.

Tujuannya saat ini adalah meminta penjelasan kepada ayahnya. Ia yakin jika pria itu tahu apa yang terjadi padanya.

Namun, ketika baru sampai di depan pintu yang tak menutup dengan benar, satu kenyataan pahit menghantam dirinya. Membuat hatinya hancur tak bersisa.

Pria yang selama ini ia hormati dan segani ternyata tak sebaik itu. Ia termangu mendengar semua ocehan dari pasangan yang masih bergumul di dalam kamar ayahnya.

Hati Vanessa berdenyut. Ia tak tahan lagi. Ia membuka pintu dengan kasar dan membuat sang ayah yang menindih wanita jalang itu terkejut.

“Apa yang kau lakukan, Vanessa?” Kilat mata tajam Robi menghunjam Vanessa yang berdiri di depan pintu dengan napas menggebu.

“Aku yang seharusnya bertanya kepada Ayah. Kenapa Ayah tega menjual Vanessa kepada pria hidung belang?” pekik Vanessa dengan suara meninggi. Ia tidak peduli jika dianggap tidak sopan kepada orang tua, bila ada orang luar yang mendengar.

Pria yang masih berada di atas tubuh wanita sewaannya itu menarik diri. Meraih bokser dan memakainya dengan cepat.

Dengan hati yang dipenuhi amarah, ia menghampiri Vanessa. Ia menarik rambut gadis itu hingga si empunya memekik. Merintih kesakitan.

“Kau mau tau kenapa kau harus kujual?” tanya Robi tanpa melepaskan cengkeraman tangannya di rambut Vanessa.

Gadis yang menahan kesakitan itu meringis.

“Itu untuk membalas budi karena aku telah merawat ibumu yang sakit-sakitan hingga dia mati,” ucap Robi tanpa perasaan. “Dan kau tau ... berapa banyak uang yang sudah aku keluarkan?”

Vanessa menggigit bibirnya. Menahan isakan yang siap meluncur kapan saja.

“Seharusnya kau tau diri untuk tak berbuat macam-macam jika masih ingin hidup dengan tenang.” Robi menghempaskan tubuh Vanessa ke lantai. Membuat gadis itu tersungkur hingga bibirnya mengeluarkan darah.

Lelaki yang bersifat kejam itu berjongkok. Kembali menarik rambut Vanessa agar gadis itu menatap padanya. Ia menyeringai.

“Masih beruntung aku tidak menjualmu pada dua pria sekaligus,” ucap Robi. “Dan asal kau tau ... mulai besok malam, kau harus mengikuti semua keinginanku atau kau akan kujual di rumah bordil selamanya.”

Lelaki itu menghempaskan kepala Vanessa membentur lantai hingga gadis itu tak sadarkan diri.

“Sial!” umpat Robi dengan emosi yang bercokol di benaknya.

“Astaga Robi! Apa yang kau lakukan padanya?” pekik wanita tanpa busana itu di atas ranjang Robi.

“Diamlah, Zeta! Jangan berteriak terlalu kencang.”

Dengan sigap Robi menyeret tubuh Vanessa keluar dari kamarnya.

“Menyusahkan aku saja.”

Pria paruh baya itu menyeret Vanessa hingga ke kamar gadis itu. Tanpa perasaan, ia menghempaskan Vanessa ke atas tempat tidur.

Namun, saat kaos Vanessa tersingkap, pria itu meneguk ludahnya kasar. Gairahnya yang baru saja redup kembali bergejolak.

Ini bukan pertama kali ia merasakannya, hanya saja ia masih menahan untuk tidak menghabisi Vanessa. Tetapi, bagaimana dengan kali ini? Di saat gadis itu terkapar tak berdaya, bukankah ia bisa leluasa melakukan apa pun?

Sisi liar Robi membisikkan kata-kata bahwa inilah saat yang tepat untuk menikmati gadis pembangkang itu. Meskipun ia tidak bisa menikmati keperawanannya.

Kejantanan pria mesum itu menggeliat dan berdenyut. Apakah ini karena efek dari obat kuat yang ia minum? Atau memang karena ada tubuh menggoda yang merangsang hasratnya?

Pria itu tak peduli. Ia mulai menyentuh kaki Vanessa perlahan. Merasakan kehalusan kulit yang membuatnya semakin pening karena mulai terangsang.

Astaga! Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nikmatnya kewanitaan Vanessa.

“F*ck! Ini tidak bisa dibiarkan.”

Robi memejamkan matanya sesaat sebelum pada akhirnya merobek kaos yang Vanessa pakai hingga menampilkan sepasang keindahan payudara yang di sanggah bra.

Mata Robi menggelap melihat betapa besarnya payudara itu. Membuat ia tak tahan untuk meremasnya dan mencicipi rasa yang ada.

Akan tetapi, panggilan dari Zeta yang membawa ponselnya mengalihkan tatapan buas pria itu dari dada Vanessa.

“Ada telepon masuk.”

Sial! Robi menggeram kesal. Terpaksa ia harus menunda keinginannya sejenak. Padahal gairahnya sudah berada di ubun-ubun.

Tanpa turun dari atas tubuh Vanessa, Robi menerima ponsel yang diulurkan Zeta.

“Halo, ada apa Bertha?”

“...”

“Apa?”

“...”

“Baiklah. Aku akan mempersiapkannya terlebih dahulu. Berapa bayarannya?”

“...”

“OK. Kau akan mendapatkan komisi jika transaksi ini berhasil. Kau tidak perlu ragu. Berikan nomor ponselnya padaku.”

Robi memutuskan sambungan telepon di ponselnya dan membuka ruang percakapan di salah satu aplikasi pesan online. Ia menyeringai melihat siapa yang menginginkan Vanessa.

.

.

.

Bersambung ...

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Nafsu Liar Rafael2 Bab 2 Merenggut Keperawanan Vanessa3 Bab 3 Ronde Kedua4 Bab 4 Gairah yang Membara5 Bab 5 Perasaan Asing6 Bab 6 Denyut Kesakitan Vanessa7 Bab 7 Bercinta dengan Dua Wanita8 Bab 8 Transaksi9 Bab 9 Surat Perjanjian10 Bab 10 Hasrat Sang Penguasa 11 Bab 11 Gairah yang Mendominasi12 Bab 12 Sebuah Informasi13 Bab 13 Sadar14 Bab 14 Siapa Rafael 15 Bab 15 Makan Malam Pertama16 Bab 16 Kemarahan Rafael17 Bab 17 Bersiap Menerima Hukuman18 Bab 18 Sentuhan Liar Rafael19 Bab 19 Rasa Kesal Rafael ditolak Vanessa20 Bab 20 Kesempatan di dalam Kesempitan21 Bab 21 Kekacauan22 Bab 22 Perdebatan Gunawan dan Istri Kedua23 Bab 23 Tingkah Aneh Sang CEO24 Bab 24 Kemarahan Rafael25 Bab 25 Keputusan Vanessa26 Bab 26 Desah 'kan Namaku, Sayang27 Bab 27 Menuntaskan Hasrat28 Bab 28 Tamu tak Diundang29 Bab 29 Rencana Gila Vanessa 30 Bab 30 Merayu Sang CEO31 Bab 31 Memenuhi Keinginan Rafael32 Bab 32 Syarat Pertama33 Bab 33 Ledakan dari Syarat Kedua dan Ketiga 34 Bab 34 Euforia Kenikmatan35 Bab 35 Janji tanpa Syarat36 Bab 36 Pergulatan Panas di Pagi Hari37 Bab 37 Ancaman Rafael 38 Bab 38 Pereda Hasrat39 Bab 39 Siksaan Kenikmatan40 Bab 40 Tawaran Rafael 41 Bab 41 Gaya Baru42 Bab 42 Berita Menghebohkan43 Bab 43 Bahagia dalam Bayang Kenikmatan44 Bab 44 Gairah yang Tak Pernah Puas45 Bab 45 Bercinta di dalam Mobil46 Bab 46 Perbincangan Ferdinan dan Rafael 47 Bab 47 Kenikmatan di Pagi Hari48 Bab 48 Drama Pre Wedding 49 Bab 49 Perasaan yang Tak Menentu 50 Bab 50 Percikan Emosi 51 Bab 51 Berita Mengejutkan52 Bab 52 Resmi menjadi Nyonya Rafael 53 Bab 53 Malam Pertama54 Bab 54 Ledakan Hasrat55 Bab 55 Menolak Pilihan Mama56 Bab 56 Amarah yang Menggebu57 Bab 57 Kenyataan yang Menyakitkan58 Bab 58 Berita Menjelang Pernikahan 59 Bab 59 Tindakan Nekat 60 Bab 60 Pernikahan Rafael dan Vanessa.61 Bab 61 Kenikmatan setelah Pesta Pernikahan62 Bab 62 Gejolak yang Berbeda63 Bab 63 Sisi Lembut Sang CEO 64 Bab 64 Tertampar oleh Kenyataan 65 Bab 65 Terjerat Pesona Vanessa66 Bab 66 Pertemuan yang Tak Diinginkan67 Bab 67 Kabar yang Menyenangkan untuk Rafael68 Bab 68 Berita Panas69 Bab 69 Rafael Panik70 Bab 70 Terjerat Semakin Dalam 71 Bab 71 Siksaan72 Bab 72 Nikmat yang Tiada Duanya73 Bab 73 Peringatan dari Rafael 74 Bab 74 Prioritas di tengah Badai75 Bab 75 Pemantik Emosi76 Bab 76 Meyakinkan Perasaan77 Bab 77 Gairah yang Meledak78 Bab 78 Posesif 79 Bab 79 Perhatian dari Rafael 80 Bab 80 Gairah yang Mendesak81 Bab 81 Gairah yang Tak Tersalurkan82 Bab 82 Tangisan Vanessa83 Bab 83 Pertemuan yang Tak Diinginkan84 Bab 84 Perasaan yang Tak Seharusnya85 Bab 85 Amarah Rafael86 Bab 86 Kenyataan yang Menyakitkan87 Bab 87 Amarah Ferdinan88 Bab 88 Perasaan Vanessa yang Labil89 Bab 89 Aku Hamil, Rafael90 Bab 90 Amarah Vanessa91 Bab 91 Hancurnya Sebuah Harapan92 Bab 92 Keributan Adrian dan Gunawan93 Bab 93 Permintaan Vanessa94 Bab 94 Sikap Posesif Tuan CEO95 Bab 95 Tawaran untuk Sang CEO 96 Bab 96 Dorongan Hasrat97 Bab 97 Kerinduan yang Tercurahkan 98 Bab 98 Ancaman Perebutan Tahta dan Wanita99 Bab 99 Gejolak Ketakutan100 Bab 100 Janji Vanessa untuk Rafael