icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 7
Tak Mengenal Kata Penolakan
Jumlah Kata:1161    |    Dirilis Pada: 28/06/2022

"Kyaaa!" teriaknya kaget. Saat mendapati wajah lelaki tampan tepat di depan wajahnya. Reflek kedua tangan Mel pun mendorong lelaki itu hingga membentur sisi mobil lain. "Elo?!" ujar Mel setelah sadar siapa lelaki di hadapannya itu. Kemudian ia segera meringkuk ke sisi mobil yang lain. Takut Axel akan melakukan hal mesum lagi padanya. "Ngapain loe bawa gue kesini?" tanya Mel ketus. Kedua tangannya dengan sigap langsung tersilang di depan dada.

Axel mengangkat badannya sambil membenarkan posisi jasnya agar tetap terlihat penuh wibawa. Kemudian ia menunjukkan senyum liciknya pada Mel.

"Gue cuma mau kasih penawaran menarik buat elo?" tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Mel. Mel yang sudah terpojok tak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Pen… penawaran apa?" tanya Mel terbata. Jujur saat kedua manik matanya bertemu dengan mata elang lelaki itu. Ia merasakan ada desir-desir aneh di tubuhnya.

"Penawaran agar loe jadi istri gue," ujar Axel pelan tapi pasti. Mata Mel langsung terbelalak.

Plak!

Seketika Mel menampar pipi Axel dengan cukup keras.

"Apa-apaan loe?" tanya Axel sambil mengusap pipinya yang terasa panas.

"Jangan mengada-ada ya! Kita ini baru aja ketemu. Loe udah main lamar gue gitu aja. Gue tau, loe pasti ketagihan kan main kuda-kudaan sama gue?" ujar Mel tanpa basa-basi. "Tapi denger ya. Apa yang kita lakuin kemarin malam itu hanyalah sebuah kesalahan. Jadi, gue harap loe segera melupakan kejadian itu," tambah Mel tegas.

"Apa? Melupakan? Setelah loe merenggut keperjakaan gue dan bikin gue nggak bisa tidur nyenyak semaleman gara-gara mikirin tubuh seksi elo itu? Enggak. Enggak akan pernah," balas Axel dengan nada penuh penekanan.

"Heh. Loe jangan sok jadi orang yang paling dirugikan deh. Loe nggak inget kalau gue juga udah kasih selaput dara gue sama elo. Ya udah. Anggap saja kita impas."

"Nggak bisa gitu dong. Mungkin tubuh loe emang udah biasa digrepe-grepe sama cowok lain. Tapi, badan gue baru pertama kali ini disentuh sama cewek. Jadi, loe harus tanggung jawab dong. Kalau gue pengen merasakannya lagi dan lagi," balas Axel sengit. "Lagian gue bisa kasih apapun yang elo mau. Rumah, uang, perhiasan, mobil dan semuanya. Loe tunggal sebutin aja semua. Jadi, loe nggak perlu capek-capek kerja hanya untuk sekedar menyambung hidup loe yang pas-pasan itu," lanjut Axel. Mel membuka mulutnya lebar-lebar. Sungguh, ia tak tau harus bagaimana membalas ucapan Axel yang bernada merendahkannya itu.

Plak! Plak!

Akhirnya tangan Mel yang menggantikan seluruh isi hatinya yang terasa terbakar emosi.

"Apaan sih loe cewek bar-bar? Kenapa loe tampar gue lagi?" tanya Axel dengan wajah innocent.

"Dengerin gue baik-baik ya. Gue emang miskin. Gue emang nggak punya apa-apa. Tapi, gue masih punya moral dan harga diri. Jadi, jangan loe pikir dengan harta loe yang banyak itu. Loe bisa melecehkan hidup gue seenaknya. Mengerti?!" Mel berucap dengan penuh emosi. Kemudian ia membuka pintu mobil di sampingnya. Lalu berjalan meninggalkan Axel yang hanya termangu mendengarkan ucapan Mel tadi. Di luar mobil Mel bertemu dengan kedua orang yang membekap mulutnya tadi. Ia menatap kedua orang itu penuh emosi. Sebelum berjalan melewatinya dengan kaki yang ia hentakkan kuat-kuat. Kedua lelaki itu segera balik badan dan berjalan cepat ke arah sang Bos Besar.

"Bos. Apa perlu gadis itu kita tangkap lagi?" tanya salah satu diantaranya pada Axel yang terus menatap punggung Mel menjauh.

"Nggak perlu. Gue punya cara sendiri untuk menangkapnya," timpal Axel. Ia pun teringat sesuatu. "Ayo, pergi! Gue punya ide lain yang lebih brilian," tambah Axel dengan senyum liciknya.

"Baik, Bos," jawab keduanya dengan kompak. Salah satu diantara mereka memencet tombol di pintu mobil hingga bagian itu bergerak perlahan dan kembali tertutup. Axel yang baru saja memindahkan wajahnya ke arah depan. Kembali menebarkan senyum liciknya.

'Heh. Sorry, dalam kamus hidup gue. Gue nggak pernah kenal kata penolakan,' batinnya.

Sedangkan Mel kini tengah berlari ke sebuah warung nasi Padang. Bekalnya yang entah hilang dimana. Membuat gadis itu harus membeli bekal baru untuk makan siang ayahnya. Sampai di dalam warung tersebut segera memesan nasi, sayur dan telor untuk dibungkus.

"Sialan! Gara-gara lelaki itu. Gue harus mengeluarkan uang lagi buat beli makan siang ayah," gumam Mel sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya yang tampak sangat tipis. Mel pun mengeluarkan tiga uang pecahan lima ribuan. Sementara sisanya hanya tinggal empat lembar pecahan yang sama dan dua lembar lain pecahan dua ribuan. Mel yang belum makan pun harus menahan perut kosongnya. Sebab, uangnya yang tinggal sedikit harus ia gunakan untuk membayar ongkos ojek nanti malam.

'Yah! Harus puasa lagi gue,' pikirnya sambil menutup dompet itu lagi.

"Ini, Neng. Nasinya," ujar si penjaga warung sambil memberikan pesanan Mel.

"Iya, Bu. Ini uangnya terima kasih," balas Mel. Mereka berdua pun menukar benda di tangan masing-masing. Mel bergegas meninggalkan tempat itu dan segera melanjutkan perjalanan menuju tempat terapi Sunandar yang berjarak satu kilometer dari tempat itu. Untuk menghemat biaya. Mel memutuskan untuk berjalan kaki meskipun banyak angkutan kota yang menawarkan jasanya.

Tiga puluh menit kemudian. Akhirnya Mel sampai di tempat tujuan. Ia menghentikan langkahnya sesaat. Untuk beristirahat dan menghirup udara segar. Namun, Mel sadar jam istirahat tempat terapi itu tak berlangsung lama. Sehingga ia harus segera memberikan bekal itu pada ayahnya. Mel melanjutkan langkahnya memasuki area tempat terapi itu. Sampai di dalam Mel tak kunjung menemukan sosok Sunandar. Ia menjadi panik takut sang ayah pergi mencarinya seorang diri. Mel berlari ke arah salah satu terapis yang berdiri di depan pintu masuk.

"Maaf, Bu. Apa Bu Lis tau ayah saya kemana?" tanya Mel dengan wajah panik.

"Pak Sunandar barusan saja keluar untuk makan siang," jawabnya terlihat santai.

"Apa? Kemana, Bu? Apa dia mengatakan sesuatu?" Mel tampak semakin panik.

"Dia tidak mengatakan apapun. Hanya saja teman lelakimu sudah meminta izin pada saya untuk mengajaknya makan di Cita Rasa Resto," jawab wanita paruh baya itu.

"Cit… Cita Rasa Resto? Teman lelaki saya? Siapa?"

"Alah. Jangan sungkan begitu, Mel. Saya liat dia orang baik, tampan dan kaya lagi. Jadi, kamu harus menggenggamnya erat. Jangan sampai lepas. Sulit lho nyari yang begituan," kata si Bu Lis sambil senyam-senyum tak jelas.

'Apa? Tampan dan kaya? Jangan-jangan lelaki gila tadi. Awas aja kalau sampai dia memperlakukan ayah dengan buruk,' batin Mel dengan kening yang berkerut sempurna. Mengingat kalimat meremehkan dari lelaki tadi. Mel jadi parno ayahnya akan menjadi sasaran empuk lelaki itu untuk semakin merendahkannya. 'Apalagi dengan kondisi tubuh Ayah yang seperti ini,' tambah Mel masih membatin.

"Kalau begitu. Saya permisi dulu, Bu. Terima kasih informasinya," ujar Mel kemudian berlalu.

Mel segera menuju Cita Rasa Resto yang berada tak jauh dari tempat terapi itu. Ia langsung masuk ke dalam dan mencari sosok sang ayah. Namun, ia tak menemukannya meskipun ia sudah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

"Dimana mereka?" gumam Mel.

"Nona Camelia," sapa seorang wanita dengan pakaian waitress yang melekat di tubuhnya.

"Iy… iya benar." Mel tergagap. Ia tak menyangka wanita itu tau nama lengkapnya.

"Ayah anda sudah menunggu di dalam. Mari ikuti saya untuk sampai ke sana!" ujar wanita itu lagi.

"Ba… baik," kata Mel masih bingung. Ia yang sudah penasaran pun langsung berjalan membuntutinya. Hingga sampai di ruangan yang lebih tertutup wanita itu menghentikan langkahnya. Ia membuka pintu ruangan itu. Dan seketika mata Mel terbelalak.

"Ayah," gumamnya.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Tak Mau Dijodohkan3 Bab 3 Digoda Lelaki Hidung Belang4 Bab 4 One Stand Night 5 Bab 5 Pulang Bareng Pujaan 6 Bab 6 Ketika Axel Jatuh Cinta 7 Bab 7 Tak Mengenal Kata Penolakan 8 Bab 8 Dekati Ayahnya untuk Dapatkan Anaknya 9 Bab 9 Godaan Sang CEO10 Bab 10 Dijemput CEO Tukang Maksa11 Bab 11 Sip Gosip!12 Bab 12 Cemberutmu Menggemaskan 13 Bab 13 Mencari Model Pengganti 14 Bab 14 Menang Lelang 15 Bab 15 Siapa Laki-laki Itu16 Bab 16 Siapa Lelaki yang Menjemput Mel 17 Bab 17 Kita Nggak Pacaran 18 Bab 18 Dapat Bos Baru19 Bab 19 Tugas Melayani Axel20 Bab 20 Axel si Bayi Besar21 Bab 21 Aku Tak Kuat22 Bab 22 Sunandar Masuk Rumah Sakit23 Bab 23 Hari yang Sangat Berat 24 Bab 24 Mendapatkan Pekerjaan Baru25 Bab 25 Menikah untuk Bayar Hutang 26 Bab 26 Untung Bertemu Kamu 27 Bab 27 Terjebak Permainan Axel 28 Bab 28 Menjadi Istri dan Aspri Axel29 Bab 29 Kau yang Menakjubkan 30 Bab 30 Bersamamu yang Mempesona 31 Bab 31 Bertemu Xavier 32 Bab 32 Menikah dengan Axel33 Bab 33 Dasar si Maniak 34 Bab 34 Happy Wedding Day 35 Bab 35 Menjadi Istri Axel36 Bab 36 Menikah Setelah Tertangkap Basah 37 Bab 37 Adegan Malam Pertama 38 Bab 38 Gagal di Malam Pertama Pagi pun Jadi39 Bab 39 Bertemu Milly40 Bab 40 Urusan Ranjang41 Bab 41 Lima puluh Jam Bersamamu 42 Bab 42 Masalah Baru43 Bab 43 Mencari Jalan Keluar44 Bab 44 Pergi Ke Jepang 45 Bab 45 Menemui Mr. Hiroshi 46 Bab 46 Ide Brilian Mel47 Bab 47 Malam Basah Penuh Gairah 48 Bab 48 Gara-Gara Lembur Malam49 Bab 49 Hanami Terindah Bersamamu50 Bab 50 Tak Kusangka51 Bab 51 Jangan Lakukan Itu 52 Bab 52 Axel Si Pencemburu 53 Bab 53 Terlalu Posesif54 Bab 54 Jangan Berpaling Dariku55 Bab 55 Kedatangan Ezio56 Bab 56 Perta Tak Terduga57 Bab 57 Perjanjian Konyol Camelia 58 Bab 58 Niat Licik Axel59 Bab 59 Hanya Aku Dihatimu60 Bab 60 Si Keturunan Kaya61 Bab 61 Hargai Orang Lain62 Bab 62 Bus Penuh yang Mendekatkan Cinta63 Bab 63 Tak Pernah Kuduga64 Bab 64 Dia Istriku 65 Bab 65 Aku Cemburu 66 Bab 66 Hanya Ingin Bersamamu 67 Bab 67 Hanya Kamu yang Kumau68 Bab 68 Tak Mau Jauh Darimu69 Bab 69 Malu Setengah Mati 70 Bab 70 Siapa Pacar Arya71 Bab 71 Gara-gara Borgol72 Bab 72 Di Rooftop Rumah 73 Bab 73 Tak Seperti Rencana 74 Bab 74 Kedatangan Orang Ketiga75 Bab 75 Pura-pura Jadi Pacar Ezio76 Bab 76 Kau Hanya Milikku Seutuhnya 77 Bab 77 Kau Memang Berbeda, Mel78 Bab 78 Kembali ke Masa Kecil 79 Bab 79 Kenyataan Pahit 80 Bab 80 Gagal Total 81 Bab 81 Tak Pernah Terbayangkan 82 Bab 82 Hari Sempurna atau Hari Menderita 83 Bab 83 Sakit ini Lebih dari Sakit 84 Bab 84 Tak Mungkin 85 Bab 85 Kenapa Begini86 Bab 86 Hanya Pemuas Nafsu 87 Bab 87 Jangan Seperti Itu88 Bab 88 Hatiku Hancur 89 Bab 89 Tak Seperti yang Dibayangkan 90 Bab 90 Luka Dalam yang Sangat Dalam91 Bab 91 Penggalan Memori yang Menyakitkan 92 Bab 92 Mel Menghilang 93 Bab 93 Entah Siapa yang Salah94 Bab 94 Akhirnya Menemukanmu95 Bab 95 Super Hot Private Jet 96 Bab 96 Bertemu Sunandar 97 Bab 97 Badai Pasti Berlalu98 Bab 98 Apa Hubungan Kalian Sebenarnya 99 Bab 99 Selamat Pagi, Sayang100 Bab 100 Ada Apa Sama Loe